/hr size=2>
|
*Saya akan menulis sedikit sebelum melanjutkan cerita ini*
Semalam saya dan teman saya jalan2 ke Niagara Falls setelah makan malam dan kami membahas berbagai hal yang sekiranya asik dibicarakan dan akhirnya sampailah kepada topik seorang Pramoedya Ananta Toer. Beberapa hari sebelumnya, kuberikan dia sebuah kopi karya pak Pram, dan rupanya dia sudah mulai membaca buku itu. Kesan yang dia berikan merupakan sebuah kritik ketimbang sebuah bahasan, dimana dia merasa janggal bagaimana pak Pram membahas ketika rumah beliau diserbu gerombolan, dan adiknya lari ke tanah tetangga sebelah. Dia merasa hal tentang sang adik ini sebenarnya tak perlulah dibahas disebuah buku. Terjadilah, tapi apakah perlu ditulis? Menjadi pikiran aku pulalah ucapan dia ini. Apakah ini merupakan sebuah cara dari pak Pram untuk menunjukkan kualitas transparan namun plastis-nya ataukah sebuah dilema yang terjadi didiri beliau kala menulis hal ini di surat itu? Mengingat masa2 surat ini ditulis di pulau Buru.....apakah itu menjadi sebuah penekan sehingga tertulislah segala lukisan2 transpan itu tanpa memperkirakan resiko yang akan terjadi? Kejujuran yang brutal? Brutal karena skenario yang ada disaat itu....pulau Buru dan segala "kehebatannya," ataukah hanya sebuah "kejujuran" dari sang Pramoedya?
Memang benar apa kata ibuku....kalau apapun yang terjadi padamu, pergilah beristirahat....tidur misalnya, akan setidaknya berkuranglah bebanmu. Jadi....malam itu aku tidur dengan nyenyaknya dirumah oom Jusni, dan ketika mentari mulai bercahaya kembali, segarlah seluruh tubuh ini. Hilang segala kepenatanku. Setalah selesai melakukan "tugas pribadi" dipagi hari (bersih2, cukuran, dll, dll), melangkahlah aku naik keatas dan kulihat sudah bangun tante Cecil dan juga oma yang baru kelihatan hari ini. Hem....sarapannya pasti asik lagi ini pikirku......kelas top deh kokinya. Oom Jusni merencanakan sebuah interlude bagi para tamu kita sebelum meneruskan acara2 mereka disini. Katanya sih kita akan ke downtown Toronto, dan mungkin ketempat2 lainnya, tapi kita akan ke hotel dahulu untuk mendiskusikan hal ini. Sampai di hotel..wah..pak Dan sudah bersiap hendak bertolak kembali ke kampungnya, karena sudah selesailah tugas beliau disini. Setelah mengucapkan selamat jalan dan saling berbagi informasi tentang macem2 hal....akhirnya pak Dan pergi langsung ke airport mengejar pesawatnya. Dikamar tempat tinggal pak Pram dan rombongan mulailah oom Jusni berdiskusi dengan mereka kemana saja yang asik untuk dilakukan. Saran bahwa Toronto (atau Ontario) Science Center merupakan tempat asik, disetujui oleh mereka. Jadi...saya rasa inilah tujuan mereka. Tiba2 terdengar saja dari sana...."Kasih nanti ke si Alfred itu...mesti dapet satu kopi dia." Aku yang bingung namanya disebut ya langsung saja tanya..."Ada apa toh?" Mereka ternyata memberikan buku2 karya pak Pram "The Mute's Soliloquy" dan "Hoakiau di Indonesia".....wah...saya merasa ngak enak sekali saat itu. Siapakah saya yang sekiranya mendapatkan kehormatan sedemikian rupa dari mereka? Wah....akhirnya "Hoakiau di Indonesia", kudapat buku aslinya...tidak lagi kopian dari kopian dari kopian itu yang kupunya, tapi yang aslinya...... Tiba-tiba saja terdengar, "Bung sudah makan?" tanya pak Pram ke daku. "Sudah pak, tadi dirumah," jawabku padanya. "Mau pisang ngak?" tanya beliau lagi sementara tangannya mengajukan sebuah pisang yang nampak ranum. "Ngak ah....masih kenyang," ujarku. Tiba2 saya pak Pram tampak manyun dengan bibir yang sedikit "ditekuk". Mau ketawa jadinya melihat beliau...ada2 saja yang bisa dibuat oleh beliau ini. Teringat akan perkataan beliau dulu ke saya, "Obat stress itu ketika di pulau Buru.....senyum....yang banyak." Saya menjadi tersenyum pula mendengar pesan itu terngiang2 dikepalaku. Kami sesudahnya bertolak ke museum yang menjadi tujuan kami. Wah...aku sendiri belum pernah