Favorites

SANTOSO,SP Homepage's

 

Jurusan Teknologi Hasil Pertanian 

Phone: 0341-6264180

Email  : santoso_spuwg@yahoo.co.id

 

Rujukan Utama

index, photo, laboratorium, interest (berita penting), komentar, curiculum_vitae, favorites, index, registrasi, external_link

 

 

 

Laboratorium Pembenihan

  • Menerima pesanan bibit tanaman berkualitas

  • Yahoo!

  • My Favorite Site

  • MENGENAL  

    SENGKALAN

    http://jawapalace.org/index.html

    1.      Pengertian Umum  

    Sengkalan adalah kalimat atau susunan kata-kata yang mempunyai waktak bilangan  untuk menyatakan  suatu angka tahun. Ada pendapat yang menyatakan bahwa jika angka tahun itu dinyatakan dalam tahun bulan ( rembulan/lunar/qomariah/candra ) maka sengkalan itu disebut Candra Sengkala, sedangkan jika dinyatakan dalam tahun matahari ( sonar/syamsyiah/surya ) maka sengkalan itu disebut Surya Sengkala.

    Namun demikian sebenarnya ada pendapat lain yang menyatakan bahwa dalam arti luas Candra Sengkala sudah mencakup pengertian Surya sengkala ( tahun matahari ) dan Candra  sengkala (tahun rembulan), 

    Ciptawidyaka /Rono Hadinegara

    dengan alasan bahwa Candra sengkala bersal dari kata  candra yang berarti praceka ( pernyataan ) dan sangkala ( angka tahun), sehingga candrasengkala berarti pernyataan yang mengandung makna angka tahun.  

    Oleh karena itu, untuk menampung kedua pendapat yang kedua-duanya memiliki alasan yang kuat, di dalam tulisan ini digunakan istilah sengkalan.

    Sengkalan itu  sebagian besar  ditemukan di dalam tulisan-tulisan karya sastra Jawa, benda-benda bersejarah, bangunan, karya seni,  dan  lambang/simbul suatu kota, lembaga atau organisasi sebagai tanda atau sandi peringatan kala atau waktu tahun kejadian peristiwa penting yang terkait.  Sengkalan  juga digunakan di dalam surat-surat pada jaman dahulu untuk menyatakan kala atau waktu tahun penulisannya.

    Walaupun sempat menghilang, akhir-akhir ini malah banyak orang yang  membuat sengkalan di dalam menyatakan tahun.  

    Contoh sengkalan :  

          Kaya Wulan Putri Iku, menyatakan tahun 1313 tertera pada makam Putri Campa Darawati di Trowulan.

          Rupa Sirna Retuning Bumi menyatakan tahun 1601 sebagai peringatan peristiwa penangkapan serta gugurnya Trunojoyo.

          Surud Sinare Magiri Tunggil  menyatakan  tahun 1750 sebagai peringatan peristiwa Mangkatnya Sampeyan Dalem Ingkang Sinuhun Kanjeng Susuhunan Paku Buwana V.  

          Tata  Guna Swareng Nata menyatakan tahun 1735  tertulis di dalam Serat Wulang Reh, sekar Girisa pupuh 25 gatra 4, yang menunjukkan  tahun selesainya penyusunan Serat Wulang Reh oleh Sampeyandalem Ingkang Sinuhun Kanjeng Susuhunan Paku Buwono IV.  

     Lawang Trus unaning Janma  tahun 1399 (tahun saka) sebagai peringatan pembangunan Masjid Demak.

          Anggatra Pirantining Kusuma Nagara menyatakan tahun 1959 Masehi, sebagai peringatan peresmian Museum Perjuangan Yogyakarta.

          Sangsaya Luhur Salira Sang Aji menyatakan tahun 1805, merupakan ucapan selamat datang yang disampaikan oleh Sri Paduka Mangkunegoro IV kepada Sampeyandalem Ingkang Sinuhun Kanjeng Susuhunan Paku Buwono IX.

          Muji Dadya Angesti Sang Prabu menyatakan tahun 1847 yang merupakan tahun penulisan surat balasan  Kanjeng Pangeran Harya Kusumayuda kepada Sampeyandalem Ingkang Sinuhun Kanjeng Susuhunan Paku Buwono X.

    Sengkalan ini diperkirakan sudah ada sejak tahun  700 (saka), yaitu pada saat penduduk tanah Jawa ini sudah mulai  memiliki  peradaban dan kemampuan fikir, serta kemampuan atau minat terhadap bahasa sanskerta yang tinggi.  Hal ini terlihat dari kata-kata  di dalam sengkalan ini berasal dari bahasa sankserta, walaupun seiring perkembangan jaman kata-kata yang digunakan di dalam sengkalan ini sudah bercampur dengan bahasa Jawa Baru.

