BACK

Cerita Keempat

Jam istirahat, break bentar buat pirsawan2. Asik juga sih, soalnya kita semua dikasih tahu restoran2 apa aja yang deket2 sama Fordham. "Tuyul...." kata saya dalam hati..."Itu mah semuanya jualan makanan berdaging semua." Maklumlah saya yang vegetarian, kaum minoritas dikalangan mayoritas.

Tiba2 ada ibu2 yang noel saya dari belakang. Setelah dia memperkenalkan diri, ketahuan kalau dia dari sebuah asosiasi HAM yang tujuannya untuk mendukung kemerdekaan Timor Timur. Dia ngomong sama saya seolah2 saya ini salah seorang cendekiawan "Pramisme", dan malah mulai bertanya hal2 mengenai buku pak Pram, terfokus pada Kwartet Buru dan The Mute's Soliloquy.

Ceritanya gini para pembaca. Ni tante rupanye mau ngubungin karye2 pak Pram dan pak Pram-nye sendiri dengan atu topik untuk pembebasan Timor Timur. Rupanye nih tante mau tanye ama pak Pram ntar-nye tentang Tim Tim....soal HAM dan kebebasan individu.

Saya merasa lucu dengan ibu ini. Mau bertanya mengenai sesuatu yang sangat kuat konteksnya (Timtim) dengan menghubungkan hal itu ke pak Pram. Saya tanya ama dia, apa udah baca itu buku, dia bilang belom kelar. Nah lho....pertanyaan sensitip kayak gitu mau ditanyakan tapi pondasinya aja ngak kuat. Mungkin ini ibu boleh jadi ngerti total soal Timtim, cuma....tragis sekali kalau maunya menghubungi kedua hal ini (Timtim dan pak Pram), tapi basisnya tentang pak Pram tidak kuat malah nyaris tidak ada.

Setelah saya menjawab pertanyaan2 dari si ibu sebisa saya, ngak kemana2 saya, duduk2 aja disana. Walau setelah beberapa lama, akhirnya ada juga kegiatan baru. Ada sebuah film mengenai pak Pram yang dibuat oleh yayasan Lontar (dari bung John) yang diputer di aula tempat simposium tadi. Asik lah, setidaknya ada kegiatan.

Film itu sangatlah menarik...menceritakan kisah pak Pram dari masa lalunya dengan orang tua, masa mudanya, masa pembuangan beliau dan juga masa kini dari beliau. Yang saya sangat senang dari film itu adalah pengucapan secara langsung yang asalnya dari pak Pram.

Cerita mengenai bagaimana kala pak Pram bertemu dengan Idrus, sang pujangga yang dianggap oleh pak Pram sebagai gurunya, sudahlah saya baca sebelumnya. Asiknya kali ini, saya bisa lihat sendiri dan mendengar tentu saja cerita itu dari mulut pak Pram sendiri, dan ketika kalimat yang diucapkan oleh Idrus kepada pak Pram, "Pram...kau tidak menulis....kau BERAK!" diucapkan oleh pak Pram, wah...sangat kuat benar ucapan itu. memang beda kalau membaca dan mendengar dari sang sumber sendiri.

Hem....filmnya kelar. Ngapain nih sekarang? Ya sudah lah....hobi idola....ngokar atawa ngerokok saja. Akhirnya saya jalan keluar sebentar menuju teras belakang, dan walah....ada bung John. Mulai deh kita ngobrol2 lagi sambil tentu saja rokok menyala. Selera bung John pada kretek saya kagumi, walau kala itu tak dapat saya bergabung mengagumi kenikmatan kretek. Marlboro Menthol lah yang jadi korban, maklumlah...Sam Soe-nya tinggal 3 batang, saya irit2 buat ntar2. Kan masih ada 2 hari lagi disini. :-)

Bahas2 hal ngak jelas dengan bung John, ngak kerasa sudah saatnya lagi dimulai acara ini. Kita sama2 masuk dan kemudian dimulailah program selanjutnya dari hari ini.

Setelah beberapa pembicara mulai selesai membicarakan makalah2 mereka, tiba2 kelihatan didepan pintu ada rame2. Ternyata pak Pram dan rombongan baru balik dari santap siang. Wah...keliatan banget orang2 yang nongkrong2 diluar pada rame minta tanda tangan pak Pram. Pak Pram dengan santainya melayani permintaan para penggemar, dan kelihatan kalau beliau enjoy sekali. Sejenak kemudian, pak Pram dan rombongan masuk kedalam dan orang2 jadi pada hening sejenak; lha wong yang dibicarakan masuk ke ruangan.....

[bersambung ke cerita kelima]
[Kembali ke cerita ketiga]

Buffalo, NY
June 9, 1999

BACK