BACK

Cerita Kedua puluh dua
(Penutup)

Pagi ini kubangun dengan sebuah ganjalan didalam diriku. Mengapa? Karena hari ini adalah hari terakhir bagi pak Pram, ibu beserta pak Joesoef di benua ini. Dan hari inilah hari terakhir aku akan berada di Canada, dikelilingi oleh semua rekan-rekanku.

Semakin saja berputar jalan pikiran dikepalaku, berusaha mengingat semua apa yang sudah dilaksanakan dalam beberapa hari ini. Sedemikian banyaknya kejadian2 yang terjadi dan mungkin terjadi, namun sangat singkat waktu yang ada dan tersedia. Apakah cukup semua itu ataukah masih haruskah ada lagi yang dilakukan atau kudapatkan dari keberadaan sang Pram ini?

Sedih hatiku kala aku kembali memikirkan hal ini. Sedemikian singkatkah sebuah impian ini? Kumenanti bertahun-tahun demi kiranya terwujud sedikit apa yang aku impikan, namun kala kudapat, kukecap sedikit, harus pergilah pula.

Apakah egois diriku ini, mengingat hanya aku, aku dan aku saja yang kubicarakan sejak kala tadi. bagaimana dengan yang lainnya yang menunggu adanya Pram ini? Bagaimana dengan bangsaku yang ada di tanah air, yang sekiranya lebih memerlukan seorang Pram, ketimbang aku memerlukannya.

“Tidak ada perjumpaan yang tanpa akhir” adalah sebuah pesan yang mungkin sudah lapas dan termakan usia, namun kala yang berkata adalah seorang yang kau damba dan kau puja, lebih indah pula untaian kata-kata itu dan penuhlah pula artinya ketimbang segala rayuan dan pujian yang kau pernah dengar.

Dalam hal ini, adalah Engkong-ku yang berkata. Dapatlah kau tahu sekarang sahabat betapa beliau sangat berarti bagiku. Mengingat pula bahwa dari rumahnya inilah aku mendapatkan berbagai ilmu dan berbagai sumber bacaan yang dapat dikatakan membangun semangat nasionalisme diriku ini.

Pak Pram, ibu Maemunah, dan pak Joesoef…… Tiada perjumpaan tanpa perpisahan. Namun jikala haruslah berpisah, haruslah aku yakini bahwa ini bukanlah yang terakhir, namun hanyalah sebuah jeda saja dari kehidupan ini. Haruslah aku memberikan sebuah kesan yangbaik, agar senyuman dapat terbias dibelahan bibir kami, ketimbang kegetiran tak berjadi.

“Bangunlah anak muda dan berikan kepada mereka apa yang kau dapat berikan kepada mereka..” ucapku pada diri sendiri.

Selesai aku melakukan pekerjaan rutin sehari2 di kamar mandi itu, aku segera naik keatas. Tante Cecil sudah mulai melakukan kesibukannya di dapur sementara oom Jusni berada didepan komputernya melakukan hal-hal yang tentunya menarik baginya; Jikala tidak mana mungkin dia berada dimuka komputer itu.

Kusapa mereka dan tanpa tungu macam2, segera saja tersajikan sarapan pagi untuk kami pagi ini. Apa yang dapat kukatakan mengenai tanteku yang satu ini kecuali….luar biasa. Oom Jusni, tante Sil dan aku duduk bertiga mulai menyantap sarapan ini, dan oom Jusni berkata bahwa oom harus pegi kerja dan tidaklah dapat mengikuti kegiatan2 akhir ini.

Semuanya sudah direncanakan. Akan ada nantinya yang mengantarkan pak Pram dan rombongan ke airport, sesudah selesainya beberapa acara dipagi ini. Rupanya ada beberapa wwancara yang akan dilakukan, terutama oleh Celine dan kemudian oleh seorang wartawan dari sebuah media di Toronto yang aku sendiri sudah lupa namanya.

Hanya saja ada satu kemungkinan yang akan terjadi, bahwa pak Joesoef akan pergi dahulu untuk mencari sebuah kamera yang beliau inginkan, dan sekiranya aku diminta bantuan untuk emmbantu beliau. Oom Jusni memberikan padaku jurusan yang harus diambil untuk menuju ke toko kamera yang kami sudah datangi beberapa hari sebelumnya. Tak lama, tante Cecil memberikan ide bagaimana jika kita meminta pertolongan dari seorang teman akrab oom Jusni yang merupakan fotographer profesional atas hal ini. Segera saja tante menelpon dan ternyata batuannya siap diberikan oleh beliau.

Oom Jusni yang sudah siap untuk pergi kerja, memberikan salamnya padaku.