kesana...tampaknya asik juga ini....walau science bukan bidang favorit aku, tapi nambah2 ilmu tak ada salahnya kan? Sampai disana, memang asik tempat ini. Keren juga, menimbang tiadanya fasilitas seperti ini dikotaku. Museum sih banyak, cuma yang se-"funky" ini belum ada. Oom Max mulai berkicau membicarakan segala hal kembali, sementara pandangan mataku melihat ke arah pak Joesoef yang tampak lelah. Aku dan oom Jusni yang berkesimpulan sama bahwa pak Joesoef kurang mendapatkan istirahat, memang terbukti juga. Oom Max memang bercakap2 dengan beliau sampai larut malam, dan mungkinlah hal ini yang menyebabkan hal ini terjadi. Museumnya seru2 juga nih....wah.....lucunya kita sampai kesebuah galeri dan melihat contoh2 paru2 manusia. Ini yang sehat...ini yang perokok ringan....ini yang perokok kelas berat. Walah.........bedanya.....jauh.....ketika pak Pram melihat, saya bilang, "Kalau ini gimana pak?" Tersenyum saja beliau....ujarnya "Resepnya Vitamin C yang 500 setiap hari dan olahraga." Dan memang kalau dilihat, sehatnya luar biasa pak Pram ini.........perokok berat, namun kesehatannya terjaga. Muter2 dan pak Pram tiba2 hilang melalang buana sendiri. Panik juga kalau tahu pak Pram hilang....berkatalah oom Jusni padaku kalau memang beliau hidup di dunianya sendiri, dan tak terganggu dia disana; Jadi jangan heran kalau hal2 ini terjadi. Sebuah dunia dan dimensi sendiri yang dimiliki oleh sang Pramoedya....jadi berputar kepalaku, memandang kesegala arah mencari beliau....dan terlihat akhirnya kalau beliau ada dilorong bagian depan galeri itu, dengan tangan terlipat kebalakang...dan memandang matanya ke atas..... "Andaikan aku bisa masuk ke duniamu itu pak Pram....sekejap saja.....hendak kutahu apa isinya."ujarku dalam hati. Jalanlah kami kesisi bagian samping museum ini, karena rupanya sudah ngak tahan mereka hendak menyalurkan hajat....rokok...ya sudah...kami duduk2 dan mulailah menyala rokok2 kami. Aku hari ini ikutan ah.....udah ngak tahan...seharian kemarin tak tersalur, hari ini keluar juga diet asliku ini. Oom Jusni yang tadinya mengira aku sehat....tak nyana "terkagum2" melihat pula hobiku ini. Ah...kan sudah dapet resep..........vitamin C 500 dan olahraga... :-) Ah.....mulailah keluar bahan2 diskusi antara kami semua. Sudah kutulis dahulu, ajang merokok itu bukan hanya rokok, itu sebuah cara dari kami untuk berdiskusi.....dan memang jadi juga sekarang. Pak Joesoef bilang kalau di pulau Buru, rokok itu sebuah jalan keluar dari kepenatan. Pertanyaan yang ditanya soal darimana dapet tembakau, ya dari kiriman atau yang kita tanam. Pak Joesoef menambahkan bahwa kertas buat rokok itu yang paling enak dari kertas alkitab.....walah......seru juga ini. Pak Pram tersenyum dan bilang bahwa kan hanya buku2 keagaamaan yang tersedia...dan itu kertas india..tipis....enak buat rokok.....ngak ada kertas lain yang tersedia, itulah yang digunakan. Berpikirlah daku bahwa untuk stay survive.....apapun jadi jalan keluar, dan inilah sebuah cara dari mereka untuk menyelamatkan hidupnya. Mengingat cerita pak Pram kalau salah seorang tawanan tertangkap dengan secarik kertas koran tua yang dipungutnya dari atas tanah,yang bekas pembukus paku......dan beberapa hari kemudian, ditemukanlah beliau ini....tangan terikat, mengapung diatas sungai..........mati....... hanya secarik kertas tua.....hilanglah sebuah anugerah Tuhan yang terbesar...jiwa kita...... Oom Jusni bertanya soal pulau Buru dan masalah2 kecil lainnya. Bagaimana naskah2 Buru Kuartet itu selamat? Jawaban yang sangat menarik bahwa oleh Gereja Katolik-lah semua ini selamat. Romo Rovink, seorang pastur Jerman yang berjasa menyelundupkan naskah2 ini ke Jakarta dan kemudian diterbitkan di Belanda. Cerita ke "gendengan" sang romo, dimana tertinggal oleh kapal laut yang membawa mereka pulang, beliau buka jubah dan loncat ke laut, mengejar kapal itu.....berenang tentunya, menimbulkan