/hr size=2>
|
Tak kusangka waktu yang sedemikian cepatnya berlalu, dan kalau habis kubuang puntung rokokku yang kedua, telah siaplah mereka semua untuk pergi menuju keacara yang selanjutnya. Kalau dilihat secara cepat saja, nampak kalau gedung tempat acara itu dekat sekali, namaun kalau soal jarak, ini dia yang jadi bahan pertanyaan. Pak Joesoef yang bertanya dimana lokasinya dan ketika kuberitahu kalau gedungnya yang berwarna biru disana, diam lalau melihatku sambil tersenyum tipis.. "Terlalu jauh untuk jalan, terlalu dekat untuk naik taksi.." yang kusambut dengan senyuman kembali. Ya sudah, berlalulah kami naik mobilku ke arah gedung itu, yang lokasinya berada di King Street. Memang tak jauh, hanyalah beberapa menit saja dari tempat kami berangkat. Yang uniknya adalah karena ruangan yang tak cukup dimobilku, mbak Sil, Michael (CCEVI) dan beberapa yang lainnya setuju kalau jalan kaki saja. Wah....nekat juga mereka dalam hatiku aku berpikir, namun kan bagus juga....sehat. Memang kurasa hari ini akan sempurna jadinya, karena sedemikian cepatnya kami mendapatkan tempat parkir, tepat pula disamping gedung tempat acara itu akan dilaksanakan. Berlalulah kami menuju kelapangan tempat acara itu, dan segera saja nampak olehku puluhan orang yang nampak telah menunggu sejak tadi dan masih saja dengan setianya menunggu. Baguslah, yang ditunggu kan sudah muncul, bisa dimulailah acara kali ini. "Pak Pram......kayak Adnan Buyung tuh pak? Apa jangan2 dia ya?" tanyaku pada pak Pram sambil menunjuk kearah seorang bapak dengan postur dan penampakan yang memang saudara2, mirip sekali dengan Adnan Buyung Nasution. "Eh...iya ya....ngapain dia disini?" jawab pak Pram. "Tau tuh......pas lagi jalan2 ke Toronto kali," jawabku yang segera dibalas dengan senyuman nakal dari sang pujangga. Ternyata kemudian kami ketahui kalau beliau ini adalah perwakilan dari kaum beragama Hindu disana, yang akan membacakan sebuah doa bagi peringatan ini dan astaga betapa miripnya beliau dengan Adnan Buyung Nasution lengkap dengan rambut putih dan kelingnya Ah......dimulailah acara ini, dan dapatlah kami duduk dibaris depan bangku2 itu. Duduklah aku disebelah mereka, dan ketika mataku memandang keatas, kearah podium itu, astaga.......kulihat foto2 yang terpajang diatas sana.........astaga......apakah benar2 itu foto yang diambil kala kerusuhan itu?? Apakah benar?? Kulihat sosok2 tubuh yang hitam kelam terbakar yang tergeletak begitu saja diatas tanah, dan juga ada beberapa foto2 lainnya yang kulihat dan nampak pula gedung2 yan terbakar hangus....namun........apakah benar itu mayit2 manusia yang terbakar hangus???? Jiwaku runtuh seketika.........tak pernah aku melihat semua gambar2 itu.......aku mendengar memang tentang kerusuhan2 itu...perkosaan2 yang terjadi...dan juga segala pembunuhan yang terjadi...namun......tak pernah aku melihat selembarpun gambar tentang ini, dan ...............mengapa pula harus diriku melihatnya sekarang??? Inikah hari yang sempurna bagiku seperti yang kubayang2kan hari ini karena mudahnya aku mengemudi dan mendapatkan parkiran? Inikah hari itu?? Lamunan kosong pun terpecah dengan kata pembuka dari sang pembawa acara yang telah siap diatas panggung sana. Kilasan balik atas apa yang terjadi dinegeriku tahun lalu dibahas kembali....disampaikan kepada khalayak umum yang hadir. Tak tahan diriku mendengarnya...........inikah yang sebenarnya? Melangkah kakiku menuju kearah bangku belakang, berdiri sajalah aku melihat pak Pram dan pak Joesoef dari balik bahu mereka. Tak bergeming sedikitpun mereka dari posisinya, dan terbayanglah diiriku apakah yang ada dikalbu mereka sekarang ini? Samakah yang dirasa dengan yang kurasa? Sedemikiankah? Melangkah kakiku menuju ke oom Adjie yang sedang berdiri dibelakangku dan menanyakan kalau ada disekitar sini yang menjual air minum, karena aku merasa mereka sekarang haus didepan sana. Oom Adjie segera menunjuk dan mengajak