- SITUS WEB PRIBADI SIGIT DJATMIKO -

Lahirnya Peradaban Yunani

Bertrand Russell

Ketika agama memiliki kaitan erat dengan pemerintahan suatu imperium, maka motif-motif politik memberikan banyak andil dalam mengubah ciri-ciri primitif agama itu. Dewa atau dewi pun dikaitkan dengan negara, dan mereka bukan hanya harus menganugerahkan panen yang berlimpah tetapi juga kejayaan dalam peperangan. Kasta pendeta yang kaya menyempurnakan ritual dan teologi, dan menyusun dewa-dewi dari pelbagai bagian imperium itu menjadi satu rangkaian. 

 

Berkat kaitannya dengan pemerintahan, dewa-dewi pun lantas dikaitkan dengan moralitas. Para penyusun undang-undang menerima kode-kode hukum dari dewa tertentu, sehingga seorang pelanggar hukum bisa dicap sebagai orang murtad. Kode hukum tertua yang masih dikenal saat ini adalah kode Hammurabi, raja Babilonia, kira-kira tahun 2100 SM; ini adalah kode yang menurut sang raja diberikan oleh dewa Marduk kepadanya. Kaitan agama dengan moralitas berkembang kian erat di sepanjang zaman kuno.

 

Berbeda dengan Mesir, agama orang Babilonia lebih mengutamakan kesejahteraan di dunia ini daripada kebahagiaan di dunia nanti. Ilmu sihir, pernujuman, dan astrologi, meski bukan sesuatu yang khas Babilonia, lebih banyak dikembangkan di sini daripada tempat-tempat lain, dan terutama lewat Babilonialah tradisi itu tetap bertahan sampai ke zaman antik selanjutnya. Dari Babilonia pun lahir beberapa hal yang tergolong ilmu pengetahuan: pembagian hari menjadi dua puluh empat jam, dan lingkaran menjadi 360 derajat; juga ditemukannya siklus gerhana, yang memungkinkan terjadinya gerhana bulan bisa diramal dengan tepat, dan gerhana matahari dengan beberapa perkiraan. Sebagaimana kita lihat nanti, pengetahuan bangsa Babilonia ini sampai ke tangan Thales.

 

Peradaban Mesir dan Mesopotamia berdasarkan pertanian, sementara kehidupan bangsa-bangsa sekitarnya, pada mulanya, adalah sebagai penggembala. Kemudian muncullah unsur baru seiring dengan berkembangnya perniagaan, yang pada awalnya hampir sepenuhnya dilakukan secara bahari. Sampai kira-kira tahun 1000 SM senjata-senjata dibikin dari perunggu, dan bangsa-bangsa yang tidak menemukan logam itu di wilayahnya sendiri terpaksa harus mendapatkannya lewat perdagangan atau merompak. Perompakan hanyalah jalan pintas sementara, dan bila kondisi sosial dan politik cukup stabil, perdagangan terbukti lebih menguntungkan. Dalam bidang perdagangan, yang menjadi pelopor agaknya adalah pulau Kreta. Selama kira-kira sebelas abad, kurang-lebih dari tahun 2500 SM sampai 1400 SM, suatu budaya artistik yang maju, yang disebut budaya bangsa Minos, berkembang di Kreta. Unsur-unsur seni Kreta memberi kesan keriangan dan kemewahan yang nyaris dekaden, sangat bertolak-belakang dengan kuil-kuil Mesir yang muram dan menyeramkan.

