BACK

Cerita Kedua puluh satu

Cerahnya matahari pagi membangunkan diriku yang masih terbuai dialam impian yang nan tak kunjung nyata. Sorot pancaran hangat memulas wajah, menggugah diri bangkit masuk kealam nyata, alam yang penuh dengan segala rasa.

Hari ini, minggu......acara kita bisa dikatakan tidak ada lagi kecuali acara wisata untuk pak Pram, ibu dan pak Joesoef. Kemana lagi kita kalau tidak menuju ke Niagara Falls, salah satu keajaiban dunia yang mahsyur konon disegala penjuru bumi ini. Mendengar nama Niagara, terusiklah pikiran seseorang langsung menuju ke satu kata...air.............air yang banyak sekali. Selalu aku berpikir dikala lamunan menguasai kepalaku yang tak mau diam ini akan air2 itu. Tak habisnya mereka datang, setiap detik, setiap menit, jam, hari minggu, bulan, dan tahun.........dari mana air2 itu? Sesekali aku berpikir bagaimana kalau mereka tiba2 bosan memuntahkan airnya menuju kebawah sana. Mogok terjunkan airnya, apakah ada lagi yang namanya Niagara Falls?

Ah.....naik aku keatas sana dan sudah terdenga pula suara2 indah dari dapur itu.........ada yang masak. Siapa lagi kalau bukan di nyonya rumah yang berkuasa disana? Dapur bagiku adalah sebuah tempat bersosialisasi. "Besosialisasi?" mungkin tanyamu, dan memang itulah yang aku rasa. Keluarga bersama saling membantu memasak atau hanyalah duduk dikursi pojok sana, memandang yang punya hajatan namun tetap saja obrolan jalan tak terasa dan itulah salah satu cara bersosialisasi.

Ternyata tante Cecil sedang masak untuk piknik disiang nantinya. Alamak....pepes dan tempe botoh......mimpi apa aku semalam? Lama sekali aku tak merasa makanan2 ini dan akan aku rasakan siang nanti. (Berhati-hatilah keluarga Hilwan disana, karena daku akan ingat selalu peristiwa ini.) Senyum2 saja tante melihat aku yang bengong terpana memandang apa yang sedang dilakukan olehnya, dan aku memang harus bengong2 saja, karena aku sudah penuh dengan segala impian dan bayangan akan apa yang aku akan rasakan nanti. Tiba2 saja sarapan sudah tersedia.......Goreng telur asin.........nah lho.......kayaknya baru saja aku naik, sudah tersedia pula sarapan...luara biasa sang nyonya satu ini. Oom Jusni tak lama turunlah dan bersama kita sarapan dan sedianya kita selesai, berangkatlah kita menuju hotel untuk menjemput pak Pram dan rombongan, lalu kestasiun keretauntuk menjemput mbak Sil.

Sampai di stasiun kereta, tiba2 saja sang nyonya setengah berteriak..."aduh...nasinya ketingalan." dan dimulailah sebuah adegan kejar mengejar dengan waktu, berpacu dengan mobilnya, sang Jusni Hilwan maju terus untuk kembali keperaduannya, untuk mengambil satu hal yang terlupa...nasi. Toh, apalah gunanya pepes dan tempe kalau tak ada yang namanaya nasi..........maklumlah, kami ini masih orang Indonesia. Tanpa nasi itu sama saja dengan kata istilah "Empat sehat Lima tak ada, boro-boro sempurna." Dengan demikian, tak lama kemudian sampailah akmi ketempat nasi ketinggalan itu dan tak lama kemudia, kembalilah lagi kami kestasiun kereta dan mbak Sil sudah siap, duduk dikursi panjang sana menunggu kami semua.

Tujuan kami sekarang adalah sebuah plaza yang kalau tidak salah ada didaerah Missisauga (oom Jusni tolong dikoreksi) untuk bertemu dengan yang lainnya. Oom Adjie dan tante sudah disana plus dengan Celine, pula oom Ham Go dengan Michael sudah disana. Lengkaplah sudah dan Niagara Falls..........kami datang.