    2.  Susunan Kata di Dalam  Sengkalan

    Susunan kata di dalam  sengkalan  menunjukkan susunan angka bilangan tahun secara berturut-turut dari kiri ke kanan dengan susunan sebagai berikut :

          Kata pertama menunjukkan angka satuan dari tahun

          Kata kedua menunjukkan angka puluhan dari tahun

          Kata ketiga menunjukkan angka ratusan dari tahun

          Kata keempat menunjukkan angka ribuan dari tahun

      Contoh :

    KGPAA Mangkunegara I ( Pangeran Sambernyawa ) mendirikan Pura Mangkunegaran pada tahun 1682(tahun jawa). Peristiwa itu ditandai dengan sengkalan  Tali salira hangrasa wani (menurut serat Sastramiruda) atau  secara umum di lingkungan Pura Mangkunegaran ditandai dengan sengkalan Mulat salira hangrasa wani.

    Kata-kata  di dalam sengkalan tersebut dapat diuraikan sebagai berikut :

          Kata tali  mempunyai watak bilangan sama dengan kata mulat yaitu  2 ( dua ) --- sebagai angka satuan

          Kata salira mempunyai watak  bilangan  8 ( delapan ) --- sebagai angka puluhan

          Kata hangrasa mempunyai watak bilangan 6 ( enam ) --- sebagai angka ratusan

          Kata wani mempunyai watak  bilangan 1 ( satu ) --- sebagai angka ribuan

    Jadi Sengkalan Tali salira hangrasa wani  sama dengan sengkalan mulat salira hangrasa wani menunjukkan  angka tahun 1682.

      Dari beberapa contoh di atas dapat disadari bahwa untuk  dapat membaca/menafsirkan sengkalan ke dalam angka tahun, atau untuk menyusun sengkalan suatu tahun  harus memahami kata- kata yang memiliki watak bilangan-bilangan dari  0 (nol) sampai dengan 9 (sembilan).

      2.      Watak Bilangan

      Pedoman baku yang berupa rumusan matematis untuk menentukan watak bilangan di dalam penurunan kata-kata sebagai unsur sengkalan memang belum ada.  Watak bilangan pada umumnya ditetapkan berdasarkan  kesesuaiannya terhadap jumlah unsur sifat, unsur bahan pembentuk,  atau jumlah segala sesuatu yang melekat  pada benda, manusia, binatang, atau kejadian alam lainnya.

      Sebagai contoh :

            Kata kata yang memiliki watak 0 ( nol/das )

    Nir ( tanpa, hilang, habis )  memiliki watak 0 karena  kata nir dan semua padan katanya ( tanpa, hilang, habis ) mengandung pengertian kosong ( tidak ada ).

            Kata-kata yang memiliki watak 1 ( satu/siji/setunggal/eka )

    Kata yang memiliki watak satu terdiri atas kata yang menunjukkan  benda, orang, binatang, atau kejadian alam lain yang mengandung nilai 1, misalnya Bumi.  Bumi memiliki sifat satu, karena adanya bumi hanya satu di lingkungan tata surya kita.  Demikian pula untuk Surya ( matahari), Candra ( rembulan ), Jagad yang  juga menunjukka jumlah satu.   Demikian pula Gusti ( Allah, Raja ), yang sifatnya hanya ada satu di dalam  ruang lingkupnya.

          Kata-kata yang memiliki  watak  2 (dua/loro/kalih/dwi ).

    Kata yang memiliki watak 2 ( dua ) adalah  kata-kata yang berkaitan dengan segala sesuatu yang mengandung unsur dua atau sepasang, misalnya asta ( tangan ).  Asta ( tangan ) manusia yang normal berjumlah 2 ( dua ). Dengan demikian  asta memiliki watak 2 (dua ). 

    Netra ( mata ) manusia  yang normal berjumlah dua, maka mata memiliki watak 2.

    Nyembah, nembah juga memiliki watak dua, karena orang yang normal di dalam adat budaya Jawa, jika menyembah menggunakan kedua tangannya.

            Kata yang memiliki watak 3 (tiga/telu/tiga/tri ).

    Bahni atau geni atau api dikatakan memiliki watak tiga karena  api  dapat terjadi jika ada tiga unsur pembentuk api itu, yaitu :

    v     Alat pematik ( batu thithikan, korek )

    v     Sarana ( arang, kayu, sumbu kompor, benda yang dapat terbakar )

    v     Udara.