rasa kagum. Tambahan ibu Maemunah tentang postur sang Romo yang tinggi besar, menambah pula kekaguman diriku atas beliau......"Sangat berjasa," itu saja yang bisa kuucapkan. Wah....sudah saatnya makan siang dan oom Jusni berkeputusan kita akan makan disebuah restoran. Alamak......restoran maut.....Jepang. Ini kalau ditempatku...makanan kedua termahal sesudah makanan Prancis. Melihat menu2 yang tersedia dan harganya, berjalanlah kalkulator alamiahku... otak, dan ...astaga naga.......dengan harga segitu, boro2 bisa kenyang....cuma seemprit aja dapetnya ditempatku, sementara disini dapat full meal. Dari appetizer sampai dessert........dan timbullah caci maki dalam hatiku..........dan sekarang aku vegetarian...nice job boy...... Ngak lah para pembaca...bercanda saja...tidak ada cacian itu dalam diriku. Oom Jusni kuberitahu soal bagaimana anak2 Indonesia di tempatku rela lari ke Canada demi makanan2 ini........terkagum2 juga beliau. Wajar saja.....ini surga....astaga....seru banget. Pak Joesoef yang berkomentar, ngak bakal dapat makanan2 kayak gini di Indonesia...kemahalan....ya mau dibilang apa, semoga saja keadaan akan berubah. Pak Pram kulihat diujung sana........waduh....kok makannya lahap ya? Tak seperti biasanya beliau yang kalau makan sedikit sekali, kali ini lahap. Aku tak habis berpikir karenanya. Setelah itulah aku ketahui dari oom Jusni tentang mentega bawang putih yang digunakan, dan pak Pram suka sekali dengan yang satu itu...bawang putih.....bagaimana ngak sehat, kegemarannya makan bawang putih. Setelah selesai makan siang kami, kami akan kembali ke hotel untuk membiarkan mereka mendapatkan istirahat. Setelah selesai makan, apa lagi yang kurang... ya rokok....aku dan oom Max sudah menyulut dari tadi, sementara pak Joesoef dan pak Pram menyusul setelah kami. Sementara mereka bincang2, aku ngobrol2 dengan ibu Maemunah. Keinginan baliau untuk pulang menemui anak2nya, dan ingin sekali membeli hadiah buat mereka, namun setelah melihat mereknya...yah...."Made in Hong Kong". "Apa bedanya beli di Indonesia dan di sini kalau demikian?" kata ibu. Jawabanku ke ibu ya setengah bercanda... kapitalisme tuh....tapi kalau seperti kami ini yang tinggal disini, mau ngak mau ya harus beli...kalau ngak, mau pakai apa? Berceritalah aku kalaua beli kemeja putih di sebuah toko, bagus dan tak terlalu mahal. Sesampai dirumah...ternyata "Made in Indonesia"......apakah aku yang terlalu cinta dengan barang2 negaraku, atau negara inikah yang cinta ke Indonesia. Sang ibu......memang tugas seorang ibu untuk melindungi anak2nya. Berceritalah soal honor bapak dari Time magazine untuk menulis, yang segera dikirim ke rumah, untuk mensupport anak2nya....contoh kecintaan dari orang tua. "Masih di tempat yang sama bu tinggalnya?" tanyaku. "Iya tuh Fred." kata ibu. Ah...sambil mengenang masa laluku dan bercerita pulalah pada ibu, ketika pertama kalinya aku mendapatkan alamat mereka di jakarta. Keinginan yang sangat besar untuk bertemu beliau, terkubur karena ketakutan orang tua yang wajar saja bagiku...kecintaan pada anaknya...itulah dasar dari argumen orang tuaku, yang walau tak terucap, dapatlah kurasa. "Ibu takut Fred....bapak ngak bisa pulang...kalau ditahan di Airport gimana?" tiba2 ibu bertanya. "Ditahan di airport, berarti tidak boleh masuk Indoensia ya bu....ya ibu dan bapak harus keluar lagi dari Indonesia." ujarku. "Aduh........bagaimana dengan anak2 ...siapa yang menjaga?" ujar ibu, membuat hatiku merenung......sedemikian sukarkah kehidupan dari sang pujangga....hanya hendak mengatakan kejujuran, tersapu segala hak-hak mereka sebagai manusia. Sang adi kuasa......kuharap Indonesia dengan Pemilu yang akan datang menjadilah negara yang mementingkan rakyatnya, dan tentunya berubahlah pandangan mereka...terhadap kaum2 yang tertindas dulunya oleh pemerintahan yang lama.
[Bersambung ke cerita keenam belas]
Buffalo, NY
|