/hr size=2>
![]()
Masuknya pak Pram membuat banyak orang jadi terdiam dan memandang kearah beliau. Hening sejenak walau akhirnya orang2 mulai ribut2 juga, apalagi ketika Chris mengumumkan bahwa inilah pak Pram. Orang2 pada berdiri dan tepuk tangan untuk beliau. Setelah beliau duduk, saya dengan isengnya pindah duduk ke depan, dan asiknya dapet kursi pas banget disebelahnya pak Joesoef. Dua alasan untuk saya melakukan hal ini:
2. Saya yang gemar dapat panggilan alam, lebih mudah keluar dari aula pada posisi saya yang baru. :) Anyway, setelah pembicaraan atau panel discussion selesai, maka tibalah saat yang ditunggu-tunggu para pemirsa sekalian, naiknya pak Pram keatas panggung. Dengan tepuk tangan yang bergemuruh, naiklah pak Pram keatas panggung diiringi bung John yang bertindak sebagai penerjemah beliau. Pak Pram dengan simpatiknya bilang, "Selamat sore semua...." dan segera hadirin bales mengucapkan selamat sore kembali. "Saya diminta bicara sedikit kepada anda-anda sekalian disini. kenapa sedikit, saya juga ngak tahu...maunya banyak, tapi karena disuruh sedikit, ya sedikit deh....", ujar beliau dengan senyum lebar. Para hadirin tertawa semua mendengar apa yang pak Pram bilang dan dari kursi belakang terdengar teriakan2 bahwa pak Pram mestinya bicara banyak...jangan sedikit, tapi apa daya, pak Pram tidak dapat mendengar teriakan2 beliau dari atas sana. Dimulailah tanya jawab pak Pram dengan para hadirin. Dimulai dengan pertanyaan2 tertulis yang sudah diberikan kepada Chris sebelumnya. Pertanyaan2 yang ada tidaklah menarik, karena banyak berkisar kembali ke hal-hal yang sudah ditanyakan sebelumnya. Misalnya, pak Pram sukanya baca buku apa, siapakah idola pak Pram dan pertanyaan2 lain yang sejenis. Wah....bosen juga ini kata saya dalam hati, sementara disamping saya, pak Joesoef (yang nantinya menuntut dipanggil opa oleh saya) batuk2 terus tidak henti2. Saya mengeluarkan permen Ricolla dari tas dan menawarkan satu ke pak Joesoef yang segera ditanggapi oleh beliau dengan cepat. Lucunya, nanti ketika saya bersama pak Joesoef di Toronto, saya teruslah yang supply beliau permen2 pedes ini, bahkan sampai menit terakhir sebelum beliau berangkat dari Toronto menuju Eropa. Akhirnya dengan waktu yang tersisa, Chris mengalihkan pertanyaan2 kepada pirsawan2 yang hadir. Seseorang bertanya kepada pak Pram bagaimana cerita dulu di pulau Buru, dan dijawab oleh pak Pram dengan sebuah cerita yang sangat menyentuh hati. Saya melihat sendiri seorang ibu kebangsaan Amerika yang saya rasa tidak ngerti bahasa Indonesia, bisa sampai menangis mendengarkan cerita ini padahal diterjemahkan saja belum oleh bung John. Akhirnya karena waktu yang sempit, hanya satu dua pertanyaan saja yang diambil dari pirsawan. Akhirnya acara ini diakhiri oleh Chris dan kemudian sedikit rangkuman diberikan oleh Chris kepada pirsawan. Setelah mengucapkan banyak terima kasih kepada semuanya, Chris mengucapkan terima kasih dan mewakili semua pirsawan untuk hal yang sama ke pak Pram. Pak Pram berdiri dengan tegap, lalu dengan senyuman yang sangat lebar menundukkan badanyan dan lalu....tiba2 saja memberikan tos kepada pirsawan dengan mengangkat gelas