- SITUS WEB PRIBADI SIGIT DJATMIKO -

Lahirnya Peradaban Yunani

Bertrand Russell

Namun demikian, untuk menggambarkan ciri bangsa Yunani secara keseluruhan, apa yang baru saja dipaparkan di atas pun terlampau berat sebelah, seperti halnya anggapan bahwa bangsa Yunani dicirikan oleh “keanggunan”. Sesungguhnya terdapat dua kecenderungan di Yunani. Yang satu adalah penuh gairah, religius, mistis, berorientasi pada dunia-lain, sedangkan yang satunya lagi adalah riang, empiris, rasional, dan meminati pengetahuan tentang keanekaragaman fakta. Herodotus mewakili kecenderungan kedua; begitu pula para filsuf Ionia awal; dan sampai batas tertentu termasuk pula Aristoteles. Beloch (op. cit. I, 1, hal. 434), sesudah memberi gambaran tentang Orphisme, mengungkapkan:

 

“Tetapi bangsa Yunani adalah orang-orang yang terlampau penuh gairah sehingga sulit terjadi penerimaan luas atas keyakinan yang mengingkari dunia kini serta memindah kehidupan nyata ini ke Akhirat. Dengan demikian ajaran Orphis hanya berlaku terbatas di kalangan para penganjurnya yang relatif kecil, tanpa sedikit pun menimbulkan pengaruh pada agama Negara, bahkan tidak pula terhadap komunitas-komunitas yang, seperti orang Athena, telah menggabungkan perayaan agama itu ke dalam ritual negara dan melindunginya secara legal. Diperlukan satu milenium penuh sebelum keyakinan-keyakinan tersebut — dengan dandanan teologis yang amat berbeda — mendapat kemenangan di dunia Yunani.”

 

Tampak bahwa pernyataan di atas terlampau berlebihan, terutama yang menyangkut agama misteri Eleusinian yang justru disuburkan oleh Orphisme. Secara garis besar, mereka yang berwatak religius akan condong pada Orphisme, sementara mereka yang rasionalis merendahkannya. Kita bisa membandingkan statusnya dengan ajaran Metodisme di Inggris pada akhir abad ke-18 dan awal abad ke-19.

 

Kita tahu apa yang kira-kira dipelajari oleh orang Yunani yang terpelajar dari ayahnya, namun sulit bagi kita memperkirakan apa yang dalam usia dini ia pelajari dari ibunya, yang sampai batas tertentu terkucil dari peradaban yang hanya dikuasai kaum laki-laki. Bukan mustahil bangsa Athena yang terdidik, meski dalam periode yang paling gemilang dan betapapun rasionalistis mereka dalam hal proses mental sadar yang eksplisit, tetap melestarikan cara berpikir dan berperasaan yang lebih primitif yang ia serap dari tradisi dan masa kanak-kanaknya. Sisi primitif itu terbukti selalu bangkit kembali dalam masa-masa sulit. Karena itulah, tampaknya tak ada analisis sederhana yang cukup memadai untuk meninjau pandangan hidup bangsa Yunani.

 

Pengaruh agama terhadap pemikiran Yunani, terutama agama yang non-Olympian, belum banyak ditelaah hingga sekarang ini. Sebuah buku yang revolusioner, Prolegomena to the Study of Greek Religion karya Jane Harrison, menekankan unsur-unsur primitif maupun Dionysian dalam agama bangsa Yunani umumnya; buku F.M. Cornford From Religion to Philosophy mencoba mengajak para pelajar filsafat Yunani untuk melihat pengaruh agama terhadap para filsuf, namun dari segi interpretasinya maupun antropologinya banyak yang kurang meyakinkan. Sejauh yang saya tahu, kupasan yang paling seimbang adalah karya John Burnet Early Greek Philosophy, terutama Bab II, “Ilmu Pengetahuan dan Agama”. Konflik antara ilmu pengetahuan dan agama, menurutnya, timbul dari “kebangkitan agama yang berlangsung di Hellas pada abad ke-6 SM,” seiring dengan bergesernya panggung sejarah dari Ionia menuju Barat. Menurut Burnet, “Agama Hellas daratan berkembang dengan cara yang sangat berbeda dari yang terjadi di Ionia. Penyembahan terhadap Dionysus, khususnya, yang berasal dari Thrace dan disebut dengan jelas dalam karya Homerus, mengandung bibit pandangan yang sepenuhnya baru terhadap hubungan manusia dengan dunia. Sudah barang tentu kurang tepat untuk hanya memuji orang Thrace saja dengan penilaian yang berlebihan; namun memang tak disangsikan lagi bahwa, bagi bangsa Yunani, fenomena ekstase menunjukkan betapa jiwa bukanlah sekadar kembaran diri yang sepele, dan bahwa hanya di saat “keluar dari tubuhlah” sang jiwa bisa menampilkan sosoknya yang sejati ...”