    Uta ( lintah ) dikatakan memiliki watak 3 karena  lintah  memiliki sifat yang menunjukkan bilangan 3 yaitu memiliki gigi berjumlah tiga ( gigi bawah dua, gigi atas satu ). Di samping itu lintah memiliki 3 kemampuan, yaitu kemampuan menempel, kemampuan bergerak, dan kemampuan menghisap darah.

          Kata yang memiliki sifat 4 ( empat/papat/sekawan/catur )

    Sagara ( laut ) dikatakan memiliki  watak 4 ( empat ) karena laut dianggap merupakan peampung air yang berasal dari empat asal yaitu :

    v     Air dari  mata air di sungai kecil v     Air dari bengawan   v     Air dari pancuran v     Air hujan

            Kata yang memiliki watak 5 ( lima/gangsal/panca )

    Bana ( hutan besar/rimba raya ) dikatakan memiliki sifat lima karena rimba raya itu dianggap mengandung 5 ( lima ) macam bahaya, yaitu :

    v     Ketemu ular v     Ketemu harimau v     Ketemu srigala v     Ketemu raksasa v     Ketemu banteng

            Kata yang memiliki watak 6 ( enam/enem/sad )

    Hoyag ( gerak ) dikatakan memiliki sifat enam karena  gerakan badan manusia  dianggap terdiri atas enam macam gerakan yaitu :

    v     Gerakan tangan v     Gerakan kaki v     Gerakan lidah/mulut v     Gerakan mata v     Gerakan leher v     Gerakan bulu

            Kata yang memiliki watak 7 ( tujuh/pitu/sapta )

    Resi (  pendeta suci ) dikatakan memiliki watak 7 ( tujuh ) karena ada anggapan bahwa pada jaman purwa ada tujuh orang pendeta suci yaitu :

    v     Resi Kanwa v     Resi Parasurama v     Resi Janaka v     Resi Wasistha v     Resi Carika v     Resi Wrahaspati

    v     Resi Naraddha

            Kata yang memiliki watak 8 ( delapan/wolu/hasta )

    Pujangga  dikatakan memiliki  watak 8 (delapan) karena pujangga dianggap memiliki delapan kelebihan yaitu :

    v     Paramasastra  ( kemampuan di dalam kesusasteraan )

    v     Paramakawi ( kemampuan di dalam bahasa kawi )

    v     Mardibasa ( kelebihan di dalam olah kata )

    v     Mardawalagu ( kemampuan di dalam bidang lagu-lagu tembang dan gending )

    v     Hawicarita (  kepandaian di dalam bercerita )

    v     Mandraguna (  berilmu pengetahuan luas )

    v     Nawung Kridha ( kemampuan mengarang/menggubah suatu karya yang memiliki nilai filosofi tinggi )

    v     Sambegana ( kekuatan  daya ingat )

          Kata yang memiliki watak 9 ( sembilan/sanga/nawa )

    Bolongan/butulan  ( lubang ) dikatakan memiliki  watak sembilan, karena  lubang pada badan manusia berjumlah sembilan (babahan hawa sanga/ babahan nawa sanga) yaitu :  

    v     Dua lubang mata

    v     Dua lubang telinga

    v     Satu lubang mulut  

    v     Dua lubang hidung

    v     Satu lubang kemaluan

    v     Satu lubang anus  

    Dari  contoh-contoh tersebut di atas terlihat bahwa  belum ada pedoman baku dalam  penilaian watak bilangan kata-kata.  Namun demikian, karena sengkalan itu pada dasarnya merupakan  tanda peringatan  serta merupakan perangkat komunikasi yang harus dapat dijadikan alat untuk menyampaikan pesan tentang angka tahun kepada  orang lain, maka seyogyanya menggunakan kata-kata yang sudah biasa digunakan dalam penyusunan sengkalan terdahulu.

      3.      Kata-Kata Yang Sudah Biasa Digunakan Sebagai Unsur Pembentukan Sengkalan

    Untuk memberikan gambaran  tentang kata-kata unsur pembentuk sengkalan, di bawah ini dituliskan kata-kata yang telah biasa digunakan di dalam sengkalan beserta  terjemahan terdekatnya dalam bahasa Indonesia.

