BACK

Cerita Keenam belas

Ah......perut kenyang, sekarang tinggal istirahatnya saja. So, mengemudilah aku membawa rombongan ini kembali kehotelnya, dan membiarkan mereka istirahat sejenak sebelum acara selanjutnya, penandatanganan buku pak Pram disebuah toko buku di downtown Toronto.

Oom Max ternyata sudah harus kembali ke NYC, dan dihotel kami mengucapkan selamat jalan. Melihat waktu yang serba mepet, tampaknya tak ada kemungkinan untuk kami memberikan antaran, jadinya taksilah yang jadi jalan keluar. Setelah bercakap2 sejenak dengan oom Max, dan beliau bilang kalau ke City mampir2, apalagi tempat tinggalnya sudah sepi sekarang tanpa anak2, aku bisa saja mampir anytime kesana. Sehabisitu, kembalilah kami sejenak ke rumah, untuk istirahat dan sesudahnya berangkat kembali bersama2 ke Toronto downtown.

Sedikit macet memang jalanan, dan cuaca yang agak panas membuat kami gerah semua. Mobilku yang tanpa AC memang demikianlah, harap saja dimaklumi. Tak sampai setengah jam, sampailah kami ke toko buku tersebut. Letaknya yang di Queens Avenue, memang merupakan pusat jantung kota metropolitan ini. Pages bookstore namanya, dan memang posisinya yang agak mojok membuat kami sedikit sukar menemukan, walau akhirnya ditemukan juga.

Kecil2 mungil juga toko ini, walau harus dibilang koleksinya lumayan juga. Melihat buku karya pak Pram, The Mute's Soliloquy dan juga kuartet Buru dipajang dietalase dan atas meja, aku jadi bangga sebagai seorang Indonesia. Seorang putra bangsa bisa maju ke dunia internasional, dan bahkan sangat dikenal dikalangan para pembaca dunia. Sayang yang disayang, sang putra tak dapat kerasan dirumahnya sendiri...tragis, namun kuharap dapatlah berubah segala ini. Kuharap disuatu hari nanti, dapatlah aku membawa anak atau cucuku ketoko buku ditanah kelahiranku dan berkata, "Lihatlah.....itulah simbol kebebasan" ....sambil menunjuk ke karya2 pak Pram, terutama karyanya seperti Buru Kuartet.

Kebebasan sebagai manusia....itulah pusat dari tulisan seorang Pramoedya. Humanitas.....ketenggangan rasa dan kerakyatan.....itulah formula seorang Pramoedya. Alangkah tragisnya kala sang adi kuasa tak mampu menerima hal ini. Kekuatan kata-kata yang diucap...Marxisme...Sosialime....komunis.....melangkahi semua jalan pikiran rakyatnya sampai tertutuplah semua jalan untuk berpikir tidak kesana. Pengkorupsian kata-kata yangs sangatlah mudah dilakukan, namun mengakibatkan lumpuh dan pincangnya pandangan seluruh rakyat.

Mengapa demikian?

Ah.....kurasa satu jawabannya,.....sang adi kuasa takut akan satu kata.....KEMERDEKAAN.

Tidak ada kata itu dikamus mereka. Mereka takut karena kalau orang2 berpikiran merdeka....habislah mereka semua. Terbukalah topeng dan tabir yang mereka gunakan untuk menyelubungi dirinya selama bertahun2 dihadapan kita......terlihatlah semua kebobrokan mereka.....itulah apa yang mereka takutkan...kemerdekaan. Karena itulah, tabir Marxisme- Sosialisme dan komunis digunakan oleh mereka, karena kata2 itulah saja yang mereka tahu.

Kembalilah daku kealam nyata kala Celine menegur aku dari samping. Setelah bercakap2 sejenak, kami memperhatikan pak Pram yang sedang duduk disana dengan pena Boxy-nya yang berwarna biru untuk menandatangani buku2 yang diberikan padanya oleh para penggemar. Tak terlalu ramai memang, namu lumayanlah. Memperhatikan pak Pram yang diam2 saja, kudekati dan kutawari minum yang disambut dengan kata mau. Kutuang segelas juice untuknya dan minumlah dia dengan segera. Ibu Maemunah yang berdiri saja disamping bapak kuhampiri dan kutawari pula, namun jawabannya tidak untuk saat ini.

