/hr size=2>
![]()
Jam waktu pulang kerja orang2 di Toronto membuat jalanan menuju ke Wisma Mega Indah itu lumayan padat. Kami hanya bisa menunggu saja diatas mobil, berharap agar bisa lebih lancar nantinya. Mbak Sil yang membuntuti kami dari belakang, alias konvoi, membuat kami harus lebih perlahan dalam mengemudi, agar tak hilang arah mereka. Sampailah kami ke wisma itu akhirnya. Mendengarkan penjelasan oom Jusni bahwa tempat ini (Mississauga) dijuluki Kampung Melayu karena banyak orang Indonesianya, membuat kami berdecak2 juga. Setelah itu pula mendapatkan informasi kalau wisma itu adalah subsidi dari negara, jadi lebih murah biaya tinggal disana, semakin membuat diriku bertambah heran saja akan kemurahan hati negara satu ini. Ah...sudah padat sekali tempat ini...........kumpulan2 diujung sana, dan bisa kudengar kalau mereka itu orang2 Indonesia semuanya (karena bahasa tentunya.) Tersenyum para hadirin dan membuka jalan mereka untuk rombongan ini; Tamu kehormatan sudah tiba...apa yang bisa dikata? Dibuka oleh sambutan dari oom Ham Go (CCEVI), langsung saja acara dimulai dengan apa yang ditunggu oleh semua.....makan.... :-) Hasil karya kerja bakti para pirsawan, Potluck istilah Inggrisnya, tersedia sudah diatas meja. Pak Pram, ibu dan pak Joesoef sebagai tamu kehormatan diberikan tempat termuka untuk mengambil hidangan, dan segera saja disambut oleh mereka dengan senyuman yang sangat hangat. Mengantrilah kami bersama, dan kudengar beberapa ibu berbicara dalam bahasa Belanda didepanku. Iseng2 aku nimbrung dalam bahasa Belanda mengenai apa yang mereka bicarakan, dan mereka membalas dengan tawa bahwa bahasa Belanda mereka boong-boongan, dan tak mengertilah daku mengapa mereka berkata demikian, karena mereka menggunakan bahasa itu dengan bagusnya. Berlangsung sekitar satu jam, selesailah acara santap malam ini, dan acara utama yang ditunggu2 sudah tiba......acara bincang2 yang disambung dengan tanya jawab. Sebagai pembuka acara adalah pak Joesoef dengan membicarakan sekelumit bagian dari proses terciptanya buku “Nyanyi Sunyi Seorang Bisu” dan bagaimana pula kesulitan2 yang mereka dapatkan dari pemerintah kita. Bagaimana cerita bahwa pak Pram menemukan naskah2 dari buku ini dari kumpulannya yang terlupakan, dan lalu diberikan ke pak Joesoef. Segera dikenali oleh pak Joesoef bahwa itu adalah karya pak Pram, dari cara pengetikan yang satu spasi dan rapat2, naskah2 itu diminta di edit dan dilihat apakah layak diedarkan. Setelah selesai membaca tulisan itu, pak Joesoef tahu bahwa ini adalah sebuah master piece, dan HARUS diterbitkan. Rapih tertulis dan sudah diedit, dikirim sebuah kopi ke negeri Belanda dimana buku ini diterbitkan disana. Tragis kata beliau bahwa sebuah karya sastra yang sedemikian hebatnya harus terbit dulu dalam bahasa tetangga ketimbang bahasa ibunya. Namun, itulah langkah yang harus diambil pikirku. Tanpa melakukan hal ini, mungkin tak akan terbitlah sama sekali karya ini. Suatu hal yang unik bahwa buku ini terbit dalam dua jilid karena disebabkan “kecelakaan” dari pak Pram. Setelah beberapa saat, ditemukan oleh beliau lebih banyak naskah2 lainnya. Melalui proses yang sama, terbitlah jilid kedua dalam bahasa Belanda. Hal ini sangat tidak disengaja, melihat dari edisi bahasa Inggris yang hanyalah satu buku saja. Diteruskan bahwa pada ulang tahun pak Pram ke tujuh puluh, datanglah keputusan dari beliau.....”Terbitkan” dan terbitlah edisi bahasa Indonesia yang tentu saja segera dibredel oleh sang kuasa. Ah....kuingat kala itu.....kuingat kulihat buku itu pertama kalinya dirumah seorang kenalanku dengan inisial AS, seseorang yang pernah duduk dikursi pemerintahan, namun tersingkir pula karena kevokalan beliau Cerita yang sudah kudengar dari pak Joesoef sendiri mengenai proses interogasi karena penerbitan Bumi Manusia diceritakan kembali oleh pak Joesoef. Sebuah pertanyaan dari pak Joesoef