    3.1.  Kata Yang Memiliki Watak 1 ( Satu )  

    Tunggal                 : Berkumpul, Satu  

    Gusti                     : Raja, Ratu, Allah

    Sujanma                : orang baik, manusia terpelajar

    Semedi                  : bertapa, berkhalwat

    Badan                   : raga

    Nabi                      : nabiyullah, pusar

    Rupa                     : jenis

    Maha                    : lebih, sangat,sengaja

    Budha                   : sang Budha Gautama, Budi

    Niyata                   : nyata, benar-benar

    Luwih                    : lebih, luar biasa

    Pamase                 : raja

    Wong                    : orang, manusia

    Buweng                 : bulatan, lingkaran

    Rat                        : dunia, alam semesta

    Lek                       : hari pertama, bulan

    Iku                        : itu, ekor

    Surya                    : matahari

    Candra                  : bulan

    Kartika                  : bintang  

    Urip                      : hidup  

    Ron                       : daun

    Eka                       : Satu

    Prabu                    : raja, bertanggungjawab, pantas

    Kenya                   : gadis

    Nekung                 : bertapa

    Raja                      : raja

    Putra                     : anak

    Sasa                      : bintang, cepat

    Dhara                    : bintang, gadis, perut.

    Peksi                     : burung

    Dara                      : merpati, perut

    Tyas                      : hati, perasaan

    Wungkul                : utuh, lengkap

    Sudira                   : berani

    Wani                     : mau, berani

    Hyang                   : dewa, Allah, Tuhan

    Budi                      : pikiran, pemikiran

    Jagat                     : alam semesta, dunia, bumi

    Nata                      : raja.  

      3.2.  Kata Yang Memiliki Watak 2 ( Dua )  

    Asta                       : tangan, memegang  

    Kalih, ro                : dua

    Nembah                : menyembah

    Ngabekti               : berbakti

    Netra                    : mata

    Kembar                 : sama sepasang, rangkap

    Myat,                     : melihat

    Mandeng               : memandang, menatap, mulat  

    Nayana                 : air muka, mata

    Swiwi                    : sayap

    Lar                        : bulu, sayap

    Sikara                   : pengacauan, tangan, campur tangan.

     

    Dresthi                  : alis, khianat, ingkar janji  

    Dwi                       : dua

    Kanthi                   : dengan, rangkai, teman

    Buja                      : makanan

    Bujana                   : hidangan, suguhan.  

    Gandheng              : rangkai, sambung  

    Paksa                    : harus

    Apasang                : memasang, sepasang

    Sungu                    : tandhuk

    Athi-athi                : bulu/rambut pada pelipis

    Talingan                 : telinga  

      3.3.  Kata Yang Memiliki Watak 3 ( Tiga )  

    Bahni                     :  api  

    Ujwala                  : sinar, nyala, cahaya

    Kaeksi                  : tampak, kelihatan,terlihat

    Katon                    : tampak, kelihatan,terlihat

    Murub                   : berkobar

    Dahana                  : api

    Payudan                : peperangan

    Katingalan : tampak, kelihatan

    Kaya                     : seperti, penghasilan

    Benter                   : panas

    Nala                      : hati, api

    Uninga                   : mengetahui, obor

    Kawruh                 : pengetahuan

    Lir                         : seperti

    Wrin                      : mengetahui

    Weda                    : pegangan pokok, ajaran,ilmu

    Naut                      : menyahut, menjawab

    Nauti                     : cacing, menjawab, mengulangi  

    Teken                    : tongkat  

    Siking                    : upet ( pematik ), tongkat  

    Pawaka                 : api

    Kukus                   : asap, uap

    Api                        : api

    Apyu                     : api

    Brama                   : api

    Rana                     : perang, tirai, penyekat, perempuan

    Rananggana           : peperangan, medan perang

    Utawaka               : api

    Uta                        : lintah

    Ujel                       : belut

    Kobar                   : terbakar, menyala

    Agni                      : api

    Wignya                  : dapat, pandai

    Guna                     : luar biasa, dapat, manfaat, tipu.

    Tri                         : tiga

    Jatha                     : rambut lengket, taring, wadah.  

     

      3.4.  Kata Yang Memiliki Watak 4 ( Empat )  

    Catur                     : bicara, pembicaraan, empat  

    Warna                   : gubahan puisi, syair, air,  bangsa, 

    Wahana                 : kendaraan, uraian, arti, makna

    Pat                        : empat

    Warih                    : air

    Waudadi               : laut

    Dadya                   : menjadi, jadi, jadilah

    Keblat                   : kiblat, penjuru mata angin.

    Papat                    : empat

    Toya                     : air

    Suci                        : bersih, suci, jernih

    Udaka                   : air

    We                        : air

    Woh                      : buah, hujan

    Nadi                      : sungai, laut

    Jaladri                   : laut

    Sindu                     : air

    Yoga                     : anak, sebaiknya, jaman

    Gawe                    :  buat, membuat, perbuatan.