Seperti yang ada dibenakkku kala masih diatas kasur itu, bahwa perpisahan akan menjadi sebuah tema yang amat kuat hari ini.

Pelukan dan jabatan tangan dan ucapan terima kasih berganti keluar dari diri kami. Bagiku ini bukan sebuah perpisahan, namun hanyalah sebuah koma saja dalam sebuah kalimat. Kecil, namun kuat artinya dalam menyambung beberapa ide yang ada dalam sebuah kalimat.

Tak lama, aku pamit dengan tante Cecil untuk menuju ke hotel tempat tinggal pak Pram. Tante bilang kalau kita akan bertemu nanti di hotel, karena tante akan menuju kesana segera setelah selesai dengan apa yang sedang dan akan dilakukan olehnya.

Dan beradalah aku diatas mobilku menuju ke tempat tinggal sementara sang pujangga. Kepulan2 asap kretek mulailah tampak dariku dan aku terbayang indahnya saat-saat berbagi rokok dengan pak Pram dan oom Joesoef. Berada diantar para perokok, terutama perokok kretek adalah hal yang sangat langka dan jarang didalam kehidupanku dibenua ini, dan alangkah senangnya kala aku bersama mereka, bagaikan seorang anak yang lugu berada diantara orang2 yang tak henti-hentinya mencurahkan pengetahuan atas pengalamannya kepada diriku.

Sesampainya aku ditujuan, aku melangkahkan kakiku menuju dimana adanya sang pujangga. Semuanya ternyata sedang berada diruang makan, baru saja selesai menyantap makanan pagi mereka. Sudah bisa kulihat kepulan2 asap tipis itu, dan tentu saja kutahu bahwa itu pasti mereka. Semerbak aroma kretek dan tembakau tak dapat disangsikan lagi.

Sekejap teringat cerita akan Haji Agus Salim yang merokok kretek di istana Belanda, dan kala sang pangeran bertanya ke sana dan sini akan aroma yang tak sedap baginya itu, beliau hanya berkata…"Yang mulia, inilah alasan bangsa anda menjajah negeri kami selama ratusan tahun," sambil menunjukkan sumber aroma yang berada dikepitan jarinya.

Tak lama aku duduk bersama mereka, datanglah oom Adjie dan tante Sinta, tepat seperti yang dikatakan oleh oom Jusni. Bersama merekalah nanti akan aku mengantar sang pujangga ke lapangan terbang, menuju tujuan mereka yang berikutnya.

Tak lama, dimulailah wawancara pertama dengan wartawan dari majalah itu. Aku tak terlalu mendengarkan apa yang dibicarakan karena aku sedang sibuk membahas beberapa hal dengan oom Joesoef. Tak lama, kami bertolak untuk mencari kamera yang dimaksud oleh oom Joesoef, namun tak kurasa perlu dibahas hal ini dalam tulisanku ini.

Kembalinya kami kehotel, ternyata wawancara antara Celine dan pak Joesoef sudah dimulai. Sedikit ada masalah kami dapatkan, karena kami tak dapat masuk kedalam kamar ini, sementara oom Joesoef memerlukan dirinya untuk berada didalam kamar itu untuk berkemas2. Setelah beberapa kali mengetuk daun pintu itu, dapatlah pula aku masuk kedalam ruangan itu, dan memberikan pesan oom Joesoef bahwa sudahlah saatnya kami bersiap2, karena perlu waktu yang tak singkat untuk menuju ke bandara udara. Tak lama sesudah itu, wawancara Celine berakhir, dan dapat kulihat dari wajahnya garis2 keriangan walau tersembunyi. Apakah sebuah impian yang terwujud?

Sebuah kejutan terjadi setelah itu, kala Celine membawa sebuah kardus yang lumayan besar dan ternyata didalamnya terdapat benyak buku2 karya pak Pram yang hendak diminta untuk ditanda tangani. Terkejut kami semua dibuatnya, dan terkejutlah pula diriku karena disanalah aku melihat kembali sebuah kopi dari buku karya pak Pram yang pertama kali aku baca…"Cerita Dari Blora." Tak dapat kukatakan perasaan yang berada dihatiku saat itu, karena inilah buku yang menyentuh diriku pertama kalinya dengan segala segi dan rasa Pram dan juga pula, hadir dikala itu sang pujangga yang menulis karya itu, dan duduk disampingku pula. Inilah yang kukatakan sebagai kejutan bahagia yang tak terkira.