Niagara Falls.....satu ucapan saja terucap oleh pak Joesoef yang selalu ada disebelahku......."Luar biasa....bagusnya.......bagus sekali." berkali2 diucap oleh beliau. Pak Pram dan ibu ada disebelah sana, bersama yang lainnya, aku rasa merasakan pula hal yang sama seperti yang diucapkan oleh pak Joesoef.

Foto demi foto diambil oleh kami, kenang-kenangan dimasa yang akan datang. Setidaknya terteralah wajahku dan gambar tempat ini sehingga kalau ditanya apakah sudah kesana, langsung pulalah jawaban tersedia olehku dan kala tak terpercaya mereka, aku ada pula bukti yang nyata. Ah.......dilema bukti dan kenyataan...........satu hal yang tiada habis2nya didunia ini.

Habis kami berputar2 di daerah Falls itu, kami mehuju kesebuah lokasi didekat Falls pula untuk makan siang. Gelar alas duduk diatas tanah, lesehanlah kami semua. Sekejap mata hidangan2 yang dibawa sudah tersedia, membuat para tetamu terkagum pula. Pak Pram dengan wajah riang gembira duduk dipojokan sana, menghisap rokoknya dan berkali-kali mengangguk-anggukan kepalanya tanda setuju ataupun tanda keriangna beliau belaka. Suasana kekeluargaan seperti inilah yang aku rasa dirindukan oleh kami semua. Aku sebagai seorang mahasiswa dinegara orang merasakan hal yang sama....kehausan akan kekeluargaan. Setidaknya hari ini aku mendapatkn apa yang aku impikan sejak saat yang lalu, rasa kehangatan dan kebersamaan.

Obrolan demi obrolan teurai dari kami semua, dan terkadang terdengar tawa-tawa riang ataupun hanya senyuman2 bagai tanda malu-malunya jiwa2 kami untuk tertawa lepas saja. Namun demikian, terasa nian kehangatan yang melebihi jiwa persahabatan belaka.

Pak Pram yang berkali2 "kabur" kebelakang membuat diir2 kami tersenyum pula. Lincah nian satu orang ini, bagaikan seekor kancil saja. Kecil namun kecepatan luar biasa. Sekejap mata tak memandang, sekejap pula ratusan meter dimuka sang pujangga berada. Dunia Pram memang tak kan berubah, tak kan terusik dan tak kan pula teresapi oleh diri kami dan diriku sendiri. Sang Pramoedya dan dunianya.........melangkah sendiri penuh dengan kemandirian yang tak terbakar habis oleh waktu dan raga.

Melihat waktu yang semakin condong ke barat, sudah saatnya kami rasa untuk kembali ke Toronto. Tampak pula semuanya terpuaskan dan tentu saja yang jadi perhatian adalah sang pujangga, karena kali inilah kunjungan pertama beliau, ibu dan pak Joesoef ke Niagara Falls. Kalau diriku......sudah dekat sekali untuk menuju kata "bosan", karena sudah tak terhitung lagi berapa kali aku kesana. Setiap saat adanya tetamu yang datang, Niagara Falls jadi tujuan. Demikian pulanya dengan hari ini, walau terasa berbeda karena kehadiran sang pujangga disana. Aku berpikir saja dalam hatiku bahwa adakah mungkin pak Pram menulis sesuatu dengan latar Niagara Falls dihari yang akan datang? Aku akan tunggu saja.

Kembalilah kami menuju Toronto dan kudengar kalau kita akan langsung menuju tempat oom Marcus, karena mereka semua mengundang pak Pram untuk makan malam disana. Sebuah kumpul2 kecil antara para rekan2 CCEVI sekiranya untuk melepas rasa bahagia akan lengkapnya sudah acara kali ini.

Aku bersama pak Joesoef dan Celine menaiki mobil milik oom Ham Go sementara yang lainnya naik ke mobil yang satunya, milik oom Jusni. Celin tak lama memulai perbincangan dengan pak Joesoef yang sekiranya sangatlah menarik dan "seru" untuk didengar. Aku pada saat itu merasa lelah, sekiranya tak dapat aku turut serta dalam pembicaraan itu. Kupingku namun lebar terbuka, karena inilah justru saat bagi diri kami mendengar dan mempelajari sejarah negeri Indonesia dari persepsi seseorang yang sangat cinta pada negeri ini sehingga haruslah diinjak oleh sang penguasa karena dengannya tak dapatlah sang kuasa berkuasa.