    Tlaga                     : danau, telaga

    Her                       : air  

    Wening                  : jernih

    Udan                     : hujan

    Bun                       : embun, kabut tipis

    Tirta                      : air  

    Marta                    : jernih, dingin

    Karya                    : membuat, perbuatan, buatan

    Sumber                 : sumur, mata air, asal sesuatu

    Sumur                   : sumur, perigi

    Masuh                   : membasuh

    Marna                   : berkata, menggubah puisi

    Karti                     : membuat, perbuatan, buatan

    Karta                    : makmur, sejahtera, kecukupan.

    Jalanidhi                : laut

    Samodra               : samudera

    Udaya                   : laut

    Tasik                     : bedak, laut

    Tawa                     : tawar, tawar terhadap bisa, menawarkan

    Segara                   : laut

    Wedang                : air yang telah mendidih.  

    3.5.  Kata Yang Memiliki Watak 5 ( Lima )  

    Pandhawa             : anak-anak Pandudewanata  

    Lima                      : lima

    Wisikan                  : bisikan, sebutan, terbaring

    Gati                       : aturan, keperluan, perbuatan, ulah

    Indri                      : angin  yang bertiup lembut. Indriya                   : hati, perasaan, pancaindera. Warastra               : barang tajam, panah Wrayang               : panah

    Astra                     : senjata, panah.  

    Lungid                   : tajam, runcing

    Sara                      : senjata, panah

    Sare                      : tidur

    Guling                    : tidur, berguling  

    Raseksa                : raksasa

    Diyu                       : diyu

    Buta                      : raksasa

    Galak                    : galak, ganas  

    Wil                        : anak raksasa

     

    Yaksa                   : raksasa

    Yaksi                     : raksasa betina  

    Saya                      : makin, tipuan, alat, perkakas

    Bana                     : hutan, panah

    Jemparing              : panah

    Cakra                    : panah bermata roda, renung

    Hru                       : panah

    Tata                      : atur, angin, cara

    Nata                      : mengatur, memuat  

    Bayu                     : urat, otot, angin.

    Bajra                     : senjata, angin

    Samirana               : angin

    Pawaka                 : angin

    Maruta                  : angin

    Angin                    : angin

    Panca                    : lima

    Marga                   : jalan

    Margana                : panah, Arjuna.  

     

    3.6.  Kata Yang Memiliki Watak 6 ( Enam )  

    Rasa                      : rasa, perasaan  

    Nenem                  : enam

    Rinaras                  : mapantas-pantaskan, dirasakan, diselaraskan

    Artati                     : manis, syair lagu Dandanggula.

    Lona                     : pedhas

    Tikta                     : pahit

    Madura                 : manis

    Sarkara                 : gula, manis.  

    Amla                     : masam

    Kayasa                  : rasa sepet

    Karaseng               : terasa oleh ( terasa pada )  

    Hoyag                   : bergerak, gerak, goyang

    Obah                     : bergerak

    Nem                      : enam

    Kayu                     : kayu, batang pohon.

    Wreksa                 : kayu, batang kayu, pohon.  

    Glinggang              : tebangan pohon  

    Prabatang              : kayu rebah, pohon tumbang

     

    Oyig                      : bergerak, bergoyang  

    Sad                       : enam

    Anggas                  : belalang, tebangan pohon

    Anggang-anggang: serangga  mengapung di atas air.

    Mangsa                 : waktu, makan ( untuk binatang buas )

    Naya                     : air muka, musim keenam.

    Retu                      : pahit, huru-hara, kekacauan

    Wayang                 : wayang, bergerak, gerak

    Winayang              : digerakkan

    Anggana                : sendiri, lebah

    Ilat                        : lidah

    Kilatan                  : kilat

    Lidhah                   : lidah, kilat

    Lindhu                   : gempa

    Carem                   : puas, senggama

    Manis                    : manis, bagus, baik, perempuan

    Tahen                    : kayu, menahan, menderita

    Osik                      : bergerak, tergerak hatinya

    Karengnya : terdengar, didengarkan.  

      3.7.  Kata Yang Memiliki Watak 7 ( Tujuh )  

     Sapta                    : tujuh

    Prawata                 : gunung

    Acala                    : gunung

    Giri                        : gunung, luar biasa, sangat

    Ardi                      : gunung

    Gora                     : lebah, gunung

    Prabata                 : gunung

    Himawan               : gunung

    Pandhita                : pendeta, pertapa

    Pitu                       : tujuh

    Kaswareng            : terkenal, tersebut

    Resi                       : pendeta, orang suci

    Sogata                   : hidangan, guru, pendeta

    Wiku                     : pendeta

    Yogi                      : sebaiknya, baik, pendeta.

