|
|
Ketika
agama memiliki kaitan erat dengan pemerintahan suatu imperium,
maka motif-motif politik memberikan banyak andil dalam mengubah
ciri-ciri primitif agama itu. Dewa atau dewi pun dikaitkan dengan
negara, dan mereka bukan hanya harus menganugerahkan panen yang
berlimpah tetapi juga kejayaan dalam peperangan. Kasta pendeta
yang kaya menyempurnakan ritual dan teologi, dan menyusun
dewa-dewi dari pelbagai bagian imperium itu menjadi satu
rangkaian.
Berkat
kaitannya dengan pemerintahan, dewa-dewi pun lantas dikaitkan
dengan moralitas. Para penyusun undang-undang menerima kode-kode
hukum dari dewa tertentu, sehingga seorang pelanggar hukum bisa
dicap sebagai orang murtad. Kode hukum tertua yang masih dikenal
saat ini adalah kode Hammurabi, raja Babilonia, kira-kira tahun
2100 SM; ini adalah kode yang menurut sang raja diberikan oleh
dewa Marduk kepadanya. Kaitan agama dengan moralitas berkembang
kian erat di sepanjang zaman kuno.
Berbeda
dengan Mesir, agama orang Babilonia lebih mengutamakan
kesejahteraan di dunia ini daripada kebahagiaan di dunia nanti.
Ilmu sihir, pernujuman, dan astrologi, meski bukan sesuatu yang
khas Babilonia, lebih banyak dikembangkan di sini daripada
tempat-tempat lain, dan terutama lewat Babilonialah tradisi itu
tetap bertahan sampai ke zaman antik selanjutnya. Dari Babilonia
pun lahir beberapa hal yang tergolong ilmu pengetahuan: pembagian
hari menjadi dua puluh empat jam, dan lingkaran menjadi 360
derajat; juga ditemukannya siklus gerhana, yang memungkinkan
terjadinya gerhana bulan bisa diramal dengan tepat, dan gerhana
matahari dengan beberapa perkiraan. Sebagaimana kita lihat nanti,
pengetahuan bangsa Babilonia ini sampai ke tangan Thales.
Peradaban
Mesir dan Mesopotamia berdasarkan pertanian, sementara kehidupan
bangsa-bangsa sekitarnya, pada mulanya, adalah sebagai
penggembala. Kemudian muncullah unsur baru seiring dengan
berkembangnya perniagaan, yang pada awalnya hampir sepenuhnya
dilakukan secara bahari. Sampai kira-kira tahun 1000 SM
senjata-senjata dibikin dari perunggu, dan bangsa-bangsa yang
tidak menemukan logam itu di wilayahnya sendiri terpaksa harus
mendapatkannya lewat perdagangan atau merompak. Perompakan
hanyalah jalan pintas sementara, dan bila kondisi sosial dan
politik cukup stabil, perdagangan terbukti lebih menguntungkan.
Dalam bidang perdagangan, yang menjadi pelopor agaknya adalah
pulau Kreta. Selama kira-kira sebelas abad, kurang-lebih dari
tahun 2500 SM sampai 1400 SM, suatu budaya artistik yang maju,
yang disebut budaya bangsa Minos, berkembang di Kreta. Unsur-unsur
seni Kreta memberi kesan keriangan dan kemewahan yang nyaris
dekaden, sangat bertolak-belakang dengan kuil-kuil Mesir yang
muram dan menyeramkan.
Perihal
peradaban penting ini nyaris tak ada yang diketahui sampai saatnya
Sir Arthur Evans dan lain-lain melakukan ekskavasi. Yang saya
maksud adalah peradaban bahari, yang berkaitan erat dengan Mesir
(terkecuali selama masa kekuasaan bangsa Hyksos). Berdasarkan
gambar-gambar yang dibuat orang Mesir, jelas bahwa perniagaan yang
amat maju antara Mesir dan Kreta dilakukan oleh para pelayar
Kreta; perniagaan ini mencapai puncaknya kira-kira tahun 1500 SM.
Agama orang Kreta menampakkan banyak kemiripan dengan agama-agama
orang Siria dan Asia Kecil, sedangkan dalam seni terdapat lebih
banyak persamaan dengan Mesir, walaupun seni Kreta amatlah
orisinal dan luar biasa hidup. Pusat peradaban Kreta berada di
tempat yang disebut “Istana Minos” di Knossos, yang
mengingatkan kita akan tradisi-tradisi Yunani klasik.
Istana-istana Kreta luar biasa indah, namun kemudian dihancurkan
pada kira-kira akhir abad ke-14 SM, mungkin oleh para penyerbu
dari Yunani. Kronologi sejarah Kreta disusun berdasarkan
benda-benda peninggalan Mesir yang ditemukan di Kreta, serta
benda-benda dari Kreta yang ditemukan di Mesir; secara
keseluruhan, pengetahuan kita bergantung pada bukti-bukti
arkeologis.
Bangsa
Kreta memuja seorang dewi, atau mungkin beberapa dewi. Yang dapat
dipastikan adalah “Ratu Binatang” yang berwujud seorang
perempuan pemburu, dan mungkin inilah asal-usul Artemis zaman
Yunani.
Dewi ini atau dewi lainnya juga dianggap sebagai ibu; satu-satunya
sesembahan yang berjenis kelamin pria, selain “Raja Binatang”
adalah putra sang dewi. Terdapat bukti bahwa orang Kreta
mempercayai adanya kehidupan sesudah mati di mana, seperti
keyakinan bangsa Mesir, perilaku manusia di dunia akan mendapatkan
pahala atau pun hukuman. Namun seperti tampak pada kesenian
mereka, secara umum orang-orang Kreta adalah bangsa yang riang dan
tidak begitu terbebani oleh jenis takhayul yang muram. Mereka
menyukai permainan adu banteng, di mana para toreador pria
atau wanita memamerkan ketangkasan akrobatik yang elok. Permainan
adu banteng merupakan perayaan religius, dan Sir Arthur Evans
berpendapat bahwa para pemainnya adalah kaum bangsawan tertinggi.
Gambar-gambar yang masih bisa kita saksikan penuh dengan dinamika
gerak dan realisme.
Bangsa
Kreta menggunakan tulisan berbentuk linear, namun maknanya belum
bisa dijabarkan. Di wilayahnya sendiri mereka hidup damai,
sedangkan kota-kota mereka tak berdinding; tak disangsikan bahwa
mereka lebih mempertahankan diri lewat kekuatan bahari.
Sebelum
mengalami keruntuhan, budaya Minos sudah sempat menyebar ke Yunani
daratan, kira-kira pada tahun 1600 SM, di mana budaya itu bisa
bertahan sampai kira-kira tahun 900 SM melalui tahap-tahap
degenerasi yang berangsur. Peradaban Yunani daratan ini disebut
peradaban Mycenae, yang bisa dikenali lewat pusara-pusara batu
para raja serta sejumlah benteng di puncak-puncak bukit, dan ini
menunjukkan rasa waswas yang lebih besar terhadap perang jika
dibandingkan dengan kehidupan di Kreta. Pusara-pusara batu maupun
benteng-benteng itu pun mengingatkan kita pada tradisi Yunani
klasik. Benda-benda seni yang lebih tua di istana-istana adalah
memang hasil kecakapan para seniman Kreta, atau sangat mirip
dengan corak seni Kreta. Jika ditilik berdasarkan kisah legenda
yang samar, peradaban Mycenae adalah seperti yang terlukis dalam
syair-syair Homerus.
|
|
Halaman
02 |
|
dari
10
halaman |
|