BACK

Asia Society, NYC
Asia Society building.

Cerita Pertama

Jujur saja terkejut hati ketika seorang teman di Wisconsin memberi tahu kalau pak Pram akan datang ke Amerika bulan May. Setelah gontok-gontokan mencari info kesana kemari, diketetahuilah oleh saya kalau pak Pram akan ke Cornell dan juga New York city.

Dengan modal nekat, segera saya menghubungi Chris (GoGwilt)di Fordham University dan Alex Bardsley yang punya home page special buat pak Pram, untuk meyakinkan hal ini, dan ketika dia bilang benar adanya, hati sampai mau jatuh ketanah rasanya. Lalu saya kontak teman saya di Cornell dan dia juga bilang iya, walau dia sendiri ngak jelas kapan acaranya.

Sejak usia dini saya sudah terekspose oleh karya2 pak Pram. "Cerita dari Blora" merupakan karya pertama beliau yang saya baca ketika kira2 duduk di bangku kelas 3 atau 4 SD. Too early? Bisa dikatakan demikian adanya para pembaca, tapi ini merupakan sebuah hal yang saya sangat banggakan adanya.

Dengan modal kenekatan yang tebal, meminta ijin boss untuk bolos selama seminggu, pergilah saya yang bagaikan sang punguk merindukan bulan. Cornell adalah tujuan pertama, walau sialnya setelah sampai disana, pak Pram dan rombongan sudah bertolak dari sana ke tujuan berikutnya. Kesalahan info yang sangat menyesalkan hati saya, walau akhirnya menjadi penerus tekat bahwa New York City adalah tujuan berikutnya.

Tibalah saya di New York city beberapa hari kemudian di Penn Station. Bermodal beberapa dollar disaku, segera ambil Subway menuju ke 69th Avenue, stasiun terdekat untuk menuju ke Asia Society. Sampai disana jam 1 siang, tapi acara baru mulai jam 6-an sore. Dimulailah proses bengong ria yang sangat lama rasanya.

Rokok demi rokok mulai dihisap diluar Asia Society menunggu dimulainya acara dan tiba-tib terusik akan masuknya seorang pria menggunakan jaket hijau tua. "Astaga!" kata saya...."Ngapain pak Gun (Goenawan Muhamad) disini?" Ketika saya masuk berusaha mengejar, sudah hilang beliau dari peredaran. Celinguk sana dan sini, ngak kelihatan juga. "Ya sudah lah....ngak nasib", pikir saya.

Kaki melangkah masuk ke kamar kecil gara-gara panggilan alam yang mesti dipuaskan, dan walah.....berdirilah di depan wastafel si mahkluk yang saya cari-cari, sedang cuci tangan. "Pak Gun...apa kabar?" kata saya. Beliau celinguk ke saya dan bilang' "Eh......kamu....ngapain disini?" Dalam hati saya, saya pikir bingungan dia kali dari pada saya ketemu pak Gun disini. Ya saya bilang kalau saya dateng karena mau lihat pak Pram, dan balik nanya pak Gun mau ngapain. Dia bilang bahwa beliau diundang untuk membacakan pidato penutup di acara ini. "Ooooooooo...pantes ada disini beliau", kata saya.

Akhirnya ada juga korban kedua yang bisa dijadikan sahabat penghabis waktu. Ngobrol2 dengan pak Gun, berusaha mengingat2 kembali cerita2 lama di Indonesia bersama beliau dan juga membahas masalah2 aktual; dari Mesjid Istiqlal di bom sampai cerita2 lucu masalah beliau kerja nulis operet di Seattle. Pak Gun melirik bawaan saya yang merupakan karya pak Pram terakhir yang baru saja diterbitkan dengan bahasa Inggris, dan dia bilang, "Fred...ntar saya suruh pak Pram tanda tangan buku kamu. OK". "Boleh lah pak," kata saya. He he ....asik juga kalau punya koneksi dalem....dasar, manusia Indo kagak bisa kabur dari nepotisme dan kolusi.

Sejam setengah kemudian, tiba2 melangkahlah masuk 3 sosok manusia yang ditunggu-tunggu para pemirsa disana, Pak Pram, Ibu Maemunah dan Pak Joesoef. Pak Gun langsung saja melangkah ke mereka dan berpelukan dengan mereka lalu berjabat tangan. Memanggil saya dan lalu bilang ke pak Pram, "Pak Pram...ini ada penggemar berat anda datang jauh2 untuk ketemu anda. Oi...kasih buku kamu...ditanda tangani sana sama pak Pram."

Pembaca....boro2 saya bisa ngomong, menggerakkan tangan dan kaki saja susah luar biasa. Akhirnya, setelah sedemikian lamanya menjadi pembaca karya2 beliau, saya bisa bertemu muka langsung dengan sang pujangga tanpa adanya halangan dari siapa2. Dengan tangan sedikit bergetar saya berikan buku saya ke pak Pram dan pak Gun dengan sigapnya menarik pen Boxy dari sakunya untuk diberi ke pak Pram. Tiba2 saja terdengar suara yang dalam dari samping saya. "Ngapain sih sekarang...nanti saja...kan ada waktu buat tanda tangan!"

Kaget juga hati ini. Ternyata pak Joesoef angkat bicara. Hati jadi ngak enak sekali, melihat kalau pak Pram tampak memang lelah dari perjalanannya. Hampir saya tarik kembali buku itu tapi keburu pak Pram tarik dari tangan saya dan dengan senyuman khas beliau, ditanda tanganilah buku saya. Lalu dikembalikan ke saya, dengan senyuman itu kembali lalu melangkah pergilah mereka menuju ke aula tempat acara itu diselengarakan untuk gladi resik sejenak.

Tinggalah diri saya sendiri menatap buku dengan tanda tangan itu. Tidak percaya rasanya kalau saya baru saja bertemu dengan manusia pujaan saya dan malah dapat tanda tangan beliau. Sebuah pengalaman yang tidak akan saya lupakan seumur hidup saya.

[Bersambung ke cerita kedua]

Buffalo, NY
June, 1999

BACK