BACK

Cerita Ketujuh

Setelah semuanya selesai, dan dapet arah kemana harus perginya di Toronto dari oom Jusni, berangkatlah saya langsung menuju ke sana. Airport adalah tujuan pertama, karena disanalah kita akan menjemput pak Pram dan rombongan yang datang dari Vancouver.

Saya dengan santai2 aja berangkat kira2 jam 4 sore, karena jarak ke Toronto yang ngak jauh2 amat dari tempat saya. Masuk border, kira2 jam setengah lima…ngepet.....saya ditanya macem2 di border…terus dasar ini petugas pabean masih muda banget, kayaknya juga baru start kerja...jadi istilahnya "carmuk". Ngeliat2 pasport dan visa saya, dan ketemu kalau visa US udah expire. Dia tanya., "Ini kan udah expire?" Ya saya bilang kalau selama masih sekolah disini, jalan aja terus itu visa. Eh…kagak percaya dia…saya disuruh masuk ke satu ruangan yang ada petugas senior-nya. Sebelnya, temen2 dia yang sama mudanya dan juga kelihatan rookie semua dibelakang bilang "good job." Dan dia senyum2 bangga…seakan2 baru nangkep penjahat residifis aja….sementara saya ngak sampai satu menit ketemu dengan senior dia, udah dicap itu visa. Nah sekarang, geblegan sapa…saya atau si petugas muda dalam soal ini?

Nenek, 20 menit abis di border gara2 tuh petugas "carmuk". Saya harus ngebut jadinya. Sip lah…jam 5 pas…..... kira2 sampai pasti jam setengah tujuhan…pas dengan tibanya pesawat pak Pram….....cuma harapan saya…QEW jangan macet deh. Kalau iya, mati aku.

Ternyata sampai disana malah jam 6 lewat dikit...gila abis….ngebut total.....biarin deh, soalnya ini udah campuran antara gugup, seneng, dan macem2 lagi perasaan yang ada dalam hati ini. Sampai disana, saya langsung ambil sign dengan nama pak Pram, ibu Maemunah dan pak Joesoef, yang akan digunakan untuk pengenal kami2 yang jemput, langsung aja saya lari kedalam airport. Tanpa menyadari cuma bersendal jepit dan celana pendek….."Ya ampun!" kata saya dalam hati……nyambut kedatangan tamu istimewa kok sendalan. Lari balik lagi saya ke mobil dan show top. Ganti celana dan sepatu dimuka umum. Well, not exactly karena garage itu sepi2 saja.……Hem…..asik juga, walau dinginnya ngak ku ku.

Anyway…balik lagi kedalem airport, muter2 nyari2 sapa aja yang bakal nemenin saya. Oom Jusni durung ketok…..(belum kelihatan dalam bahasa Jawa), jadi ya saya nunggu2 aja deh. Eh….tiba2 terdengar percakapan bahasa Indonesia diujung sana, dan saya lihat seorang pria kulit putih dengan seorang wanita yang menurut pengamatan saya imut2 atau bahasa kerennya "petite". Wah….ternyata itu professor Dan Lev dari Seattle, yang akan jadi pembicara pada salah satu simposium disana. Saya langsung aja tegur mereka, dan meraka kaget juga. Yang cewek malah bales nanya…"Kamu Alfred Ticoalu?"

Walah….kenal aja ngak saya sama ini cewek, kok dia tahu saya…se-top itukah diriku di Canada? Lalu dia bilang kalau oom Jusni kasih tahu dia bahwa saya akan dateng…"Yaaaaaaaa…….lemes deh gue…ternyata ngak se-top itu gue di Canada," kataku dalam hati. Setelah kenalan, nama cewek ini, Celine..dan the truth my friend…she looks like my lovely aunt Laura in Hong Kong, bedanya Celine…"Petite", sementara tanteku tidak (doesn't mean she's big). Akhirnya kita ngobrol2 macem2 dan lucunya pak Dan ini Indonya lancar banget. Untuk anda ketahui, Prof. Lev adalah salah satu ahli terkemuka dibidang Indonesia, dan sudah menjalani karir ini lebih dari 30 tahun…sejak masa bung Karno....weh, gue lahir aja belom. Bokap gue masih SMA tuh.....nyokap........hem, SMP.

Anyway, tiba2 datanglah oom Adjie dan istrinya yang merupakan orang pertama dari CCEVI (Canadian Concerns of Ethnic Violence in Indonesia). Asik juga.…..dateng lagi rombongan baru…..bisa lebih rame kan nunggunya. Ya sudah…akhirnya daku ngobrol2 dengan tante Santy, istrinya oom Adjie. Bahas2 masalah pak Pram deh..asik juga…sementara itupun gue juga berdiri terus deket pintu gerbang dengan plakat itu, mengharap mereka bisa lihat dari dalam sana.

