|
|
Istilah
“feminisme Anglo-Amerika” kerap dipakai untuk menyebut
bangunan pemikiran yang lahir dari gerakan perempuan
gelombang-kedua di Inggris dan Amerika sejak penghujung tahun
1960-an. Meski mewarisi asumsi-asumsi ideologis dan tradisi
intelektual yang serupa, terdapat perbedaan-perbedaan penting
dalam perkembangan feminisme di kedua negeri tersebut, terutama
adalah pengaruh Marxisme yang lebih besar atas feminisme Inggris
serta hubungan yang lebih dekat dengan liberalisme dan kampanye
anti-rasisme pada feminisme AS. Penggunaan istilah
“gelombang-kedua” merujuk pada pentingnya sejarah aktivisme
kaum feminis terdahulu, di mana kaum perempuan berhasil memperoleh
hak suara di Inggris dan AS pada tahun 1920-an (Banks, 1981).
Kebangkitan
kembali feminisme di akhir tahun 1960-an berkaitan dengan sejumlah
faktor, termasuk kian luasnya kesempatan bagi perempuan untuk
memperoleh pendidikan lebih tinggi serta menjadi bagian dari
angkatan kerja berupah, sehingga muncul kesenjangan kian lebar
antara cita-cita kaum perempuan itu sendiri dan representasi
peranan mereka yang dominan sebagai ibu dan istri belaka (Friedan,
1965). Di samping itu, politisasi kaum perempuan dalam gerakan
Kiri Baru serta perjuangan hak-hak sipil, di mana kepentingan
politik mereka sendiri acapkali tak dipedulikan atau disepelekan,
pada akhirnya mendorong mereka untuk membentuk gerakan pembebasan
yang otonom (Mitchell, 1971). Jadi, pemikiran feminis tidak hadir
dalam keadaan terisolir namun merupakan bagian dari gerakan sosial
yang menentang penindasan atas kaum perempuan dan inilah yang
kemudian mendorong penyebarannya secara luas dan beragam.
Tentu
saja, mazhab-mazhab pemikiran tidak mungkin dikelompokkan secara
kaku dalam batas-batas nasional, apalagi dalam masalah feminisme
ini, yang telah menerima berbagai pemikiran mengenai perempuan
dari bermacam kebudayaan. Karenanya penelitian ini pun akan
mengacu juga pada kaum perempuan baik yang dilahirkan maupun yang
kini berdiam di Australia dan yang karyanya telah memberi
sumbangan berharga bagi perkembangan pemikiran feminis
Anglo-Amerika.
Dalam
salah satu teks feminisme gelombang-kedua awal yang paling
berpengaruh, Sexual
Politics (1971), Kate Millett mengembangkan kritik dan
analisis awal tentang berbagai proses ideologis yang dengannya
patriarki mereproduksi dirinya sendiri, dan menunjukkan bagaimana
peranan yang didasarkan pada jenis kelamin — anggapan bahwa
laki-laki dan perempuan memang memiliki karakteristik saling
bertentangan dan “alamiah” — dijalankan untuk mengukuhkan
serta mengabsahkan kekuasaan kaum lelaki atas perempuan. Pemikiran
Millett itu melawan konsepsi politik yang berlaku, dengan
menyatakan bahwa wilayah intim berupa cinta romantis dan seksual,
yang secara tradisional diciptakan oleh kaum laki-laki sebagai
tempat perlindungan “pribadi” untuk mengelak dari tuntutan
dunia publik, mengandung relasi dominasi dan subordinasi.
Dalam
teks feminis awal lainnya yang juga penting, The
Dialectic of Sex (1970), Shulamith Firestone menggagas sebuah
teori materialis feminis mengenai sejarah yang didasarkan pada
reproduksi biologis sebagai basis penindasan atas kaum perempuan.
Kemampuan melahirkan pada kaum perempuan yang berkombinasi dengan
periode ketergantungan yang panjang dari anak-anaknya adalah
sumber utama terciptanya pembagian kerja berdasarkan gender yang
mengakibatkan otoritas serta kekuasaan publik berada di tangan
laki-laki. Oleh karenanya, kondisi yang diperlukan bagi terjadinya
revolusi feminis adalah penghapusan peran-ibu dan keluarga; dalam
hal ini Firestone menyandarkan harapannya itu pada potensi
pembebasan yang terkandung dalam teknologi reproduksi baru sebagai
sarana mengatasi tirani biologis, suatu optimisme yang oleh para
feminis berikutnya dinilai keliru (Corea, 1985).
