- SITUS WEB PRIBADI SIGIT DJATMIKO -

Profesor Linglung adalah Kita

Sigit Djatmiko

Versi cetak artikel ini bisa dibaca di majalah Outmagz edisi # 3: "Slow Down, You Move Too Fast!"

Dari Roda hingga CDMA

Marilah kita simak ilustrasi berikut ini. Kira-kira 3500 tahun sebelum Masehi, untuk pertama kalinya manusia menemukan roda. Tentu saja wujudnya cuma gelondongan kayu yang dipotong, namun inilah revolusi awal yang penting dalam sejarah panjang alat transportasi, dan dengan demikian juga sejarah "kecepatan". Kemudian, 2000 tahun sebelum Masehi, manusia mulai menjinakkan kuda untuk dipakai sebagai tunggangan. Baru sesudah ditemukan roda dan kuda itulah dimungkinkan pengembangan alat berkendara yang lebih "canggih", yaitu kereta kuda. Jadi, sejak ditemukannya roda hingga orang bisa naik kereta kuda, perlu waktu lebih dari 1,5 milenium!

 

Kita bandingkan dengan ilustrasi ini. Tahun 1769 Nicolas Joseph Cugnot mencipta prototipe mobil pertama, digerakkan tenaga uap. Tahun 1790 ditemukan sepeda. Tahun 1814 George Stephenson menemukan kereta api dengan mesin uap. Tahun 1867 ditemukan sepeda motor. Tahun 1903 Wright Bersaudara menemukan pesawat terbang. Dan tahun 1969, manusia berhasil mendarat di bulan. Berapa rentang waktu sejak diciptakan mobil dan sepeda hingga ke pesawat terbang? Tidak sampai 250 tahun, dan sesaat kemudian Neil Armstrong dan Edwin Aldrin bahkan sudah jalan-jalan di bulan. Jarak waktu penemuan alat-alat pemacu kecepatan kian rapat, dan laju perubahan kebudayaan pun jauh lebih pesat.

 

Lebih belakangan, akselerasi perubahan teknologi semakin gila-gilaan. Kita ambil contoh teknologi ponsel di Indonesia, salah satu ikon kecanggihan komunikasi masa kini. Tahun 1984 ponsel masuk ke Indonesia, berbasis teknologi NMT dan disusul AMPS. Harga ponsel saat itu sangat mahal, lebih dari 10 juta rupiah per unit, dan beratnya hampir setengah kilogram. Tahun 1994, Satelindo menjadi operator selular pertama dengan teknologi GSM. Tahun 1998 kartu pra-bayar mulai popular, dan tahun 2000 layanan SMS sudah bikin banyak orang ketagihan. Dan sekarang, awal 2004, berapa jenis ponsel GSM yang tersedia di pasaran, dan berapa ragam fasilitas yang ditawarkan? Baru beberapa saat ponsel GSM menikmati popularitas, sekarang orang-orang sudah mulai beralih ke teknologi CDMA. Belum lagi kalau kita bicara tentang perkembangan teknologi komputer yang juga membikin kita sesak dada.

 

Ruang yang Tergilas Waktu

Ilustrasi di atas menunjukkan satu hal esensial, bahwa "kecepatan" atau "speed" sesungguhnya merupakan salah satu obsesi manusia yang mendasar. Kecepatan menjadi objek hasrat dan kerinduan. Pada mulanya kecepatan dibutuhkan sebagai sarana untuk menaklukkan alam dan mengatasi keterbatasan fisik. Caranya adalah dengan merekayasa teknologi transportasi dan komunikasi. Sebelumnya, dengan mengandalkan tenaga otot, tingkat kecepatan sangat dipengaruhi oleh jarak. Namun kemudian, dengan kedigdayaan teknologi, "waktu" (kecepatan) mampu menaklukkan "ruang" (jarak). Ruang dimampatkan oleh waktu, jarak diterabas oleh kecepatan. Batas-batas antar-negara ambrol, dan orang-orang pun berbicara tentang budaya kosmopolitan dan sihir globalisasi.

