Karl May

Buku Harian Karl May

 
 

Petikan Kedua

[263]

"Aku akan memberitahukan semua kepadanya, semuanya!" kataku memotong pembicaraannya dan melepaskan lenganku.

"Akan tetapi aku mohon anda supaya …!"

Lebih dari itu tidak kudengar karena aku buru-buru menjauhinya. Mary datang menyambut aku setengah jalan. Ia hendak mengatakan sesuatu, menanyakan sesuatu; akan tetapi aku tidak memberikan kesempatan, bahkan bertanya:

"Apa barangkali anda tepat saat ini luar biasa sibuk, miss Waller?"

"Tidak, sama sekali tidak," jawabnya sambil tersenyum.

"Aku ingin memperkenalkan seorang lelaki kepada anda."

"Yang mana, di mana?"

"Mari, ikut!"

Aku membawanya ke kabin Tsi, yaitu tempat Tsi kembali telah menyembunyikan dirinya. Tsi melihat kami datang, jadi terpaksa keluar lagi. Betapa terkejut dan gembira sekaligus gadis Amerika itu!.

"Perkenalkan, ini tuan Doktor Tsi yang telah menuntut ilmu kedokteran dan mempunyai obat manjur untuk menyembuhkan disentri," kataku dengan nada serius dan resmi, seolah-olah aku yakin bahwa mereka belum pernah saling bertemu. "Dokter yang berusia muda ini," demikian kulanjutkan, "juga di antara orang-orang Inggris yang menjamu kita dikenal sebagai tuan Doktor Tsi. Keterangan lebih banyak barangkali tidak perlu."

Sesudah mengatakan ini aku membungkuk dan pergi. Aku sadar bahwa Tsi sekarang dalam keadaan yang sangat membingungkan, tetapi aku begitu tidak peduli dan juga tidak merasa bersalah sehingga aku tenang-tenang saja. Keterangan terakhir kuucapkan karena aku menganggap perlu bahwa Mary Waller seharusnya mengetahui posisi dan kedudukan Tsi dalam pergaulan di kapal ini. Kini aku sepenuhnya memperhatikan kapal ini.

[264]

Raffley sendiri yang menjadi nakhoda. Dialah orang yang waktu kapal "Yin" tiba memakai topi lebar terbuat dari jerami; sekarang dipakainya pula topi itu guna melindungi matanya terhadap matahari yang sudah berada dalam posisi miring. Sungguh indah menakjubkan melihat dan mengalami bagaimana patuhnya kapal indah ini pada tiap aba-aba yang diteriakkannya ke dalam pipa suara. Laut hari ini berombak agak besar, tetapi kapal "Yin" ini sama sekali tidak oleng sedikitpun; gulungan gelombang dibelahnya dengan begitu mudah sehingga hampir tidak terasa ada goncangan apapun di kapal.

Biasanya, kalau berlayar dari Penang ke Uleh-leh, sesudah menyeberangi Selat Malaka kapal singgah di Edi*, Lo-Semaweh**, dan Segli***. Di pantai yang panas terik, di tempat-tempat itu ada pangkalan militer yang dibangun guna menjadi benteng pertahanan jika dilancarkan serangan ke pedalaman terhadap para raja Aceh. Akibat tiga kali singgah ini, diperlukan dua hari untuk berlayar dari Penang ke Uleleh. Akan tetapi si mungil "Yin"-kapal kita yang mungil ini-mampu melayari rute langsung, dan karena berlayarnya sepuluh knot lebih cepat daripada kapal "Coen" milik temanku, kami bahkan tidak membutuhkan sehari penuh untuk ke tempat tujuan.

Cuaca sangat indah dan nyaman; tidak ada angin dan laut mengarak gelombang-gelombang yang gulung-menggulung memanjang rata, yang satu sama dan sebangun dengan yang berikutnya. "Yin", kapal kami, posisinya agak miring dan bergerak maju dengan lincah sekali; begitu ringan, begitu lancar, begitu mudah ia memecah gelombang dan berlayar melintas selat, sehingga bagi pemiliknya ia bagaikan idaman yang telah menjelma menjadi kenyataan.

Di daerah yang letaknya begitu dekat dengan khatulistiwa, seringkali tidak lama sesudah jam enam sore hari sudah menjadi gelap. Setelah berlayar dua jam lamanya dan matahari menjelang tenggelam, Mary Waller beranjak menaiki tangga yang menuju


* mungkin Pidie - ekg.
** Lhok Seumawe
*** Sigli

[265]

geladak dekat salonnya. Saya di dekatnya dan ia melambaikan tangannya sebagai isyarat supaya aku mengikutinya. Di atas sana-dekat ujung depan haluan kapal "Yin"-adalah tempat terbaik untuk mengamati perubahan hari menjadi malam.

Awal percakapan kami berkisar tentang kegembiraannya bertemu kembali dengan Tsi, suatu pertemuan yang tidak terduga. Ia terharu karena Tsi tanpa mempertimbangkan pengorbanan apapun segera bersedia ikut ke Uleh-leh, tetapi tentang yang terakhir ini ia tidak banyak bicara. Kemudian ia berceritera tentang tempat tinggalnya yang sekarang. Penuh semangat dituturkannya bahwa ia belum pernah melihat tempat tinggal seperti itu. Rumah itu ditata menurut selera khas Cina, penuh dan ramai, akan tetapi anggun, sarat dengan hasil pertimbangan indah, ibarat puisi-pasti diciptakan oleh seorang perempuan Cina-begitu jelas ungkapannya dan begitu murni rimanya, tiada suku kata yang berlebihan, tetapi juga tiada yang kurang, tiap lipit ibarat kata yang indah bunyinya, tiap tempat duduk ibarat bait yang dikenal, tiap perabot menandai selera sangat tinggi, dan sebagai bagian dari suatu keutuhan menunjukkan hasil karya seni yang berasal dari bakat asli dan disempurnakan oleh pendidikan. […]


<< Petikan Pertama