BACK

Cerita Ketiga belas

Kira2 sekitar satu jam-an kita istirahat, tibalah saat bagi kita untuk meneruskan perjalanan ke acara selanjutnya. Mbak Sil yang sedari tadi duduk diruangan tamu rumah oom Jusni tampak sudah siap juga. Saya iseng mendekati mbak Sil dan ternyata dia lagi baca2 buku pak Pram, Bumi Manusia yang dalam versi bahasa Indonesia. Hem...membayangkan copian punya saya yang terpaksa ditinggal di rumahku, terkunci dalam lemari, agar tidak ketahuan oleh siapa2....tragis bukan...karya sastra yang luar biasa kualitasnya mendapatkan perlakuan seolah merupakan sesuatu yang sangat buruk dan membuat manusia2 "berubah" menjadi tidak benar.

Teringat pula aku kala seorang sahabat melihat satu karya pak Pram diatas mejaku, kata pertama yang keluar dari mulutnya, " Lho....ini kan dilarang....Toer....komunis kan?"

"Sudahkan pernah kau baca buku ini sahabat?" tanyaku padanya.

"Belum.....tapi ngapain...mau jadi komunis memangnya?"

"Betapa beraninya kau mencap sesuatu hanya melihat dari kulitnya??? Bagaimana kau tahu bahwa sebuah jeruk yang buruk kulitnya tidak manis rasanya dan bisa menjadi penghapus dahaga?" ujarku setengah berteriak.

"Ah....tahu ah...," ujar sahabatku.

Sepulang dia dari rumahku....aku merenung...ini bukan salah sahabatku....kondisi negara kamilah yang membuat semua hal ini terjadi. Kami adalah korban-korban dari sebuh regime yang tak tampak nyata.....inikah dosa2 orang tua kami yang harus kami pikul dan bayar?

Astaga...siapakah aku ini yang berteriak sedemikian rupa pada sahabatku?

Sebuah langkah yang sangat kusesali....tak kujelaskan ke sahabatku betapa indah untaian kata di karya ini, melainkan kuteriak ke dia segala unek2 di hati yang selama ini kusimpan sedalam mungkin. Kenapa tidak kukenalkan secara keseluruhan ke temanku indahnya untaian kata-kata itu?

Buyar kenangan masa lalu mengingat akan acara yang akan datang. Oom Jusni saja nih yang masih ditunggu...tampaknya masih diatas belum turun. Tak lama sesudah itu, turunlah oom Jusni dan berangkatlah kita menuju ke hotel untuk menjemput mereka. Lumayan lah, setidaknya kami semua dapet istirahat beberapa saat, memulihkan tenaga yang hilang semenjak tadi.

Sesampai dihotel dan memanggil mereka turun dari kamar, ...... .wah...sekarang ditambah dengan oom Max dan mbak Sil, weh...mepet abis nih mobilku. Untunglah bisa masuk 3 orang dikursi depan, yang mana adalah saya yang nyetir, oom Jusni dan pak Dan. Yang lainnya duduk dibelakang, mepet2 sih...cuma bentar aja kok...udah sampai kesana.

Tujuan kami kembali kearah kampus UT, cuma sisi yang lain. Sebuah acara penghargaan dari PEN Canada akan dilaksanakan oleh mereka. Setelah sampai ditempatnya, kita drop mereka turun sementara oom Jusni dan saya langsung cari tempat parkir. Keputusan yang diambil adalah parkir didekat College Street. Makanya kita mesti jalan sedikit jauh nih ke tempat acara itu, tapi biarlah, karena semuanya jadi enak nantinya. Selagi dalam perjalanan ke tempat acara itu, oom Jusni bicara2 banyak dengan aku soal sekolahku di NY. SUNY yang merupakan suatu sistem yang sangat besar, kampusnya tidak besar2, namun jumlahnya.,...jangan ditanya....tersebar dseluruh New York State.

Anyway.....acara ini ya seperti resepsi demikianlah. Ramah tamah dan sedikit pidato dari pak Pram. Membahas masalah kehidupan beliau di Indonesia dan baaimana efek PEN yang juga membantu beliau disana. Tak terlalu banyak yang bisa diceritakan disini, karena menurutku seperti hanya sebuah perkenalan saja acara ini.

Aku melihat berbagai hadirin yang hadir, merasa terkucil diri ini. Andaikan saja aku hilangkan oom Jusni, oom Adjie, oom Marcus dan beberapa orang Indonesia lainnya yang hadir selain pak Pram, ibu dan pak Joesoef, ........astaga...aku bagaikan ditengah lautan yang asing sekali. Dikelilingi oleh kaum terpelajar negeri ini tanpa terlihat satupun kaum terpelajar dari negara kita, tragis bukan? Pak Pram, sang manusia tanpa batasan, humanis ternyata dari semua yang pernah kutemui........lebih dihargai dan dipuja dinegara orang ketimbang rumahnya sendiri.