 

“Tampak bahwa seolah-olah agama bangsa Yunani akan memasuki babakan yang serupa dengan apa yang telah dicapai agama-agama bangsa Timur; dan, kecuali karena lahirnya ilmu pengetahuan, sulit untuk melihat penyebab lainnya yang telah menghambat kecenderungan ini. Lazim dikatakan bahwa bangsa Yunani batal melahirkan agama yang bertipe Oriental karena mereka tak punya lembaga kependetaan; namun pandangan ini berarti mengacaukan akibat dengan penyebab. Kependetaan tidak menciptakan dogma, meski para pendeta memang melestarikannya sesudah dogma itu tercipta; dan pada tahap-tahap awal perkembangannya, bangsa Timur pun tak punya lembaga kependetaan dalam arti sengaja diciptakan. Bukan tiadanya lembaga kependetaan, namun lebih karena lahirnya mazhab-mazhab ilmu pengetahuanlah yang membelokkan kecenderungan semula di Yunani.”

 

“Agama baru itu — yang dari satu sisi memang baru, meski dari sisi lain sudah setua umat manusia itu sendiri — mencapai titik perkembangan puncaknya dengan lahirnya komunitas-komunitas Orphis. Sejauh kita ketahui, daerah asal komunitas-komunitas itu adalah Attika; namun kemudian mereka berkembang dengan amat pesat, terutama di Italia Selatan dan Sisilia. Pada mulanya komunitas itu berupa perkumpulan para pemuja Dionysus; namun komunitas tersebut kemudian menjadi berbeda dengan bentuk awalnya berdasarkan dua ciri, yang juga merupakan hal baru di antara bangsa Yunani. Mereka berupaya memperoleh wahyu sebagai sumber otoritas religius, dan mereka diorganisir menjadi komunitas-komunitas yang memang sengaja dibentuk. Syair-syair yang berisi teologi mereka dipercaya berasal dari Orpheus dari Thrace, yang dia sendiri telah turun ke Hades[21]dan dengan demikian menjadi pemandu yang meyakinkan di sepanjang pelbagai marabahaya yang mengancam jiwa yang telah lepas dari tubuh di alam arwah nanti.”

 

Burnet selanjutnya mengungkapkan bahwa terdapat kemiripan yang mencolok antara kepercayaan Orphis dengan kepercayaan yang berlaku di India pada masa yang kurang-lebih bersamaan, meski ia meyakini bahwa belum ada kontak dalam bentuk apapun antara keduanya. Kemudian ia telaah makna asli istilah “orgy” yang dipakai kaum Orphis yang maksudnya adalah “sakramen”, dan bahwa orgy itu dimaksudkan untuk menyucikan jiwa para penganutnya serta membuka jalan bagi mereka untuk bebas dari jentera kelahiran. Berbeda dengan para pendeta agama Olympian, kaum Orphis telah menciptakan apa yang bisa kita sebut “gereja-gereja”, yakni komunitas-komunitas keagamaan di mana siapapun, tanpa membedakan ras dan jenis kelamin, bisa diterima sebagai anggota lewat inisiasi, dan berkat pengaruh merekalah muncul konsepsi mengenai filsafat sebagai pandangan hidup.(*)


[21] Catatan Penerjemah: Hades adalah alam arwah atau alam bawah tanah.

 

Halaman

10

dari 10

halaman