SWASTI! SWARA PURBAKALA NUSANTARA Media Publikasi Berita, Gagasan, Ide, dan Wacana Dalam Khazanah Kepurbakalaan Nusantara

Pelestarian Lingkungan : Bercermin dari Masa Lampau (1)

tanggal upload naskah : 20 Maret 2003
Kontributor : Sri Kumainah



Perhatian terhadap kelestarian lingkungan semakin meningkat dewasa ini. Walaupun agak menyakitkan, harus diakui bahwa Indonesia, cenderung terlambat dalam melakukan upaya pelestarian lingkungan. Pada era yang serba canggih ini pun, manusia cenderung tidak berdaya apabila dampak kerusakan lingkungan nyata-nyata telah menampakkan wujudnya.

Barangkali masih segar dalam ingatan kita tentang bencana banjir yang melanda Jakarta yang mengakibatkan terhambatnya aktifitas di berbagai sektor publik. Selain simpati dan bantuan yang berwujud materi dan tenaga, mengalir juga berbagai tanggapan yang berkaitan dengan upaya penanggulangan bencana semacam ini untuk waktu yang akan datang. Pada dasarnya manusia tidak dapat melepaskan hubungan saling ketergantungannya dengan alam. Secanggih apa pun teknologi yang telah dikuasai oleh manusia, ketergantungan terhadap alam tidak dapat dielakkan, meskipun ilmu pengetahuan dan teknologi manusia telah mencapai tingkat dapat didayagunakan untuk "memaksa" alam menjadi lebih produktif untuk memenuhi kebutuhan manusia.

Masyarakat dunia barat telah mengembangkan berbagai teknologi modern untuk menyejahterakan kehidupannya. Setelah mendapatkan kemudahan dari hasil pengembangan teknologi, mereka juga menuai dampak negatifnya. Kerusakan lingkungan karena pengembangan teknologi, khususnya untuk industri berat dan massal, yang tidak berwawasan lingkungan dapat menimbulkan berbagai polusi yang mengganggu derajat kesehatan masyarakat.

Munculnya gerakan untuk lebih memperhatikan keserasian terhadap lingkungan secara merata dalam berbagai bidang, akhirnya memunculkan trend produk yang ramah lingkungan. Kelangkaan banyak jenis flora dan fauna juga mendapatkan perhatian yang cukup besar. Saat ini bahkan muncul banyak lembaga internasional dan nasional yang menaruh perhatian besar terhadap pelestarian lingkungan.

Dalam pengkerangkaan sejarah kebudayaan bangsa Indonesia, terdapat satu periode yang disebut Periode Klasik di Indonesia. Berdasarkan sintesis dari pendapat para ahli dan pustaka yang telah dipublikasikan, beberapa penciri dalam periode tersebut antara lain : (1) Berlangsung pada kisaran waktu antara abad IV M. hingga abad XVI M. (2) Hasil peradaban yang masih tersisa hingga sekarang dominan berupa benda-benda budaya bendawi yang bersifat keagamaan dan berintikan ajaran agama Hindu dan Buddha.

Pada masa kekuasaan kerajaan-kerajaan yang bernuansa Hindu dan Buddha di Indonesia, perhatian terhadap lingkungan tampaknya menjadi suatu fenomena yang dipandang penting. Hal itu di antaranya dapat kita pelajari dan telusuri melalui prasasti-prasasti, khususnya yang dikeluarkan atau dititahkan oleh para penguasa pada masa itu dan dianggap secara resmi mengikat dan disertai sanksi bagi warga yang melanggarnya.

Pada umumnya kerajaan-kerajaan pada periode klasik di Indonesia bercorak agraris sehingga tidak jarang bagian-bagian wilayahnya berada tidak jauh dari sungai. Hal ini dilatarbelakangi arti penting sungai sebagai sarana trasnportasi antar wilayah dan sebagai sumber air untuk pertanian. Tidak jarang pula pada musim hujan terjadi banjir yang melanda, oleh karenanya tindakan penguasa pada masa itu -antara lain adalah raja Purnnawarman dari Tarumanegara- yaitu menitahkan penggalian Sungai Chandrabhaga atau Gomati, untuk mengeliminasi banjir.

Banjir berpengaruh terhadap bidang pertanian karena menyebabkan kerusakan lahan, kegagalan panen, dan rusaknya bendungan. Banjir juga menyebabkan berkurangnya pendapatan kerajaan dari sektor pajak karena bila air sungai meluap, perahu-perahu niaga -kena pungut pajak- tidak dapat lewat. Prasasti Kamalagyan yang bertarikh 1037 M. yang dikeluarkan pada masa pemerintahan Raja Airlangga, juga mengandung keterangan tentang pembangunan bendungan di Wringinsapta untuk mencegah banjir. Pembangunan bendungan ini juga memperlancar arus lalu lintas perdagangan yang melalui jalur perairan karena pada masa itu Sungai Brantas -yang alirannya dibendung- menjadi jalur perdagangan yang utama. Manfaat yang hendak dituju melalui pembangunan bendungan tersebut adalah untuk menjamin kontinuitas penghasilan kerajaan yang diperoleh dari sektor pajak. Upaya preventif ternyata tidak berhenti pada pembangunannya saja, melainkan juga upaya pemeliharaan bendungan di Wringinsapta, antara lain dengan menunjuk dan menempatkan petugas penjaga yang bertempat tinggal di tepi bendungan.

Upaya untuk meningkatkan hasil pertanian pada periode klasik di Indonesia tercermin melalui prasasti Harinjing A, yang dikeluarkan oleh Raja Tulodong. Isinya tentang penetapan tanah karena jasa seorang pendeta di Culanggi yang berjasa memindahkan aliran Sungai Harinjing demi irigasi dan penanggulangan banjir. Tidak hanya itu, dalam prasasti Djiu IV terkandung gambaran mengenai saluran irigasi dan pembagian airnya ke daerah-daerah pertanian. Upaya perbaikan saluran air dapat pula diketahui dari prasasti Sumengka (1059 M.), yang dikeluarkan oleh Sri Maharaja Rakai Halu Pu Juru Samarotsaha. Saluran air yang dimaksud dibuat pada masa dan atas perintah Paduka Mpungku Bhatara Guru yang telah wafat dan dimakamkan di Tirtha.

Pada masa Kerajaan majapahit, dengan susunan masyarakat yang semakin kompleks, sarana pengairan juga memiliki fungsi yang semakin kompleks pula. Hasil penelitian arkeologi menunjukkan bahwa di sekitar lingkungan ibukota kerajaan, telah ditemukan lebih kurang 20 waduk kuna yang dibuat oleh manusia maupun yang terbentuk secara alamiah, beserta kanal-kanal yang 6 kanal di antaranya langsung berhubungan dengan kotaraja Majapahit, yaitu waduk Baureno, Kumitir, Domas, Kraton, Temon, dan Kedung Wulan. Waduk tersebut berfungsi sebagai penampung air untuk pengairan, penanggulangan luapan lahar dari lereng Gunung Anjasmara (Waduk Baureno), dan sebagai sarana rekreasi (Waduk Segaran).



bersambung ke halaman berikutnya





Lihat halaman berikutnya





Komunitas Swasti! Swara Purbakala@2003
Website Administrator : gatut.eko@plasa.com



Kembali ke Daftar Wacana Kembali ke Halaman Utama