Karl May

Buku Harian Karl May

 
 

Petikan novel
Und Friede auf Erde (UfaE, "Dan Damai di Bumi")
karangan Karl May

Catatan Penerjemah tentang terjemahan tiga petikan novel Und Friede auf Erde (UfaE, "Dan Damai di Bumi") karangan Karl May:

Tujuan utama penerjemahan yang tersaji di bawah ini ialah menciptakan bacaan yang bersifat menarik dan memikat seperti teks sumbernya; di samping itu, terjemahan ini juga bertujuan memperlihatkan kekhasan kepengarangan May, dengan mengusahakan kesepadanan gaya penceritaannya, ragam bahasa, dan gaya bahasanya. Angka yang diapit […] merujuk pada nomor halaman (Seitenzahl) teks sumber (dibaca di http://www.karl-may-gesellschaft.de); catatan kaki diberi tanda* seperlunya (mis. *, **, ***) dan dihubungkan hanya dengan halaman yang bersangkutan.

Petikan diperkenalkan oleh Pandu Ganesa, webmaster ("Penjaga") WIGWAM
http://karlmay.hypermart.net;
keseluruhan karya (teks sumber) dibaca di situs http://www.karl-may-gesellschaft.de

Petikan Pertama

[201]
Bab Ketiga
"Shen"

Pengunjung yang datang ke belahan timur bumi dengan kapal laut, di sini-di pelabuhan Penang-untuk pertama kali berkenalan dengan orang-orang, bangunan, dan adat istiadat Cina; perkenalan itu sedemikian rupa, sehingga matanya akan terpikat oleh segala yang dilihat. Ia menganggap bahwa apa yang dilihatnya luar biasa aneh, begitu berbeda dari apa yang biasa dirasakan dan dipikirkannya, sehingga ia mau tidak mau bertanya pada dirinya sendiri apakah dengan pengalaman-pengalaman baru yang begitu mengesankan ia mungkin dapat tidak terpengaruh dan tetap tinggal seperti dulu. Memang ada alasan, alasan yang sangat kuat untuk bertanya demikian; sebab, semua kejadian yang baru dilihat dan dialami itu mengandung gairah hidup, sarat kekuatan, dan terjadi dengan sendirinya secara meyakinkan, sehingga anggapan bahwa keadaan di sini serba terkebelakang dan tidak sehat, dalam jam-jam pertama sudah menjadi sangat goyah.

Memang, orang yang membawa prasangka begitu besar dan mendalam dalam cakupan begitu luas, sehingga sama sekali menutupi pandangan jernih dan netral di tempat ini-di serambi dunia Cina ini-hanya akan mendapat kesan sepintas lalu

[202]

bahwa ia kini telah melangkah ke suatu negeri penuh keganjilan.

Sejak usia kanak-kanak dan selama berada di sekolah dasar, sekolah lanjutan, dan bahkan sampai di perguruan tinggi kami selalu telah mendengar bahwa orang Cina tidak lain daripada manusia kocak dan aneh yang dalam sejarah peradaban kami bernasib buruk, yaitu selalu diolok-olok. Tidak terhitung buku-buku, surat kabar dan terbitan-terbitan lainnya yang kian menyebarluaskan pendapat sembarangan ini; pandangan ini masuk dalam udara yang dihirup waktu bernapas; pandangan ini ditelan mentah-mentah, dilumat dan dicerna, menjadi zat makanan yang masuk sumsum tulang, menjadi darah dan daging dan menjadi bagian keberadaan kami yang tidak dapat dimusnahkan. Kami sama sekali tidak terpikir untuk bertanya, apakah anggapan itu benar dan patut. Boleh kiranya aku mendahului jalan pikiranku dengan pernyataan bahwa orang Cina pun mempunyai pandangan yang sama mengenai kami; dari usia kanak-kanak sampai usia tua, satu-satunya yang berulangkali diajarkan kepada mereka adalah bahwa kami orang-orang aneh dan mengherankan. Ditinjau dari pemahaman mereka tentang sejarah dunia, mereka sebenarnya tidak mengerti, kami ini mau apa, karena terhadap mereka kami mempermaklumkan diri sebagai orang-orang terpilih yang ditugaskan memimpin dunia, sedangkan bangsa-bangsa lain sama sekali tidak ada gunanya. Dengan perkataan lain, orang-orang Cina memandang kami juga sebagai orang-orang ganjil dan aneh - tepat seperti kami memandang mereka.