plastik ditangan beliau dan bilang, "Saya minum dulu..." dan disambut oleh tawa riang dari pirsawan. Pak Pram melangkah kedepan penggung dan tiba2 menaikkan kepalan tangan beliau keatas dan tiba2 saja berdatangan para fotografer yang tidak diketahui asalnya dari mana mengambil foto pak Pram. Saya yang sedari tadinya juga ngambil2 foto, pikir acara sudah kelar jadi saya masukkan kamera saya ke tas. Pak Joesoef lihat saya dan bilang," Sayang tuh bung...mestinya diambil" Saya bilang, "Ngak nasib pak..." diiringi senyuman dari pak Joesoef yang baru sekali itu saya lihat selama di NYC. Manusia yang satu ini memang paling mahal senyum...mungkin karena karakter beliau atau derita yang dialami sebagai Tapol membuat beliau seperti itu. Selesai sudah trip saya ke NYC. Akhirnya kami semua melangkah keluar dan mulai ngobrol2 lagi dengan siapa saja yang saya ketemu diluar. Pak Pram mulai lagi dengan kegiatan tanda tangan buku untuk penggemar dan sementara mata saya melihat kalau ibu Maemunah duduk sendirian dipojokan sana. Kaki melangkah menuju ke ibu, dan mulailah kami bicara2, walau ngak sempat panjang2 disebabkan tiba2 datangnya para pirsawan lainnya yang ingin bukunya ditanda tangani ibu. "Biar rame buku nya," kata mereka. Setelah mengucapkan banyak terima kasih kepada ibu, saya melangkah keluar dari gedung itu, memikirkan apa yang harus saya lakukan setelah ini. Oh iya...kan tadi udah janjian sama temen saya, Chrisno, Arum dan Iman, ketemu di Time Square...OK deh...tujuan kesana sekarang. Sampai diluar, eh...oom Max Surjadinata ada diluar dengan bung John. Jadi akhirnya kita ngobrol2 lagi lalu mulailah kegiatan kita...ngerokok. Sam Soe saya yang tinggal 3 batang jadi pindah tangan satu ke seorang rekan yang saya kenal disana yang asalnya dari Austin, Texas. "Well...ya tinggal hari ini saja kok di NYC...habis2in aja deh Sam Soe ini." Tiba2 melangkah keluar pak Pram siap untuk melakukan aksi "bakar rokok, sedot asap" yang sudah merupakan trade mark dari beliau. Mengetahui hari sebelumnya dari Mary bahwa foto pak Pram dengan pose khasnya dengan rokok, di "brush" hilang oleh wartawan di washington, DC, karena ditakutkan membuat orang berpikir kalau pak Pram mengiklankan bahwa rokok itu sehat, membuat saya senyum2 saja melihat beliau. Dengan sigap saya ajukan satu batang Sam Soe terakhir saya ke beliau, dan bilang' "Sam Soe mau pak?" Pak Pram senyum, "Asalkan kretek, ya saya mau." Kami lalu bincang2 sejenak dan disinilah pak Pram mengucapkan ke saya pesan beliau ke saya yang saya tak akan pernah lupakan. "Kamu jangan takut untuk maju dan bicarakan ide-ide kamu. Sekali kamu takut, kamu kalah." Satu perkataan beliau langsung ke saya yang saya anggap sebagai sebuah tamparan bagi kaum muda Indonesia. Satu kata yang akan saya hargai seumur hidup saya. Akhirnya, saat tiba bagi pak Pram dengan rombongan untuk berangkat pulang ke tempat penginapan. Dengan segera saya ucapkan banyak terima kasih kepada beliau dan saya janjikan bahwa kita suatu waktu akan bertemu di lain waktu, dan dibalas beliau dengan tepukan di lengan atas saya dan senyuman beliau yang sangat khas. (NYC tamat)
[bersambung ke cerita keenam]
Buffalo, NY
|