/hr size=2>
|
Ah.......pagi hari tiba kembali. Suatu kala dimana jiwa dan raga bersama-sama bangun menyongsong sebuh hari dan kehidupan yang baru, merupakan suatu anugerah dan pula tantangan dari kehidupan yang besar dan penuh dengan makna.Hari inipun adalah hari yang sama......udara sejuk bersih terasa dan mentari yang menyinarkan belaian-belaian sinarnya dengan manja, bagaikan tersapu oleh selendang halus lembut ragaku. Lamunan pagi hari.......terpecah dengan panggilan tante Cecil yang segera minta aku sarapan. Betul2 mereka tahu cara merawat si buyung satu ini yang sedang terombang ambing jiwanya akan segala apa yang dijalaninya dalam beberapa hari ini. Kehidupan yang berjalan, detik demi detik sengaja kuhitung, agar tak terlupakan diriku betapa beruntungnya aku mendapatkan detik demi detik ini. Kuharap dapatlah suatu kala nantinya aku memberikan dan membagikan pengalaman-pengalaman detik ini kepada rekan sesamaku walau kadang kala kuterpikir kalau masih terlalu pagilah hal ini untuk kulakukan. "Morning......sudah sarapan belum?" terkejut diriku sejenak oleh sapaan oom Jusni yang membuyarkan lamunanku. Tanganku yang basah karena sedang membantu tante Cecil mencuci piring2 segera kubersihkan dan aku segera duduk bersama oom yang satu ini. Membahas apa yang akan dilakukan hari ini, ada tiga acara rupanya. Pertama adalah sebuah diskusi meja bundar yang akan membahas masalah "Pluralism and Social Changes: Canada's Role" yang lalu akan diteruskan dengan acara May Memorial di Metro Square dan yang lalu disambung dengan acara Dinner Reception untuk mengumpulkan dana bagi masyarakat Indonesia yang terkena dampak kerusuhan tahun lalu. OK.......siaplah semua, dan berangkatlah kami menuju ke hotel untuk menjemput mereka semua. Ah........memang pagi yang cerah..........sesampai kami disana, mereka semua masih duduk sarapan direstoran bawah. Oom Jusni membahas apa saja yang akan dilakukan hari ini dengan mereka, sementara aku membantu ibu untuk mengambil beberapa barang yang tertinggal dikamar atas. Tak lama, mulailah kami bertolak menuju ke tujuan pertama, sementara ibu dan tante Cecil pergi ketempat lainya yang aku sendiri kurang jelas kemana. Sepinya jalanan kalau dihari sabtu, pagi pula..membuat hatiku lega.......setidaknya tak perlu aku mengumpat2 dalam hati kalau jalananan macet. Sesampai disana, dapat pula tempat parkir yang tepat berada didepan gedung itu, memang benar2 akan sempurna jalannya hari ini kataku dalam hati. Pak Joesoef dan pak Pram yang hadir disini diminta untuk membagi pengalaman mereka selama menjadi Tapol dan apa yang sedang terjadi dan sudah terjadi dimasa kala Orde Baru masih berkuasa. Satu demi satu kisah2 terurai dari mereka, membuat diriku melayang dalam lamunan diriku, yang membayangkan jika aku yang berada diposisi mereka......"Astaga....berat sekali kehidupan itu," ujarku dalam hati. Melewati segala hal tersebut, bisa membuat orang menjadi bertambah kukuh, bijaksana dan tabah seperti kedua tamu kami ini, atau hancur lebur dan bahkan binasa tak berbekas setitik jua....bagaikan debu2 saja yang terhembus hilang oleh sang angin yang punya kuasa. Intinya pembicaraan ini adalah.......perananan Canada kepada Indonesia dan difokuskan oleh pak Pram dan pak Joesoef dalam hal meng-supply senjata2 ke bala tentara negara kita. Bagaimana tidak akan selesai masalah injak-menginjak ini kalau mereka teru menerus memiliki sang aji pamungkas untuk menghancurkan atau menekan para rakyat yang jelata. "Hentikan ini..." itu