/hr size=2>
|
Mengawal pak Pram dan pak Joesoef. Kami berjalan bersama, tapi ambil rute baru dulu....karena bapak mau ke belakang. Pas lah, karena daku juga memang dapet panggilan alam. Selesai mereka "bertugas" didalam sana, kami jalan kepaviliun depan sana. Kami turun tangga dan ketika kami bar sampai lantai dua, pak Pram maju jalan lurus saja kearah belakang. Sya langsung bilang kalau masih mesti turun lagi ke beliau, dan beliau senyum saja, memimpin kami maju kedepan. Turun satu tangga, ternyata masih ada tangga lagi untuk ke lantai satu. Pak Pram nyeletuk..."Eh...satu lagi...kok ada lagi" sambil tersenyum, dan akupun secara tak sadar tersenyum juga mendengar ucapan beliau yang jenaka. OK.....tujuan mereka??? Tebak coba. Ya...tepat sekali...rokok. Ketika kami sedang berjalan keluar, tiba2 saja oom Max kelihatan mendekati. Oom Max Surjadinata adalah pendeta dai New York City yang dekat dengan pak Pram dan pak Joesoef. Kaget juga melihat beliau ada disini dan setelah ditanya rupanya special kesini beliau dari NYC untuk ketemu dengan pak Pram juga pak Joesoef. Pertama-tama beliau lupa dengan saya..."Payah ah oom Max," kataku dalam hati. Setelah bincang2 sejenak, langsung balik lagi ingatan dia akan saya...si tukang tanya yang usil....yang katanya suka dengan pertanyaan saya. Ya sudah...kami jadi jalan bareng2 bersama pak Pram, pak Joesoef, oom Max, dan juga suami dari professor Nagata. Sampai diluar....he he ...biasa deh...ritual....cuma baru start ketawa2 sedikit, nongol pak Dan.....dan langsung saja dia bilang, "Ini saya mau debat dengan pak Pram......debat ini!" sambil menyulut rokok dimuka kami semua. "Gimana sih itu soal budaya......tidak bisa itu....ini soal politik pak Pram," kata pak Dan. "Ini masalah Demokrasi terpimpin......masalah AD.....itu sumber dan akar masalah kita ini," ujarnya lagi. "O..o"....kataku dalam hati....here goes guys.....dua manusia akan start debat mengenai pandangan mereka masing2. Weh....seru ini. Mesti aku dengarkan. Pak Dan bicara alasan2 pandangan dia kesana....mengapa dia memegang pandangan itu....wah....seru sekali mendengar pak Dan....semua masuk diakal.....semuanya saya rasa bisa dibuktikan...tapi....untuk apa juga, kalau memang kita menghadapi sang manusia yang memang ahlinya dibidang ini. Lha wong sumber asap dapur beliau dari mengetahui hal2 ini......he must be really good..... Pak Pram...senyum2 sambil menghisap rokoknya.....nampak sangat penuh kepercayaan diri, dan sebuah aura yang saya sendiri tidak bisa bilang apakah itu nyata atau tidak, namun saya merasakan hal ini. Terhembus asap dari beliau, dan tampak beliau sudah siap akan angkat bicara. "Lha...sudah saya bilang....budaya itu.....titik," kata pertama terucap dari beliau. "Mau politik kek...mau apa kek...semuanya itu berasal dari manusianya bung........Kalau manusianya itu kan produk budaya....ya ngak?" ucap pak Pram ke pak Dan dan juga kami semua. Naik lagi lengan beliau dan dihisap kembali rokok itu sambil menatap ke langit diatas. "Tapi kan pak Pram.....itu tetap saja merupakan permainan politik?" ucap pak Dan. "Iya......tapi budaya itulah yang pegang peranan." kata pak Pram lagi, tak beranjak dari pandangan beliau. "Yaaaaaa......ada betulnya juga..." ucap bung Dan yang saya rasa cukup sudah untuk menunjukan akhirnya perdebatan ini. "Nah....seperti yang saya utarakan....kita budaya maritim kan?" tanya pak Pram tanpa saya rasa menunggu jawaban dari kami. "Budaya kita saja sudah tidak maritim lagi......gimana bisa bener? Saya pegang teguh dan percaya soal maritim itu. Sekarang, coba lihat.....kalau Indonesia diserang.......mau jadi apa dia? Saya yakin bertekuk lutut seketika," kata pak Pram. Kami terdiam semua.....menjadi sepi saja kami ini. Saya menjadi prihatin memikirkan kesalah kaprahan yang terjadi dinegaraku itu. Terdiam diri saya dan mata saya yang kebingungan malah jadi menatap seorang gadis yang sedang mengayuh sepedanya menuju kearah kami. Alangkah bahagia rasanya kalau aku yang ada diatas sepeda itu. Mengayuh tanpa henti merasakan hembusan angin yang datang ke aku...atau aku yang datang ke mereka? Tak terasa....layak-kah aku berpikir demikian kala bangsaku sedang dilanda nestapa? Aku melihat jam dan....walah...sudah lebih dari 15 menit waktu istirahat yang diberikan. Segera saja aku bilang ke pak Pram dan yang lainnya kalau sudah saatnya balik. "Sudah mesti balik ya?" tanya pak Pram padaku, berhubung pendengaran beliau kan memang kurang. "Iya pak," kataku padanya. Lalu kami mulai naik keatas lagi ke aula itu. Tiba2 saja oom Adjie manggil aku tanya pak Pram dimana dan saya bilang kalau sebentar juga sampai, karena lagi ke kamar kecil sebentar. Tak lama kemudian, sampailah pak Pram dan segera saja oom Adjie minta pak Pram untuk bertemu dengan seorang penting di Canada. Senator wanita Asia pertama di kawasan itu. Setelah berbincang2 sejenak, tiba2 sang senator bertanya mengenai judul2 karya pak Pram dan dimanakah bisa membeli buku2 ini. Aku yang jadi korban.....aku jadi harus menulis semua karya2 pak Pram yang tersedia dalam bahasa Inggris.....ya sudah...kan aku hafal ini. Sesi terakhir merupakan sesi tanya jawab yang sangat menarik, karena banyak pertanyaan2 yang asalnya dari kaum akademis yang bisa saya katakan sangatlah menarik adanya. Fakta Dwi Tunggal ABRI yang menjadi pokok dasar masalah di Indonesia menjadi fokus pertanyaan dari seorang pemirsa. Menarik kala suatu pandangan dijadikan suatu pegangan oleh orang lain, karena hal ini membuktikan kekuatan pandangan itu memang nyata adanya. Setelah selesai acara tanya jawab itu, selesailah acara simposium siang ini. Ketika kami sedang beres2, tiba2 pak Joesoef tanya ke saya soal seorang wartawan yang sedang mewawancarai pak Pram. "Fred....itu wartawan mana?" kata pak Joesoef. "Wah pak, saya juga ngak tahu tuh....," balasku. Terlihat saja dari tempat kami berdiri kalau pak Pram didampingi mbak Sil sedang diwawancarai oleh seseorang. Tampak memang serius juga, walau terkadang terlihat senyum dari mereka. Setelah kami makan siang dikantin sekolah itu, kami bertolak untuk pergi kembali ke hotel, memberikan waktu ke pak Pram dan yang lainnya untuk ngaso sejenak sebelum acara selanjutnya dimulai.
[Bersambung ke cerita ketiga belas]
Buffalo, NY
|