|
Apakah orang Kristen boleh merayakan
hari-hari raya yang berasal dari perayaan Kafir?
Seorang murid Kristus yang cermat dapat mengamati dengan memakai Alkitab (atau dengan lainnya) bahwa banyak dari "perayaan-perayaan Kristen" dewasa ini bukanlah perayaan Kristen namun perayaan kafir. Silahkan baca dalam ensiklopedia apa saja yang menyangkut sumber Babilon ini: Natal, Halloween, Hari Ibu, Ulang tahun, Easter, Tahun Baru, dll. Apakah boleh merayakan perayaan kafir semacam itu? Dalam 2 Korintus 6:16 dikatakan "Keluarlah kamu dari antara mereka, dan pisahkanlah dirimu dari mereka, firman Tuhan, dan janganlah menjamah apa yang najis, maka Aku akan menerima kamu." Anda melakukannya??? Sejak berabad-abad lalu, banyak orang Kristen yang sadar dan menyadari asal dan sumber perayaan-perayaan itu. Gagasan "keluar dari yang tidak kudus" memang bukan barang baru. Hanya saja orang tidak pernah mau repot-repot menanyakan: Mengapa mereka masih merayakan perayaan-perayaan tersebut. Orang ramai-ramai menggunakan kalendar Gregorian, yang nama-nama hari serta bulannya diambil dari nama-nama dewa Yunani kuno. Orang ramai-ramai memakai kancing yang berasal dari pakaian penyembahan berhala pada jaman Firaun, orang merayakan ulang tahun yang berasal dari perayaan-perayaan kafir dan pada begitu pula sewaktu Raja Herodes berulang tahun, ia memenggal kepada Yohanes Pembaptis, namun orang tidak merasa terganggu. Mengapa? Karena "atribut kafir" semacam itu sudah lama lenyap. Siapa yang perduli jika dahulu orang kafir menyembah pohon; juga bahwa ada orang yang dihukum mati pada waktu perayaan ulang tahun? Tampaknya Ayub, seorang yang benar, merayakan ulang tahun anak-anaknya (Ayub 1:4) dan para malaikat merayaan kelahiran Kristus (Lukas 2:8-14). Paulus mengatakan kita tidak boleh dihakimi apakah kita lebih berpegang pada perayaan-perayaa tertentu atau tidak. Biarlah setiap orang menyadarinya dalam benaknya sendiri (Kol 2:16; Rom 14:5) Kita memang tak bisa bebas dari penyembahan berhala, dan Paulus mengatakan "jangan menyentuh "yang tidak kudus" dengan anggapan bahwa hal itu masih merupakan bentuk penyembahan yang keliru/penyembahan berhala. Perayaan umumnya tidak lagi dianggap sebagai hari penyembahan terhadap dewa tertentu, justru kini orang cenderung melihatnya sebagai hari beristirahat dan hari berkumpul bersama keluarga, dll.
Audie Tangkere |