Tiga Buku Harry Potter
Harry Potter I: Penyihir dengan Luka Petir di Dahi
Judul : Harry Potter and the Philosopher's Stone (Buku I)
Pengarang : JK Rowling
Penerbit : Bloomsburry Publishing Plc, London
Waktu terbit : 1997
Tebal : 224 halaman
ISBN : 0-7475-3274-5
detikcom - Jakarta, (Senin, 7/8/2000), Harry Potter and the Philosopher's Stone adalah buku pertama dari tujuh buku Harry Potter yang dijanjikan JK Rowling akan diterbitkan. Di buku ini pula ikhwal hidup Harry Si Bocah Penyihir diperkenalkan kepada pembaca.
Plotnya mirip dengan dongeng Cinderella atau Bawang putih dan Bawang Merah. Bermula dari anak yang menderita, lantas hidupnya jadi berubah setelah keajaiban terjadi. Harry Potter adalah cerita yang demikian dengan modifikasi disana sini dengan rincian paparan dan fantasi yang lebih rumit.
Kisah dibuka dari hadirnya Harry dalam kehidupan keluarga Dursley di kawasan bernama Privet Drive. Nasibnya cukup sial, karena seperti Cinderella, Harry berada di lingkungan yang tidak ramah, malah menyiksanya. Paman Vernon, bibi Petunia, dan sepupunya, Dudley Dursley, selalu bersikap tidak ramah pada hadirnya Harry yang tidak dikehendakinya.
Sepuluh tahun lamanya Harry mengalami keadaan yang tidak nyaman ini, hingga suatu saat sepucuk surat misterius sampai padanya dengan diantarkan raksasa yang baik hati, Rubeus Hagrid, Si Juru Kunci dan Halaman Howgart. Isinya mengejutkannya: "Kami memberitahukanmu bahwa kamu telah diterima di Sekolah Sihir dan Penyihir Howgart".
Mulai halaman-halaman ini, pembaca diajak Rowling berfantasi. Hidup Harry pun berubah. Mimpinya jadi kenyataan. Kini, dia tak lagi dikelilingi para "muggle" (Rowling memunculkan istilah aneh ini untuk menyebut orang-orang yang tidak punya kemampuan sihir), tapi diantara para penyihir, sapu terbang, burung hantu pembawa pesan, phoenix (burung api), Howgart Express (kereta api khusus yang tidak kasat mata awam), dan segala hal-hal aneh lainnya. Yang lebih mengejutkannya adalah ketika diberitahu bahwa dirinya sendiri adalah penyihir.
Pada bab empat semua dipaparkan. Di sini pula rahasia hidupnya mulai dibuka. Bekas cakaran seperti petir di keningnya itu bukanlah cacat sembarangan. Luka itu akibat serangan penyihir jahat Voldemort (lebih sering disebut "You-Know-Who" saja karena begitu takutnya para penyihir menyebut nama aslinya) yang membunuh orangtuanya ketika Potter masih bayi.
Di Howgart, Harry jadi begitu populer karena dialah satu-satunya orang yang lolos dari kejahatan yang dilakukan Voldemort. Di sekolah ini pula Harry mulai melatih ilmu sihirnya di bawah bimbingan para penyihir senior dan buku-buku sihir dan memulai petualangan-petualangannya. Puncak dari semua kepopulerannya adalah ketika dia jadi anggota termuda dalam tim Quidditch, olahraga paling populer di kalangan penyihir.
Quidditch adalah sejenis permainan di kalangan penyihir yang menggunakan sapu terbang dan empat bola. Quidditch diperlombakan dari tingkat sekolah, lokal, hingga pertandingan internasional. Dalam setiap bukunya, Rowling selalu menyisipkan permainan ini, terutama pertandingan tahunannya yang diadakan di setiap bulan Nopember.
Buku ini dalam versi terbitan Amerika Serikat bertajuk Harry Potter and the Sorcerer's Stone. Di beberapa sekolah Inggris buku Harry Potter telah menjadi bahan pelajaran, terutama bahasa Inggris. Tapi, ada pula beberapa sekolah di AS yang melarang penyebarannya, umumnya dengan alasan materi buku ini yang memuat beberapa paparan mengenai kekerasan yang dianggap tidak cocok dengan anak-anak, seperti pembunuhan misalnya.
Yang jelas, membaca buku ini memang mengasyikkan. Saya tidak tahu apakah akan sama halnya seandainya buku ini diterjemahkan dalam bahasa Indonesia. Plot dan gaya tuturan Rowling seperti pengarang serial The Famoust Five, Enyd Blyton,: rinci, penuh petualangan, dan membebaskan imajinasi. Pesan moralnya pun standar, tentang peperangan antara kebaikan dan kejahatan, persahabatan, dan sejenisnya. Mungkin, justru karena pesan moral dan plotnya yang klasik itu anak-anak jadi menyukai karakter Harry Potter. (Kurniawan)
Harry Potter II: Mobil Terbang dan Rahasia Voldemort
Judul : Harry Potter and the Chamber of Secret (Buku II)
Pengarang : JK Rowling
Penerbit : Bloomsburry Publishing Plc, London
Waktu terbit : 1998
ISBN : 0-7475-3848-4
detikcom - Jakarta (Selasa, 8/8/2000). Buku Harry Potter and the Chamber of Secret sering disebut sebagai buku kedua Harry Potter berdasarkan urutan terbitnya. Kalau Anda pernah membaca yang pertama, Harry Potter and the Philosopher's Stone, Anda akan merasa cukup familiar dengan buku kedua ini.