Hanya berpikirlah aku, bagaimana dengan anak cucu kita nantinya? Apa yang akan jadinya dari mereka? Satu generasi tanpa identitas yang nyata,karena terpukul dan termakan oleh sang adi kuasa yang berusaha selamanya menguasai jiwa dan raga kita.....aku tak memusingkan diriku.....aku memikirkan bangsaku.......anak-anakku........penerus kami......

Selesailah acara ini, dengan tepuk tangan yang bergemuruh...membangkitkan aku dari pandangan kosong ke para pirsawan. Berlomba2 orang maju ke pak Pram...berusaha mengenal dan melihat si manusia satu ini secara jelas.....meminta setidaknya segores garisan pena yang menjadi tanda pengenal bahwa....inilah satu bagian dari Pramoedya Ananta Toer, yang memasuki bagian dari hidup kami.

Sekarang tujuan kami adalah makan terlebih dahulu. Saran seseorang disana adalah sebuah restoran yang tidak jauh jaraknya dari tempat ini. Tanpa banyak bicara, ketika kami masih diskusi2 soal tempatnya ini....tiba2 pak Pram udah ngeloyor aja....waduh....dasar deh...cepetnya orang satu ini kalau berjalan......ngak bilang2 pula. Untung aku lihat, jadi buru2 aku kejar. Setelah terkejar sang kancil, mulailah rombongan kami jalan menuju restoran ini.

Lucunya dipertengahan jalan, pak Pram tiba2 mau kebelakang lagi....dan mulailah kami mencari kamar kecil dan oom Marcus bilang kalau ada satu disebuah gedung didepan kami. Jadi, kami meneruskan perjalanan, sementara mereka masuk ke gedung itu. Memang bener apa kata oom Jusni.....pak Pram mesti ditanya soal yang satu ini...kalau ngak diem2 aja beliau.

Sampai direstoran ini...wah....makanan India...pas lah, karena daku bisa pesen makanan vegetarian disana. Wah...rombongan kami yang hampir 20-an orang, membuat restoran yang kecil ini jadi penuh sesak. Sampai2 sang pelayan bilang..."Jangan sampai keluar ke jalanan raya ya..ilegal." yang disambut dengn tawa dan senyuman dari kami. Ya sudah...pesen deh....udah saatnya...mepet juga, karena acara selanjutnya mau mulai.

Tiba2 saja aku diminta oleh oom jusni untuk pergi kegedung tempat acara selanjutnya dilaksanakan, untuk memasang sign acara ini dan kotak sumbangan. Ya aku langsung jalan saja, dan setelah selesai buru2 kembali lagi...dan...walah....sudah mau selesai makan semua mereka.......aku jadi ngebut tuh makannya...dan mungkin inilah yang membuat aku jadi mengalami sakit perut selama beberapa hari kemudian, tapi kurasa ini karena pedasnya makanan yang aku makan......kalau soal makan cepet....kayaknya bukan masalah deh....udah dari dulu begitu sih.....well...nasib. :-)

Sambil makan, aku masih celingak celinguk saja ke segala arah dan wah......itu di pojokan sana kok ya masih aja ada perbincangan yang seru......pak Dan dan pak Pram.....tak habis2nya mereka bercakap membagi jalan pikian mereka. Aku membayangkan pak Pram adalah sang telaga...dan pak Dan adalah seseorang yang tidak haus, tapi berusaha mencari sesuatu yang lebih ketimbang air dari telaga itu. Jalan pikiran yang membuat aku berkhayal sejenak, membayangkan betapa jernih dan dalam tanpa batasan telaga satu ini, yang sekiranya dapatlah memuaskan dahaga bangsanya dan juga bukan saja sebagai penghapus dahaga....tapi juga sebagai satu tujuan untuk mencari jawaban atas berbagai kegundahan hati yang ada.

Namun....tak tampak sebenarnya kalau dia adalah sang telaga. Kerendahan hati beliau membuat semua kemampuan itu tak nampak darinya. Teringat perbincangan aku dengan salah seorang rekan di Canada, melihat pak Pram dengan penampilan yang sangat sederhana...dan tata bicara yang sangat teratur, tak tahulah diri kami kalau dia itu yang aku katakan bagai telaga. Tanpa adanya label bahwa inilah Pramoedya Ananta Toer....ku yakin orang2 tanpa perkenalan terlebih dahulu dengan karyanya, tak akan mampu mengenal sang manusia ini

[Bersambung ke cerita keempat belas]
[Kembali ke cerita kedua belas]

Buffalo, NY
June 22, 1999

BACK