Tak lama kemudian datanglah oom Jusni, tante Cecil, dan oom Marcus. Setelah kenalan secara resmi, kita ngobrol2 dikit deh. Oom Jusni tanya soal sign itu….gue kasih lihat dia dan dia bilang, "Mana kayunya? Oom kira kamu bikin pakai pegangan kayu?" Wah…kocak aja jadinya gue…..hampir saja perkataan dari sebuah iklan TV di Indo.."Mana sempat," keluar dari mulutku, kalau tidak terpotong dengan oom Jusni yang minta saya berdiri lagi deket pintu gerbang. "OK deh…..," kataku segera.

Tak sabar menunggu, oom Jusni menyelinap masuk ke dalam ruang bagasi. Menurut cerita beliau, ternyata mereka, pak Pram dan rombngan sudah sampai, cuma karena ngak punya koin dollaran, ngak bisa dapet kereta angkut koper, dan akhirnya kebingungan mau ngapain. Untung oom Jusni comes to the rescue….selamatlah mereka dan tak lama kemudian mereka keluar dari ruangan itu.

Semua orang menyambut mereka, sementara saya masih berdiri aja nih didepan gerbang…..kan supaya kelihatan sign yang gue bikin. Akhirnya, gue maju juga, kasih selamat ke mereka. Pak Pram….ternyata tak ingat denga saya yang padahal banyak ngobrol dengan beliau. Ibu Maemunah….kalau yang ini, saya ngak ngobrol banyak…cuma sekali aja di Fordham. Kalau pak Joesoef yang setiap harinya ngobrol ngalor ngidul, lupa2 ingat. Akhirnya setelah perbincangan sejenak…ingatlah beliau siapa itu saya. Maklumlah…kunjungan mereka ke banyak kota, membuat mereka kebingungan juga. Banyaknya para penggemar membuat mereka sukar mengingat nama2 siapa saja yang mereka temui.

"Yo wis (ya sudah dalam bahasa Jawa)". Time to go to the hotel. Saya yang buta jalanan disana, diminta konvoi aja ama van-nya oom Marcus. Ya sudah…saya sih OK aja. Oom Jusni minta Celine ikut saya….supaya bisa bantu2 kasih arah…lucunya setelah sampai didalam mobil, dia bilang kalau buta arah juga.…."Walah…..seru ini," kataku dalam hati. "Ya sudah…..kan masih konvoi, bisa kok kita jalan," kataku pada Celine.

Buyar sudah harapan konvoi gara2 kasir sialan yang tugasnya menjaga pos karcis. "Buset…lamo nian budak satu 'ko ndak kasih ambo tikenyo. (Buset, lama banget ini anak mau ngasih tiketnya ke gue dalam bahasa Bengkulu)", terucap dalam hati. Sementara van oom Marcus yang berisi rombongan sudah melesat dimuka saya. "Mati aku, gimana ngejarnya ini?"

"Buckle up Celine…..I'm gonna floor the gas," kataku pada Celine….Kita kan musti ngejar mereka…kalau ngak, ya balik Buffalo deh…satu2nya jalan yang gue tahu dengan pasti arahnya. Celine senyum2 aja denger perkataan gue tanpa menyadari apa yang bakal dia hadapi. Saudara2….gue tancep ada kali 110 mil per hour yang kalau ditransfer ke kilometer...hem...speed limit di highway itu tiba2 saja kelihatan kecil banget angkanya.

Kekejar juga ini van…..terlihat dari jauh itu van warna coklat. Lega sudah…sampai ketika pas dibelakang van itu…."Jancuk (F word in Jowo, sing teyeng…maap), ini mah bukan van mereka," kataku dalam hati……OK…sikat lagi....maju lagi kita dan setelah beberapa saat, kelihatan juga van itu. Tak mau ngejar resiko, aku pepet dan sukur itu ternyata mobil yang benar. Bagaimana aku tahu? Topi pak Pram yang tampak dari kaca van itu meyakinkan diriku.

Tak terdengar suara apa2 dari si dia yang duduk di sebelah daku….shock kali ya….. he he he…..saya lihat ke dia dan bilang, "Kalau aku bilang ngebut, ngebut kan?" Celine senyum2 aja.

Akhirnya sampailah konvoi kita di hotel Holliday Inn dan segera kita check-in pak Pram dan rombongan disana. Kita naik ke kamar mereka yang special diminta bisa buat aktivitas "Bakar rokok, sedot asap". Mengetahui kalau pak Pram dan pak Ucup (panggilan ibu Maemunah ke pak Joesoef) itu sekamar….tak bisa kubayangkan gimana nantinya kamar ini bakal full ama asap2 kretek yang nikmat aromanya.

[Bersambung ke cerita kedelapan]
[Kembali ke cerita keenam]

Buffalo, NY
June 16, 1999

BACK