Tiba2 saja ada seorang Tiong Hoa yang datang dan mulai mempotret pak Pram.Oom Jusni datang ke pak Pram dan bilang kalau ini ada wartawan2 dari sebuah surat kabar Tiong Hoa di Canada dan mereka mau interview pak Pram. Aku ditunjuk menjadi penerjemah, dan tentu saja segera aku tanggapi. Kudekati pak Pram dan bertindaklah daku sebagai mediator...sebuah jembatan yang menjadi tempat lalu langkah dua dunia dalam dua bahasa yang berbeda.

Berikut adalah wawancara itu, yang semuanya segera saja kuterjemahkan kedalam bahasa yang bersangkutan.

PAT: Pramoedya Ananta Toer
W: Sang wartawan

    W: Selamat sore bapak.

    PAT: Oh...sore juga.

    W: Bagaimana kabar bapak, apakah bapak menikmati kunjungan ini?

    PAT: Oh iya......senang saya.

    W: Saya mau tahu, apa pandangan bapak tentang keadaan di Indonesia, terfokus kepada kerusuhan tahun kemarin di bulan May, dimana kaum Tiong Hoa teraniaya.

    PAT: Begini.......itu adalah akal dari si penguasa. Mereka tidak mau rakyat tahu siapa yang melakukan perampasan hak-hak mereka.

    Harto itu biang keladinya. Mereka tidak mau rakyat tahu kejadian sesungguhnya, tidak mau rakyat tahu siapa saja yang selama ini menggarongi harta Indonesia. Karenanyalah timbul kejadian itu, untuk mengalihkan perhatian dari kejadian yang SESUNGGUHNYA.

    W: Jadi semua ini adalah masalah menutupi?

    PAT: Bukan hanya masalah menutupi, ini seperti gali lubang tutup lubang.....satu kebohongan ditambah oleh kebohongan berikutnya dan berikutnya. Akan digunakan taktik ini terus oleh mereka, selama rakyat masih berusaha berpikir ke arah yang sesungguhnya.Makanya, jangan mau jadi ternak saja...digiring kemana2. Harus bisa ngomong.

    W: Apakah bapak memperhatikan secara langsung kerusuhan May lalu?

    PAT: Iya.

    W: Waktu kerusuhan bapak berada dimana?

    PAT: Saya berada dirumah saya, mengamati.

    W: Karya2 bapak apa saja yang sudah pernah diterjemahkan kebahasa asing?

    PAT: Banyak....termasuk kuartet Buru, Nyanyi Sunyi Seorang Bisu, dan lain-lainnya. Ada juga yang diterjemahkan ke bahasa Tiong Hoa.

    W: (Dengan muka terkejut) Oh ya....apa saja pak?

    PAT: Bumi Manusia, Anak Segala Bangsa (sambil menunjuk kearah buku2 tersebut diatas meja), juga Keluarga Gerilya dan Cerita dari Blora.

    (Si Wartawan minta aku nulis ke bahasa Inggris karya2 itu, terutama dua yang terakhir)

    W: Apakah bapak sudah pernah ke RRC?

    PAT: Ya sudah...3 kali tepatnya. (Menyebut 3 angka yang berkisar tahun 50-an)

    W: (Melihat ke aku) Bisakah menuliskan nama pak Pram?

    (Memberikan aku pena dan secarik kertas dan segera aku tulis. Kulihat sang wartawan dan rekannya berusaha menerjemahkan nama pak Pram ke bahasa Tiong Hoa, Cantonese tepatnya dan kuberi tahu hal ini ke pak Pram)

    PAT: Loh....kan ada nama Tiong Hoa saya...terjemahannya.

    W: Oh ya....apa?

    PAT: Wah.....saya lupa. Ngak inget.

    W: Terima kasih sekali bapak atas kesediaannya.

