HOMEMEMBERGUEST BOOKARTIKELFORUMEVENTSNEWSDOWNLOADFAQ
 

Artikel MQC

Mobile Banking, Baru Sebatas Fitur Tambahan

Lagi, mobile bangking menghiasi kolom di sejumlah media. Di awal bulan misalnya, diberitakan tentang peluncuran 25 ribu kartu SIM khusus mobile banking oleh ProXL dan BCA. Memang sejak akhir 90-an, para operator GSM mulai berlomba menghadirkan fitur canggih nan murah ini. Mengutip hasil riset asing, The Jakarta Post menulis bahwa bagi bank transaksi mobile banking 90% lebih murah ketimbang yang konvensional. Kerjasama yang dijalin operator dengan bank ini juga dirancang untuk menuai keuntungan mutualistis: fitur layanan operator semakin lengkap, dan nasabah semakin mudah menjangkau bank, di mana saja, kapan saja…

Mobile banking sendiri merupakan bagian dari teknologi GSM fase II. Ia memungkinkan penggunanya untuk melakukan transaksi non-cash hanya dengan memencet tombol di ponsel. Kehadiran teknologi ini dilihat oleh operator GSM sebagai kesempatan untuk memperkaya layanan. Dalam kajian marketing, teknologi digolongkan sebagai kekuatan primer perubahan (primary forces of change). Seperti diisyaratkan Alvin Toffler, teknologi mampu merubah cara hidup secara fundamental. Namun bukan logika ini yang digunakan para operator GSM. Ketimbang merancang mobile banking sebagai layanan utama, para operator cenderung hanya melihatnya sebagai value added service.

Tapi memang bukan para operator yang berkepentingan dengan mobile banking, melainkan bank. Ambil contoh BCA. Bank yang menjadikan `kenyamanan` sebagai positioning-nya ini, seperti ditunjukkan dengan jumlah ATM yang banyak, kini mulai diserang kritikan: nasabah harus mengantri di depan ATM yang lebih sering off-line dan kehabisan kertas struk. Melihat realitas bahwa ponsel telah menjadi bagian penting dari keseharian para nasabah, ditambah lagi tingkat kepercayaan konsumen kepada operator lebih tinggi ketimbang kepada bank, mobile banking semakin terlihat sebagai solusi tepat.

Solusi ini juga memiliki nilai tambah karena jumlah pengguna ponsel di Indonesia cukup banyak, dan terus meningkat pesat. Pada 2002 saja 15 juta unit nomor seluler telah laku terjual. Walaupun para pengguna ponsel bervariasi dalam pilihan mereka menyimpan uang, pertumbuhan pasar seluler yang tinggi adalah peluang bagi bank untuk memperluas market channel. Operator dalam hal ini lebih berfungsi sebagai bagian value-chain dalam proses value delivery dari bank ke nasabah. Kesimpulannya, mobile banking merupakan teknologi yang memungkinkan bagi bank meraih extended benefit dari sebuah universal-trusted-device yang bernama ponsel.

Jika melihat karakteristik konsumen, mungkin memang hanya 10-20% pengguna yang aktif mendalami fitur ponsel mereka, tapi bisa jadi memang hanya sebesar itu jumlah informationalized customer di pasar ponsel. Merekalah niche dalam target market Anda. Lagipula, menurut CSO Yahoo!, Tim Sanders, ”marketing is about retaining customer”. Pun jangan lupa, para penikmat mobile banking pastilah mereka yang memiliki jadwal hidup yang ketat. Artinya waktu adalah value tertinggi bagi mereka. Mereka ini mungkin praktisi bisnis, pejabat, keuangan korporat, atau mungkin para ibu. Bank dan operator yang menyediakan layanan mobile banking akan dipandang sebagai customer oriented oleh tipe konsumen ini. Inilah yang disebut sebagai customer outlook, yakni pembacaan komprehensif terhadap kebutuhan konsumen.

Di sisi lain, prospek mobile banking juga cukup cerah. Di zaman ketika manusia berlomba dengan waktu, efisiensi menjadi value yang sakral. Tuntutan akan saluran transaksi yang efisien, sebelum ada inovasi berikutnya, hanya mampu disediakan oleh mobile banking. Dengannya, konsumen seakan membawa ATM mini di dalam saku. Mencoba melihat dengan visi ke depan, mobile banking akan berada di peringkat No.1 sebagai representasi trend bisnis futuristik yang disebut virtual transaction.

Namun mobile banking bukanlah tanpa kendala. Sementara ini faktor keamanan masih menjadi penyebab keengganan publik melakukan transaksi via ponsel. Waktu tulisan ini dibuat, saya sempat berdiskusi dengan rekan yang bekerja sebagai marketing communication di salah satu operator GSM. Menurut dia, teknologi dalam mobile banking tidak memiliki celah untuk eror. Kesalahan justru terjadi karena human error, maksudnya si penggunalah yang mungkin menjadi sumber masalah, misalnya konsumen salah ketik nomor rekening tujuan.

Jika itu masalahnya, solusinya menjadi mudah: Lakukan saja edukasi pasar. Tugas utama operator dan bank ialah membalik stereotipe yang berkembang. Jika taktik ini efektif, mungkin hanya butuh 3 tahun sampai akhirnya konsumen terbiasa dengan layanan mobile banking. Saya juga menanyakan hal ini kepada teman saya tadi. Ternyata masalah utamanya adalah, seperti yang saya singgung di awal, operator dan bank bersepakat untuk menjadikan mobile banking semata sebagai value added service. ”Setidaknya sementara ini begitu”, kata teman saya. Namun, ada satu hal yang terlupakan oleh bank dan operator, yakni bahwa ekspektasi konsumen bersifat dinamis. Bisa saja trend bergerak cepat ke arah mobile banking. Artinya tidak perlu menunggu hingga traffic user setinggi SMS untuk menjadikan mobile banking sebagai layanan utama. Kenapa tidak mengambil first mover advantage (?).

Cristian Rahadiansyah
Markplus&Co
Dimuat di Majalah Modal edisi Februari 2004


download artikel-artikel terbaru di link download

 
 
Partners of The Month :

        
   

Last Up Date:
04-May-2004 7:21 PM



 
INFOBET@ STUDIO
Copyright © 2004 InfoBet@ Studio. All right reserved.