bahwa bagian mana yang mencerminkan Marxisme, sosialisme dan komunisme tidak segera terjawab. Tantangan untuk membuktikan hal ini dengan mengundang para ahli2 politik, antropologi, sociology dari negara2 netral tak digubris. Akhirnya keluarlah kata2 yang sangat memukul (untukku) dari mereka. “Tidak bisa diidentifikasikan baris mana yang mencerminkan Marxisme...namun dapat kami rasakan hal ini ada disana.” Rasakan????? Dan mereka adalah manusia pilihan dari rakyatku untuk menjalankan kesejahteraan bangsa kami. Rasakan???? Akhirnya keputusan yang diambil oleh pak Joesoef tercermin dalam perkataan beliau, “Terorisme dari KEBODOHAN (atau keterbelakangan) lebih kejam dari fitnah dan pembunuhan.” Lebih tragisnya lagi kala pada akhirnya beliau terpaksa menandatangani surat interogasi, semua interogator tersenyum tanda kemenangan, sementara seorang interogator memberikan sinyal ke pak Joesoef untuk melihat kebawah meja dan ....... sebuah ancungan jempol terlihat olehnya. “Buku Pram FANTASTIS. Luar biasa. Apakah anda punya sebuah kopi lagi? Istri saya belum membacanya. Bisakah anda kirimkan kerumah saya? Semua orang harus baca buku ini.” Tak habis berpikir pak Joesoef akan apa yang diucapkan, si interogator menambah lagi, “Anda harus mengerti pak Joesoef, ini perintah dari yang diatas. Kami ini dilantai empat, masih ada lagi lantai kelima dan keenam, para boss yang duduk dimejanya. Sayapun yakin mereka merasakan hal yang sama..menunjuk sesamanya, sampai menunjuk kesamping juga, para boss yang berada di gedung lain.” Pak Joesoef merasa tersiksa akan siksaan keidiotan para interogator, namun disadari juga olehnya bahwa merekapun merasakan hal yang sama atas boss2 mereka yang lebih bodoh lagi. “Disinilah saya mau mengucapkan banyak pula terima kasih kepada gereja Katolik, yang mana tanpa bantuannya, tak akan ada yang namanya karya2 ini.” ujar pak Joesoef tentang bagaimana Romo Roving membantu menyelundupkan naskah2 itu keluar dan juga bagaiman bantuan2 kepada para Tapol dan terutam pak Pram dipulau Buru oleh para misionaris. Bahasan dari karya2 pak Pram teralih juga kemasalah kericuhan bulam Mei tahun lalu yang mencederai kaum keturunan. “Saya ini punya besan.....orang Tiong Hoa” ujar pak Joesoef. Terkejutlah aku mendengar bahwa yang dimaksud adalah pamanku dan dapat kurasakan pula keterjutan para pirsawan diruangan itu. “Sekarang saya merasa ditengah-tengah keluarga sendiri saja bersama anda semua,” kembali ujar pak Joesoef yang disambut dengan menunduknya kepala beliau tanda keprihatinan dan kulihat pula keheningan dari para hadirin akan masalah ini. “Sudah terlalu jauh dari tema saya bicara......mau ngomong soal karya bung Pram, malah jadi sejauh ini. Maafkan saya.” ujar pak Joesoef yang mengakhiri sepatah katanya, disambut dengan tepuk tangan bergemuruh dari hadirin. Giliran pak Pram sekarang dan sudah ditunggu2 oelh semua. Pak Pram bicara banyak tentang kehidupan beliau...di pulau Buru...setelah dilepasnya beliau, proses penerbitan2 buku. Dari semua yang dibicarakan, saya rasa yang paling penting dan harus ditekankan adalah pendapat beliau tentang kaum minoritas keturunan yang berada di Indonesia. Bahwa bukan hanya kaum keturunan, namun semua orang Indonesia tidak boleh takut terhadap kekuasaan. Apa yang disebut pak Pram sebagai, “Bukan hanya menunduk..namun sampai berlutut ke tanah, bahkan sampai tiarap dibawah kaki penguasa,” sangatlah mengena dihati ini. Selama berada di negaraku, kulihat dengan mata kepalaku sendiri...dan kusadari bahwa itulah yang terjadi, namun tak ada satupun jua yang berucap, karena bayangan apa yang akan terjadi jika mengucap menutup segala pintu bagi kami. Mendiskusikan masalah keturunan, terbahas pula masalah “Hoa Kiau di Indonesia,” buku yang secara langsung membela kaum keturunan atas peraturan PP 10/59 yang mana militer memerintahkan para kaum keturunan dari desa2 untuk