BACK

Pak Pram at Asia Society
l to r: pak Pram, bung John, and mbak Mary

Cerita Kedua

Setelah hilang rasa "kaget" dari hati, badan mulai bisa kompromi dengan otak ini. Maka mulailah saya melangkah kesana kemari berkenalan denga orang2 yang ada disana. Dengan kemampuan "nepotisme" saya dengan pak Gun, berkenalanlah saya dengan banyak professor2, budayawan2 dan penulis2 buku juga kritikus2 yang semuanya berkulit putih namun anehnya bisa ngomong bahasa Indonesia. Fasih tanpa cela sedikit pun juga. Jadi mikir sendiri bahwa sangatlah tragis melihat sang Pujangga lebih dipahami oleh para budayawan negeri seberang ketimbang negeri sendiri. Kebanyakan yang hadir bukanlah orang2 Indonesia, yang membuat hati terasa kecil.

Akhirnya tibalah saat2 yang kita tunggu. Semua orang mulai masuk ke aula itu. Beberapa menit kemudian, acara ini dimulai. Amitav Gosh (PEN) membacakan sekelumit potongan dari buku pak Pram dengan penuh perasaan membawa diri masing2 pirsawan terbawa kedalam dunia milik Pramoedya Ananta Toer.

Masuklah Rachel(Cooper) dari Asia Society sebagai MC setelah itu. Mary Zurbuchen dari Ford Foundation yang menjadi pembawa acara (moderator) melangkah masuk sesudahnya. Sejenak kemudian masuklah pak Pram didampingi John (McGlynn) sebagai penerjemah.

Sesi tanya jawab oleh Mary sangatlah menarik dan sangatlah menarik kembali ketika dialihkan kepada pemirsa. Berlomba2 orang bertanya, walau bisa dilihat manusia2 Indonesia adalah minoritas sebagai orang yang bertanya.

Dag dig dug rasa hati saya. Tanya...tidak....tanya...tidak....hati galau sekali....sampi akhirnya diumumkan bahwa hanya dua orang saja lagi yang diijinkan bertanya, keputusan bulat dari saya. Tanya....malu ngak malu....sebodo amat...jauh2 datang dari Buffalo...bertemu dengan pak Pram, kenapa ngak ditanya saja?

Haruslah saudara2 ketahui modus pertanyaan2 dari pemirsa hanyalah seputar karya yang terbaru. Tak seorangpun yang hadir menanyakan hal2 yang detil kepada pak Pram, dan inilah yang membuat saya nekat untuk bertanya.

Tangan saya angkat....dan saya rasa berkat kembali "nepotisme" dari Mary, diberikanlah giliran terakhir kepada saya. Semua orang kok ngeliat ke saya ya? Pas mike dioper ke saya.....that's it folks....mau ngak mau...mesti keluar dari mulut pertanyaan.

(Diterjemahkan dari Inggris, berikut pertanyaan saya)

Saya seorang Indonesia, yang bisa dikategorikan sebagai korban kaum Orde Baru. Saya bersekolah di Indonesia selama lebih dari 10 tahun, jadi bisa dikatakan saya adalah produk murni dari sistem disana.

Saya tidak pernah mendengar nama bapak diucapkan disekolah sampai saya di bangku SMA 3. Saya mendengar nama bapak disebutkan oleh guru saya, yang merupakan bekas murid bapak di Universitas Res Publika.

Orang2 berkata bapak adalah seorang KOMUNIS, dan karena inilah karya2 bapak dilarang di Indonesia. Berhubung dengan adanya bapak disini, saya hendak bertanya, apakah bapak seorang komunis?

(terdengar gemuruh dari pirsawan)

Saya percaya semua tuduhan ke bapak adalah salah. Dengan adanya bapak disini, saya hendak mendengar jawaban dari pak Pram sendiri.

(John menerjemahkan ke bahasa Indonesia untuk pak Pram)

Selagi nunggu jawaban, tiba2 saja ada bule disebelah saya nanya ke saya, "Tadi kamu bilang dia ngajar dimana?" Jawab saya, "Res Publika." "Sekolah apa itu?" tanyanya lagi. "Macem2." kata saya. "Swasta?" tanyanya lagi. "Iya," ujar saya.

(Jawaban pak Pram)

Ya memang pemerintah Orde Baru telah mengangkat saya sebagai komunis.

(Terdengar tawa dari pirsawan)

(Aneh bukan? Majoritas pirsawan adalah dari golongan "Bule" tapi tanpa adanya terjemahan, ketawa juga. Luar biasa lakunya bahasa Indonesia disini.)

Dan, ini diperkuat oleh pers Orde Baru. Tuduhan itu sudah sejak masa Orde Lama. Tetapi kalau ditanyakan saya ini Komunis nomor berapa saya ini di Indonesia....ngak ada yang bisa jawab.

Komunis siapa yang membina saya? Saya tidak tahu.