    Swara                   : suara, bunyi

    Dwija                    : guru, pendeta

    Suyati                    : pendeta sakti, pendeta pandai

     

    Wulang                  : nasihat, petunjuk, pelajaran

    Weling                   : pesan

    Wasita                   : nasihat, petunjuk, pelajaran

    Tunggang               : naik, menaiki, menunggang  

    Turangga               : kuda

    Gung                     : besar

    Swa                      : kuda

    Aswa                    : kuda

    Titihan                   : kuda, kendaraan, tunggangan

    Kuda                     : kuda

    Ajar                      : pendeta, pelajaran, ajaran

    Arga                      : gunung, harga

    Sabda                   : berbicara, suara, bersabda

    Nabda                   : berbicara, bersuara, bertitah

    Angsa                    : angsa, keturunan, terlanjur

    Muni                     : berbunyi, berbicara, pendeta

    Suka                     : Gembira, memberi

    Biksu                     : sapi, pendeta

    Biksuka                 : sapi, pendeta  

     

      3.8.  Kata Yang Memiliki Watak 8 ( Delapan )  

    Astha                    : delapan

    Basu                      : kokek, ular, delapan dewa

    Anggusti                : membicarakan, merundingkan

    Basuki                   : selamat, raja ular

    Slira                      : tubuh

    Murti                     : sangat

    Bujangga               : pujangga, ular besar

    Manggala              : pemuka, pemimpin, pembesar, gajah.

    Taksaka                : ular besar, naga

    Menyawak            : biawak

    Tekek                   : tokek

    Dwipa                   : gajah

    Dwipangga            : gajah

    Bajul                     : buaya

    Gajah                    : gajah

    Liman                    : gajah

    Dwirada                : gajah

    Dirada                   : gajah

     

    Esthi                      : gajah, pemikiran, kehendak, perasaan

    Estha                     : kehendak

    Matengga              : menunggu, menantikan, gajah  

    Brahma                 : api, brahmana

    Brahmana              : brahmana

    Wewolu                : delapan, sebanyak delapan

    Baya                     : halangan, buaya, barangkali, janji

    Bebaya                  : halangan, bahaya

    Kunjara                 : penjara, gajah

    Tanu                      : bunglon

    Sarpa                    : ular

    Samaja                  : gajah

    Madya                  : tengah, sedang,cukup, pinggang

    Mangesti               : berniat, memikirkan, merenungkan

    Panagan                : sarang naga, hitungan jalan naga

    Ula                        : ular

    Naga                     : ular besar.  

    3.9.  Kata Yang Memiliki Watak 9 ( Sembilan )  

    Bolong                  : berlubang, tembus  

    Nawa                    : sembilan, menawar

    Dwara                   : pintu, gerbang

    Pintu                      : pintu

    Kori                      : pintu

    Bedah                   : terbelah

    Lawang                 : pintu

    Wiwara                 : liang, pintu

    Gapura                  : gerbang

    Rong                     : berlubang, liang sarang binatang, rongga

    Song                     : lubang, liang sarang binatang

    Wilasita                 : liang, liang kumbang

    Angleng                 : jelas pada pendengaran, masuk liang.

    Trustha                  : gembira, puas, berlubang tembus

    Trusthi                   : berlubang tembus

    Trus                      : terpenuhi, bocor, langsung tembus

    Butul                     : berlubang, tembus

    Dewa                    : dewa

    Sanga                    : sembilan  

    Wadana                : muka, wajah  

    Jawata                   : dewa-dewa

    Manjing                 : masuk

    Arum                     : harum, cantik, perempuan

    Ganda                   : bau

    Kusuma                 : bunga, perempuan, terhormat

    Muka                    : wajah, depan

    Rudra                    : galak, marah

    Masuk                   : memasuki

    Rago                     : gua, halangan

    Angrong                : masuk ke dalam liang

    Guwa                    : gua

    Menga                   : terbuka

    Babahan                : lubang, galian jalan pencuri

    Leng                      : liang

    Ambuka                : membuka, menyingkap

    Gatra                     : macam, warna, gambar, tiruan

    Anggangsir            : membuat lubang untuk mencuri.

