BACK

Cerita Kesepuluh

Setelah merangkum apa yang akan dilakukan hari ini, kita bersiap untuk jalan. Aku, oom Jusni, pak Pram, pak Joesoef, dan pak Dan setelah yakin semuanya sudah OK, kami turun kebawah menuju mobilku yang hari ini akan digunakan untuk sarana transportasi.

Ketika pak Pram dan pak Joesoef melihat mobilku yang satu itu, mereka agak bingung juga kali...soalnya mobil Amerika, Chryler New Yorker. Langsung saja pertanyaan2 keluar dari mulut mereka...berapa CC, berapa gedenya....dll, dll, dll. Aku sendiri sampai bingung jawabnya, karena aku ngak pernah mengingat CC-CC an mobil....sesuatu yang aku memang malas untuk lakukan. Simpen2 memori otak ini untuk hal lain yang lebih berguna.

Akhirnya kita jalan menuju University of Toronto. Pak Dan yang sedari tadinya diem2 aja, mulai nanya2 juga soal mobilku ini. "Modelnya apa?", tanya beliau yang aku segera jawab dengan Fifth Avenue New Yorker. Setuju dia kalau memang mobilku yang satu ini lapang adanya. Sayang sekali di summer yang memang agak panas ini, AC mobilku ngak jalan. Sengaja memang tak matikan, karena secara keseluruhan ngak ada gunanya pasang AC di tempatku....musim salju datengnya cepet sekali....tahu2 aja saljuan lagi...dan praktis ngak jalan itu AC.

Setelah beberapa saat diperjalanan, sampai juga kami di University itu. Setelah menurunkan mereka digerbang utama dan memarkirkan mobil, kami segera beranjak menuju keruangan aula atas yang memang akan digunakan untuk pertemuan ini. Tentu saja seperti biasa, upacara ritual merokok harus dilewatkan dulu. Satu hal yang harus dijadikan masukan bahwa ritual rokok ini bukan hanya sekedar merokok.Setiap kesempatan yang ada akan diisi dengan perbicangan yang topiknya berganti2 dan merupaka topik2 aktual yang sangat menarik dan terkadang malah nyerempet2 hal2 yang sebaiknya tidak dibahas disini. Inilah satu hal yang saya rasa saya sangat hargai, karena dari sinilah saya banyak mendapatkan masukan2 dan ilmu2 baru yang saya tidak pernah dapatkan.

Sesampai diaula atas, hem...pekerjaan pertama langsung aku kerjakan. Aku taruh selebaran2 dari CCEvi dan juga kotak dana dari yayasan yang sama. Setelah selesai, lega deh aku, setidaknya satu kerjaan sudah daku lakukan. Eh....tiba2 pak Pram noel aku, "Bung....saya mau kebelakang ini....dimana ya tempatnya?"

Nah lho...bingungnya di saya, lah baru sekali ini juga ketempat ini. Saya udah bingung, asal noel aja deh ibu2 yang disebelah saya yang bule dan nanya dimana WC terdekat. Dia bilang kalau dilantai ini cuma ada yang buat orang dalam. Saya ya bilang...ini buat pak Pram....weh...langsung itu ibu ngibrit keluar nyari pak Pram dan kasih salam. Rupanya si ibu ini Professor Judith Nagata yang juga merupakan pembicara hari ini. Wah....pas lah.....pertanyaanku terjawab dengan segera, dan dapet tur special lagi dari si professor untuk ke kamar kecil ini. Omong2...saya ikutan ah.....kan jaga2 juga supaya ngak ngebet nantinya.

Anyway...dimulailah acara ini, dengan pembawa acara yang merupakan seorang faculty di university ini. Pokoknya ya dia membuka dan memperkenalkan para pembicara. Itu aja kerjaan dia. Selanjutnya, oom Jusni menjadi wakil dari CCEVI membawakan sebuah pidato yang sangat menyentuh hati. Tak terasa kala oom Jusni meneteskan air mata ketika membacakan pidato itu, saya pun terbawa menuju alam keprihatinan.

Dimulailah pembicaraan simposium ini dengan pak Dan yang membicarakan masalah Indonesia di OrLa, yang menyinggung masalah Demokrasi terpimpin dari TNI AD, yang dimotori oleh Nasution dan sebagai korban adalah presiden Soekarno yang tercinta.

Sebagai inti masalah, Demokrasi terpimpin adalah sebuah cara dari AD untuk menangani atau menguasai Indonesia. Jadi kalau dibilang teori yang disebut2 selama masa OrBa bahwa yang jadi penguasa itu mesti ada latar belakang ABRI....ya ini dia...pada dasarnya, karena Demokrasi Terpimpin inilah, AD memiliki kuasa yang sangat besar dalam menjalankan negara dan karenanyalah sisi2 pemerintahan terisi oleh orang2 AD atau orang2 yang pro AD. Soekarno hanyalah BONEKA. Itu inti pembicaraan dari pak Dan. Wibawa dan kehebatan Soekarno digunakan terus oleh negara (AD) untuk menjalankan Indonesia, sementar kekuasaan sebenarnya ada ditangan AD a.k.a Nasution and his people.

Kaget juga mendengar pandangan ini, apalagi kita yang terdidik untuk mempelajari bahwa ABRI dan Dwi Fungsi-nya adalah sesuatu yang sangat bagus di negara kita, sebenarnya adalah akal daya sang penguasa saat itu (apalagi setelah PRRI Permesta), untuk menduduki tam puk kuasa. Dimanakah posisi rakyat kalau begitu? Dimanakah Demokrasi Liberal yang sekiranya merupakan dasar dari negara kita? Jawabannya mudah saja.....hilang lenyap pada saat Demokrasi terpimpin diucapkan. Hilang sudah kekuatan rakyat yang sebenarnya merupakan dasar dari Demokrasi.

Tetamu lainnya membicaraan hal dan segala sesuatu yang bersangkut dengan Indonesia. Alam politik yang terbaru, dengan polemik Pemilu yang hanya sekedar Basa Basi ataukah serius merupakan sebuah daya untuk memperbaharui bangsa kita? Yang pasti, saya melihat itu gambar2 partai yang ikut Pemilu, yang rupanya dibawa oleh seorang pembicara. Buset deh....kagak kebayang...48 partai.....langsung kepikir itu kertas pemilihan suara kayak apa gedenya entar? Walupun pada akhirnya Dubes Indonesia untuk Amerika menjelaskan ke pers Amerika bahwa 48 ini terbagi atas 6 koalisi dan akhirnya lebih mudah untuk mengkategorikan, tetap saja tidak habis2nya aku berpikir mengenai hal ini.

Satu hal yang sangat disayangkan adalah keterbatasan waktu di acara ini. Setiap pembicara hanya diberikan waktu 15 menit lebih dikit untuk menyampaikan pembicaraan mereka. Sayang sekali karena saya merasa banyak sekali hal2 lainnya yang bisa diucapkan oleh mereka.

[Bersambung ke cerita kesebelas]
[Kembali ke cerita kesembilan]

Buffalo, NY
June 18, 1999

BACK