Jikalau orang yang sudah dicekoki pandangan semacam itu datang di dunia Timur, kiranya tidak dapat diharapkan bahwa ia serta-merta dapat diubah pikirannya. Mungkin saja bertahun-tahun lamanya ia bertempat tinggal di negeri Cina dan bukan saja tetap berpegang teguh pada pendapatnya yang dulu, melainkan mungkin juga mempunyai pikiran yang bahkan lebih keliru daripada dulunya, jikalau syaratnya tidak dipenuhi;

[203]

syarat itu ialah bahwa dengan satu kali perang negeri yang jauh dan asing itu dapat ditaklukkan. Keduanya tidak mau mengalah, maka keduanya tetap sama. Hanya satu hal yang tidak sama: perasaan getir yang telah menjadi lebih besar! Inilah keterangan untuk teka-teki mengapa orang-orang yang separuh, ya bahkan seluruh hidupnya telah bermukim di negeri Cina, dan sebab itu sebenarnya berhak mengatakan bahwa mereka mengenal dengan baik negeri serta penduduknya, namun seperti seseorang yang belum pernah ke tempat itu, tetap berpendapat keliru tentang negeri ini dan penduduknya. Pengetahuan mereka seperti --- foto! Seluruh pengetahuan mereka, yang mungkin luar biasa luas, terdiri dari foto-foto yang mati dan tidak bermakna, foto-foto yang diambil dengan kamera yang dibawa dari Eropa. Lalu, bersumber pada prasangka ras Kaukasia dipilihlah klise-klise film yang tidak mungkin menggambarkan semua relung-relung jiwa bangsa Cina yang paling dalam dan paling rahasia dengan setia, benar dan jujur. Apakah manusia begitu sulit menghargai orang lain-yang juga berhak memiliki ciri-ciri tersendiri yang lain-sebagai pribadi yang sepadan? Mestikah tiap orang yang beradat-istiadat lain serta merta diremehkan? Coba lihat bagaimana orang Eropa dengan pandangan congkak di sebuah negeri asing meninjau keadaan sekelilingnya! Si kacung kapal yang baru saja dihajar dengan tali kapal oleh juru mudi karena tidak jera juga melakukan kebodohan, seperempat jam kemudian turun ke darat dengan anggapan angkuh bahwa semua orang Melayu dan Cina di Penang bahkan tidak pantas menyemir sepatu kulitnya hanya karena dirinya seorang Kaukasia yang berasal dari desa Klapperschnalle*! Nenekku tercinta sudah tua; ia seorang yang baik hati. Ketika aku mau

[204]

pamit untuk pergi merantau, katanya: "Jangan pernah menganggap dirimu lebih baik daripada orang-orang lain. Di belakang tiap manusia yang kauajak bicara berdiri malaikatnya. Kau tidak akan melihatnya, tetapi malaikat itu ada di belakangnya; dia melihat semua pikiranmu dan kalau kau berprasangka buruk, kau menghina dia. Ingatlah bahwa malaikat seorang yang berkulit hitam sama terangnya, sama murninya, dan sama rasa terima kasihnya seperti malaikatmu! - - "

Pikiran-pikiran seperti itulah yang menguasai benakku, ketika aku menyusuri jalan-jalan di Penang sesudah makan. Sepanjang jalan dan lorong berjejer toko-toko. Banyak toko tidak berpintu, sebab bangunannya tidak berdinding luar; yang ada hanya tiang-tiang penyangga atap. Di muka toko-toko ini-di kedua pinggiran jalan-para pedagang kaki lima berderet panjang, menawarkan buah-buahan dan dagangan lainnya. Aku tidak melihat polisi ataupun tentara, namun semua tertib, sehingga suasana terkesan menggembirakan. Aku tidak bicara tentang kebangsaan orang-orang itu. Mereka beraneka ragam kebangsaannya, sama seperti di tiap pelabuhan dunia Timur, hanya saja bahwa di sini lebih banyak ditemukan orang-orang Indocina.