Pada buku kedua ini, plot yang berjalan pada buku pertama, nampaknya diulang kembali oleh Rowling. Dimulai dengan paparan betapa menderitanya Si Yatim Harry Potter di tengah lingkungan para muggle (orang yang tidak memiliki kemampuan magis) seperti keluarga Dursley. Pada buku kedua ini, paparan berpusat pada hari ulang tahun Potter yang diabaikan begitu saja oleh paman dan keluarganya.
Nampaknya, Rowling berhasil mewakili pandangan anak-anak yang merasa bahwa hari ulang tahun adalah hari istimewanya yang penuh kebahagiaan, pesta, dan hadiah-hadiah. Bisa dibayangkan betapa sedihnya bila hari ulang tahunmu diabaikan. tulah Rowling, dan demikianlah kiat kecilnya untuk merebut perhatian anak-anak hingga buku Potter pun laris di pasaran.
Di tengah suasana musim panas yang tak menyenangkan itu, Harry kedatangan tamu misterius, seekor elf bernama Dobby. Elf adalah mahluk kecil nakal yang tinggal di Forbidden Forest. Tapi, Dobby adalah elf rumahan yang ditakdirkan mengabdi pada tuannya. Pada kedatangannya Dobby berusaha mencegah Harry kembali ke Sekolah Howgart dengan alasan bahwa tempat itu berbahaya baginya.
Hari-hari sedih Potter berubah setelah sahabat kentalnya, Ron Weasley, datang bersama Si Kembar George dan Fred. Mereka menjemputnya dengan mobil terbang untuk mengajak Harry kembali ke sekolah, Sekolah Sihir dan Penyihir Howgart.
Akhirnya Harry, kini berusia 12 tahun, kembali ke sekolah. Dia tidak naik kereta api khusus Howgar Express, tapi bersama Ron naik mobil terbang. Sayang, mereka mengalami kecelakaan dan mendarat di hutan Howgart. Disini mereka bertemu Whomping Willow, pohon yang menjadi jahat pada siapapun yang menyentuhnya. Kesulitan-kesulitan berikutnya pun datang. Kini, tergantung Harry bagaimana semuanya diatasi.
Pada buku kedua ini, Rowling juga mulai membuka sedikit rahasia pribadi Voldemort. Lewat tangan Harry, rahasia itu mulai tersingkap. Bagaimana Harry bisa menemukan catatan harian rahasia yang bisa menunjukkan hubungan Voldemort dengan Tom Riddle, siswa Howgart School yang setengah muggle, setengah penyihir. Tentu saja, kehidupan Howgart sehari-hari, Death Party, permainan Quidditch, dan segala pernak perniknya mewarnai buku kedua ini. Dan, makin terpikatlah pembaca pada Harry Potter dan JK Rowling. (Kurniawan)
Harry Potter III: Bertemu Narapidana dari Azbakan
Judul : Harry Potter and the Prisoner of Azbakan (Book III)
Pengarang : JK Rowling
Penerbit : Bloomsburry Publishing Plc, London
Waktu terbit : 1999
ISBN : 0-7475-4629-0
Detikcom (Kamis, 10/08/2000) - Harry Potter, penyihir yang sangat populer di Sekolah Penyihir Howgart tapi dikucilkan di kalangan muggle (orang tanpa kemampuan sihir) itu kini bertambah usianya. Dia sudah 13 tahun dan kembali bertemu pentualangan-petualangan baru yang tidak dia kehendaki tapi harus dihadapinya.
Dalam buku ketiganya, Harry Potter and the Prisoner of Azbakan, cerita dibuka dengan pola yang sama seperti dua bukunya terdahulu (Harry Potter and the Philosopher's Stone dan Harry Potter and the Chamber of Secret). Bab awal dilukiskan bagaimana Harry berada di lingkungan tidak ramah keluarga Dursley.
Kali ini, rumah itu kedatangan tamu Bibi Marge. Tersebab oleh "kecelakaan" kecil, Harry menyihir Marge menjadi menggelembung dan terbang ke langit-langit rumah. Harry kecil tentu saja ketakutan. Dia takut Paman Vernon dan Bibi Petunia akan menghukumnya. Tapi, yang lebih ditakutinya adalah hukuman dari guru-guru di Sekolah Penyihir Howgart, karena secara resmi sekolah itu melarang murid-muridnya menggunakan sihir di luar sekolah, terlebih lagi kepada kaum muggle.
Dengan panik Harry pun lari tanpa jelas tujuannya. Dia berjalan dengan Knight Bus, bertualang ke dunia para penyihir yang selama ini belum pernah didatanginya, kecuali Sekolah Howgart tentu saja. Harry pun berkenalan dengan mahluk-mahluk baru, penyihir-penyihir lain, berkunjung ke toko-toko magis, dan sebagainya.
