BACK

Cerita Kedua puluh

Bertolaklah kami kembali menuju ke hotel agar sekiranya dapat rombongan kami beristirahat sejenak sebelum acara selanjutnya. May Memorial yang berlangsung secara out-door itu memang menyita tenaga kami semua. Cuaca Toronto tidaklah bisa dikatakan sejuk hari2 ini. Panas...tidak terlalu...adem...ngak bisa dikatakan demikian pula.

Tepat kiranya ada masa istirahat sebelum acara selanjutnya yang mana ada Fund Raising Dinner untuk korban ketidak adilan di Indonesia dan acara ini dilangsungkan di sebuah restoran Tiong Hoa yang namanya Dragon something gitu......saya kok lupa ya... Oh well...... :-)

Ah....tak lama pula sampai juga pada waktunya untuk segera berangkat ke restoran ini. Kali ini kami menegndarai van milik oom Jusni. Dengan senyuman "khas" dari bapak Hilwan, beliau berkata, "Pred.....kamu istirahat dulu.....ngak jadi supir malem ini... "

Ya sudah.....aku sih OK aja....nyetir ya ayo....ngak juga...santai2 aja.

Tak terlalu lama, sampailah kami ke restoran ini. Lokasi yang menarik dan sangat potensial untuk sebuah restoran langsung saja terlintas dikepalaku. Pak Pram mulia celingak celinguk lagi melihat kesegala arah, bagaikan seorang anak kecil saja yang mau tahu segala.Aku yang duduk disamping beliau hanya bisa mengamati saja sang pujangga satu ini. Ibu Maemunah dengan setianya mengikuti sang pujangga, tak satupun kata terucap dari bibirnya. Tampak kalau ibu lebih milih diam saja sebelum bapak bicara....

Astaga........ramai betul restoran ini!!! Oom Adjie berdiri didepan pintu menerima tamu dan kulihat pula oom Ham Go dan beberapa anggota CCEVI lainnya yang sangat aku sayangkan tidak sempat aku berkenalan. Waktu memang sempit, itulah salah satu hal yang aku sangat sayangkan. Segera saja kami dibawa masuk kedalam menuju meja kami dan...mengapa semua mata memandang kearah kami? Ah........adanya sang pujangga tentunya pula membawa kondisini ini. Tamu kehormatan telah tiba...karpet merah penyambut telah terbuka; Walau tidak tepat dikatakan demikian karena restoran itu sudah berkarpet merah semuanya.

"Oom...meja vegetarian dimana?" tanyaku pada oom Adjie.

"Lah......ngak ada........cuma kamu satu aja....ngak usah lah," jawabnya.

Walah......ya sudah........mulialah keluar lagi sifat "tolerer" diriku....karena tak tersedianya meja vegetarian, mau tak mau aku harus duduk pula dimeja biasa. Kurasa lebih baik demikian, karena kalau terpisah...tak dapat aku duduk dengan sang pujangga dan yang lainnya. "Ya sudah lah.....kataku dalam hati.

Ramainya restoran ini membuatku merasa kembali seperti di Indonesia saja. Hmpir aku tak dapat mendengarkan apapun ucapan orang2 disampingku. Pak Joesoef yang duduk disebelahkupun hampir tak terdengar suaranya. Kami semua harus mendekatkan tubuh dahulu kalau hendak bicara. Namun tak aku rasa janggal, malah aku gembira sekali berada ditempat seperti ini. Tempat tinggalku tak ada restoran Tiong Hoa seperti ini, dan karenanyalah aku rasakan sangat membuat diriku senang alang kepalang. Menunya...10 macam pula.....memang benar ini acara makan cara Tiong Hoa....semuanya sudah terhitung dan tersiapkan. Untunglah sebagian besar menu yang disajikan adalah Sea Food, sehingga aku sekiranya masih dapat menikmati. Sea Food memang hanyalah satu2nya jenis "daging" yang dapat aku santap...itupun hanyalah dalam keadaan emergency alias kepepet saja.

Wah...kejutan pula...tante Cecile nyanyi lagu kebangsaan Canada. Tante ku yang satu ini ternyata selain koki handal, penyanyi pula......kembali lagi aku katakan...betapa beruntungnya oom Jusni ini. Tepuk tangan dari hadirin aku anggap sebagai sebuah persetujuan atas komentarku yang terbayang2 saja dianganku. Mulailah acara kita malam ini. Pidato2 pembuka diberikan oleh ketua dari CCEVI dan juga beberapa tokoh lainnya. Yang aku tunggu tentu saja pidato dari pak Pram dan asiknya untuk malam ini, mbak Sil tidak menjadi penerjemah... tetapi...oom Jusni.....walah, ini benar2 asik.

