Setelah bertemu dengan seorang lama (pertapa tibet),
di situ saya baru belajar menghadapi hidup sebagaimana adanya, seutuhnya.
Hidup seutuhnya berarti bukan cuma suka tapi juga duka. Bukan cuma mawar
tapi ada duri juga. memang kita nggak bisa milih, kalau hidup ya harus
seutuhnya, dua-duanya harus kita terima.
Pertemuan dengan lama ini membuat saya sadar bahwa
kematian itu juga bagian dari hidup. Jadi kalau saya harus menerima
hidup, saya juga harus menerima kematian. Menerima bukan nerima pasif,
tapi dinamis sekali, berarti kalau hidup itu merupakan tantangan, saya
hidup menerima tantangan.
Ini yang membuat saya rileks. Sangat ilmiah, bisa
dijelaskan secara ilmiah. (Saat meditasi) ketegangan otak berkurang,
manusia menjadi rileks sekali, sedangkan dalam keadaan rileks itu daya
tahan tubuh meningkat, organ-organ dalam tubuh menciptakan antibodi,
enzim-enzim, hormon-hormon yang dibutuhkan tubuh. Sesungguhnya nggak ada
magic nggak ada mukjijat, nggak ada apa-apa.
|