/hr size=2>
|
Setelah kita membawa pak Pram dan check in ke hotel, datanglah ide dari oom Jusni dan rekan2 untuk membawa para tamu ini ke makan malam. Sebuah restoran chinese yang deket dengan hotel menjadi sasaran. "Wah...asik juga ini, kataku dalam hati....sampai2 kita langsung makan." Sip lah.....kelihatan juga kalau para penjemput yang lain setuju dengan ide ini, kalau aku sih apa aja OK, asalkan bukan makanan berdaging, sikat...... OK....jadinya kita pergi barengan nih. Mobilku ditinggal dihotel dan aku naik van bersama pak Pram dan rombongan lainnya. Asik banget saudara2, baru kali ini daku bisa semobil dengan pak Pram, asiknya juga bisa melihat dan mendengar secara langsung dan jarak dekat bagaimana pak Pram ini. Diskusi2 dengan pak Dan tentang Indonesia, membuat hati terkilik untuk angkat bicara, cuma....siapakah daku ini hendak membuka mulut dihadapan mereka ini. Pasif saja dulu....lebih baik aku mendengarkan omongan mereka, ketimbang angkat bicara. Masih banyak yang bisa aku pelajari dari mereka2 ini. Aku yang masih muda, dan oh boy....salah seorang korban Orde Baru, yang terdokrinasi habis oleh idiom2 seperti Pancasila yang artinya sangat mulia, tapi yang menurut pak Pram, ketimbang sebagai alat pemersatu seperti jaman Soekarno, Pancasila dijadikan alat penggebuk oleh babe Soeharto. Inilah salah satu alasan mengapa daku berusaha mendengar ketimbang bicara, karena daku merasa banyak hal2 yang daku ketahui adalah tipu belaka. Pak Dan itu luar biasa pandangannya terhadap Indonesia. Demokrasi terpimpin menjadi bahan omongan mereka. Suatu fakta yang sangat mengejutkan hati bahwa konspirasi dikalangan Angkatan Darat, terutama dibawah pimpinan Nasution, membuat tercetusnya Demokrasi terpimpin itu. "Indonesia itu negara demokrasi liberal....sampai tahun 1959, ketika angkatan darat "mengambil alih" kuasa demokrasi rakyat," itulah inti pembicaraan pak Pram dan pak Dan. Sebuah sentilan yang membuat hati terkejut, mengetahui bahwa di negara kita, Nasution dianggap sebagai seorang pahlawan, yang berhasil lolos dari PKI, dll, dll, ternyata merupakan salah satu alasan dasar terbentuknya negara Indonesia alias orde baru yang seperti kita ketahui sekarang. Sampai juga di restoran, dan memang tempatnya asik juga. Masuk deh kita kedalam, dan mulai lihat2 menu. Ah.....menunya asik2 sekali, kalau dibandingkan dengan restoran2 chinese dikotaku....sayang daku tidak mengkonsumsi daging, sehingga sangat melimitkan apa yang bisa aku pesan, dan aku sih santai2 aja. Weh....sisi meja yang sana sudah mesen tuh...nasi goreng kabeh...asik juga mengetahui Canada memiliki masakan Chinese paling otentik disini, dan nasi goreng adalah sebuah contoh paling sederhana dari hal ini. Teringat aku akan perbincangan dengan professor Meier, mengenai karya pak Pram..."Gado-gado," apakah kira2 konsep yang sama bisakah diterapkan pada nasi goreng.....ikan asin pula. Anyway....lewatkan saja acara makan2 ini, karena kalau makan, apa sih yang bedanya. Kecuali satu hal yang saya sangat perhatikan, pak Pram makannya dikit banget. Apakah karena beliau capek atau memang masih kenyang, ku tidak tahu, sampai nantinya baru jelas mengapa hal ini terjadi. Ibu Maemunah ditawari untuk ke supermarket untuk membeli makanan2 untuk mereka. Pak Pram yang suka denga juice memang harus di supply dengan hal itu. Sementara mereka bertolak ke supermarket, asik ......... para jagoan2 kita mulai aktivitas utama "bakar rokok, sedot asap." Pak Dan yang dengan entengnya bilang, "Kalau saya keluar dari Seattle....pasti merokok....kalau tidak, istri saya pasti ngomel2," membuat kami tersenyum2 saja. Pak Pram terlihat sangat santai dengan rokoknya, dan pak Joesoef juga, walau beliau tampak lelah dari perjalanan ini. Pengen banget aku join, sayang rokok-ku ketinggalan di mobil...mau minta, ngak enak...Ya sudah, diem2 aja, sampai akhirnya malah disentil sama oom Jusni soal saya yang sangat "sehat" tanpa mengetahui kalau rokok itu diet saya juga, walau tidaklah sekenceng pak Pram. Inilah hasil warisan dari pergaulan saya yang sangat dini dengan musisi2 Jazz di Indonesia, yang membuat saya terikat dengan rokok, walau tidak parah2 banget. Anyway, setelah selesai, kita bertolak ke hotel, and boy....memang sudah saatnya bagi mereka untuk istirahat. Saya pun demikian. Saya kan kerja di office seharian sebelum cabut ke Toronto, dan capek juga. Lalu setelah merencanakan apa yang bakal kita lakukan besoknya, oom Jusni, tante Cecil dan saya bertolak pulang kerumah mereka, yang selama beberapa hari akan menjadi tempat tinggalku. Eh...sampai disana...disambut oleh Doty, yang manis dan lucu banget. Sampai terpesona aku melihat Doty, karena anteng dan cutenya luar biasa. Hem...jangan mikir yang aneh2 dulu saudara2 pembaca....Doty ini peliharaannya keluarga oom Jusni....doggie yang imut2.....baiknya luar biasa lagi. Menggonggong saja tidak ketika aku masuk kerumah mereka, padahal kalau doggie2 yang lain, pasti udah rame. Hem...dasar iseng, malah jadi inget makanan Manado....hem...Isi di Bulu, tapi yang RW alias doggie. Sayang binatang kok juga makan binatang ya? Anyway....aku iseng2 nyeletuk ke tante Cecil soal ini, dan dia malah ketawa2, "Kamu suka Seng Su toh?" Ya aku sih dulu giat tuh konsumsi yang satu itu, walau sekarang tidak lagi karena daku memilih ke jalan yang satunya lagi, vegetarian. Udah deh....saatnya istirahat. Kita akan pergi pagi2 sekali besok ke acara pertama, simposium di University of Toronto, dan mendengar tugas pertamaku....wah....bakal kocak ini...jadi supir... :-)
[Bersambung ke cerita kesembilan]
Buffalo, NY
|