Pada waktu yang bersamaan, Daily Prophet, tabloidnya kaum penyihir, mengabarkan tentang larinya Sirius Black, penyihir yang paling terkenal jahatnya, dari penjara Azbakan. Dikabarkan pula bahwa Black telah membunuh 13 orang, baik muggle maupun penyihir.
Namun, apa yang dikhawatirkan Harry justrus sebaliknya terjadi. Pengurus Sekolah Howgart justru sibuk melindunginya. Harry ternyata tengah dikejar-kejar Sirius Black dan cepat atau lambat dia harus menghadapinya. (Kurniawan)
Link Terkait
Harry Potter Homepage pada Penerbit Scholastic.
Encyclopaedia Potterica
SRC: Kanal Buku Detikcom
L'Immortalite (Kekekalan)
Milan Kundera, Noor Cholis (penerjemah)
Akubaca, Yogyakarta
11/05/01
L'Immortalite (Kekekalan)
Sepasang Kekasih Itu Ternyata Kematian dan Kekekalan
Eka Kurniawan
detikcom - Jakarta Rabu, 06/12/2000
Kematian merupakan tema utama dalam novel ini. Beberapa karakter utamanya, tak kurang seperti Goethe dan Hemingway, telah mati. Yang lainnya terbunuh. Motif utama L'Immortalite adalah cara para seniman dan karya-karyanya dirubah melalui waktu.
Dalam novel terbaru Milan Kundera, L'Immortalite (Kekekalan), pengarangnya sendiri menerangkan: "Tak ada novelis yang lebih menarik hatiku daripada Robert Musil. Ia meninggal di suatu pagi ketika sedang mengangkat beban. Ketika aku sendiri mengangkat beban, aku menjaga dengan rasa cemas denyut nadiku, dan aku takut jatuh mati, karena mati dengan satu beban di tanganku sebagaimana sang pengarang yang kukagumi akan membuatku seperti seorang peniru yang tak dapat dipercaya, secara blak-blakan dan fanatik seolah ingin segera meyakinkanku tentang kekekalan yang sesungguhnya."
Dalam novel terbaru Milan Kundera, L'Immortalite (Kekekalan), pengarangnya sendiri menerangkan: "Tak ada novelis yang lebih menarik hatiku daripada Robert Musil. Ia meninggal di suatu pagi ketika sedang mengangkat beban. Ketika aku sendiri mengangkat beban, aku menjaga dengan rasa cemas denyut nadiku, dan aku takut jatuh mati, karena mati dengan satu beban di tanganku sebagaimana sang pengarang yang kukagumi akan membuatku seperti seorang peniru yang tak dapat dipercaya, secara blak-blakan dan fanatik seolah ingin segera meyakinkanku tentang kekekalan yang sesungguhnya."
Kematian merupakan tema utama dalam novel ini. Beberapa karakter utamanya, tak kurang seperti Goethe dan Hemingway, telah mati. Yang lainnya terbunuh dan di antara mereka terdapatlah seorang protagonis wanita bernama Agnes, yang meninggal dalam kecelakaan mobil setelah mengelak dari usaha bunuh diri seorang yang tak dikenal. Sebagaimana gaya Kundera, kejadian dan akibat-akibat dari kematian Agnes dipaparkan lama sebelum detil-detil peristiwa itu sendiri (tampaknya ini trend bagi pengarang seangkatan Kundera, sebagaimana bisa dilihat dalam novel One Hundred Years of Solitude-nya Gabriel Garcia Marquez atau The Tin Drum-nya Günter Grass).
Kematian meliputi seluruh buku, kematian dan kekekalan, yang merupakan "sepasang kekasih tak terpisahkan," tulis Kundera, "lebih erat daripada Marx dan Engels, Romeo dan Juliet, Laurel dan Hardy."
Selanjutnya, Goethe dan Hemingway yang bertemu di surga berdebat tentang apakah diri mereka sendiri atau buku-buku mereka yang telah membuat mereka terkenal. "Di samping membaca buku-bukuku, mereka juga menulis buku-buku tentangku," Hemingway berkata. "Itulah kekekalan," kata Goethe. "Kekekalan berarti pengadilan yang terus-menerus."
Namun meskipun tampak asyik dengan kematian, novel yang cukup hati-hati diterjemahkan dari bahasa Prancis oleh Noor Cholis ini, tak pernah muram. Karakter-karakternya disurupi "keriangan" yang pada novel Kundera sebelumnya The Unbearable Lightness of Being muncul menjadi suatu non-manusia dalam kultur totalitarian, dan dalam L'Immortalite memunculkan sosok orang yang terbuang.