aku mengambil beberapa botol air mineral yang segera aku berikan kepada mereka bertiga didepan, pak Pram, pak Joesoef dan mbak sil. Ya itulah salah satu tugasku...mengetahui kalau mereka setidaknya merasa nyaman disini. Giliran bicara pak Pram tiba dan naiklah beliau bersama mba Sil keatas panggung. Inti pembicaraan pak Pram adalah kedamaian hidup antar suku di negara kita dan bahwa kaum Tiong Hoa pun adalah salah satu bangsa dinegeri kami dan rukunlah hidup kami disana. Bukti2 nyata ada tersedia dan salah satunya adalah cap dari Kubilai Khan yang sekarang ada di sebuah kelenteng di Semarang. Ini salah satu contoh yang nyata bahwa hubungan dua bangsa sudah ada sejak dulu kala dan tk ada satupun permusuhan antara keduanya. Bukti yang selanjutnya adalah fakta bahwa adanya sebuah puisi yang ditulis oleh pujangga Jawa yang masih dapat dibaca sampai sekarang, dimana temannya adalah peperangan antara kaum Tiong Hoa dan kaum penjajah....Belanda. Disamping dan bersama bangsa Indonesia lainnya, kaum Tiong Hoa bersama melawan kaum penjajah Belanda. Ini adalah fakta dan bisa dibuktikan adanya. Jadi sebenarnya apakah yang membuat pertikaian antara bangsa ini? Jawabannya adalah satu..........kekuatan sang penguasa yang hendak meyakini bahwa segala tindakan dan kejahatan mereka tidaklah terlihat dan terbukti adanya, dan inilah sebabnya kaum Tiong Hoa dijadikan kambing hitam............korban pelarian ..........korban tebusa dosa dari si kuasa. Ini bukan masalah antara satu manusia dengan manusia lainnya yang disebut rakyat, namaun adalah masalah rakyat dengan sang penguasa atau yang disebut pemerintahan ORDE BARU dan dipimpin oleh Suharto. Inilah jawabannya. Dulu ketika Belanda berkuasa, hal yang sama terjadi....ambilah contoh keributan di Solo dan pembantaian kaum Tiong Hoa oleh Belannda......atas alasan.....supaya Syarikat Dagang Islam tidaklah berkembang lagi, karena inilah yang merupakan sumber bahaya bagi Belanda. Apa lagi yang pernah jadi masalah......banyak kejadian2 yang disebabkan oleh warisan kolonialisme Belanda, dan pemerintahan Orba tahu hal ini, dan diteruskanlah penggunaan hal ini untuk menajdi sebuah senjata yang maha ampuh dan tiada tandingannya. Tiada tandingannya? Ah....ini adalah pertanyaan bagi kita semua para pembaca. Akupun yakin pak Pram menyampaikan hal yangsama pula dalam pembicaraannya. Rakyat itu dibuat buta oleh sang kuasa dan selama mereka buta, tak tampaklah kalau mereka sedang digarong habis-habisan oleh si kuasa. Sekali mereka nampak melek, segera saja senjata ampuh digunakan oleh mereka..........benturan dari segi sosialis (alias........."Kamu PKI"), atau dimana lapisan rakyat yang tak stabil atau pula dengan masalah ras dan agama digunakan. Itulah kekuatan senjata sang kuasa kala itu. Ah...mendengar kata pak Pram, teringatlah pula aku dengan seorang tokoh yang merupakan pahlawan bagi rakyatku (atau setidaknya bagiku.) Dengan inisial AB, beliau dituduh oleh sang kuasa sebagai "kiri" ..."Komunis".."PKI" dan balasan beliau kepada mereka membuat aku terkesima. Beliau berkata, "Kalau memang memperhatikan nasib rakyat kecil, memperhatikan kesejahteraan rakyat dan menyadari segala derita rakyat membuat saya sebagai PKI..........maka banggalah saya sebagai seorang PKI." Tanpa sadar diriku tersenyum kala teringat kejadian itu, dan saat itulah pula aku melihat kalau pak Pram sudah selesai bicara dan turun dari panggung. Aku baru menyadari bahwa dalam jangka waktu singkat itu, aku telah berpikir melalang buana maju dan mundur meninjau segala apa yang ada dipikiranku, dan memang pula sudah saatnya kulakukan hal itu setelah tidur dan terbutakan dalam jangka yang panjang. Pidato demi pidato dari tokoh2 masyarakat disana mengisi acara ini, dan ditutuplah acara ini dengan doa2 dari berbagai kalangan agama. Semua agama terwakili disini dan betapa indahnya aku rasa kebersamaan itu.
[Bersambung ke cerita kedua puluh]
Buffalo, NY
|