- SITUS WEB PRIBADI SIGIT DJATMIKO -

Lahirnya Peradaban Yunani

Bertrand Russell

Ada banyak hal yang belum pasti mengenai bangsa Mycenae. Apakah mereka sengaja membiarkan peradaban mereka ditaklukkan oleh bangsa Kreta? Apakah mereka berbicara dengan bahasa Yunani, atau apakah mereka sebetulnya adalah ras pribumi yang bermukim di situ lebih dini? Tak ada jawaban pasti atas pertanyaan-pertanyaan itu, namun secara garis besar mereka itu mungkin adalah kaum penakluk yang berbicara bahasa Yunani, dan mereka setidaknya adalah golongan bangsawan yang terdiri dari para penyerbu berambut pirang dari Utara yang membawa serta bahasa Yunani.[4] Bangsa Yunani tiba di Yunani dalam tiga gelombang berturut-turut. Yang pertama adalah bangsa Ionia, kemudian bangsa Achaea, dan terakhir bangsa Doria. Meskipun penakluk, bangsa Ionia tampak mengambil-alih peradaban Kreta secara lengkap, seperti halnya bangsa Roma yang mengambil-alih peradaban Yunani nantinya. Namun bangsa Ionia disisihkan, dan sebagian besar kekuasaannya direbut, oleh bangsa Achaea yang menggantikannya. Berdasarkan prasasti Hittite yang ditemukan di Boghaz-Keui, bisa diketahui bahwa bangsa Achaea telah mendirikan imperium yang besar dan terorganisasi di abad ke-14 SM. Peradaban Mycenae, yang telah melemah karena peperangan antara Ionia dan Achaea, sepenuhnya dihancurkan oleh bangsa Doria, penyerbu Yunani yang terakhir. Jika para penyerbu sebelumnya sebagian besar mengambil-alih agama Minos, sedangkan bangsa Doria mempertahankan agama asli Indo-Eropa warisan leluhurnya sendiri. Namun begitu agama zaman Mycenae masih bertahan, terutama di kelas-kelas yang lebih rendah, dan agama Yunani klasik adalah perpaduan antara keduanya. 

 

Meskipun uraian di atas tampaknya masuk akal, harus diingat bahwa sebetulnya kita tidak tahu apakah bangsa Mycenae itu bangsa Yunani atau bukan. Yang jelas kita ketahui adalah bahwa peradaban mereka surut, dan punah kira-kira pada masa besi menggantikan perunggu, dan bahwa dalam jangka waktu tertentu supremasi bahari beralih ke bangsa Phoenicia.

 

Baik selama masa-masa terakhir zaman Mycenae maupun sesudah kepunahannya, sejumlah penyerbu telah hidup menetap dan mengembangkan pertanian, sementara sebagian lainnya terdesak, pertama ke pulau-pulau sekitar dan ke Asia Kecil, kemudian ke Sisilia dan Italia selatan, di mana mereka mendirikan kota-kota yang dikembangkan lewat perdagangan bahari. Di kota-kota bahari inilah bangsa Yunani pertama kalinya memberikan sumbangan baru secara kualitatif pada peradaban; supremasi Athena terjadi belakangan, dan berkaitan juga dengan kekuatan angkatan laut.

 

Kawasan Yunani daratan bergunung-gunung dan sebagian besar tandus. Tetapi ada banyak lembah-lembah subur dengan akses yang mudah menuju laut. Di antara lembah-lembah itu berdiri gunung-gunung yang menyulitkan saling komunikasi lewat darat. Di masing-masing lembah itu berkembanglah komunitas kecil yang terpisah dengan komunitas lain, hidup dengan bertani, di sekeliling kota yang menjadi pusatnya, yang biasanya dekat dengan laut. Dalam lingkungan demikian, jika populasi komunitas-komunitas itu kemudian tumbuh melampaui sumberdaya internalnya, tak mengherankan jika mereka yang tak dapat lagi mengandalkan pertanian lantas pergi merantau. Orang-orang dari Yunani daratan itu lantas membentuk koloni-koloni baru, seringkali di tempat-tempat di mana lebih mudah untuk mendapatkan sumber penghidupan daripada di tanah asalnya. Jadi dalam periode sejarahnya yang paling awal, orang-orang Yunani di Asia Kecil, Sisilia, dan Italia jauh lebih kaya daripada saudara sebangsa mereka di Yunani daratan.

 

Di kawasan-kawasan yang berbeda di Yunani, sistem sosialnya pun amat berlainan. Di Sparta, suatu aristokrasi kecil melangsungkan hidupnya dengan memerah tenaga kaum budak dari ras lain yang tertindas; di daerah-daerah pertanian yang lebih miskin, pemukimnya terutama terdiri dari kaum petani yang mengolah lahannya sendiri dengan dibantu keluarganya. Namun ketika perdagangan dan industri berkembang, kemakmuran para warga yang merdeka pun meningkat dengan mempekerjakan para budak — budak laki-laki di pertambangan, dan yang perempuan di industri tekstil. Di Ionia, budak-budak itu berasal dari masyarakat barbar sekitarnya dan, berdasarkan peraturan, semula diperoleh sebagai tawanan perang. Seiring kemakmuran yang meningkat, maka meningkat pula pemingitan terhadap kaum wanita terhormat, yang di masa-masa berikutnya tak banyak berperanan dalam aspek-aspek kehidupan masyarakat Yunani yang beradab, kecuali di Sparta.

 

Terjadi perkembangan yang sangat umum, pertama dari monarki menuju aristokrasi, kemudian pergantian dari tirani ke demokrasi. Raja-raja tidak berkuasa secara mutlak seperti di Mesir dan Babilonia; mereka dinasehati oleh suatu Dewan Sesepuh, dan tak bisa melanggar adat tanpa mengindahkan hukum. “Tirani” tidak selalu berarti pemerintahan yang buruk, namun adalah suatu kekuasaan yang dipegang seseorang yang klaimnya atas kekuasaan tidak berdasarkan keturunan. “Demokrasi” adalah pemerintahan oleh seluruh warga, dengan mengecualikan para budak dan kaum perempuan. Para tiran, seperti misalnya keluarga Medici, pada mulanya mendapatkan kekuasaan karena mereka adalah warga paling kaya di dalam plutokrasinya masing-masing. Sumber kekayaan mereka seringkali adalah kepemilikan atas tambang-tambang emas dan perak, yang jadi kian menguntungkan dengan pelembagaan baru atas sistem mata uang, yang berasal dari kerajaan Lydia, yang berbatasan dengan Ionia.[5] Sistem mata uang agaknya ditemukan beberapa saat sebelum tahun 700 SM.


[4] Lihat The Minoan-Mycenaean Religion and Its Survival in Greek Religion, karya Martin P. Nilsson, hal. 11 ff.

 

[5] Lihat P.N. Ure, The Origin of Tyranny.

Halaman

03

dari 10

halaman