|
|
Tinjauan
Analitis
Salah
satu kiat tradisional untuk mengklasifikasikan pemikiran feminis
Anglo-Amerika adalah dengan membedakan antara feminisme
liberal, yang berupaya mencapai kesetaraan bagi perempuan
dengan cara mereformasi struktur-struktur kelembagaan yang ada, feminisme
sosialis, yang percaya bahwa gender tak dapat dipahami
secara terpisah dari kelas dan struktur ketimpangan yang terjadi
dalam masyarakat kapitalis, serta feminisme
radikal, yang melihat bahwa dominasi laki-laki atas
perempuan adalah wujud penindasan yang paling mendasar dan berakar
mendalam (Jaggar, 1984). Taksonomi demikian itu cukup membantu
untuk memahami perbedaan-perbedaan penting di antara para feminis
dalam soal hakikat dan penyebab penindasan atas kaum perempuan
serta tradisi-tradisi intelektual tertentu yang menjadi landasan
posisi mereka (Donovan, 1985).
Namun
demikian, pembagian tersebut juga mengaburkan ciri khas pemikiran
feminis yang sebenarnya tak bisa dipasang secara persis ke dalam
kategori politik tradisional berupa spektrum kiri/kanan. Hal ini
diungkapkan secara tepat dalam slogan feminis awal, “yang
personal adalah yang politis”. Kontribusi feminisme paling
penting terhadap pemikiran sosial dan politik terletak pada
upayanya yang luas untuk menentang pembedaan privat/publik yang
terdapat dalam pemikiran Barat. Di satu sisi, upaya itu telah
memberikan matra politis pada apa yang dianggap sebagai
wilayah-wilayah privat dengan cara mengungkap hirarki gender yang
menyusun seluruh aspek hidup sehari-hari; di sisi lain, upaya itu
pun menyingkapkan betapa wilayah-wilayah kerja dan politik yang
seolah “rasional” ternyata juga dibentuk oleh pengaruh psikis
dan emosional yang bersumber dari identitas gender yang berakar
mendalam. Kritik feminis mengandung implikasi radikal untuk
memahami seluruh spektrum relasi sosial.
Patriarki
Patriarki
adalah istilah yang dipakai untuk menggambarkan sistem sosial di
mana kaum laki-laki sebagai suatu kelompok mengendalikan kekuasaan
atas kaum perempuan. Engels (1972) berpendapat bahwa asal mula
patriarki berkaitan dengan mulai adanya pemilikan pribadi dan
pewarisan yang berujung pada pengaturan jenis kelamin perempuan
dalam satuan keluarga monogami. Namun pendapatnya itu dikritik
karena mereduksi subordinasi perempuan pada faktor-faktor ekonomis
dan ketidakmampuannya menjelaskan ketimpangan gender dalam
masyarakat pra- dan pasca-kapitalis.
Perdebatan
feminis pun berkisar di seputar soal kemungkinan mengembangkan
teori umum tentang patriarki. Menurut antropolog Michele Rosaldo
(1974), asimetri seksual adalah fakta universal yang ada di semua
kebudayaan manusia sebagai akibat dari monopoli kaum lelaki atas
kehidupan publik serta pembatasan terhadap kaum perempuan dalam
ruang domestik. Demikian pula Sherry Ortner (1974) berpendapat
bahwa lemahnya posisi perempuan adalah akibat dari adanya
pengaitan yang serupa di semua masyarakat antara femininitas
dengan alam, dan bukannya dengan kebudayaan. Para feminis lain
cenderung meragukan kemungkinan membuat perbandingan antarbudaya
seperti itu dan mempersoalkan manfaat dari penjelasan tentang
subordinasi perempuan yang diasalkan dari penyebab tunggal, yang
sebetulnya bisa saja mengambil bentuk yang sangat berbeda antara
kebudayaan yang satu dengan lainnya (Brown, 1981).