Karya-karya
yang punya kecenderungan serupa menyatakan bahwa perbedaan
perempuan dengan laki-laki adalah basis penindasan atas perempuan,
sehingga seringkali didambakan adanya suatu androgini yang bakal
membebaskan perempuan dan laki-laki dari batasan-batasan peranan
yang didasarkan pada jenis kelamin. Namun demikian, pada tahun
1970-an itu berangsur-angsur para feminis menjadi lebih kritis
dalam menilai apa yang mereka anggap sebagai upaya mencapai
kesetaraan dengan laki-laki melalui cara menjadi seperti
laki-laki, yang berakibat merendahkan kekhasan perempuan itu
sendiri. Adrienne Rich (1976), misalnya, membedakan antara
peran-ibu sebagai suatu institusi yang menindas perempuan, dan
sebagai suatu pengalaman yang berpotensi memberdayakan, yang
berakar pada karakteristik psikologis dan biologis yang secara
khas dimiliki perempuan sendiri.
Pemuliaan
atas kultur kaum perempuan serta penegasan diri “kaum perempuan
sebagai perempuan” adalah tema penting feminisme 1970-an, yang
kerap didefinisikan secara berlawanan dengan kecenderungan umum
kaum laki-laki yang mewakili rasionalitas abstrak, destruksi dan
kekerasan (Griffin, 1978). Pandangan dualistik demikian itu
membuahkan inspirasi bagi Mary Daly (1978) untuk melancarkan
serangan atas institusi dan mitos patriarkal, yang mencakup sebuah
survei global tentang bentuk-bentuk kekerasan ritual terhadap kaum
perempuan, seperti adat membakar diri yang dilakukan para istri di
India, penjepit kaki di Cina, klitoridektomi di Afrika, pembakaran
perempuan yang dituduh tukang tenung di Eropa, serta ginekologi di
Amerika. Dengan membahas istilah-istilah yang misoginistik
(seperti istilah dalam bahasa Inggris “hag”, “crone”,
“spinster” — “nenek culas”, “nenek peot”, “perawan
tua”) demi tujuan-tujuan feminis, permainan kata yang dilakukan
Daly secara kreatif dan cerdas membentuk visinya tentang
wujud-wujud pengetahuan yang berpusat pada perempuan sendiri dan
tak tercemar oleh pemikiran kaum laki-laki.
Namun
selanjutnya perspektif yang berpusat pada perempuan ini pun
digugat karena kecenderungannya yang mengarah pada esensialisme
dan universalisme, yakni pendefinisian aspek-aspek pengalaman
perempuan sebagai kodrat bawaan atau generalisasi atas kehidupan
semua perempuan yang bisa menyesatkan. Para feminis sosialis
bersikap kritis terhadap apa yang mereka anggap sebagai pergeseran
menuju pemuliaan diam-diam atas wilayah kaum perempuan yang
dilepas dari konteksnya dan didasarkan pada biologi atau psikologi
perempuan sehingga konsekuensinya adalah dilalaikannya isu-isu
ekonomi, kelas, dan sejarah (Eisenstein, 1984; Segal, 1987). Di
AS, kaum perempuan kulit berwarna mengungkapkan adanya
asumsi-asumsi rasis yang terutama berasal dari warga kulit putih,
yakni gerakan kaum perempuan kelas-menengah yang dari posisinya
yang relatif istimewa telah melakukan generalisasi secara
gampangan serta menutup-nutupi pelbagai konflik di antara kaum
perempuan sendiri dengan mengatasnamakan persaudaraan ideal namun
palsu (Hooks, 1984; Moraga dan Anzaldua, 1981).
Buah
pemikiran feminisme Anglo-Amerika pun mendapat serangan dari para
feminis yang terpengaruh pemikiran pascastrukturalis serta
feminisme Prancis, yang bersikap kritis terhadap daya pikat
kebenaran, subjektivitas, dan pengalaman perempuan namun tak cukup
memberi perhatian pada linguistik sebagai mediasi realitas
(Alcoff, 1988). Feminis Anglo-Amerika dewasa ini telah berupaya
menanggapi kritik-kritik tersebut dengan cara mempertahankan serta
menyempurnakan argumentasinya dan kini pun berusaha mengolah
berbagai pandangan tentang kemungkinan maupun kendala dalam
menyusun teori tentang perempuan sebagai kategori otonom (Harding,
1986).
|
|
Halaman
01 |
|
dari
04
halaman |
|