Tokoh Agnes dimunculkan dari satu gerak-gerik lambaian tangan yang suatu ketika dilihat sang pengarang ketika sedang duduk di pinggir kolam renang sebuah klub kesehatan di Paris. Ketika itu, gerakan tersebut "samar-samar membekas dalam ingatanku. Gerakannya membangkitkan kenangan yang luar biasa dan tak terkatakan bagiku. Kenangan itu melahirkan tokoh utama yang kuberi nama Agnes." Dengan gayanya yang penuh paradoks, ia beralasan bahwa mengingat "lebih banyak gerakan di dunia ini daripada individu-individu" membuat "satu gerakan lebih individual daripada sesosok individu." Maka kematian Agnes tak begitu rupa mengganggu pembaca.
Paradoks-paradoks demikian bertebaran di seluruh buku. Kundera gemar menempatkan kata-kata dan gagasan-gagasan konvensional di kepala mereka. Adik perempuan Agnes, Laura, memutuskan berjuang demi kekasihnya, Paul, dan kemudian karena memperjuangkannya ia malah kehilangan dia. Di tempat lain sang pengarang berkata: "Aku mempertahankan kebebasan berkeyakinan bahwa tanpa seni ambiguitas tak ada erotisme yang sesungguhnya, dan semakin kuat ambiguitas, semakin kuat kegembiraan. Siapa yang tak dapat mengingat kenangan masa kecilnya tentang permainan dokter-dokteran!"
Di tempat lain ia menulis: "Konsep hak asasi manusia mundur sekitar 200 tahun ke belakang, tetapi ia mencapai kepopulerannya yang terbesar dalam setengah terakhir tahun 1970-an. Alexander Solzhenitsyn baru saja dibuang dari negerinya, dan sosoknya yang menyolok, dihiasi dengan janggut dan borgol, menghipnotis intelektual Barat yang sakit untuk waktu yang lama karena takdir besarnya yang telah mengingkari mereka. Berterima kasih padanya dimana mereka mulai percaya, setelah terlambat lima puluh tahun, bahwa di Russia Komunis ada kamp konsentrasi; bahkan orang-orang yang progresif kini siap mengakui bahwa tidaklah adil memenjarakan seseorang karena pikiriannya. Dan mereka menemukan suatu justifikasi yang baik bagi sikap baru mereka: Kaum Komunis Rusia melanggar hak asasi manusia, meskipun kenyataannya hak-hak ini telah diproklamasikan dengan riang gembira bahkan sejak Revolusi Perancis!"
Meskipun ada tendensi menguliahi pembaca, L'Immortalite tak menjadi jelek karenanya. Selalu, sang pengarang membuktikan dirinya sebagai seorang master peramu motif cerita. Tak ada kesembronoan dalam teks, tak ada suatu kebetulan di dalamnya yang memperlemah plot utama tentang kehidupan dan cinta setengah lusin orang-orang Paris yang saling bertautan.
Seseorang mungkin tergoda karena tulisan Kundera ini untuk mengubah definisinya tentang plot. Sebaliknya ia menyebut hal itu sebagai suatu tindakan yang memunculkan harapan-harapan, ia mungkin melukiskannya sebagai suatu rangkaian gerak-gerik verbal yang muncul secara ajaib. Yang menakjubkan, tak ada yang statis dalam karya ini; segalanya berkembang dan menggunakan bentuk-bentuk yang berbeda.
Tetapi, Kundera lebih tak suka digolongkan pada definisi konvensional seni. Sebagaimana ia katakan pada seorang teman dalam L'Immortalite: "Ketegangan dramatis, inilah nasib buruk sesungguhnya yang menimpa roman, sebab ketegangan mentransformasikan semuanya, bahkan halaman-halaman yang terbagus, juga adegan-adegan dan pengamatan yang paling mengejutkan, dalam satu tahapan sederhana yang menuju kesudahan yang terakhir, tempat terpusatnya makna segala apa yang mendahuluinya."
Lebih jauh ia melanjutkan: "Roman tidak seharusnya seperti balapan sepeda, tapi seperti sebuah perjamuan di mana orang melewatkan sejumlah hidangan. Aku sudah tak sabar menunggu bagian keenam. Tokoh baru akan segera tampil dalam romanku. Dan di akhir bab keenam ini ia akan pergi sebagaimana ia datang, tanpa meninggalkan jejak. Ia tak menyebabkan apa-apa dan tidak membuahkan akibat apa pun. Inilah yang benar-benar menggembirakanku. Itu akan menjadi roman dalam roman, dan kisah erotis paling sedih dari yang pernah kutulis. Bahkan kau sekalipun, kau akan sedih dibuatnya."
Dan benar, bagian keenam memang berdiri sendiri dan menyedihkan. Karakter-karakternya pun tidak menggema di bagian lain buku ini. Namun bagian keenam juga longgar. Ia hanya sekedar sebuah episode. Seolah hal itu membangun kesan bahwa dalam menulis Kundera seorang penganut avant garde.
Demikianlah ia menjadi tudingan orang. Dalam melawan keberatan pandangan Aristoteles mengenai episode, Kundera menulis: "Tak ada episode yang secara a priori selamanya sebagai suatu episode, karena setiap peristiwa, betapapun remehnya, cepat atau lambat di dalam dirinya menyimpan kemungkinan menjadi penyebab peristiwa-peristiwa yang lain dan dengan demikian mengubah suatu cerita atau suatu petualangan. Episode itu seperti tanah pertambangan. Mayoritas di antaranya tak pernah meledak, namun bahkan yang paling tak istimewa pun suatu hari bisa berubah menjadi suatu cerita yang ternyata penting bagimu."
