/hr size=2>
|
Dinner ini selesai, dan kami berlalu dan jalan menuju tempat pertemuan selanjutnya yang bertempat di Toronto District School Board. Santai2 saja lah..lha wong cuma dipojokan jalan saja. Seperti biasa...kita malah diem2 nyalaiin rokok dan.....ngobrol2 yang seru2, walau kali ini cepet2 juga, soalnya kan udah telat nih buat acaranya. Acara ini merupakan sebuah diskusi mengenai HAM dan hak untuk berekspresi di Indonesia dan pak Pram sekalian mempromosikan bukunya yang baru, juga menjadi pembicara dan diharap membagi pengalaman beliau disini. Lumayan banyak juga yang hadir diacara ini. Saya rasa jumlah pemirsa yang hadir melebihi jumlah pemirsa yang ada tadi siang di UT. Menarik sekali bahwa ternyata banyak orang Indonesia yang hadir, kalau dibandingkan dengan tadi siang. Salah satu yang saya ketahui malah seorang ex wartawan yang dulu pernah kerja dengan Kompas. Menarik juga bisa ketemu dengan beliau dan membantu beliau menanyakan soal terjemahan "Hoakiau di Indonesia" yang mana belum ada terjemahan Inggrisnya, dan yang pak Pram katakan kesaya bahwa terjemahan nggris sedang dalam jalan.......baguslah.....mengingat buku ini merupakan satu dokumen penting krisis budaya dan penjelas "missing link" mengenai kaum keturunan Tionghoa di Indonesia. Mengingat kembali bagaimana dulu saya banting tulang mencai kopian buku ini, mendapatkan apa yang saya katakan "kopian dari kopian dari kopian dari kopian.....yang sampai huruf2-nya ngak jelas lagi, dan terpaksa ditebelin pakai bolpen sebelum difoto kopi." Tante Cecil sampai tertawa ketika saya ceritakan hal ini. Tragis ....memang, tapi tidak akan mematahkan semangat saya dan juga saya harapkan anda2 semua. Pak Pram menegaskan ke saya bahwa sekali kita takut, kita terkalahkan. Sebuah cambukan saya anggap sebagai pemacu semangat dan juga sebagai sebuah ejekan yang saya terima secara positif. Mengapa? Karena saya juga merasa hal ini bagaikan sebuah gemblengan yang fungsinya untuk membakar semangat kita. Tidak boleh generasi dibawah kita harus mengalami hal yang sama seperti yang saya dan kita alami. Mereka harus lebih mudah mendapat ekses ke buku2 ini dan segala hal yang akan memimpin mereka untuk melihat fakta dan kenyataan. Pak Pram dan pak Joesoef juga menyatakan hal yang sama kesaya. Generasi mudalah yang menjadi tulang punggung bangsa dan karenanyalah harus mereka memahami apa yang mereka hadapi. Ini sebuah tuntutan bagi para penguasa diatas.....obsesi pribadi mereka untuk menebalkan kantong2 mereka dan memantapkan posisi mereka, tidak boleh melalui cara pelarangan hal2 yang selayaknya tidak berkenan bagi mereka. Ini adalah sebuah cara yang memang sangat efektif bagi mereka untuk memenuhi kehausan mereka akan kuasa....tapi.....tidak bisa diterima dengan pandangan humanitas. Proses yang diambil oleh mereka adalah A-BUDAYA atau menghilangkan budaya. Jangankan sebuah bangsa, seorang individu tanpa budaya yang jelas akan menimbulkan polemik didalam dirinya sendiri. Hal2 yang menarik banyaklah terjadi di pertemuan ini. Seorang anak Indonesia yang jelas merupakan "karya" hasil Orba dan buta mengenai kejadian yang sesungguhnya dari Orba, bertanya ke pak Pram mengenai apa saja yang benar dan tidak benar dari pemerintahan Orba dalam format pelajaran2 yang diberikan disekolahan. Pertanyaan2 yang sangat terkesan naif atau transparan, namun saya ambil tidak demikian. Diperlukan sebuah keberanian untuk bicara dan bertanya hal demikian. Teringat pengalaman pribadi saya, dimana salah seorang keluarga kami diciduk di jaman Jepang, karena menjadi seseorang yang vokal, dan sesudahnya tidak ketahuan nasibnya. Isu mengatakan beliau dibuang ke Birma atau dibunuh oleh Kempeitai, dan banyak lagi cerita2 lainnya membuat bulu kuduk