 

Perihal peradaban penting ini nyaris tak ada yang diketahui sampai saatnya Sir Arthur Evans dan lain-lain melakukan ekskavasi. Yang saya maksud adalah peradaban bahari, yang berkaitan erat dengan Mesir (terkecuali selama masa kekuasaan bangsa Hyksos). Berdasarkan gambar-gambar yang dibuat orang Mesir, jelas bahwa perniagaan yang amat maju antara Mesir dan Kreta dilakukan oleh para pelayar Kreta; perniagaan ini mencapai puncaknya kira-kira tahun 1500 SM. Agama orang Kreta menampakkan banyak kemiripan dengan agama-agama orang Siria dan Asia Kecil, sedangkan dalam seni terdapat lebih banyak persamaan dengan Mesir, walaupun seni Kreta amatlah orisinal dan luar biasa hidup. Pusat peradaban Kreta berada di tempat yang disebut “Istana Minos” di Knossos, yang mengingatkan kita akan tradisi-tradisi Yunani klasik. Istana-istana Kreta luar biasa indah, namun kemudian dihancurkan pada kira-kira akhir abad ke-14 SM, mungkin oleh para penyerbu dari Yunani. Kronologi sejarah Kreta disusun berdasarkan benda-benda peninggalan Mesir yang ditemukan di Kreta, serta benda-benda dari Kreta yang ditemukan di Mesir; secara keseluruhan, pengetahuan kita bergantung pada bukti-bukti arkeologis.

 

Bangsa Kreta memuja seorang dewi, atau mungkin beberapa dewi. Yang dapat dipastikan adalah “Ratu Binatang” yang berwujud seorang perempuan pemburu, dan mungkin inilah asal-usul Artemis zaman Yunani.[3] Dewi ini atau dewi lainnya juga dianggap sebagai ibu; satu-satunya sesembahan yang berjenis kelamin pria, selain “Raja Binatang” adalah putra sang dewi. Terdapat bukti bahwa orang Kreta mempercayai adanya kehidupan sesudah mati di mana, seperti keyakinan bangsa Mesir, perilaku manusia di dunia akan mendapatkan pahala atau pun hukuman. Namun seperti tampak pada kesenian mereka, secara umum orang-orang Kreta adalah bangsa yang riang dan tidak begitu terbebani oleh jenis takhayul yang muram. Mereka menyukai permainan adu banteng, di mana para toreador pria atau wanita memamerkan ketangkasan akrobatik yang elok. Permainan adu banteng merupakan perayaan religius, dan Sir Arthur Evans berpendapat bahwa para pemainnya adalah kaum bangsawan tertinggi. Gambar-gambar yang masih bisa kita saksikan penuh dengan dinamika gerak dan realisme.

 

Bangsa Kreta menggunakan tulisan berbentuk linear, namun maknanya belum bisa dijabarkan. Di wilayahnya sendiri mereka hidup damai, sedangkan kota-kota mereka tak berdinding; tak disangsikan bahwa mereka lebih mempertahankan diri lewat kekuatan bahari.

 

Sebelum mengalami keruntuhan, budaya Minos sudah sempat menyebar ke Yunani daratan, kira-kira pada tahun 1600 SM, di mana budaya itu bisa bertahan sampai kira-kira tahun 900 SM melalui tahap-tahap degenerasi yang berangsur. Peradaban Yunani daratan ini disebut peradaban Mycenae, yang bisa dikenali lewat pusara-pusara batu para raja serta sejumlah benteng di puncak-puncak bukit, dan ini menunjukkan rasa waswas yang lebih besar terhadap perang jika dibandingkan dengan kehidupan di Kreta. Pusara-pusara batu maupun benteng-benteng itu pun mengingatkan kita pada tradisi Yunani klasik. Benda-benda seni yang lebih tua di istana-istana adalah memang hasil kecakapan para seniman Kreta, atau sangat mirip dengan corak seni Kreta. Jika ditilik berdasarkan kisah legenda yang samar, peradaban Mycenae adalah seperti yang terlukis dalam syair-syair Homerus.


[3] Ia punya kembaran atau pasangan laki-laki, yakni “Raja Binatang”, namun si tokoh pria ini kurang menonjol. Baru di masa yang lebih belakangan Artemis diidentikkan dengan Ibunda Agung Asia Kecil.

Halaman

02

dari 10

halaman