Saya pribadi hanya berpihak kepada KEBENARAN, KEADILAN, KEMANUSIAAN.

Itu yang pernah saya katakan "Pramisme"

(Tawa dan gemuruh tepuk tangan dari pirsawan diberikan pula standing ovation kepada pak Pram)

Selesailah session ini, dilanjutkan dengan cocktail party beserta tanda tangan buku.

Selagi saya melangkah keluar, tiba2 mendekat seorang yang jelas tampak sebagai orang Indonesia....dia tepuk dengan keras pundak saya dan bilang, "Saya suka pertanyaan bung......itu perlu ditanya dan sangatlah penting maknanya."

Saya tersenyum lalu melangkah keluar bersama dia. Tiba2 dihadanglah saya oleh seorang manusia lain yang tiba2 saja ngomong dengan bahasa Indonesia, walau dicampur2 dengan Inggris..." Ha ha ha .....saya suka pertanyaan bung....saya suka...bagus itu." dan ngalorlah dia dari pandangan saya.

Disitulah perkenalan saya dimulai dengan oom Max Suryadinata, seorang pendeta di New York City. Sangatlah menarik kemudian bahwa nantinya kita ketemu lagi di Toronto, dalam kunjungan pak Pram disana.

Selagi melangkah menuju meja sajian, berusaha mengambil segelas air yang sekiranya untuk membasahi kerongkongan; Saya membalikkan badan dan pak Gun sudah didepan saya.

"Kejawab ngak pertanyaan kamu?" tanya pak Gun.

"Saya itu mau mendengar jawaban YA atau TIDAK pak Gun...dan dari yang saya dengar, tidak ada jawaban itu. Kalau dibilang apakah pertanyaan saya sudah terjawab, saya sendiri bingung apa jawabannya." jawab saya.

Pak Gun melihat saya dengan senyuman khas-nya yang terkadang malah membuat hati jadi penasaran dan bertanya, "Sebenarnya apa yang ada dihatinya"? Lalu kita sama2 melangkah untuk berbincang2 dengan para tamu lainnya. Sementara para tamu ngantri untuk dapet tanda tangan pak Pram....sementara saya senyum2 melihat buku saya yang sudah ditanda tangani sejak awal, berkat mantra "nepotisme" luar biasa dari pak Gun.

Usai sudah acara hari ini.

Setelah mengucapkan selamat jalan dengan pak Gun dan dapet alamat beliau di Seattle dan juga janji kopian operet dia kalau sudah selesai, jalanlah saya keluar dari sana. Wah...sekarang saya harus berjuang, naik subway ke Long Island dimana teman saya tinggal. Biarlah bercapek2 dikit...tumpangan gratis pikir saya.

Melangkah keluar, segerombolan manusia2 berkumpul di teras depan gedung ini, dan astaga....bau kretek dimana2....

Dasar kumpulan2 orang Indonesia...tipikal banget....acara udah kelar bukannya pulang malah nongkrong sambil ngerokok. Tapi ketika saya mendekat....walah....pak Pram ternyata ditengah2 gerombolan manusia itu. Betul apa kata pepatah "Ada gula, ada semut". Biar gulanya sudah mau rileks pun, masih saja dikerubungi semut2 yang nakal, berusaha bertanya dan mendapatkan foto bersama pak Pram.

Dasar saya juga orang Indonesia....(born and raised), jelas ngak bisa melewatkan situasi ini. Mulailah keluar Dji Sam Soe milik saya, dan secepat kilat satu buah berpindah tangan ke pak Pram. Tua boleh dibilang....tapi speed dalam menyalakan rokok luar biasa.

Bincang2 ngalor nggidul ngak keruan, akhirnya pak Pram harus jalan kembali ke tempat penginapannya. Setelah mengucapkan selamat malam, mulailah saya berjalan ke 69th street station...dengan perasaan hati yang tidak bisa dijelaskan lagi dan hampir saja air mata bertetesan dari mata saya, kalau tidak sempet kepikir..."Besok masih ada acara lain...simpen dulu air mata ini"

Subway yang melaju dengan kencangnya tidak membuat saya merasa jengah. Saya malah berasa naik kereta surga yang melayang2 rasanya.

Akhirnya sebuah impian dari masa dulu terwujud sudah. Mengingat kembali bagaimana kuatnya keinginnan saya untuk bertemu beliau apalagi setelah keluarnya "Nyanyi Sunyi Seorang Bisu" dalam versi Indonesia, tapi tidaklah terwujud karena larangan orang tua yang mengatakan.."gila apa kamu...ntar ditangkap baru tahu rasa....jangan gila kamu....kita masih ada keluarga disini."

Aneh juga....impian terwujud di negara orang ketimbang negara sendiri. Inilah yang menjadi bahan renungan bagi saya sampai sekarang dan masih jua saya renungkan sampai sekarang.

[Bersambung ke cerita ketiga]
[Kembali ke cerita pertama]

Buffalo, NY
June 7, 1999

BACK