ujar pak Pram dan pula diberikan hal yang sama oleh pak Joesoef. Aku tak tahu apakah orang2 yang lain pernah berpikir kearah sana, namun diriku secara jujur mengakui bahwa tak pernah aku berpikir bahwa siapa yang memberikan aji pamungkas itu. Tak aku pikikan bahwa inilah peranan sang tokoh2 dibalik layar.......tersenyum terpikir, namun tenyata tidak.....bahkan garis2 kemautan yang malah tersurat dari segala penampakan mereka. Terbukalah setidaknya mataku kembali hari ini, dan kuharap mereka2 ini yang hadir, yang secara langsung dapat menghadapi sang kuasa disana, dapatlah meneruskan sambungan lirihan dari manusia2 Indonesia, yang diberikan oleh dua nama yang mewakili mereka disana....Pramoedya Ananta Toer dan Joesoef Isak.............namaun sayang pula kala aku berpikir kalau mereka pun banyak tak dikenal oleh rakyatnya sendiri, namun aspirasi tetap menjadi sesuatu yang berada diatas bahu mereka.........dengan atau tanpa pengetahuan dari masyarakat awam. Selesailah acara kali ini dan sudah saatnya waktu makan siang. Kami semua berjalan keluar dari gedung itu, dan sementara kami berpikir hendak kemana, sang Pram mulai masuk lagi kedunianya dengan berjalan sendiri denagn arah lurus menuju sebuah kotak besi diujung jalan sana. "Ngapain tuh pak Pram?" tanya kami, yang kemudian tak perlu mendapat jawaban, terlihat bahwa beliau mau membuang kaleng Pepsi yang diminumnya dan kotak besi yang dikiranya bak sampah itu, ternyata adalah sebuah pos listrik. Tersenyum aku melihat kala akhirnya si pujangga meletakkan kaleng itu diatas kotak listrik itu, seperti mau bilang, "Nipu gue lu........sekarang gue kerjain balik lu." Berjalanlah kami menuju sebuah kedai kecil dijalanan itu, dan sementara oom Jusni dan mbak Sil mulai memesan makanan yang sekiranya akan dinikmati oleh mereka bersama pak Pram dan pak Joesoef, pak Pram melangkah keluar dan mulai merokok sendiri, duduk diatas kursi besi diluar teras sana. "Kamu mau apa Fred?" tanya oom Jusni yang membuyarkan perhatianku pada pak Pram. "Ngak deh oom, masih kenyang....ngak usah buat saya," ujarku padanya, disambut dengan senyuman dari mbak Sil. Tergelitik diriku untuk maju kedepan sang Pram, hendak melihat dirinya lebih dekat, terutama dalam masa ini, kala sang pujangga sedang berada dalam alamnya sendiri tanpa adanya alam2 lain dari manusia2 lainnya. "Mau Sam Soe pak?" tanyaku padanya. "Oooooo kalau kretek ya saya mau saja." ujarnya padaku. "Itu apa sih disana.......yang bawa kuning2 itu?" tanya beliau padaku, sementara mataku tertumbuk pada seorang setengah baya yang sedang memegang sebuah papan dengan tulisan "Park Here $5" yang memang berwarna kuning. "Oooooo...itu dia menawarkan parkiran pak," ujarku padanya. "Oh...begitu ya.......$5....mahal juga." ujarnya lagi. "Standard sini pak, malah tergolong murah......" kataku. "Tanahnya punya dia?" tanya beliau. "Wah........saya ngak tahu kalau soal itu pak....mungkin saja, walau saya rasa ngak deh." jawabku. Diamlah beliau menikmati si rokok yang sedang menjentik-jentikan anak-anaknya si kembang api, dan sedang berbuai dengan sang asap2 yang menari2 keluar dari ujung si rokok dan sang pujangga. "Pak Pram.........saya membaca buku pak Pram yang mengenai Kartini, jilid satu dan dua." ujarku memecah kesunyian "Lah........dapat dari mana?" tanyanya. "Saya mendapatkan foto kopian pak......dari siapa, ngak inget lagi." kataku. "Ohhh...." ujarnya sambil bersiap menghisap kembali rokoknya. "Pak Pram....saya tahu kalau jilid ketiga dan keempat