Akhirnya, motif utama L'Immortalite adalah cara para seniman dan karya-karyanya dirubah melalui waktu: bagaimana, menyebut contoh-contoh Kundera yang paling sederhana, puisi terkenal karya Goethe, dengan bintang-bintang dalam "Uber allen Gipfeln", menjadi nyanyian sebelum bobo bagi anak kecil, tapi menjadi suatu evokasi kematian bagi orang-orang tua.
Maka barangkali pada suatu waktu episode dalam bagian keenam L'Immortalite akan meledak. Tetapi sekarang ia tetap menjadi bagian yang relatif lemah dari sebuah novel yang sebaliknya, kuat dan mempesonakan.
Eka Kurniawan,Pengamat dan pekerja sastra yang tinggal di Yogyakarta
The Brethren (Majelis)
John Grisham
Gramedia, Jakarta
Maret 2000
979-655-651-0
The Brethren
Dengan Dua Plot pun Terasa Lambat
oleh Kurniawan
detikcom Rabu, 07/06/2000
Novel terbaru John Grisham kali ini mengembangkan dua plot cerita yang disuguhkan bergantian. Plot pertama tentang penjara Trumble dengan segala kelakuan penghuninya.
Trumble adalah sebuah penjara federal dengan penjagaan minimum. Isinya para penjahat yang terbilang "kurang berbahaya", dari pengedar obat bius hingga mantan hakim dan bandit Wall Street. Meski tidak terjaga ketat --mereka bisa saja keluar setiap saat kalau mau-- tapi mereka memilih bertahan menghabiskan masa hukumannya disana. Ancaman pembangkangan cuma satu: dipindahkan ke penjara lain yang pastilah tak akan senyaman di Trumble.
Demi menegakkan "keadilan" dalam penjara itu, tiga mantan hakim membentuk pengadilan versi mereka yang dipimpin oleh "Majelis", demikian mereka menyebut dirinya. Ketiganya mengurusi segala pertikaian yang terjadi sesama narapidana. Layaknya hakim betulan, mereka menyidangkan tuntutan dan pengaduan para napi, termasuk tuntutan seorang napi yang menginginkan adanya peraturan pelarangan mengencingi kebun mawarnya.
Ketiganya sebenarnya mantan hakim yang sudah frustasi, sampai bisnis gelap sampingan mereka, "tipuan Angola", ternyata cukup berhasil. Tipuan ini memanfaatkan surat-surat gelap untuk menjebak para homo, lalu memeras kelinci-kelinci tak berdaya itu. Mereka mulai bisa mengeruk dolar dari saku para korbannya, hingga mereka secara tak sengaja berhadapan dengan orang nomor satu di Amerika, dan segala rencana pun berubah.
Plot kedua berpusat pada sosok Aaron Lake, senator yang dijadikan boneka CIA oleh Teddy Maynard. Lake akan digolkan sebagai presiden dengan segala cara, dengan pelipatgandaan anggaran militer sebagai penukarnya. Teddy yang punya kekuasaan penuh terhadap badan intelejen dengan jaringan internasional itu merekayasa segala hal demi keinginannya tercapai. Jutaan dolar dikerahkan untuk memoles bintangnya. Intrik politik dunia dimainkan dengan --tentu saja-- di bawah kendali Teddy.
Mudah ditebak bahwa kedua plot itu akan bertemu di satu titik: bertemunya rencana Teddy dengan rencana "Majelis". Dan sejak pertengahan halaman, jalinan itu saling berkelindan dengan akal-akalan dari kedua belah pihak.
John Grisham, novelis pengarang belasan novel berbasis hukum dan pengadilan itu, terlanjur terkenal. Sebelum The Brethren, novel-novelnya kaya dengan pertarungan sengit dalam logika hukum dan permainan pengadilan. Tokoh-tokohnya adalah para pengacara yang mati-matian memperjuangkan setitik kebenaran dan mengais keadilan yang sangat rapuh.
Lantas, bagaimana dengan novel ini? Secara keseluruhan, detil-detil cerita dan peristiwa yang dipaparkan Grisham tetap menarik untuk diikuti, meski tak ada yang sungguh-sungguh baru disana. Permainan dua plot yang digunakan Grisham sebagai kerangka utama tak banyak memperkaya isinya, kalau bukan dibilang sekedar mempertebal halaman buku. Namun, Grisham tetap novelis yang masih mampu menggiring pembacanya, meski terasa agak lambat ritmenya.