berdiri. Satu hal yang pasti, hari dimana beliau diambil, merupakan hari terakhir bagi kami keluarga untuk melihat beliau. Juga bagimana kakek buyut atau dalam bahasa ibu, kong co, yang ditangkap disiksa oleh Jepang sampai hampir tewas dan malah sebenarnya sudah tertulis bahwa akan dipancung keesokan harinya dan karena belas kasihan seorang kapten Jepang, Nakamura san....dirubahlah tulisan karakter Jepang dari MATI ke seumur hidup. Sebuah fakta bahwa budaya adalah kuncinya. Sebagaimana terkorupsinya politik atau sang penguasa, sang individulah yang menjadi sumber segalanya. Satu lagi ucapan pak Pram tentang polemik budaya bisa dijadikan bahan bahasan disini. Dibuang selama lebih dari 2 tahun ke Riau sampai akhirnya Jepang menyerah. Beliau kembali kekeluarga kami akhirnya, tapi....tidak sebagai sang ayah yang dikenal oleh anak2nya dahulu....beliau bagaikan menjadi seseorang yang lain, secara fisik dan jiwa. Karena apakah ini semua ini terjadi? Jawabannya akan saya berikan. Hanyalah karena berusaha menjadi MANUSIA yang bebas dan tanpa ada penekanan dari individu lain atau sang penguasa dan tidak mampunya melihat manusia2 lainnya yang tertekan oleh cengkraman kuku2 sang penguasa, menjadi korbanlah beliau. Badan boleh tersiksa dan hancur, namun pandangan dan pedoman hidup tetap selalu setia dengannya. Mengingat kembali regim Soeharto.....saya geleng2 kepala secara tidak sadar. Karena inilah, ketika mendengar apa yang ditanyakan oleh pirsawan2 muda kita ini, saya tersenyum, karena terdobraklah pintu2 gerbang raksasa transparan yang diciptakan oleh sang penguasa, yang gunanya untuk menutup mulut kita dan mengkerdilkan pikiran kita............sekarang....hancur sudah. Jawaban pak Pram yang menyatakan bahwa semua itu adalah kebohongan2. Kalau sudah tercium kebohongan itu, terciptalah kebohongan berikutnya untuk menutupi kecurigaan atas kebohongan2 sebelumnya. "Lebih mudah berbohong daripada melakukan sesuatu secara jelas2-an," itu kata pak Pram...makanya timbullah segala kebohongan2 itu. Padukan pula dengan teori milik beliau bahwa kalau dibilang kita punya X, itu pasti minus X, lengkaplah sudah sebuah senjata aji satria yang dimiliki sang penguasa. Satu lagi pertanyaan yang datang dari seorang anak Indonesia yang manggil pak Pram.......mbah.....menarik juga acara ini.....lain dari yang lain aja nih pemirsa yang hadir. Asik juga mendengar pak Pram dipanggil mbah, terkesan sangat kemanusiaan. Kembali saya tekankan semangat yang dimiliki oleh putra putri bangsa kita.....dapatlah berbangga kita dan menarik nafas lega mengetahui bahwa masa depan kita memiliki setidaknya jaminan dan nafas baru. Pertanyaan tentang siapa yang merupakan sastrawan panutan dan juga siapakah yang membuat bahasa Indonesia atau membentuk bahas Indonesia sebagai bahasa yang ada saat ini segera dijawab oleh pak Pram. Terkombinasi dengan penjelasan pak Pram tentang identitas budaya Indonesia melalui satu hal yang sangat konkrit...BAHASA. Jawaban yang menunjuk ke secara segera Chairil Anwar, yang disertai komentar bahwa seharusnya didirikan patung Chairil Anwar di Indonesia sangatlah memuaskan diri ini. Komentar kalau soal Idrus, pujangga yang mnerupakan idola pak Pram pula dan soal pendirian patung buat beliau, "Tidak perlu dulu deh," kata pak Pram, menimbulkan pertanyaan dihati? Mengapa demikian? Apakah yang membuat ide tentang pembangunan bagi patung Idrus bisa menunggu? Kekurang siapan bangsa kita? Atau apa? Saya sendiri masih mencari jawaban hal ini, dan sangat disayangkan pak Pram tak sempat saya tanyai soal ini. Kembali ke pokok makalah bahwa kedua sastrawan2 itu meletakkan identitas mereka sebagai orang Minang dan merangkul secara erat identitas Indonesia dengan menggunakan bahasa Indonesia.