Ditanya oleh Celine bagaimana masa kala dipenjara, berikut adalah jawaban dari pak Joesoef.

"Indonesia itu satu-satunya negara didunia yang masuk penjara harus bayar untuk hidup," tukas pak Joesoef.

"Maksud saya adalah untuk makan dan yang lain-lainnya itu mesti dapat sokongan dari keluarga diluar sana. Kalau kita mengikuti pola diet penjara...makan nasi yang saya tak pernah mengerti, itu beras dapat dari mana.........hancur sekali. Warnanya coklat itu beras dan batu2nya banyak sekali. Kalau sebelum bisa dikonsumsi, kita rendam diair dahulu agar semua kotoran jatuh dan nantinya yang diatas kita ambil dan makan, namun........sudah tak berasa itu. Lalu juga dapat bayam...........bayam yang ini tidak seperti yang kamu tahu........pohonnya besar disekeliling penjara dan kita harus pakai parang itu buat potong itu bayam. Kita bawa kedapur dan kita masukkan ke panci yang besar....kita tambah air dan garam bata. Itu saja setiap hari makanan kita. Bisa kamu bayangkan tidak? Kalau kamu hidup hanya dari itu, dalam beberapa bulan saja...mati kamu karena malnutrisi. Saya lihat sendiri itu terjadi. Satu orang, minggu pertama masih baik, walau sudah kelihatan berbeda...minggu kedua, jalan sudah tak lancar dan oleng. Minggu ketiga mau berdiri dari duduk dilantai, harus pegang tembok.......dan selanjutnya, tak lama matilah dia." utas pak Joesoef yang tak dapat aku percaya mendengarnya.

"Beras itu........bagaimana bisa beras seperti itu? Dapat dari mana mereka? Saya tak bisa habis berpikir. Pulau Buru itu....lihat, bung Pram dan yang lainnya disana.........pakai tangan itu olah lahan dan lihat....surplus beras terbesar di Indonesia. Pulau Buru itu contoh nyata transmigrasi yang sukses. Mengapa? Karena yang "dikirim" itu orang2 terpelajar. Guru, insinyur, sarjana.....tak dibayar untuk transmigrasi kayak yang sekarang ini. Makanya bisa sampai seperti itu. Bodoh tidak kamu pikir itu negara?" ujarnya pula.

"Makanya perlu itu yang namanya bantuan dari keluarga. Setiap bulan, dapat kami kiriman dari keluarga dan dari sinilah kami hidup. Itupun tak cukup ya.....jadi inilah cara kami untuk tetap hidup. Kiriman2 itu kami satukan, lalu ada satu orang yang akan jadi penagggung jawabnya. Dibagi dengan rata sedemikian rupa agar semua dapat dan tetap ada dan cukup sampai kiriman berikutnya. Kami makan itu dengan "nasi" yang diberikan.

Terdiam sejenak kami mendengar hal itu, dan pak Joeosef terdiam pula. Walau tertutup mata beliau oleh kaca mata hitam miliknya, aku bisa merasakan betapa terombang ambingnya diri beliau kala itu.

"Kalau penjara itu sendiri bagaimana pak?" tanya Celine.

"Ya penjara itu sebenarnya untuk sekitar 500 sampai 700-an orang. Namun diisi sampai sekitar 2000-an." jawab pak Joesoef.

"2000!!!" terdengar Celine tak percaya akan figur itu. "Bagaimana bisa? Bagaimana dengan kondisi sel pak" tanyanya.

"Ya....sekitar 3 kali 3 meter. 3 orang satu sel." jawab pak Joesoef.

"3 orang??" terdengar kali ini oom Ham Go dan Celine pun tampak terkejut sangat.

"Iya...3 orang.......kita kalau tidur bersebelahan, dua kepala hadap sana dan satu kepala hadap sana, agar dapat bernafas." ujar lagi pak Joesoef.

Kali ini akupun mulai tak dapat duduk dengan tenang mendengar ucapan2 pak Joesoef ini. Terdiam sejenak kami disana, dan tak lama dimulailah sebuah pembicaraan lagi dengan topik yang berbeda......Indonesia dimasa sebelum Orde Baru.