Kalau anda membacanya hingga halaman terakhir, jangan terlalu berharap akan menemui sebuah kejutan dan penyelesaian yang laur biasa. Lalu, sebuah pertanyaan iseng bisa dimunculkan: apakah mungkin organisasi sehebat CIA mampu menipu jutaan orang tapi tak mampu menaklukkan bandit kecil yang punya gerak terbatas? "
SRC: Kanal Buku Detikcom
Kasidah Cinta Jalalu'ddin Rumi
Hartoyo Andangjaya
Tarawang Press, Yogyakarta
Maret 2000
979-8681-31-2
Terang Benderang Rumi : Renungan Spiritual Harian Kutipan dari Masnawi
HB Jassin (Penerjemah)
Penyunting : Ali Audah
Pengantar : Goenawan Mohamad
Penerbit : Mizan, Bandung
Waktu Terbit: Mei 2000
Tebal : xxi + 363 halaman
ISBN : 979-433-249-6"
Jalalu'ddin Rumi
Sufi Penyair dalam Dua Buku Terjemahan
oleh Kurniawan
detikcom
Senin, 11/09/2000
Konon, Rumi berpuisi dalam kemabukan spiritual. Rumi berkarya sambil menari, menikmati nyanyian suling atau kendang, alunan pukulan pandai besi, atau sambil menikmati keindahan alam di kincir air Meram.
Lelaki itu berkeliaran di sepanjang jalan-jalan kota Konya (kini Anatolia, Turki). Namanya Syamsuddin (artinya "cahaya agama") dari Tabriz. Sebagian orang menyebutnya darwisyi (sufi) pengembara, sebagian lain menyebutnya penyair. Dia seperti Socrates di Yunani Kuno yang suka cerewet menanyakan berbagai hal kepada orang-orang yang ditemuinya di jalan. Tidak seperti darwis lain di kota itu, Syamsuddin tidak punya kelompok persaudaraan mistik.
Sufi Penyair
Tak jauh dari situ, tinggallah Jalluddin Rumi, putra teolog besar Bahaddin Walad dari Khorasan. Konon, ketika masih muda, Rumi pernah diberkahi oleh sufi Persia, Fariduddin Attar. Kini di usia 37 tahun, Rumi menjadi khatib dan belajar teologi kepada ayahnya. Rumi sempat pula berkunjung ke Syria dan menjalin hubungan para sufi disana, seperti Ibnu al-Arabi dan Sadaruddin al-Qunawi.
Pada suatu hari, 30 November 1244, ketika Rumi berjalan-jalan di Konya, dia bertemu dengan Syamsuddin. Pada Syamsuddinlah Rumi menemukan kesempurnaan cinta, kedalaman spiritualitas, dan rahasia ketuhanan dan keindahan. Rumi pun meninggalkan pelajaran teologinya.
Rumi membawa darwisyi itu ke rumahnya dan mereka tinggal bersama selama berbulan-bulan. Hubungan keduanya seperti sepasang kekasih mistik yang dilukiskan oleh Sultan Walad (putra Rumi yang menuturkan riwayat hidup sang ayah) seperti Nabi Musa dan Nabi Khidir yang menjalani petualangan spiritual dengan bersoal jawab.
Tapi, hubungan ini menggusarkan keluarga dan murid-muridnya. Pada tahun 1247, Syamsuddin disingkirkan, bahkan dibunuh. Konon, Sultan Walad mengetahui ini dan segera mengubur mayat Syamsuddin di dekat sebuah sumur di Konya yang sekarang masih ada.
Rumi yang semula periang dan bahagia, kini patah hatinya. Pengalamannya tentang cinta, rasa memiliki, dan rasa kehilangan mengubah sang khatib jadi penyair. Rumi seperti tak bisa menahan arus yang begitu kuat yang melahirkan ribuan puisi-puisi mistik. Setidaknya ada 30.000 syair dan sejumlah besar ruba'iyat (kuatrain) yang diciptakannya pada masa ini. Cinta dan penghargaannya pada Syamsuddin yang begitu besar tampak dari bagaimana Rumi kadangkala menyisipkan nama Syam, selain namanya sendiri, di akhir setiap puisinya.
Konon, Rumi berpuisi dalam kemabukan spiritual. Rumi berkarya sambil menari, menikmati nyanyian suling atau kendang, alunan pukulan pandai besi, atau sambil menikmati keindahan alam di kincir air Meram. Suatu cerita mengatakan bahwa ketika Rumi mendengar alunan pukulan pandai besi di depan toko Salahuddin Zarkub, seorang pandai besi buta huruf, Rumi lalu menari. Salahuddin kemudian menjadi murid setianya dan putrinya menjadi istri dari putra tertua Rumi. Hubungan ini pun menginspirasikan puisi-puisi mistik Rumi.
Puncak dari karya mistiknya adalah Masnawi, sebuah buku dengan puisi-puisi panjang sebanyak 26.000 kuplet yang dikumpulkan dalam enam jilid setebal 2000 halaman. Selain itu, setelah wafatnya pada 17 Desember 1273, sang sufi yang kemudian dijuluki Maulana ini meninggalkan Fihi ma fihi, sebuah buku berisi kumpulan percakapannya dengan murid-muridnya. Putranya kemudian menghimpun murid-murid Rumi dalam Maulawiyah yang kemudian menjadi persaudaraan sufi yang terkenal dengan tarian mistik Darwisyinya.