Hari luarbiasa panas. Tiba-tiba langit mendung, menandai ancaman hujan yang dapat saja sekonyong-konyong turun dengan deras - suatu kejadian alam yang khas di daerah khatulistiwa. Aku berhenti berjalan dan melihat ke sekelilingku untuk menemukan tempat yang dapat melindungi aku dan busanaku. Di dekat situ tidak ada hotel. Keadaan ini dilihat seorang kuli yang meliwatiku. Ia berhenti, menunjuk ke arah lorong dan berkata:

"Sablah kirri*, Pilsen Birr!" Kata-kata pertama artinya kurang lebih "jalan ke kiri". Jadi kalau masuk ke jalan kiri ada bir Pilsen. Dugaan orang itu sangat tepat. Karena gembira aku memberikan sekedar uang rokok kepadanya, kemudian bergegas masuk ke


*pengejaan 'rr' dalam "kirri" dan "Birr" adalah usaha melukiskan pelafalan bunyi /r/ oleh orang Indonesia yang berbeda dengan lafal /r/ oleh orang Jerman

[205]

jalan yang telah ditunjukkan. Ya, betul, segera terlihat sebuah rumah rapi bergaya Eropa; di serambinya ada restoran. Di tempat masuknya yang lebar tidak ada daun pintu melainkan sepasang tirai dan jendelanya dipenuhi jejeran botol sampai ke atas. Di sana juga terbaca, bahkan dalam bahasa Jerman "Echt Hamburger Pilsener Bier"*. Aku tidak sempat merenungkan keaslian menakjubkan ini berjam-jam lamanya, sebab segera saja hujan turun demikian derasnya seolah-olah yang ada di atas bukan langit melainkan saringan yang lubang-lubangnya sangat besar. Aku cepat-cepat melompat masuk ke antara kedua tirai; maka di bagian depan aku terhindar, tetapi sayangnya bagian belakangku tidak luput dari siraman yang mengancam. Punggungku kena guyuran hujan pertama seperti disiram satu ember penuh air. Di bagian depan aku sama sekali kering, di bagian belakang aku basah kuyup sampai di kulit; aku disambut dengan gelak tawa dua orang perempuan dan aku langsung ikut tertawa. Kedua perempuan itu sedang duduk dekat jendela; yang satu, sang ibu, sedang merajut dengan benang putih; yang lain, anaknya tentu, sedang mematut-matuti hiasan bulu burung di topinya. Raut wajah mereka dan terutama derai tawa mereka begitu cocok dengan keadaan sekeliling mereka-tempat yang begitu menyenangkan guna bergembira-ria tanpa syak wasangka-sehingga aku bukan memberi salam, melainkan bertanya:

"Apakah anda berdua orang Austria?"
"Ya," jawab sang ibu.
"Apakah anda mengenal kami?"
"Tidak."
"Dari mana tahunya bahwa kami orang Austria?" "Karena anda mirip dengan Kai-


*"Bir Pilsen asli dari Hamburg"

serin* Maria Theresia, dan tertawa begitu manis dan cisleithanis."
"Cis - - - cis - - - cis - -! Bagaimana itu? Siapa tertawa cis?" tanya anaknya.
"Ah, sudah, jangan hiraukan cis itu, berilah aku satu gelas Pils! Betul-betul asli?"
"Ya, asli dari Hamburg. Yang dari Pilsen tidak tahan di sini."

Aku sudah tahu. Orang di dunia Timur semua minum bir Pilsen asli dari Hamburg; harganya dua, seringkali juga tiga mark. Ibu itu seorang janda. Ia menceriterakan riwayat hidupnya, namun tidak cocok dalam cerita ini. Keduanya-ibu dan anak-sangat berbakat dalam musik. Dalam ruang itu ada sebuah piano. Tidak lama kemudian aku duduk bermain piano. Kedua perempuan itu menyanyikan lagu-lagu dari tanah air mereka. Hujan berhenti; akan tetapi kami bertiga terus saja main musik dan bernyanyi. Sekonyong-konyong mereka berhenti menyanyi di tengah-tengah sebuah bait.