    Nanda                   : bicara, bersuara, musim kesembilan

    Wangi                   : harum

     

    3.10.        Kata Yang Memiliki Watak 0 ( Nol )  

    Byoma             : langit  

    Musna              : hilang, lenyap

    Nis                   : hilang, pergi

    Mletik              : terpercik, meloncat, melesat

    Langit               : langit

    Sirna                : hilang, habis

    Ilang                 : hilang

    Kombul            : terangkat, terapung, terkenal

    Awang-awang  : angkasa

    Mesat               : pergi, menghindar, melesat

    Muluk              : melambung, terangkat, naik

    Gegana : angkasa, langit

    Ngles               : menghindar, pergi menjauh

    Tumenga          : menengadah, melihat ke atas

    Nenga              : menengadah, melihat ke atas

    Luhur               : tinggi, di atas, agung, mulia

    Suwung            : kosong

    Sonya               : sepi, pertapaan

    Muksa              : moksa, hilang, menghilang

    Doh                  : jauh  

    Tebih                : jauh

                Swarga             : surga, kahyangan  

    Tanpa               : tanpa

    Barakan           : ternak curian, berkata, sebaya  

    Tan                  : tidak

    Rusak               : rusak

    Brastha            : rusak, lenyap, lebur, hancur

    Swuh                : rusak, lenyap, lebur, hancur, sepi

    Walang            : belalang, khawatir

    Kos                  : angkasa, bersinar

    Pejah                : mati

    Akasa              : langit, angkasa

    Tawang            : langit, angkasa

    Wiyat               : langit, angkasa  

    Oncat               : pergi, naik, menghindar, lari

    Windu              : basi, sangat, hitungan delapan tahu

    Widik-widik     : langit, angkasa, segan-segan

    Nir                   : hilang, rusak, habis, tiada

    Wuk                 : rusak, busuk, tak jadi, urung

    Sat                   : kering, kering air

    Surud               : berkurang, tinggal, meninggal

    Sempal             : terbabat, patah.  

    4.      Penyusunan Sengkalan

    Agar dapat ditafsirkan secara tepat, maka sebaiknya di dalam penyusunan sengkalan digunakan kata-kata yang sudah biasa digunakan untuk menyusun sengkalan.

    Sengkalan sebaiknya membentuk suatu susunan kata yang sesuai dengan peristiwa yang terjadi pada saat itu. Namun demikian ada pula sengkalan yang hanya berupa kata-kata dan tidak membentuk suatu kesatuan kalimat. 

    Susunan kata di dalam sengkalan dapat berupa berita, harapan, pujian atau doa.

    Walaupun tidak mempunyai makna atau keterkaitan, sebaiknya kata-kata yang disusun  di dalam sengkalan itu tidak bertentangan dengan peristiwa yang terjadi.

    Contoh :

          Surud Sinare Magiri Tunggil  menyatakan  tahun 1750 sebagai peringatan peristiwa Mangkatnya Sampeyan Dalem Ingkang Sinuhun Kanjeng Susuhunan Paku Buwana V.  Surud artinya mangkat; sinare  artinya dimakamkan; magiri mengandung makna Imogiri; tunggil ada yang menafirkan bahwa bersamaan tahun wafatnya Ngersadalem Kanjeng  Sultan Hamengku Buwana IV, namun ada yang menafsirkan bahwa magiri tunggal itu  di  gunung/kahyangan/sorga milik Hyang Maha Tunggal.  Terlepas dari penafsiran makna tunggil itu, sengkalan yang dibentuk  tersebut sangat  tepat untuk mencatat peristiwa mangkatnya seorang raja.

          Di dalam suatu syair penutup sekar pucung di dalam serat Kamardikan yang selesai ditulis pada tahun 2002 tertulis,  muga-muga dresthi sirna nir sikara. Dresti sirna nir sikara menunjukkan angka tahun masehi 2002.  Dresthi ( 2 ) mengandung makna khianat; sirna ( 0 ) mengandung makna hilang ; nir ( 0 ) mengandung makna habis, hilang; sikara ( 2 )  pengacauan, campur tangan.  Jadi dresthi sirna nir sikara  mengandung makna segala bentuk penghianatan terhadap bangsa Indonesia ini hilang dan hilang pula campur tangan asing yang turut serta menyusup dan meyebabkan kesengsaraan rakyat.    Kalimat terakhir itu memang merupakan harapan penulis serat kamardikan, yang menggambarkan perjalanan kemerdekaan Indonesia sampai dengan tahun 2002 yang seolah-olah selalu bergejolak baik secara nyata atau terselubung, dan selalu diganggu oleh campur tangan asing yang terang-terangan atau terselubung. Oleh karena itu penulis menutup dengan doa atau harapan tersebut.