Terjemahan
Berkat buku-buku R.A. Nicholson dan A.J. Arberry, Rumi dikenal di Barat. Buku utama dari kedua pengarang ini adalah terjemahan dari Fihi ma fihi (1961). Arberry menerbitkan pula Tales from the Masnavi (1961), More Tales from the Masnavi (1963), Mystical Poems of Rumi (1966), dan Mystical Poems of Rumi: Second Selection (1979). Sedang Nicholson menerbitkan The Mathnawi of Jalálu'ddin Rumi, 8 volume (1925-1940) dan Rumi, Poet and Mystic (1950).
Publik Indonesia tampaknya mulai mengenal Rumi dari terbitan berbahasa Inggris ini. Beberapa terjemahan sudah pernah diterbitkan, meski belum ada yang lengkap. Sastrawan Abdul Hadi WM, misalnya, pernah menerbitkan beberapa kutipan dari Masnawi dan ulasan terhadap karya Rumi dalam Rumi: Sufi dan Penyair (Pustaka, 1985).
Sastrawan Hartoyo Andangjaya juga pernah menerbitkan kumpulan petikan dari Masnawi yang diterjemahkan dari karya Arberry, Mystical Poems of Rumi, ke dalam Kasidah Cinta Jalalu'ddin Rumi (Budaya Jaya, 1982). Kini, terjemahan Hartoyo itu diterbitkan kembali oleh Tarawang dengan judul yang sama. Sedikit tambahan untuk edisi barunya ini, Amien Wangsitalaja melakukan adaptasi bahasa dan puitik atas terjemahan Hartoyo ini. Selain itu, penerbit Mizan juga menerbitkan Terang Benderang Rumi: Renungan Spiritual Harian Kutipan dari Masnawi yang diterjemahkan HB Jassin berdasarkan buku Rumi Daylight: A Daybook of Spiritual Guidance karya Camille Adams Heminski dan Edmund Kabir Heminski.
Buku Hartoyo menekankan pada sisi puitik bermuatan ketuhanan yang disuguhkan dalam 86 puisi. Bila kita membaca puisi-puisi tersebut akan tertangkap diksi-diksi khas perpuisian yang tentu saja hendak mempertahankan ritme dan estetikanya, selain dimensi religiositasnya.
Sedangkan karya HB Jassin -yang kemudian disempurnakan oleh Ali Audah- lebih diarahkan sebagai jalan untuk mengenalkan Rumi dengan harapan "supaya bisa dibaca oleh lebih banyak orang dalam format "buku harian"," tulis Camille dalam pengantar buku itu.
Hasilnya, kedua buku ini memuat gaya penulisan yang berbeda. Pada buku Hartoyo, persajakan jadi penting. Misalnya, bagaimana Hartoyo mempertahankan ritme pada akhir baris -meskipun barisnya relatif tak beraturan- pada puisi "Bulan yang Luluh":
Jasadku bagai bulan, luluh sirna karena cinta.
hatiku kecapi venus layaknya
(s'moga dipetik dawai-dawainya!)
Jangan pandang luluhnya bulan,
harta Venus yang redam.
Baiklah pandang keindahan dukanya
(s'moga seribu kali bertambah besar ia)
Terlihat upaya Hartoyo menjaga persajakan tiap baris pada kata "cinta", "layaknya", dan "dawai-dawainya", juga pada kata "bulan" dan "redam", serta persajakan "dukanya" dan "ia".
Namun, puisi-puisi Rumi bukanlah puisi yang mudah diletakkan dalam format persajakan demikian. Itulah sebabnya mengapa banyak dari puisi-puisinya lebih bersifat bebas, sehingga penerjemah lebih mengandalkan pada pilihan kata yang indah, seperti para penerjemah puisi-puisi Khalil Gibran.
Kesulitan lain adalah bahwa bahasa Persia punya permainan bahasa sendiri yang akan jadi menarik dalam bahasa aslinya namun akan janggal ketika diterjemahkan. Pada puisi "Bahasa ialah Angin", tertulis demikian:
Tanpa cinta aku ini orang yang tersesat.
tiba-tiba saja cinta masuk meresap.
aku pun gunung perkasa.
aku pun menjadi jerami bagi kuda raja.
Penerjemah memberi catatan kaki pada bait ini bahwa "dalam bahasa aslinya ada permainan kata antara kuhi (gunung) dan kahi (jerami) yang tak dapat diterapkan dalam teks terjemahan bahasa Inggrisnya dan dalam terjemahan bahasa Indonesianya". Sayangnya, puisi asli Rumi tak dilampirkan bersama terjemahan ini, sehingga pembaca dapat merasakan bagaimana gaya puitik itu terjadi dalam bahasa aslinya.
Bila kita kemudian membaca buku terjemahan Jassin dan Ali Audah, bentuk puitik itu tidak menjadi hal yang penting, malahan sebaliknya, semakin terang maknanya semakin baik. Apalagi, buku ini merupakan kumpulan kutipan yang secara acak diambil dari Masnawi yang disajikan secara tunggal, akibatnya hanya kalimat yang utuh dan bisa menerangkan dirinya sendirinya saja yang bisa disajikan.