"Tuan Tsi!" seru sang ibu.

Nama itu! Aku memandang ke arah pintu masuk ke dalam rumah. Memang bisa saja sembarang orang Cina mempunyai nama itu, akan tetapi ini dia, betul-betul dia sendiri! Ketika ia melihat aku, ia mengambil beberapa langkah cepat yang hampir tidak pantas, hampir seperti melompat-lompat, ke arahku, dan memberi salam dengan cara yang tidak mungkin dapat diragukan lagi menunjukkan bahwa ia benar-benar gembira dengan perjumpaan yang tidak disangka ini. Kedua perempuan itu telah bangkit dan sesudah itu tidak duduk lagi. Tampak dari cara mereka memperhatikan kami sambil berdiri bahwa mereka menunjukkan suatu penghormatan yang tidak lazim diberikan kepada seorang dari ras kuning oleh orang kulit putih - apalagi kalau mereka perempuan. Ketika ia berbicara singkat dengan mereka, ia hanya bicara sebatas sopan santun, tidak lebih daripada itu; kemudian ia meminta kepadaku supaya ikut dengannya.


*Kaisar Putri

[207] Dari ruang tamu ia mengantar aku melewati sebuah lorong sempit di rumah itu menuju semacam taman bunga; dalam taman itu terdapat sebuah bangunan yang lebih kecil, sebuah rumah tinggal tersendiri. Aku tidak melihat ruangan-ruangan yang biasanya mengelilingi sebuah rumah tinggal. Ruang dalam cukup luas dan ditata dengan gaya setengah Eropa, setengah Indo. Yang menarik perhatian adalah banyaknya kursi dalam ruang itu. Kelihatannya seolah-olah tuan Tsi sering sekali mendapat kunjungan tamu. Di sebuah meja tersedia perangkat minum teh. Air sedang bergolak-golak mendidih di atas sebuah kompor spiritus yang begitu besar sehingga dapat diperkirakan bahwa air itu dibiarkan mendidih sepanjang harinya. Aku mengambil tempat duduk. Tuan Tsi menyiapkan dua cangkir teh seraya mengatakan:

"Saya tinggal di sini. Perhatikanlah, sahabat, apa yang akan saya katakan kepada anda! Tidak banyak, akan tetapi sangat penting untuk saya. Ayah saya telah pergi ke tanah leluhur; saya masih ada urusan di beberapa tempat, sekarang ini juga di sini. Urusan apa, mohon, jangan ditanya. Saya tidak boleh menceritakannya dan justru itulah, saya tidak mau mengecewakan anda. Saya ini dianggap dokter, sebenarnya saya memang dokter. Kalau anda menyatakan bahwa saya ini seorang dokter, anda tidak usah menanggung beban batin sebab merasa tidak mengatakan kebenaran, karena saya lulus cum laude* di Montpellier**. Saya harus menerima banyak tamu dan sebab itu saya sengaja telah memilih tempat tinggal ini karena letaknya tersembunyi dan orang-orang yang mengunjungi saya dianggap tamu restoran oleh orang-orang yang barangkali mengawasi mereka. Orang yang harus mempertanggungjawabkan kunjungannya kepada saya, dapat mengatakan bahwa dia mencari bantuan saya sebagai dokter. Berdasarkan pertimbangan kegunaan dan kepentingan tertentu juga di sini saya membiarkan orang menyebut saya Tsi - - seperti di Kairo, meneruskan salah paham yang telah bermula di sana. Saya gembira sekali bertemu kembali dengan anda, dan memohon kepada anda supaya kita, kalau keadaan memungkinkan, jangan begitu cepat berpisah lagi. Akan tetapi hari ini dan besok saya tidak ada waktu


* dengan pujian (b. Latin, judisium)
**Montpellier: kota tua di Perancis Selatan, termasyhur terutama karena fakultas kedokterannya yang didirikan pada tahun 1225

[208]

untuk anda. Mulai lusa saya sepenuhnya dan setulusnya menyediakan waktu saya untuk anda. Anda lihat 'kan, saya jujur. Karena saya sudah kenal anda, justru dari pemberitahuan jujur ini anda mengetahui bahwa saya menganggap anda sahabat sejati - bukan sekedar bersopan-santun. Apakah anda memaafkan saya?"

