Petikan dari

Buku Harian Karl May

Catatan perjalanan ini kemudian dikembangkan menjadi novel yang berjudul Und Friede auf Erden! ("Dan Damai di Bumi!")*, sebuah karya simbolik sebagai reaksi May atas Perang Boxer di Cina (1899-1900)**. Karl May () adalah seorang pencinta damai, anti-rasisme dan -fanatisme agama, dan pengarang novel populer Jerman yang paling termashyur. Beberapa karangan yang menjadi terkenal di seluruh dunia dan sampai sekarang masih sangat diminati adalah hasil karya masa mudanya dan berkisar tentang tokoh utama Winnetou dan Old Shatterhand. Setelah menjadi kaya, May dan isterinya mengadakan perjalanan ke tempat-tempat yang menjadi latar novel-novelnya, dan juga mengunjungi beberapa tempat di Aceh dan Sumatra Barat (sekitar Padang). Keterangan lebih lengkap dan diskusi menarik tentang Karl May dapat diperoleh di situs: http://karlmay.hypermart.net dan http://www.karl-may-gesellschaft.de

3 November 1899. Penang. Pengunjung yang datang ke belahan timur bumi dengan kapal laut, di sini-di pelabuhan Penang-untuk pertama kali berkenalan dengan orang-orang, bangunan, dan adat istiadat Cina; perkenalan itu sedemikian rupa, sehingga matanya akan terpikat oleh apa yang dilihat. Ia menganggap bahwa apa yang dilihatnya luar biasa aneh, begitu berbeda dari apa yang biasa dirasakan dan dipikirkannya, sehingga ia mau tidak mau bertanya pada dirinya sendiri apakah dengan pengalaman-pengalaman baru yang begitu mengesankan ia mungkin dapat tidak terpengaruh dan tetap tinggal seperti dulu. Dan memang ada alasan, alasan yang sangat kuat untuk bertanya demikian; sebab, semua kejadian yang baru dilihat dan dialami itu mengandung gairah hidup, sarat kekuatan, dan terjadi dengan sendirinya secara meyakinkan, sehingga anggapan bahwa keadaan di sini serba terkebelakang dan tidak sehat, dalam jam-jam pertama sudah menjadi sangat goyah …Pikiran-pikiran seperti itulah yang memenuhi benakku, ketika aku menyusuri jalan-jalan di Penang sesudah makan. Sepanjang jalan dan lorong berjejer toko-toko. Banyak toko tidak berpintu, sebab bangunannya tidak berdinding luar; yang ada hanya tiang-tiang penyangga atap. Di muka toko-toko ini, di kedua pinggiran jalan, para pedangang kaki lima menawarkan buah-buahan dan dagangan lainnya. Aku tidak melihat polisi ataupun tentara, namun semua tertib, sehingga suasana terkesan menggembirakan. (XXX, 201, 204)

4 November 1899. Berangkat ke Padang. Kapal uap "Coen". Komandan Wilkens. (RT) Biasanya, kalau berlayar dari Penang ke Uleleh (1), sesudah menyeberangi Selat Malaka kapal singgah di Edi (2), Lo-Semaweh (3), dan Sigli. Di pantai yang panas terik itu, di kedua tempat itu ada pangkalan militer yang dibangun guna menjadi benteng pertahanan kalau dilancarkan serangan ke pedalaman terhadap para raja Aceh. Akibat tiga kali singgah ini, diperlukan dua hari untuk berlayar dari Penang ke Uleleh ... Cuaca sangat indah dan nyaman; tidak ada angin dan laut mengarak gelombang-gelombang yang gulung-menggulung memanjang rata ... (XXX,264)

5 November 1899. Di atas kapal "Coen". Dari Edi menuju Telok (RT).

6 November 1899. Di atas kapal "Coen". Aku tidur sangat nyenyak dan lama. Ketika aku pagi-pagi naik ke geladak, aku mendengar bahwa kami sudah meliwati Tanjung Perlak (4); jadi, kami sudah berada di perairan Sumatra. Beberapa waktu kemudian di sebelah kiri kapal tampaklah gunung emas di kejauhan yang kebiru-biruan. Sigli disinggahi untuk kedua kalinya dan tidak lama kemudian R. memberitahukan kepada kami bahwa kami sudah mendekati tujuan. - Uleleh tidak besar, hampir semua bangunannya terbuat dari kayu. Rumah-rumah penduduk dibangun sedemikian rupa sehingga udara segar dapat berlalu lalang bebas namun memberi perlindungan yang cukup terhadap terpaan hujan tropis yang sangat deras. Sebuah dermaga lebar- terbuat dari papan-papan tebal dan kuat menjorok jauh ke laut ... Saat kapal-kapal penumpang tiba merapat, di atas dermaga itu terjadi berbagai kesibukan luar biasa dan hiruk pikuk yang sangat asyik ditonton ... (XXX, 280) Di Uleleh 100 kartu pos. Ikut dengan Rosenberg ke hotel milik iparnya. (RT) Dengan kereta api dari Uleleh ke Kota Radjah, Hotel Rosenberg (bdk. XXX, 211). Suatu perjalanan yang juga sangat mengagumkan. Sepertinya, cuaca dipesan khusus untuk kenikmatanku! (surat kepada Emma)

7 November 1899. Kota Radjah. Aku bahagia sudah tiba di sini, di Sumatra, dan tepat pada waktu yang bagi aku sangat baik. Mengapa? Aku akan menceriterakannya dalam "Kisah-kisah Perjalanan dari Dunia Timur". Saya harap saya dapat mulai menulis segera setelah tiba di Padang … (kutipan dari surat kepada Johann Dederle)