Melajulah kami tak lama sesudah itu menuju kelantai bawah dimana sudah menunggu mobil2 yang akan membawa pak Pram menuju ke airport. Sebuah perpisahan kembali terjadi disini. Aku, Celine dan Scott, pasangan Celine. Ah…..ini adalah sebuah koma kembali dalam garisan kehidupanku. Bukankah dengan sebuah koma, ada pula kelanjutan kata itu? Perpisahan bukanlah kata akhir, namun hanya sebuah sarana untuk kelanjutan hidup ini.

Mengemudi mobilku, tak lama sampailah kami semua di airport itu. Perjalanan yang lumayan memakan waktu itu, ternyata sekejap saja kurasa. Itukah kiranya ulah sang pikiran kala penuh dengan segala kenangan, impian, kebahagiaan, dan pula kenestapaan?

Membantu oom Adjie, aku membantu menuliskan berbagai dokumen dan berbagai keperluan lainnya untuk keberangkatan pak Pram dan rombongan. Aku membantu ibu Maemunah dengan segala pertanyaan2 yang ada di formulir itu, dan juga oom Joesoef, sementara pak Pram dibantu oleh oom Adjie. Setelah selesai dengan segala pertanyaan2 itu, aku angsurkan formulir itu untuk ditanda tangani oleh yang bersangkutan. Oom Adjie memberikan padaku paspor sang Pujangga, dan detik iut pulalah aku merasakan getaran yang sangat kencang didadaku.

Mengetahui puluhan tahun sang pujangga tak memiliki paspor karena keberadaan pemerintahan Orde Baru…..kala inilah aku memegang sebuah bukti kemenangan diri kami dan perjuangan kami. Tanda jatuhnya sebuah tirani didalam genggamanku dan inlah sebuah bukti yang nyata.

Namun senyata apakah buku berwarna hijau tua ini ketimbang dengan keberadaan sang Pujangga yang duduk dipojokan sana menunggu penerbangan beliau?

Pramoedya yang tersiksa, terjajah dan teraniaya……..TIDAK LAGI.

Pramoedya namun pula tak pernah terjajah, tak pernah pula tersiksa, tak pula teraniaya….karena tak pernah padam bara api yang ada didalamnya, dan tak habis2-nya pulalah menghangati diri kami semua.

"Bung ngak ikut nih ke Amerika?" Tiba2 saja sebuah tepukan dipunggungku dan siapakah lagi kalau bukan sang Pujangga.

"Ha ha ha pak Pram….. saya juga akan ke Amerika, namun dengan mobil pak. Namun bakal sama kok kita…ke Amerika."

Cengiran itu kulihat lagi darinya.

Ibu kubantu dengan segera untuk mendorongkan kereta bawaannya menuju ke pintu gerbang masuknya ke bagian imigrasi. Kupeluk dengan segera ibu yang walaupun tak lama saja kukenal secara pribadi, telah kurasa sebagai seorang ibuku yang kupunya sejak lahirnya diriku. Kesetiaan dan kekuatan jiwa dan harkat martabat wanita ini tak ada yang dapat dibantah lagi. Dengan sang Pujangga, beliau adalah seoarang pula pahalwan yang dimiliki oleh negara kita. Kembali padaku sun yang diberikan oleh ibu pada kedua pipiku.

Oom Joesoef berada dihadapanku sekarang. Kurogoh kantungku dan kukeluarkan dua bungkus permen Halls untuk pelega tenggorokan dan kuberikan pada beliau. Batuk yang tiada habis2nya membuat beliau sedikit hilang tenaga, kuharap dapatlah sedikit terlegakan dengan pemberianku ini.

Pelukan dengan segera tertukarkan dari kami masing-masing. Seorang tokoh yang ku hormati dan menjadi semakin eratlah hubungan kami, karena mengetahui bahwa kami sekarang adalah keluarga. Beliau yang seharusnya (dan sebenarnya menuntut) dipanggil Opa, akhirnya oom jugalah yang jadi pilihannya.

Dan Pramoedya Ananta Toer……..

Ah…..sang Pujangga terus saja berada di alamnya sendiri. Senyuman yang terus nampak dibibirnya, membuat diriku terhibur dengan sendirinya.

Berjalan bersama ibu, melangkah dua pasangan sejiwa itu. Saling menbantu mendorong kereta yang penuh dengan semua barang bawaanya, hendak rasanya lari aku kedalam membantu mereka….namun apa daya, tak diijinkan atas alasan keamanan oleh sekuriti bandara.

Terasa hampa kala aku mengemudikan mobilku menuju kembali kerumahku.

Benarkah hampa?

Jikala ini yang dinamakan hampa, inilah hampa yang paling membahagiakan bagi diriku.

Aku merasa diriku bukan diriku lagi, namun adalah diriku yang satu dengan bangsaku.


[Kembali ke cerita kedua puluh satu]

Buffalo, NY

BACK