/hr size=2>
|
Majulah pak Pram sebagai tamu kehormatan yang didampingi oleh mbak Sil sebagai penerjemah beliau. Terjemahan mbak Sil.......luar biasa. Diimport langsung dari Ottawa oleh oom Jusni, memang merupakan pilihan yang sangat tepat. Sebuah tema singkat yang disajikan oleh pak Pram mengenai Indonesia, yang secara general menguntaskan bahwa Indonesia adalah negara Maritim, dan karenanyalah itu harus ditekankan kekuatan maritim kita. Kenyataan yang ada malah Angkatan Darat yang dikuatkan, bukannya maritim. Saya jadi teringat karya pak Pram "Arus Balik" yang merupakan novel sejarah tentang Indonesia, dan memuja kehebatan maritim Indonesia dimasa yang lalu. Pak Pram dengan tegas mengatakan polemik politik yang terjadi di Indoensia dan segala hal yang terjadi di Indonesia merupakan masalah budaya, ketimbang militer atau politik. Warisan kolonialisme dari jaman Belanda merupakan alasan kuat terjadinya masalah2 di Indonesia saat ini. Warisan inlah yang membuat ketidak stabilan politik dan bahkan budaya sampai menjurus ke rasialisme. Mengingat bagaimana keturunan Tiong Hoa yang sangat tertekan....bukankah ini sesuatu yang sudah berdasar dan berakar dari masa Belanda? Orang2 Tiong Hoa dilarang keluar dari pecinan tanpa ijin yang jelas dari penguasa atau istilahnya Kapten Cina. Lapangan kerja nyata tertutup bagi para keturunan (misalnya bekerja di pemerintahan) dan akibatnya, perdaganganlah yang menjadi satu2nya cara dan jalan untuk tetap hidup bagi orang2 keturunan. Inilah yang menjadi salah satu jurang terpisahnya kaum bumi dan keturunan. Teringat akan pertanyaan teman saya yang merupakan teman dekat saya. Dia seorang bumiputera menanyakan ke saya bagaimana caranya sih orang2 Tiong Hoa itu pinter2 dagang? Kok kalau orang Tiong Hoa itu networking nya hebat2? Perlu duit....langsung dapet....gimana caranya? Kalau kami yang bukan keturunan....setengah mati mau dapet pinjaman....yang keturunan kok mudah? Inilah jawaban bagimu kawan. Seperti yang menjadi buah pikir pak Pram dan komentar saya pribadi, bagaimana orang keturunan tidak pandai berdagang, kalau memang hanya bidang itulah yang diijinkan oleh kaum Belanda untuk dilakukan oleh mereka. Ratusan tahun di Indonesia, terasimilasi dengan budaya....dagang...dagang...dagang.....segoblog2nya seseorang atas sebuah topik, kalau selalu terekspose denagn hal yang sama terus menerus....pasti jadi ngerti dan kalau God willing, malah bisa jadi ahli. Seorang bayi yang tak mampu berjalan ketika lahir, secara perlahan akan bisa jalan....kenapa? Karena setelah usia tertentu, sang orang tua akan melatih sang anak secara terus menerus sampai bisa. Bukankah sama saja dengan terekspose? Itulah alasan mengapa kaum keturunan mahir berdagang. Bagaimana dengan networking? Ingat....kaum Tiong Hoa dikucilkan.....hanya disekitar Pecinan saja mereka boleh berusaha...bagaimana ngak hebat networkingnya kalau selama puluhan tahun ketemu dengan orang2 yang itu juga...nota bene...keturunan Tiong Hoa lainnya. Makanya networkingnya kuat, karena dari awal, hanya boleh kaum Tiong Hoa bergaul dengan Tiong Hoa. Hanya andaikan saja semua orang dan juga kawan saya yang memiliki konsep yang salah mengenai kaum keturunan bisa mendengarkan apa yang merupakan buah pikiran pak Pram, terlepas dari segala akal daya pemerinyahan yang ada sekarang, terjawab sudahlah kekeliruan...dan bukan hanya satu dan dua...banyak lainnya yang bisa terjawab. Kembali ke kaum Belanda, sang penjajah. Sebuah tindakan yang hanya didasari dari ketidak inginan para kaum Belanda untuk terjadinya ketidak murnian darah mereka dengan misalnya kawin silang antara keturunan dan noni2 Belanda. Sebuah alasan egois yang mengakibatkan SELURUH warga keturunan Tiong Hoa dikucilkan dari masyarakat