"Tentu saja! Akan tetapi sayang kita tidak lama lagi toh harus berpisah lagi. Besok kapal uap 'Coen' milik KPM', komandan Wilkens, seorang teman saya, datang dari Padang dalam pelayaran ke Singapura. Kalau ia kembali, dia akan menjemput saya untuk ke Uleh-leh."

"Anda mau 'nyebrang ke Sumatra?" tanyanya cepat.
"Ya."

"Dan maunya justeru ke Uleh-leh*, ke Atjeh** jadinya? Anda sebaiknya berhati-hati! Saya tahu betul bahwa yang sedang dipersiapkan di sana bisa jadi berbahaya untuk tiap orang Eropa yang meninggalkan lingkungan kota. Akan tetapi biarlah itu nanti saja kita bicarakan. Sekarang, marilah minum teh dulu dan ceritakanlah pengalaman anda, dan ke mana saja anda pergi setelah meninggalkan Kairo!"

"Apakah kita tidak mau menyimpan juga kisah itu untuk lusa nanti? Anda tidak ada waktu, dan apa yang saya telah alami bukan untuk mengganggu anda dengan pengisahannya. Lusa saya datang lagi 'kan - atau bisa juga, anda yang datang ke hotel Enst and Oriental tempat saya dan Sejjid Omar menginap."

"Apa? Dia masih ikut anda?"
"Ya. Sudah terbukti bahwa dia orang baik dan dia akan gembira sekali bertemu lagi dengan anda. Anda tahu 'kan, di Kairo saja dia sudah sangat senang kepada anda dan ayah anda. Sekarang saya mau pamit dulu, namun tidak sebelum saya


* mungkin Ulee Lheue. Lihat Wasis, Widjiono (ed.). 1989. Ensiklopedi Nusantara. Jakarta: Mawar Gempita. Hlm. 113
** Aceh

[209]

menanyakan, apa kabarnya teman kami Waller. Apakah anda tahu bahwa dia sebenarnya mempunyai rencana untuk mampir di Penang sekarang ini?"

"Tidak," jawabnya cepat sementara air mukanya memperlihatkan bahwa ia terkejut dan gembira sekaligus. "Apakah dia memang ada di sini?"
"Saya tidak tahu. Dia tidak menginap di hotel saya, sebab saya tidak melihat dia waktu makan hari ini."
"Kalau begitu, barangkali di hotel lain. Harus cepat-cepat dicari!" katanya cepat, dengan nada yang luar biasa mendesak.
"Memang," jawabku. "Sesudah ini saya segera akan bertanya di hotel Crag, hotel Sen View, dan hotel Eropa."
"Dan anda akan segera memberitahukan saya atau sekurang-kurangnya menyuruh orang membawa kabar?"
"Dengan segala senang hati!" "Apakah miss Mary juga akan ikut?" "Ya."
"Apakah anda tahu betul?"
"Tahu betul. Miss Mary tidak pernah akan meninggalkan ayahnya selama di perantauan ini. Mereka telah mampir di India dan dari pantai timurnya akan menyeberang ke Penang."
"Maaf, siapa yang memberitahukan anda?" Rupanya, pemuda baikhati itu sangat gembira. Aku menjawab: "Maaf, sekali-sekali saya pun ada rahasia yang tidak boleh anda ketahui! Apa yang anda tanyakan, telah saya ketahui melalui kejadian yang sekarang belum boleh saya ceritakan. Hendaknya jangan disebut-sebut kalau kita memang akan bertemu dengan ayah dan anak di tempat ini. Mereka tidak boleh mengetahui bahwa saya sebelumnya sudah mengetahui bahwa mereka berniat datang ke sini."
"Akan tetapi, kalau anda berhasil menemukan mereka, anda segera akan memberitahukan saya?"


Petikan kedua >>

 

 

 

>