itu kan hilang........" "Tidak hilang.............hancur......dibinasakan...oleh gerombolan!!" katanya padaku "Ya pak...itu yang saya maksud....apa bapak ngak punya niat meneruskan lagi apa yang terhancurkan itu, bukan saja Karya2 Kartini, namun yang lainnya juga. Kan banyak yang belum membaca pak," tanyaku. "Tidak bisa bung.............mau start dari apa.....lha wong sudah hancur semua. Menulis itu perlu bukti2 bung..........tidak gampang....gimana saya mau nulis lagi kalau semuanya hacur......" kata pak Pram yang lalu mengalihkan pandangannya kearah lain, tak melihat kediriku dan para pembaca, hal ini membuat diriku bertanya2, mengapa beliau melakukan hal itu. Kumelihat sang Pujangga, dan nampak ada sesuatu yang berusaha keluar dari dirinya, namun tak dapat karean berusaha dikubur oleh sang Pram. Hanya bisa aku melihat si mata yang menjalar melihat kesegala arah, seakan bertanya dimanakah keadilan bagi diri Pram ini. Pandangan ku terpecah dengan sapaan dari oom Jusni kalau mereka sudah siap, dan akan jalanlah kami menuju kembali ke gedung itu, membawa makanan siang bagi mereka semua. Sesampai disana, tentu saja pembagian ransum yang sangat cepat, dan pak Pram dengan segera melahap apa yang tersaji, sementara semua yang lain pun melakukan hal yang sama. Melihat waktu yang sempit, oom Jusni merasa tak ada gunanya kembali ke hotel, lebih baik tinggal saja digedung ini, beristirahat disana, dan kemudia langsung pergi menuju Metro Square. Pak Prm yang memang terbiasa ngaso di siang hari, diberikan sebuah ruangan yang sengaja dipersiapkan baginya untuk ngaso. Sementara yang lainnya juga melakukan hal yang sama, aku mulai mencoret-coretkan pikiranku lagi kepada sebuah karya kerja sama temanku dan kami yang sekiranya akan kami mainkan bersama. Sebuah potongan dari sebuah karya musik untuk Cello dan Soprano Saxophone sedang aku baca dan aku berikan aksen2 agar lebih hidup nantinya dan kala itu, datanglah pak Joesoef dan duduklah beliau disebelahku. Tersenyum aku kepada beliau........dan aku bilang, "Inilah pak.......cara aku menumpahkan pikiran dan perasaan saya....." "Oh....bagus..." kata beliau yang kemudian diiringi dengn kembalinya diam beliau yang sangat khas. Aku menjadi salah tingkah disampingnya, dan aku tak tau hendak berkata apa. Lidahku kelu...........namun tiba2 saja terdengar alunan kata beliau. "Kamu yang muda-muda berhutang kepada kami yang tua-tua. Ilmu yang kamu dapat saat ini lebih mudah kalian capai ketimbang masa muda kami. Harus digunakan itu. Kamu HARUS menulis buku. Tulis semua pikiran kamu yang tidak tercemar. Kamu memiliki hutang yang besar pada rakyatmu dan kamu harus bayar itu." Astaga............kembali sebuah tamparan dari beliau untuk membangunkan diriku dari tidurku yang sudah terlalu lama. Ku terdiam merenungkan perkataan itu beberapa saat, dan aku termangu2 saja duduk disebelah beliau. Kala aku menarik nafas untuk yang kesekian kalinya, aku mulai berkata padanya, "Baik pak..........saya janji....." dan aku menolehkan kepalaku padanya dan kulihat beliau.....nampak lelap tertidur disampingku. Terlalu lelah nampaknya. Kuberdiri secara perlahan dan kumelangkah keluar dari ruangan itu menuju teras depan. Kusulut sang pahlawanku....sebatang rokok...dan merenunglah diriku sendiri di sana memandang si jalanan dengan semua manusia yang berlalu lalang dengan segala isi hatinya masing2.
[Bersambung ke cerita kesembilan belas]
Buffalo, NY
Kutulis cerita ini untuk Emak-ku yang berulang tahun ke 70 hari ini.
|