Yang akan kita temukan kemudian adalah pernyataan-pernyataan yang lebih mirip kata mutiara atau penggalan nasehat yang secara harfiah cepat dipahami maksudnya. Perhatikan nasehat seperti ini:
Kita wajib bersyukur kepada Tuhan, bukan bermuka masam (Hari Ke-55)
Meskipun Rumi biasa menggunakan metafora, tapi metafora yang kita temukan dalam terjemahan ini relatif bisa dipahami, seperti :
Jika engkau terganggu oleh setiap gosokan, bagaimana cerminmu akan dipoles? (Hari Ke-110)
Namun, bagaimanapun bentuk penyajiannya, kedua buku ini tetap meneguhkan kebesaran nama Rumi. Keaslian gagasan dan metafora yang dimiliki Rumi sedikit banyak sudah tercermin, sedangkan muatan religiositas dalam setiap syairnya akan menantang siapapun yang bermaksud mendalami sufisme. Kedua buku ini dengan caranya sendiri akan saling melengkapi. Kalaupun ada yang masih dirasakan kurang adalah belum adanya pustaka yang mengenalkan Rumi dan ajarannya secara lebih komperhensif.
Aku Musa, Engkau Firaun
Tokoh Jabal dalam novel Najib Mahfouz, Aulad Haratina, bukanlah Nabi Musa, tapi kisah hidupnya begitu mirip. Itulah sebabnya mengapa Universitas Al Azhar, Mesir, melarang buku yang edisi Indonesianya bertajuk "Aku Musa, Engkau Firaun" (Tarawang, 2000) ini beredar.
Coba perhatikan ringkasnya ini: Jabal anak yatim piatu dari keturunan Klan Hamdan. Dia diangkat anak oleh Al-Afandi, penguasa kampung Al-Jabalawi. Setelah dewasa, dia menyaksikan kaum Hamdan ditindas semena-mena. Jabal memilih untuk memihak Klan Hamdan bahkan memimpin perjuangan melawan angkara Al-Afandi untuk menggapai kemenangan yang dijanjikan kepada keluarga Hamdan oleh leluhurnya.
Jabal sempat terusir dari kampungnya dan berkelana ke kampung lain. Di sebuah kampung, dia belajar ilmu menguasai ular hingga jadi pawang ular kesohor.
Ketika dia kembali ke kampungnya, di suatu malam dia berjumpa dengan leluhurnya, Al-Jabalawi, pendiri kampung dan moyang penduduk kampung tersebut. Sang leluhur yang telah lama menghilang dari kampung itu menjanjikan kemenangan bagi Klan Hamdan dan tegaknya keadilan di kampung tersebut.
Ketika kampung tersebut diserbu oleh ular-ular, Jabal turun sebagai pahlawan yang mampu mengendalikan mahluk menakutkan tersebut. Kemampuannya ini mengundang simpati penduduk, sehingga ketika Jabal mengumandangkan perang terbuka terhadap Al-Afandi, banyak pihak yang memihaknya. Akhirnya, tentu bisa disimpulkan bahwa kekuasaan Al-Afandi pun jatuh. (One)
Awal dan Akhir
Setelah kematian ayahnya, seorang pejabat menengah di Kementrian Pendidikan, keluarga Kairen jatuh dalam lembah kemiskinan di tahun 1930-an, di Mesir. Padahal, ayahnyalah satu-satunya tulang punggung keluarga mereka.
Anak tertuanya, Kamel Effendi Ali, harus menghadapi kenyataan itu dan berjuang untuk menyelamatkan keluarganya. Demikian pula dengan sang janda, Samira, dan empat orang anaknya, Hasan, Nefisa, Hussein dan Hassanein.
Ali awalnya berusaha dengan bekerja yang layak, namun dia tak mampu menghindari diri untuk masuk dalam dunia kriminal. Dua anak yang lebih muda, Hussein dan Hassanein, memperoleh pekerjaan yang terhormat, namun kebutuhan untuk tampil "layak" menelan habis gaji mereka, bahkan kekurangan. Sedang sang adik perempuan, Nefisa, terseret dalam prostitusi.
Perjalanan keluarga Kairen dalam gelap kemiskinan itulah yang ditampilkan dalam "Awal dan Akhir I dan II" (Yayasan Obor Indonesia, 2001). Dalam edisi Indonesianya ini, buku tersebut terbit dalam dua jilid dengan tebal mirip.
Buku ini dilahirkan dari rahim seorang peraih Nobel Sastra 1988, Naguib Mahfouz, meski bukan dianggap karya terbaik Mahfouz. Karya besarnya yang dianggap mengantarkannya meraih penghargaan Nobel adalah Trilogi Mesir. Panitia Nobel menilai bahwa Mahfouz layak memperoleh Nobel karena karyanya yang mampu mewakili pelukisan negerinya, Mesir, secara rinci dan sosok kemanusiaannya.(One)
>> Sastra Asing dan Terjemahan (2), buku-buku lain dalam kategori yang sama.
CATATAN:
[ ] Semua artikel berinisial One adalah tulisan saya pribadi.