8 November 1899. Dengan kapal laut "Coen" ke Uleleh. (RT)

9 November 1899. Masih berlayar di atas "Coen".

10 November 1899. Tiba di Padang. Menginap di Hotel Adjeh (5). (RT)

11 November 1899. Masih di Padang. Hasan mau pergi (RT). Gaji Hasan: 18,5 minggu = 647,50 Mark.

12 November 1899. Padang. Di Uleleh dan Kota Radjah ada sejenis kereta kuda yang sangat ringan yang ditarik kuda-kuda bagus, kecil, tetapi larinya sangat cepat. Kuda-kuda ini larinya secepat kilat dan sangat kuat bertahan - suatu hal yang mustahil kalau tidak melihat betapa orang Melayu memelihara kudanya dengan penuh kasih sayang. Dari Padang aku mengadakan beberapa perjalanan sehari penuh dan jarak yang ditempuh kuda-kuda ini dua kali lebih jauh daripada biasanya di Jerman; setiba di rumah pada waktu malam, kuda-kuda itu masih segar dan bersemangat seperti pada pagi harinya … (XXX, 316)

Hingga 23 November 1899: Padang. Tentang pengalaman May di Padang tidak ditemukan catatan apapun; juga pencerminannya dalam "Friede" tidak menyebut persinggahan ini.

"Padang, 23 November 1899

[ ...] Tempat ini begitu menakjubkan, sehingga saya kemarin mengirim surat kepada istri saya, dan tuan Plöhn dari Radebeul-Anda mengenalnya-beserta istrinya, supaya mereka segara berangkat ke Port Said di Mesir; sayapun berangkat besok dengan kapal ke tujuan yang sama - guna menjemput, lalu mengantar mereka ke sini dan memperlihatkan firdaus ini kepada mereka. Kemudian saya akan mengajak mereka ke tempat-tempat persinggahan lainnya sesuai rencana perjalanan ini. Alangkah indah tiada terperikan karunia Tuhan, bahwa saya bersama istri dan kedua sahabat tercinta diberi kesempatan mengunjungi negeri-negeri jauh di dunia Timur dan sekaligus juga Bagdad, kota cantik yang telah menjadi kesayangan saya?
Saya telah menjanjikan sumbangan naskah untuk surat kabar Anda, akan tetapi, baik di laut maupun selama dua minggu di negeri ini, saya sama sekali belum mulai menulis; namun, yakinlah, nanti selama 23 hari pelayaran dari sini ke Port Said saya akan menepati janji ini ... " (petikan dari surat kepada Johann Dederle)

24 November 1899. Berangkat dari Padang. Di atas kapal "Bromo", milik maskapai pelayaran "Rotterdamse Lloyd". (RT) Sajak Es war in fernen Landen ... ("Di negeri-negeri nun jauh di sana ...")

Sampai 11 Desember 1899 menumpang kapal "Bromo". Menurut catatan Klara May, selama pelayaran ini "ia (KM, ekg) berkenalan dengan seseorang yang di kemudian hari melakukan bunuh diri; orang itu berasal dari keluarga yang tertekan": Di bawah langit gelap yang bertaburan bintang-bintang yang berkilauan dengan cemerlang, semalam suntuk kami membicarakan persoalan-persoalan kejiwaan sambil duduk-duduk di geladak atas. Aku menjadi kepercayaannya dan kepadaku diungkapkannya hal-hal yang biasanya tidak diceriterakan kepada siapa pun juga ... (XXXIII, 26)

11 Desember 1899. Tiba di Port Said. Grand Hotel Continental. Di sini May menunggu kedatangan Emma dan suami-istri Plöhn. Namun, waktu kapal Lloyd itu akhirnya tiba, ketiga orang yang dinanti-nantikannya itu tidak kelihatan. Mereka tidak ada di antara para penumpang kapal itu. Aku mengirim tilgram ke rumah; aku menulis surat, akan tetapi tidak mendapat jawaban. Penantian yang penuh kekuatiran dan ketidakpastian yang membawa derita itu menghabiskan ... banyak uang. Semua jalan kutempuh. Aku melakukan apa saja supaya mengetahui di mana gerangan ketiga orang itu berada. Akhirnya ada yang menyebut suatu tempat di Italia, di daerah Riviera, tetapi tempat itu begitu terpencil dan tidak penting sehingga tidak seorangpun mengenalnya. Tidak ada jalan lain kecuali pergi ke sana dan mencari tempat itu... ("Studie")

Tersaji oleh E. Korah-Go, Program Studi Jerman FSUI

Keterangan:
(1) mungkin Ulee Lheue. Lihat Wasis, Widjiono (ed.). 1989. Ensiklopedi Nusantara. Jakarta: Mawar Gempita. Hlm. 113.
(2) mungkin Pidie - ekg.
(3) Lhokseumawe - ekg.
(4) mungkin Tanjung Peureulak. Lihat Wasis, Widjiono (ed.). 1989. Ensiklopedi Nusantara. Jakarta: Mawar Gempita. Hlm. 106.
(5) mungkin sekali: Aceh - ekg.

Teks Fiktif:
*Terjemahan Tiga Petikan novel Und Friede auf Erden! ("Dan Damai di Bumi!")
** Bandingkan cerpen berjudul "1900" yang dipetik dari Mein Jahrhundert ("Abadku") karya Guenter Grass.