umum. Bahkan dalam masalah berpakaian, baju yang longgar itu yang jadi keharusan. Yang malah tragisnya sekarang dipakai oleh kaum Muslim, bernama Baju Cina. Contoh lain adalah kuncir kepang yang sangat khas itu, seperti di film2 Kung Fu....itu semua adalah upaya dan cara dari pemerintah Belanda untuk membuat masyarakat Tiong Hoa menjadi tampak nyata kalau itu Tiong Hoa. Tambahlah pula dengan masa atau waktu, sehingga terakumulasilah segala kekeliruan dan rasa apati ini. Bagaikan sebuah bisul yang siap pecah kapan saja, dan memang sebenarnya sudah pecah berkali-kali. Kejadian pembantaian kaum Tiong Hoa di Jawa Tengah, yang dikatakan merupakan kericuhan belaka, sebenarnya adalah daya Belanda untuk mengentaskan Serikat Islam atau Syarikat Dagang Islam yang makin lama makin kuat. Bukahkah itu cara berpikir yang luar biasa? Sekali tepuk dua atau tiga lalat mati, dan serunya.....yang nepuk ngak katahuan. Betapa indahnya politik itu.....bagaikan jembatan Sirotol Mustakim yang setipis rambut, mudah saja untuk dicemari dan berubah haluan. Menjadi bahan pelepas kehausan kuasa oknum2 tertentu, ketimbang menjadi alat bagi penyejahtera rakyat, bukankah mudah aja berubah arah politik itu? Kerusuhan Mei misalnya, juga merupakan sebuah bisul yang pecah, hanya sekarang pertanyaanya....siapa yang nepuk lalatnya ataunyang mencet bisulnya? Kita jelas2 sudah punya lalat2 atau nanah yang banyak....kaum keturunan dan masyarakat lainnya dengan segala unek2 yang ada dihati.....sekarang....siapakah si penepuk atau si pemencet ini? Jawaban yang saya rasa anda semua pembacai ketahu jawabannya atau pernah dengarkan dari kiri atau kanan, tapi antara tidak perduli, sama sekali ngak percaya, tidak berani menerima atau ngak yakin bahwa itulah fakta dan jawabannya. TRAGIS! Mengapa demikian? Masalah budaya lagi, itulah yang terlintas dari pikiranku sebagai jawaban. Oh....... pak Pram., betapa kuhargai dan kucinta dirimu karena dikaulah seorang manusia yang berani mengeluarkan isi hati dan apa yang kau percaya. Apa yang kau katakan mengenai budaya......terkejut aku mendengar. Bagai sebuah tamparan yang sangat kuat, terkejut aku mendengar.......tapi segera pulalah aku pulih dari tamparan itu... Mengapa? Karena aku sendiri sudah tahu jawaban itu bahwa budaya adalah masalahnya...Aku sudah tahu tamparan itu, tetapi, apakah aku ini? Aku hanya seorang manusia yang juga merupakan korban sang "budaya." Aku pun seseorang yang hanyut terbawa akan warisan kolonialisme ini ditambah pula bumbu2 dari kaum penguasa yang berkuasa kala aku menuntut ilmu dan kehidupan dinegara kita. Hanyalah satu yang membuat aku beda, karena aku ini KETURUNAN. Itu yang membuat aku berada disisi yang lemah, kaum minoritas bukan sang mayoritas. Mengapa aku tidak menyadari hal ini dari kala aku di Indonesia? Kenapa aku mendapatkan tamparan ini kembali dinegeri orang? Kenapa tak sadar aku dan kenapa batinku tidak bergejolak akan jawaban itu, yang sebenarnya sudah aku tahu, tapi terbisukan oleh DIRIKU sendiri. Sedahsyat itukah polemik budaya ini? Oh...Tuhanku....tak bisa aku bayangkan betapa takutnya diriku saat ini. Aku yang hanya satu saja sudah terbutakan oleh hal ini, dan jujur saja aku sendiri penuh dengan dendam dan amarah....tapi..... bagaimana dengan sang kaum mayoritas? Astaga...aku yang satu ini sudah penuh dengan segala rasa, bagaimana dengan ribuan...jutaan yang lainnya? Perasaan yang samakah yang mereka miliki? Dimanakah sisi mereka berada? Astaga......inilah senjata yang digunakan oleh sang penguasa......dulu oleh sang kolonialis....dan sekarang.....?? Tiba2 sebuah pengumuman bahwa masa reses tiba dan saya tersadar dan kembali kedunia nyata dari amukan emosi dalam diriku.
[Bersambung ke cerita kedua belas]
Buffalo, NY
|