"Salam demokrasi!" ucap sang pujangga dengan kuatnya. Oom Jusni yang berada disebelahnya pula dengan sigap sebagai penerjemah ke dalam bahasa Inggris, mengepalkan lenganya, membawa keatas dan berkata......"Salam demokrasi!" Nah lho........Salam demokrasi bahasa Inggrisnya salam demokrasi juga ya? Si oom, sampai lupa dia. Begitu semangatnya beliau, penuh bagai angkatan ‘45, sampai lupa menerjemahkan kata itu. Namun tak apalah.......tetap terasa kekuatan dibalik semua ini.

Pidato yang singkat namun padat isinya, pada intinya memfokuskan pada situasi dan keadaan kaum keturunan di Indonesia. Pak Pram merasa bangga dan sangatlah terharu atas segala kesediaan para warga Indonesia di Canada untuk sekiranya bersatu, mencarikan sebuah sarana dan jalan keluar bagi para pihak yang tak berdaya. Acara makan malam ini merupakan sebuah sumbangsih nyata dari mereka untuk mereka yang berada di tanah air.

Tepuk tangan gemuruh dari pirsawan segera terdengar seselesai pak Pram mengucapkan pidatonya. Sebagai kenang2an untuk pak Pram, dipersembahkan oleh ketua CCEVI dan oom Jusni, plakat atau sign yang mempromosikan kunjungan pak Pram ini. Ah......plakat yang aku bawa setiap hari itu kemana2 kesegala acara2, kini menjadi milik dari sang pujangga.

MAKAN............

Itu saja yang bisa kepikir dari aku. Aku lapar nih dan pas betul karena inilah saatnya dimana acara makan malam ini dimulai. Satu demi satu hidangan keluar dari dapur dan memang betul2 menggugah selera semua yang tersaji.

"Pred....kamu makan apa tuh?" tiba2 ibu Maemunah bertanya padaku.

"Ya......apa aja yang ada deh bu.....kalau masih sea food sih saya makan aja." jawabku atas pertanyaan si ibu. Ah......serasa ditengah2 keluarga saja aku saat ini...diperhatikan dengan sangat.

Selagi acara makan malam ini, mulailah satu lagi cara untuk menarik sumbangan dari para hadirin. Pertama adalah sebuah lelang sunyi, dimana banyak barang2 yang tersedia. Dari semua, tentu saja ada satu yang menjadi perhatian para penaruh lelang...karya2 pak Pram. Buru Quartet, Nyanyi Sunyi, dan Hoakiu dijadikan bahan lelangan. Promosi dari oom Jusni mengena sekali bagi para pirsawan. "Kalau pak Pram menan Nobel........harga2 buku ini bisa naik berlipat2...." ujarnya yang disambut dengan gumanan dimana2 dari pirsawan.

Cara kedua untuk menarik sumbangan adalah dengan membeli karcis lotere yang nanti diakhir acara akan ditarik dan didapatkan pemenangnya. Hadiah uang tunai bagi pemenang semuanya disumbangkan kembali ke CCEVI yang sekiranya akan digunakan untuk membantu para korban2.

Nah saudara2, cara ketiga inilah yang paling seru menurutku. Karaoke dari para hadirin sekalian. Yang menjadi perhatian adalah salah satu dari sang "penyanyi." Mbak Sil ternyata.........Walah dan ternyata dia berhasil mendapatkan uang terbanyak dari para hadirin. Simpatik dan energik...itulah tiba2 yang jadi komentar dari pak Joesoef yang duduk disebelahku, dan memang harus aku akui kebenarannya.

Ah......acara malam ini memang berkesan sekali. Para hadirin sangatlah antusias dan benar2 nampak segala kesediaan dan kemauan mereka untuk saling membantu sesama umat manusia. Pak Pram duduk dikursinya, tampak terkagum2 atas segala apa yang ada dihadapannya. Sebuah usaha kemanusiaan untuk membantu sang rekan hidup, memang sangatlah mulia dan tak heranlah kala sang pujangga pun habis tak dapat berkata apa2 atas kekagumannya.

[Bersambung ke cerita kedua puluh satu]
[Kembali ke cerita kesembilan belas]

Buffalo, NY
July 15, 1999

BACK