    PAT: Terima kasih

"Bung..mesti ke WC nih." kata pak Pram, dan segera saja aku bawa beliau ke belakang, yang letaknya pas juga dengan ruang simpan buku2 ditoko itu. Seorang nona yang merupakan karyawan toko itu kutanya dimana wc-nya dan segera saja menunjukkan dimana lokasi tepatnya. Kuberbincang-bincang sejenak dengan mereka, terutama setelah mereka bertanya sedikit tentang pak Pram. Ya aku jawab saja secara garis besarnya, dan apalagi mereka agak fokus ke masalah penjara, jadi ya aku jawab2 saja. Tak lama pak Pram selesai dan kami keluar lagi menuju meja itu, kembali bersiap menanda tangani buku2 lagi.

Datang pula wartawan selanjutnya yang dari majalah Katolik. Karena mbak Sil sudah tiba, berpindahlah tugas penerjemah ketangan dia. Aku berdiri disamping oom Jusni dan oom Jusni bertanya soal wawancara yang tadi, dan aku bilang saja kalau fokusnya lebih menuju ke kerusuhan mei ketimbang karya2 pak Pram, yang disambut dengan anggukan kepala olehnya.

"Omong2, kemana nih opaku?" kataku dalam hati. Kuputar2 toko itu dan kuberusaha mencari dia. Akhirnya aku melangkah keluar dan ternyata benar juga, pak Joesoef sedang merokok sendiri di perempatan jalan. Segera kuhampiri dan aku keluarkan sebatang rokok untuk menemaninya yang segera dinyalakan oleh pak Joesoef.

"Rame sekali..." katanya. "Iya pak.." kataku, "Kota gede sih." tambahku.

"Lagi ngapain mereka didalam?" kata pak Joesoef.

"Masih wawancara pak, dan juga nanda tangan tuh." yang segera disambut oleh anggukan kepala oleh beliau.

Wah....kami berdua berdiri dipojokan jalan..memandang kesegala arah, melihat orang2 yang berlalu lalang dihadapan kami. Kulihat seorang gadis yang sedang melihat2 bunga didepan kami persis, dan bunga yang dipilihnya memang indah. Kuterbayang kebebasan yang dimiliki sang nona......ah.....berjuta-juta rakyatku juga memimpikan hal yang sama....kapankah akan terpenuhinya?

"Apa acara habis ini?" tanya pak Joesoef.

"Ramah tamah dengan orang2 Indonesia disini pak, dan kayaknya ada makan2 juga." kataku.

"Hem...masih kenyang saya....tadi siang makan banyak." ujarnya.

"Sama pak....."

Kembali lagi kami menghisap rokok masing2, mengepul asap yang putih bagai kapas warnanya. Teringat apa kata pak Joesoef soal rokok....."Inilah yang bisa kami lakukan di penjara....kalau tidak begini, bisa gila."

Oh Tuhanku.....Betapa bersyukurnya aku bahwa aku bisa menghembuskan kapas-kapas itu dialam merdeka diriku. Tak terbayang diriku bila aku berada diposisi seperti yang dialami oleh para tahanan-tahanan politik terfokus kepada pak Pram dan pak Joesoef.

Hembusan terakhir menandai bahwa habislah riwayat si kapas, dan bumilah sekarang tujuan mereka. Melempar si puntung, memijaknya...satu lagi penghapus dahaga kami berjasa pada kami. Sepuntung rokok.....terpikir olehku jasa sebatang rokok.....tak ada artinya barangkali bagi beberapa, tapi yang pasti itu berarti bagi beberapa.

Melangkah kaki kami masuk ke toko buku itu, mataku melihat ke etalase dan tak nampak pula pajangan2 buku pak Pram lagi....bagai kacang goreng larisnya kumpulan2 kata2 sang pujangga. Berberes-beres kami didalam, tujuan berikut adalah Mississauga, tepatnya Wisma Mega Indah dimana kami berharap untuk bertemu muka dengan para saudara2 setanah air kami.

[Bersambung ke cerita ketujuh belas]
[Kembali ke cerita kelima belas]

Buffalo, NY
June 24, 1999

BACK