 

Ketika jarak tidak lagi menjadi masalah, persepsi tentang ruang dan jarak lantas ditentukan oleh seberapa tinggikah kecepatan yang bisa diupayakan. Jarak bukan lagi sesuatu yang semata-mata objektif dan material, melainkan hasil konstruksi kesadaran dan konstruksi sosial. Jauh atau dekat, cepat atau lambat, tergantung pada kemampuan orang untuk "membayar harga kecepatan". Bagi yang mampu membayar harganya, semua terasa serba dekat. Sedangkan mereka yang tidak mampu "membeli kecepatan" akan terseok-seok dalam bentangan jarak yang tak tertanggulangi. Kecepatan lantas menciptakan kesenjangan akses dan informasi. Dan di era ketika informasi merupakan kartu truf seperti saat ini, kesenjangan informasi bisa berarti kalah dan menang.

 

Dalam kebudayaan kontemporer yang memberhalakan ekonomi pasar, kecepatan menjadi nilai yang dikejar oleh para pelaku kompetisi ekonomi, serta nilai yang ditawarkan oleh para aktor industri kepada konsumen. Komoditas industri harus menyuguhkan kemampuan akselerasi yang semakin tinggi (misal pada kendaraan), atau semakin instan (misal pada makanan). Dengan kata lain, bagi para penggembira ekonomi pasar, kecepatan menjadi alat untuk saling menggilas dan mengalahkan. Kecepatan menjadi norma. Siapa cepat, dia dapat! Waktu adalah uang.

 

Yang menarik, proses dematerialisasi jarak dan ruang itu berjalan searah dengan perkembangan definisi ukuran jarak yang juga kian abstrak. Tahun 1793 pemerintah Perancis menetapkan satuan panjang yang disebut "meter", didasarkan pada kuadran bumi di sepanjang kota Paris. Tahun 1799 definisinya dikoreksi, yakni berdasarkan meridian antara Dunkirk dan Barcelona, dan diwujudkan dalam batangan platinum yang lantas dipakai sebagai standar meter internasional. Tahun 1960 definisi meter dikoreksi, dan didasarkan pada panjang gelombang cahaya vakum yang dihasilkan energi atom dalam keadaan tertentu. Dan tahun 1983 dikoreksi lagi, didasarkan pada jarak yang ditempuh oleh cahaya dalam keadaan vakum selama 1/299.792.458 detik. Acuan definisi meter dengan demikian bergeser dari ruang geografis yang kasat mata (Dunkirk-Barcelona) menuju ruang virtual yang abstrak (panjang gelombang cahaya vakum) dan akhirnya menuju waktu (jarak tempuh cahaya selama sekian detik). Barangkali ini juga mengisyaratkan betapa ruang akhirnya digilas oleh waktu, jarak takluk pada kecepatan.

 

Yang Lamban Tak Dapat Giliran

Di tengah kompetisi adu cepat dan gaya hidup serba kilat, apa yang sesungguhnya kita pertaruhkan? Apa yang mungkin hilang dari kehidupan personal dan sosial kita? Yang jelas akan hilang, tentu saja, adalah "kelambanan" atau "slowness". Dan kelambanan adalah dasar bagi banyak hal lain yang sungguh penting: ketenangan, ketenteraman, kesabaran, kesaksamaan, konsentrasi, kewarasan, pemikiran yang mendalam, dan komunikasi yang sejati. Banyak hal yang memang bisa dan perlu dilakukan secara cepat, namun banyak pula yang seharusnya dilakukan dengan lamban dan penuh perhatian. Setiap ikhwal punya takarannya sendiri. Namun di dalam gaya hidup serba cepat, segala sesuatu hendak diraih secara kilat. Yang lamban jadi tak punya tempat. Pemahaman apa yang sebetulnya bisa didapatkan dengan menonton tayangan MTV yang gambar-gambarnya terus berubah secara cepat? Mungkinkah kita memahami kandungan sebuah buku hanya dengan membolak-balik halamannya secara cepat? Gelontoran informasi yang membombardir kita dalam tempo cepat, akhirnya sebagian besar hanya menjadi sampah karena kita tidak sempat memilah, memilih, dan mencamkan. Belum sempat kita mengakrabi yang satu, sudah disusul yang lebih baru.

