- SITUS WEB PRIBADI SIGIT DJATMIKO -

Lahirnya Peradaban Yunani

Bertrand Russell

Anggapan konvensional yang sudah mentradisi mengenai bangsa Yunani adalah bahwa mereka menunjukkan perangai yang anggun dan bermartabat, yang memungkinkan mereka merenungkan gairah tanpa harus terseret olehnya, dan menangkap keindahan apapun yang terungkap dari gairah itu, sementara diri mereka sendiri tetap berpembawaan tenang dan Olympian. Ini adalah anggapan yang berat sebelah. Mungkin ini benar jika dikenakan pada Homerus, Sophocles, dan Aristoteles, namun jelas keliru bagi orang-orang Yunani yang secara langsung atau tak langsung telah bersentuhan dengan pengaruh-pengaruh Bacchis atau Orphis. Di Eleusis, di mana agama misteri Eleusinian menjadi bagian paling keramat dari agama Negara Athena, sebuah himne yang kerap dinyanyikan mengungkapkan:

 

Dengan piala anggur-Mu terangkat ke angkasa,

Dengan pesta-pora-Mu nan menggila,

Ke lembah Eleusis semerbak bunga,

Datanglah Engkau — wahai Bacchus, Paean, yang jaya!

 

Dalam Bacchae karya Euripides, koor kaum Maenad menampakkan kombinasi puisi dan keliaran yang sangat bertolak-belakang dengan keanggunan. Mereka merayakan kegembiraan dalam membantai binatang liar hingga koyak-moyak, dan menyantapnya mentah-mentah saat itu juga:

 

Wahai sukacita, sukacita di Pegunungan

Hingga lunglai dalam pertarungan yang dilangsungkan,

Saat masih melekat kulit rusa suci

Sedang lainnya telah terbantai,

Dalam riang memancar merah memabukkan,

Darah domba gunung yang terkoyak-koyakkan,

Kemenangan binatang buas mencakar-menerkam

Di pucuk bukit, tempat matahari tersangkutkan

Hingga pegunungan Phrygia dan Lydia

Bromios memimpin jalan ke sana

 

(Bromios adalah nama lain Bacchus). Tarian kaum Maenad di lereng gunung bukan sekadar gila-gilaan; tarian ini adalah pembebasan dari beban dan kecemasan dunia beradab menuju alam keindahan non-manusiawi serta kemerdekaan angin dan bintang-bintang. Dalam suasana yang lebih tenang mereka berdendang:

 

Akankah dia datang padaku, selalu datang,

Tari-tarian panjang, teramat panjang,

Sejak gulita malam hingga bintang-bintang pucat menghilang?

Akankah kurasa embun di tenggorokan dan desauan

Angin di rambutku? Akankah kaki-kaki putih kita berkilauan

di kolong langit, di keremangan?

Duhai kaki-kaki rusa yang menyelinap ke hijau hutan,

Sendiri di rerumputan dan keindahan;

Lepaslah binatang buruan, lepaslah dari ketakutan,

Terbebas dari perangkap dan ancaman mematikan.

Namun masih ada suara nun jauh di sana,

Gaung suara, rasa waswas, dan anjing pemburu tergesa-gesa,

Wahai kerja yang mengasyikkan, tunggang-langgang berlarian,

Menuju bengawan dan celah-celah pegunungan —

Ini keriangan atau kecemasan, wahai kaki-kaki lincah beterjangan?

Ke padang-padang elok sunyi, jauh dari ancaman insan,

Hingga tak terdengar suara, di tengah rimbun hijau belantara

Makhluk-makhluk lemah hidup sembunyi di dalam rimba.

 

Sebelum menegaskan bahwa bangsa Yunani berpembawaan “anggun”, bolehlah dibayangkan kalangan ibu-ibu kelas atas Philadelphia yang berpembawaan demikian, bahkan dalam drama karya Eugene O’Neil.

 

Kaum Orphis tidaklah lebih “anggun” dibandingkan para penyembah Bacchus yang masih asli. Bagi kaum Orphis, hidup di dunia ini adalah derita dan beban. Kita terbelenggu dalam jentera yang terus berputar seiring siklus kelahiran dan kematian; hidup kita yang sejati adalah bagai bintang-bintang, namun kita terpenjara di bumi ini. Hanya lewat purifikasi, pertobatan, dan hidup asketis kita bisa terbebas dari jentera dan akhirnya mencapai kebahagiaan dalam kemanunggalan dengan Tuhan. Ini bukanlah pandangan orang-orang yang hidupnya mudah dan nyaman. Pandangan ini lebih menyerupai sajak spiritual kaum Negro:

 

Akan kuadukan pada Tuhan semua beban ini

saat aku pulang nanti

 

Tidak semuanya, namun sebagian besar orang Yunani, adalah orang-orang yang penuh gejolak, tak bahagia, bertempur dengan dirinya sendiri, menelusuri jalan yang satu dengan akal-budinya dan menjelajah jalan yang lain dengan gairahnya, disertai imajinasi yang mengangankan surga serta keyakinan diri yang tegar yang menciptakan neraka.  Mereka punya pepatah “tak ada yang berlebihan,” namun kenyataannya mereka tak pernah bersikap setengah-setengah dalam segala hal — dalam pemikiran murni, dalam puisi, dalam agama, dan dalam dosa. Adalah kombinasi gairah dan kecerdasan yang membuat mereka besar, sementara mereka memang bangsa yang besar. Tak ada lagi satu bangsa yang akan bisa mengubah dunia beserta seluruh masa depan sebagaimana mereka mengubahnya. Prototipe mereka dalam mitologi bukanlah Zeus Olympus, melainkan Prometheus yang memboyong api dari surga dan diganjar siksa abadi.

 

Halaman

09

dari 10

halaman