/hr size=2>
|
Jadi supir memang kerjaanku hari ini. Asik lah....dasar aku memang suka nyetir orangnya, jadi pas lah. Jam setengah enam aku dah bangun....belum terdengar apa2 sih dari atas sana. Apakah mereka sudah bangun atau masih dialam impian ya? Mau naik keatas...ngak enak....soalnya belum ngerti banget gimana kondisi rumah mereka. Mengingat suatu kala aku nginep dirumah salah seorang keluargaku, dan rumahnya menggunakan alarm system yang canggihnya luar biasa. Aku pagi2 keluar mau pipis aja tiba2 alarmnya bunyi....buset deh itu rumah....terlalu aman sampai kita sendiri merasa tak aman. Anyway, jadinya aku meditasi aja dibawah, sampai tiba2 terdengar suara2 dari atas sana. Ya aku langsung keluar dari kamar dan naik keatas. Sudah rapih berpakaian lho...kan mau ketemu sang idola. Well....langsung sampai atas, sudah tersedia makanan pagi yang...hem......LUAR BIASA....tempe, yang home made buatan tante Cecil sendiri. Mengenai rasa, tak bisa daku menjelaskan. Luar biasa tante yang satu ini....bisa buat tempe sendiri dan masaknya jago pula....hem...oom Jusni.....how lucky you are..... :-) Akhirnya oom Jusni turun menggunakan kemeja batik yang bagus tampaknya dan siap untuk pergi. Setelah kita selesai sarapan, oom Jusni bilang kalau aku diminta tanggung jawab untuk pasang banner, bawa kotak dana dan selebaran2 yang sekiranya akan dibagikan kepada pirsawan2 yang hadir. Rupanya tujuan pertama hari ini adalah University of Toronto untuk sebuah seminar. Hem....bakal asik nih kayaknya. Akhirnya kita berangkat. Tante Cecil menyusul nantinya, karena akan membawa ibu Maemunah jalan2 sementara kita di seminar itu. Sampai dihotel itu dan kita cek tempat sarapan dan kita ketemu dengan mereka disana plus pak Dan. Setelah ngobrol2 sebentar dan sarapan selesai, kita langsung kita naik ke kamar mereka. Tampaknya mereka cukup mendapatkan istirahat malam kemarin karena kelihatan segar mukanya. Oom Jusni mulai mendiskusikan apa saja yang akan dilakukan hari ini. Tidak terlalu padat kalau dilihat, hanya dua acara saja. Lumayan lah buat mereka, bisa rileks juga kan? Anyway, saya yang berdiri saja deket pintu, henya mendengarkan saja apa yang sedang dibicarakan oleh mereka2 ini. Tiba2 saja ada suara dari sisi lain ruangan, "Duduk dong bung!" Rupanya itu pak Pram yang minta saya duduk. Beliau tampak tidak bisa diam kalau melihat ada orang yang ngak dalam posisi nyaman. Saya langsung saja bales ke pak Pram kalau nanti saya akan duduk, sementara ini saya mau berdiri saja dulu. "O iya.....Peter itu...dokter Peter...istrinya kemarin ketemu sama saya di airport Vancouver," terdengar pak Joesoef bicara ke oom Jusni tentang seseorang yang saya ngak tahu siapa. "Lucu itu....ternyata itu istrinya keponakan besan saya, dokter Oswari," kata pak Joesoef. Wait......dokter Oswari?? Hem....saya kaget juga nih dengernya, lalu saya deketin pak Joesoef dan iseng2 nanya aja. "Dokter Oswari dari Bengkulu pak?" "Iya....itu besan saya...orang Tiong Hoa itu. Kamu kenal?" tanya pak Joesoef. "Hem....nama Tiong Hoa nya apa pak?" tanyaku. "Dokter Ong...itu yang saya tahu. Kalau nama lengkapnya Dokter Effendi Oswari." kata pak Joesoef padaku. "Tinggalnya di Kelapa Gading atau Pulo Mas ya pak? Tanyaku lagi. "Pulo mas......kok kamu tahu sih?" tanya pak Joesoef. Wah...para pembaca...dokter Oswari itu adalah oom saya di Indonesia, tepatnya salah satu granduncle saya, karena hubungan saya dengan beliau adalah dari emak saya yang mana ibunya adalah kakak dari ibunya dokter Oswari. Saya jelaskan ini ke pak Joesoef, mengenai hubungan saya dengan dokter Oswari, dan pak Joesoef senyum-senyum saja mendengar hal ini. Setelah dia tahu posisi saya di hubungan ini, sebagai seorang Minang, mengetahui hubungan keluarga ini berdasarkan dari sisi ibu, pak Joesoef menanggapi hal ini dengan serius. Mengetahui orang Minang itu kan Maternial...alias turunan dari sisi ibu. "Wah...deket sekali hubungan kita itu. Kalau kamu orang Minang, kamu sudah harus cium kaki saya," kata pak Joesoef. Oom Jusni yang sedari tadinya mendengar disamping kita mulai senyum2 juga, dan bilang "kamu harus pangil pak Joesoef oom tuh kalau begitu." "Saya sih mau aja oom....ya ngak pak Joesoef?" tanyaku padanya. Pak Joesoef hanya senyum2 saja dan kemudian minta aku menulis silsilah keluarga ini dikertas, karena akan ditanyakan nantinya secara langsung ke dokter Oswari. Saya sih langsung aja nulis, soalnya saya yakin sekali pasti ini benar adanya. Hanya ada satu dokter Ong dengan nama Indonesia Oswari, dan hanya ada satu dokter Ong yang bekerja dengan negara sebagai seorang dokter tentara si Riau yang asalnya dari Bengkulu. Setelah dengar dengan jelasnya lagi mengenai silsilah keluarga kita, dan menilik posisi beliau....dengan muka angker seperti biasa, serius sekali tampaknya, pak Joesoef bilang, "Kamu harus panggil saya OPA kalau begini." Balasan dari saya....NO Problem. :-) Pak Pram tiba2 nongol disamping saya dan saya bilang, "Pak Pram....kita baru tahu kalau pak Joesoef ini masih keluarga dengan saya." Pak Pram tertawa-tawa dan ibu Maemunah senyum2 mendengar hal ini. Bayangkan saja para pembaca, seseorang yang sangat saya hormati sebagai pejuang bangsa, ternyata keluarga dengan saya. Ketemunya juga diujung lain dunia ini. Memang Tuhan memiliki cara2 yang unik untuk mempersatukan ciptaan2nya.
[Bersambung ke cerita kesepuluh]
Buffalo, NY
|