"Kala itu, dua pemimpin dunia yang vokal. Amerika dengan Kennedy dan Soekarno di Asia. Soekarno itu orang pintar. Beliau pernah bilang bahwa didunia ini, dua kekuatan yang ada, pandangan politik barat dan timur. Lalu dikoreksi oleh beliau dengan adanya tiga kekuatan yang menjadi landasan dunia ini. Demokrasi, sosialis dan agama. Itukan makanya kita ada Nasakom. Lalu pikiran berubah, dan beliau bilang kalau hanya ada dua saja sebenarnya itu......yaitu kekuatan lama dan kekuatan baru dari manusia yang ada, dan uniknya, Kennedypun memiliki ide yang sama dan pada saat yang bersama pulalah. Itulah mengapa dipercaya kalau karena inilah mereka tidak boleh bertemu. Sebenarnya sudah akan ada pertemuan diantara mereka, dan lihat.....Kennedy dibunuh. Tak lama, Soekarno ditumbangkan dan tawanan rumah sampai wafatnya beliau. Disinilah yang sangat penting untuk sekiranya diketahui oleh kita semua." ujar beliau yang aku rasa sampai saat ini masih aku rasa perlu untuk ditelaah kembali, apalagi karena terbatasnya informasi yang aku miliki.

"Bapak sudah kemana saja selama ini?" tanya Celine.

"Ya negara2 seperti Eropa, Rusia, dan RRT. Sebagai wartawan itu tugasnya banyak dan haus diemban dengan penuh hal itu. Banyak sekali cerita2 masa lalu. Ah........saya dulu pernah ikut suatu konperensi dan saya dapat kesempatan wawancara seorang pejabat disana, namun tak dapat saya pakai bahasa Perancis, jadi kala itu saya dapat bantuan dari rekan saya, duta besar Tiong Kok . Ah unik sekali itu orang.......luar biasa kemampuan bahasanya. Nah, dari sanalah dia bantu saya. Saya bicara pakai bahasa Inggris ke dia dan disini uniknya bung......dia pakai penerjemah dia, bicara bahasa Tiong Hoa lalu penerjemah terjemahkan ke bahasa Perancis. Kala si pejabat jawab, langsung si duta besar ini terjemahkan ke bahasa Inggris ke saya. Sampai bingung itu pejabat." ujar pak Joesoef sambil tertawa kecil beliu mengingat kisah itu.

Tak lama, sampailah kami ketempat oom Marcus dan nampak pula kalau sudah banyak yang menunggu. Tentu saja tamu kehormatan, pak Pram yang ditungu2, namun kali ini pak Pram terlalu lelah untuk ikut dalam acara ini dan bersikeras untuk kembali ke hotel. Bujukan demi bujukan keluar, namun tak bergemin pula sang pujangga. Ibu maemunah diminta untuk sekiranya minta pak Pram masuk saja, tak digubris pula oleh pak Pram.

"Pak Ucup tuh....kalau udah gini mah cuma dia aja yang bisa." kata ibu.

Ternyata pak Joesoef pun tak mampu untuk membuat pak Pram merubah keinginannya, dan langsunglah oom Jusni membawa pak Pram kembali ke hotel, sementara kami semua tinggal disana untuk menikmati hidangan yang disediakan.

Tak banyak yang bisa diceritakan disini, sehingga aku rasa disinilah kisah hari ini berakhir. Kami semua kembali menuju kehotel bersama dan inilah malam terakhir dari mereka semua ada di Toronto.

Oom Jusni yang bekerja besok, minta maaf pada pak Pram kalau tak bisa mengantar ke airport, segera dipeluk oleh pak Pram dan penuh dengan ucapan terima kasih yang tiada henti dan.......sebuah ciuman dipipi mendarat dari pak Pram. Inilah yang nantinya oleh oom Jusni dijadikan bahan gurauan, bahwa si "kiri" ini mencium dirinya dan bagaimana kalau ada mata2 negara yang mengamati??

[Bersambung ke cerita kedua puluh dua]
[Kembali ke cerita kedua puluh]

Buffalo, NY
July 21, 1999

BACK