Para
feminis sosialis dan Marxis memusatkan perhatiannya pada soal
otonomi maupun hubungan antara kapitalisme dan patriarki. Dalam
sebuah ulasan sistematis atas isu ini, Barrett (1980) menunjukkan
lemahnya argumen fungsionalis yang beranggapan bahwa patriarki
adalah syarat yang perlu untuk reproduksi kapitalisme, sebagaimana
sama juga sulitnya menjelaskan patriarki sebagai suatu kategori
trans-historis. Para feminis mengemukakan pandangan yang
berbeda-beda tentang manfaat dari upaya menggabungkan Marxisme dan
feminisme menjadi teori tunggal “bersistem ganda”, mengingat
tak memadainya pembahasan gender dalam teori Marxis dan masih
perlunya membahas bentuk-bentuk penindasan lain seperti yang
berkaitan dengan soal ras (Sargent, 1981; Kuhn dan Wolpe, 1978).
Tampaknya
yang penting diperhatikan adalah ciri khas masalah patriarki yang
selalu ada di mana-mana dan perubahannya sepanjang sejarah maupun
perwujudannya yang berbeda-beda secara kultural. Sylvia Walby
(1989) menyatakan bahwa masyarakat Barat kontemporer mengalami
pergeseran berangsur-angsur dari patriarki privat, di mana seorang
individu laki-laki mendapatkan keuntungan dari subordinasi atas
perempuan dalam rumahtangga, menuju patriarki publik, di mana
perempuan punya akses ke dalam lapangan kerja berupah,
lembaga-lembaga negara dan budaya, namun mereka tetap
tersubordinasi.
Reproduksi
Seringkali
dibedakan antara wilayah produksi dan reproduksi, di mana yang
terakhir itu menunjuk pada pelbagai proses yang dengannya
kehidupan direproduksi dan dipertahankan, seperti lewat melahirkan
dan mengasuh anak. Banyak feminis berpendapat bahwa wilayah
reproduksi adalah determinan penting yang menyebabkan ketimpangan
gender, sejalan dengan pendapat Engels bahwa “keluarga
individual modern didirikan di atas perbudakan dalam rumahtangga
terhadap para istri secara terang-terangan ataupun tersamar”
(1972:137).
Pekerjaan
kaum perempuan di dalam rumahtangga, karena tak diupah,
lama-kelamaan tak lagi diakui sebagai kerja, suatu kelalaian yang
selama ini tercermin dalam teori sosiologi sampai ketika Ann
Oakley (1974) merintis penelitian sosiologi tentang pekerjaan
rumahtangga. Perdebatan tentang pekerjaan rumahtangga dalam
feminisme Marxis berkisar di seputar arti ekonomis pekerjaan
rumahtangga dalam hubungannya dengan berfungsinya kapitalisme,
serta persoalan apakah pekerjaan tersebut dapat dipahami dalam
kerangka teori Marxis tentang nilai-lebih. Diskusi selanjutnya
lebih memberikan tekanan pada wilayah ideologi, yang dinyatakan
bahwa masyarakat serta representasi dominan keluarga inti sebagai
wilayah keintiman yang mengalami privatisasi memainkan peranan
penting dalam mengukuhkan ikatan “alamiah” antara kaum
perempuan dengan tugas rumahtangga dan pengasuhan anak (Barrett
dan McIntosh, 1982).
Analisis
feminis radikal memberikan tekanan lebih besar pada aspek biologis
dalam reproduksi. Mary O’Brien (1981), yang mengakui pentingnya
peran-ibu sebagai pengalaman perempuan yang harus tetap menjadi
pusat perhatian dalam filsafat feminis, menegaskan bahwa
terasingkannya kaum laki-laki dari siklus reproduksi biologis
adalah faktor sentral untuk memahami keberadaan patriarki.
Perkembangan teknologi reproduksi baru kerap dibahas dalam
kerangka ini, yakni sebagai contoh menguatnya kontrol terhadap
kemampuan prokreatif perempuan melalui profesi medis yang
didominasi kaum laki-laki (Corea, 1985).
|
|
Halaman
02 |
|
dari
04
halaman |
|