DARI KUMPULANNYA TERBUANG Tiba2 saja terdengar kutipan dari sajak AKU oleh Chairil Anwar oleh pak Pram dan sempat kulihat jari beliau menunjuk keatas. Getar suara yang menggema membuat ku merinding. Tak kusangka seorang Pram memiliki kekuatan suara yang demikian. Terngiang2 sampai detik ini pekik sang Pramoedya. Menjelaskan arti barisan kata2 tersebut membuat bangga diri ini sebagai seorang Indonesia. Penentangan kekuasaan Jepang yang saat itu adalah sang penguasa, merupakan langkah berani yang diambil oleh seorang Chairil Anwar. Cerita pak Pram bahwa beliau pada saat itu tidaklah mengenal secara pribadi Anwar, bertemu diatas kereta, melihat seorang yang bertubuh kecil, berbadan bungkuk dan bermata merah....membuat saya berpikir...inikah tanda sebuah kekuatan yang tak terkira? Terbungkus akan sebuah kelambu yang mengalihkan pandangan......berdiri sebuah inspirasi bagi kita semua. Selingan cerita lucu tentang Anwar dari pak Pram, yang mana Anwar bertugas sebagai penjaga keamanan. Kala tempat mereka digerebeg, Anwar bisa lari dengan jalan loncat pagar 3 meter tingginya. Sebuah hal yang membuat para rekan2nya menggelengkan kepala tanda takpercaya, melihat sang manusia yang tampak tak mungkin melakukan. Cerita yang membuat para pirsawan tertawa, menyegarkan hati kami semua. Sebuah komentar lain dari pak Pram tentang pengkotakkan-pengkotakkan diri kita sebagai manusia Indonesia yang sangat tragis, dibalas dengan sebuah komentar lainnya bahwa seharusnya dibuatlah sebuah...ya..sebuah saja kotak yang lebih besar, dan lemparlah semua kotak2 yang kecil kedalamnya....terjawablah dilema pengkotakkan itu. Yang menarik adalah ketika ditanyakan bagaimana proses pembuatan kotak besar itu, jawaban pak Pram...."Ini adalah generasi muda yang memiliki tanggung jawabnya. Tanyakan ke mereka." Sebuah pertanyaan lainnya yang sangat saya enjoy adalah bagaimana cara pak Pram mampu menulis seperti demikian. Jawaban dari pak Pram yang mana mengatakan bahwa setiap orang memiliki kemampuan menulis. Segala pengalaman yang ada didiri kita itu sudah merupakan bahan yang cukup untuk menulis. Menunjuk kearah kepala beliau, pak Pram mengatakan bahwa masalah yang harus dijawab adalah bisakah kita membuka keran dikepala kita agar membuat kita mampu untuk menulis. Tampung di wastafel semua itu...pakai ember kalau perlu...dan siaplah anda untuk menulis. Selesailah acara malam ini, dan jam yang sudah menunjukkan pukul 11 lewat, menunjukkan sudah saatnya kita kembali. Sudah harus istirahat mereka semua, karena keesokan hari, akan ada acara lainnya.
[Bersambung ke cerita kelima
belas]
Buffalo, NY
|