 

Individu kontemporer menjadi makhluk yang paranoid, gelisah, dan serba tergesa-gesa dikarenakan ilusi kecepatan yang memformat ruang kesadarannya. Bahkan, sebagaimana dikutip majalah Der Spiegel, seorang anak berusia 9 tahun bisa berkomentar seperti ini tentang kegiatan belajarnya di sekolah: "My teachers talk more slowly than my Atari, so slowly that it sometimes drives me crazy. I think: Come on, that will do. Let me go home to my Atari. It is able to tell me things more quickly."

 

Ekstasi yang Bikin Lupa Diri

Jadi, dari sekadar upaya untuk mengatasi keterbatasan fisik, isu yang dipicu oleh hasrat terhadap kecepatan akhirnya merambah ke persoalan situasi mental manusia. Novelis Milan Kundera mengilustrasikannya dengan indah dalam karyanya, Slowness. Menurut Kundera, kecepatan adalah semacam ekstasi yang diciptakan oleh revolusi teknologi, pengalaman mental khas manusia zaman sekarang:

 

"Lelaki yang memacu kencang sepeda motornya sambil merunduk itu hanya bisa memusatkan perhatian pada laju kendaraannya saat itu; ia terperangkap dalam fragmen waktu yang terceraikan dari masa depan dan masa lalu; ia terenggut dari kontinuitas waktu; ia berada di luar waktu; dengan kata lain, ia berada dalam keadaan ekstasi. Dalam keadaan itu, ia tak ingat akan usianya, istrinya, anak-anaknya, kecemasannya, dan ia pun tak punya rasa takut, sebab sumber rasa takut itu ada di masa depan, dan bagi orang yang terceraikan dari masa depan tak ada sesuatu pun yang perlu ditakutkan."

 

Kundera lantas mengilustrasikan situasi mental lainnya yang kontras:

 

"Berbeda dengan pengendara sepeda motor, seorang pelari selalu hadir di dalam tubuhnya, senantiasa dituntut untuk berpikir tentang telapak kakinya yang melepuh, rasa capeknya; saat berlari ia merasakan bobot tubuhnya, usianya, lebih sadar tentang dirinya sendiri dan umurnya dibandingkan saat-saat lain. Semua pengalaman ini akan berubah jika orang memasrahkan kemampuan kecepatannya kepada mesin: sejak itu, tubuhnya sendiri lantas berada di luar proses, dan ia menyerahkan diri sepenuhnya pada kecepatan yang tidak lagi ragawi, tidak material, kecepatan murni, kecepatan itu sendiri, ekstasi kecepatan."

 

Bagi Kundera, kecepatan adalah pengalaman yang memabukkan dan menyebabkan lupa. Kesadaran waras dan ingatan hanya muncul berkat kelambanan. Bagi saya sendiri, situasi mental manusia masa kini lebih mirip profesor linglung, seperti dalam anekdot yang pernah dituturkan teman saya:

 

Suatu pagi pak profesor berjalan terburu-buru dan menyetop taksi. Setelah duduk di dalam taksi, pak profesor langsung menepuk punggung sopir dan memerintah, "Cepat, jalan!" Taksi pun meluncur cepat, wuuzzz. Rupanya pak profesor sedang sangat terburu-buru. Dia tepuk lagi punggung sopir sambil memerintah, "Cepat, lebih cepat lagi!!" Sopir pun tancap gas dan taksi melesat makin cepat, wuuzzz. Di tengah perjalanan tiba-tiba pak profesor kaget, seperti baru teringat sesuatu. Lagi-lagi dia colek punggung sopir, "Hei, ini mau ke mana??" Si sopir yang sedang konsentrasi pun jadi kaget, "Lah, memangnya mau ke mana?? Bapak tadi kan nggak bilang mau ke mana. Cuma nyuruh cepat, cepat, gitu aja, nggak bilang tujuannya. Jadi saya tancap gas saja pokoknya…"

 

Begitulah, mirip profesor linglung, irama hidup kita makin cepat dan makin cepat, tapi lupa mempersoalkan sebetulnya semua ini mau ke mana arahnya. Kita tidak sempat merenungkan tujuan, mungkin karena terlalu tergesa-gesa. []