pindah.....tapi apa yang terjadi karena menulis buku itu? Penjara menjadi jawabannya. Tercerita olehnya kuasa sang penguasa yang “mengamankan” beliau seketika setelah beliau kembali dari sebuah perjalanan ke luar negeri, hilang selama berbulan2, dan sampai ibu Maemunah sebagai istri berlari kesana-kemari mencari sang pujangga. “Dan orang yang mengamankan saya itu malah menjadi wakilnya Harto kemudian...namanya Sudharmono....” kata pak Pram yang disambut oleh keterkejutan para hadirin semua dan terdengar dari mana2 suara2 yang mengatakan...”Oh....ternyata...dia....” dari para hadirin. Ah...aku sudah menunggu2 sejak dari awal kala pak Pram menyinggung “Hoa Kiau” di Indonesia, bahwa akan terbukalah siapa yang menjadi biang keladinya. Disambunglah oleh beliau bahwa akhirnya fitnah keluar untuknya, bahwa beliau mau melarikan diri, dan Cipinanglah yang menjadi tujuan beliau sekarang atas dasar perintah dari Nasution. Sebuah keunikan nantinya kala beliau dilepaskan atas perintah Nasution, bersama2 para pelaku Permesta untuk hadiah kembalinya Irian Barat kepangkuan pertiwi, sementara beberapa tahun sebelumnya, orang yang sama...Nasution memberikan penghargaan pada beliau untuk jasa2nya dalam membantu tertumpasnya gerakan itu. Tanya jawab menjadi sesi yang sangat menarik karena bisa dilihat bagaimana para hadirin yang malu-malu secara perlahan berubah arahnya dan mereka menjadi lebih berani dalam bersuara. Apa yang dikatakan oleh pak Pram, “Jangan mau jadi hewan ternak...digiring kemana2 saja mau,” menjadi kenyataan malam itu, kala mereka semua berlomba2 membuka mulut mereka, berusaha melepaskan dahaga mereka yang selama ini tertahankan oleh keadaan. Pertanyaan seperti “Apa yang akan pak Pram lakukan kalau pak Pram menjadi presiden?” dijawab oleh beliau dengan kerendahan hati yang luar biasa..... ”Presiden....wah.......ini kalau ya...” disambut oleh tawa para hadirin. Disambung olehnya, “Kalau saya jadi presiden, akan saya ciptakan pemerintahan desa.” Jawaban yang sangat menarik karena itulah memang ide yang sangat menarik. Dihari2 sebelumnya kala aku membahas pandanganku tentang negara serikat pada mereka dan pandanganku bahwa tidak bisa atau belum saatnya Indonesia dijadikan negara serikat ,disambut dengan pak Pram dan Joesoef bahwa ide tentang negara serikat tidaklah pantas untuk Indonesia. Sekarang saja sudah banyak kericuhan disudut2 negara kita, bayangkan jika setiap daerah diberikan kekuatan...bisa terjadi perpecahan. Karenanyalah cara terbaik adalah mengalakan sebuah pemerintahan yang kuat dasarnya, pondasinya........dan pemerintahan desa dan naik terus keatas adalah salah satu cara jitu. Banyak pertanyaan2 yang lainnya, tapi adalah sangat istimewa bahwa sebuah pertanyaan jatuh kepada ibu Maemunah.......bagaimana beliau dapat menjaga rumah tangga mereka kala pak Pram sendiri tak aa ditengah2 mereka. “Ya saya jualan es mambo...kan waktu itu sedang ngetop.....” jawaban ibu ketika ditanya soal cara membiayai kehidupan mereka. Kala ditanya bagaiman perasaan beliau tanpa pak Pram, “Sedih ya sedih......kalau nangis itu malam2, biar anak2 ngak lihat...........kesihan mereka,” jawaban sangat sederhana namun sangatlah penuh makna.”Berapa anaknya bu?” tanya seseorang. “Delapan..........” jawab beliau, dan aku yang berdiri disamping seorang anggota CCEVI mendengar dia bicara ke aku kalau sangatlah mulia beliau. Anak ibu bersama bapak adalah lima, dan 3 berasal dari pernikahan pertama bapak......namun mereka tetap merupakan keluarga. “Ah.....ada jua orang yang berpikir kesana,”...kataku dalam hati. Selesailah acara malam ini yang sangat bermanfaat bagi kami semua. Sebuah diskusi bermutu terjadi malam ini, dan ku dapat melihat perubahan cara berpikir yang sedikit demi sedikit mulai terlihat. Sedikit-sedikit lama-lama jadi bukit.............itulah harapan kami.
[Bersambung ke cerita kedelapan belas]
Buffalo, NY
|