          Estining Pujangga Trus Manunggal        menunjukkan tahun 1988

          Estining Kusuma Dewaningrat    menunjukkan tahun 1998

          Estining Panembah Trusing Gusti           menunjukkan tahun  1928

    5.      Jenis Sengkalan

    Sengkalan dapat dikelompokkan menjadi tiga jenis, yaitu :

          Sengkalan Methok       Sengkalan Miring       Sengkalan Memet

    5.1. Sengkalan Methok

    Sengkalan methok  adalah sengkalan yang tersusun dari kata-kata yang sudah jelas semuanya.

    Contoh :

    Panca Lima Hasta Tunggal yang menyatakan  tahun 1855.  Disebut methok, karena semua kata-katanya  sudah jelas menunjukkan angka.  Panca (5), Lima (5), Hasta (8), Tunggal (1).

    5.2. Sengkalan Miring

    Sengkalan Miring adalah sengkalan  dengan kata-kata penyusun yang tidak semuanya jelas.

    Contoh :

    Panca Marganing Salira Tunggal menunjukkan tahun 1855.  Marganing (5) dan Salira (5) merupakan kata miring.

    5.3. Sengkalan Memet

    Sengkalan memet adalah sengkalan yang tidak dinyatakan dalam bentuk kata-kata secara langsung, tetapi dinyatakan dalam bentuk gambar, atau benda lain.

    Contoh:

          Di atas  kusen  Dhempel (kusen) pintu Brajanala Kraton Surakarta ada hiasan berupa  selembar kulit sapi.  Benda tersebut dapat dibaca lulang sapi siji. Jika diuraikan menjadi Lu (8), Lang (0), Sapi (7), Siji (1). Jadi benda tersebut merupakan sengkalan yang menunjukkan angka tahun 1708.

          Di dalam Gunungan pada wayang kulit ada gambar Gapura.  Dari Gambar pada gunungan tersebut dapat  dapat dibaca Gapura Lima Retuning Bumi, jika diuraikan menjadi Gapura (9), Lima (5), Retuning ( 6), Bumi ( 1 ), jadi menunjukkan angka tahun 1659.

          Di dalam Gamelan Sekaten Kyai Guntur Sari di Karaton Surakarta juga terdapat sengkalan memet. Di atas gayor ( gawangan penggantung ) Gong Besar dan di atas gayor Bedug ada gambar naga dua serta cakra, yang dapat dibaca sebagai Naga Loro Cinakra Ing Ratu, yang jika diuraikan menjadi naga (8), Loro (2), Cinakra (5), ing Ratu (1), sehingga menunjukkan angka tahun 1528.

    Pengelompokan tersebut di atas bukan untuk memilah-milah secara tegas. Dalam kenyataannya, sengkalan disusun sebagai gabungan antara dua atau malah tiga dari tiga jenis tersebut, walaupun memang ada yang bukan merupakan gabungan.

    6.      Penutup

    Mudah-mudahan dapat  menjadi tambahan wawasan terhadap salah satu dari karya budaya bangsa kita, bagi para pemerhati keluhuran budi.

    Daftar Pustaka

          SISKS Paku Buwono IV, Serat Wulang Reh, Dahara Prize, Semarang,1994

          KGPAA Mangkunagara, Sekar Sekaran ( Bloemlezing ), N.V. Albert Rusche & Co, Surakarta, 1920.

          R. Bratakesawa, Keterangan Candrasengkala, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1980.

          R.M. Sajid,  Serat Kawruh Bab Candra Sangkala, Sala.

          Ciptawidyaka, Serat Kamardikan, Paguyuban Wikarya, Bandung, 2002.

    *) Biografi Penyusun

    Ciptawidyaka ( nama kecil : Ronni I.S.-nama sepuh:Krt.Rono Hadinagoro. adalah Pembantu Dekan I Bidang Akademik Universitas Jenderal Achmad Yani Bandung Cimahi. Sarjana Teknik Sipil ITB dan Magister Teknik Jalan Raya ITB yang pernah mejadi ketua Perkumpulan Seni Tari dan Karawitan Jawa ITB kini aktif dan menaruh perhatian serta minat di bidang keagamaan dan kebudayaan. Di samping sebagai Pembina Masjid Al-Hidayah dan Masjid Nurul Iman, sampai saat ini masih membina Karawitan Jawa.  Pernah bekerja sebagai tenaga kependidikan di Universitas KatholIk Parahyangan, Universitas Langlangbuana, IKIP Negeri Bandung.

     

    e-mail: nino@jawapalace.org

     

     

 
1