/hr size=2>
![]() l to r: mbak Mary (Zurbuchen), bung John (McGlynn), Prof. (Hank) Maier, Will (Schwalbe), pak Joesoef, translator, Prof. (Nancy) Florida, and Chris (GoGwilt)
Setelah selesai dengan acara di Asia Society, selanjutnya adalah acara di Fordham University. Itu adalah hari ketiga dari kunjungan saya ke NYC. Jadi saya memiliki hari kedua yang kosong sama sekali, dan saya gunakan sebagai sarana buat jalan2 muter2 kota....hunting CD Jazz yang langka dan sukar didapat di kota saya. Fordham University....hari ketiga. Saya berangkat pagi2 dari tempat teman saya di Long Island. Untung hari sabtu, jadi tidak banyak yang naik subway sehingga lancarlah perjalanan saya ke Manhattan...walau..... wait....saya sempet nyasar di tengah2 jalan...saya salah stop jadi harus jalan naik sekitar 4 blok keatas, untuk sampai ke Fordham University. Nasib... :-( Tetapi seru juga jalan2 ini. Banyak hal2 yang saya bisa lihat dalam perjalanan ini....terutama kagetnya diri mengetahui dalam hanya jarak beberapa blok saja, terdapat beberapa Starbucks (coffee place). Luar biasa kapitalisme sang tempat satu ini. Mengingat akan apa yang disajikan, kopi, pikiran menjadi melayang2....kembali membayangkan Max Havellaar karya Multatuli, yang merupakan penulis idola pak Pram........dan saya tentunya. Sesampai di Fordham, sudah lumayan banyak orang2 yang menunggu acara untuk dimulai. Setelah mencek diri saya....saya bertemu dengan Will Schwalbe yang sebelumnya saya kenal hanya lewat internet saja. Berbincang2 sejenak dengan Will, lalu diberikan oleh dia sebuah kopi dari "The Mute's Soliloquy" yang sudah ditanda tangani oleh pak Pram. Lumayan...buku gratis, ditanda tangani lagi....asik..punya dua kopi saya sekarang. Yang pertama kan yang saya beli sendiri dan dapet tanda tangan atas hasil "nepotisme" dengan pak Gun. :-) Melangkah masuk, saya melihat beberapa orang yang saya kenal dari malam sebelumnya di Asia Society. Prof. John dari Yale, Prof. Nancy dari Michigan, mbak Ninuk, profesor Indonesia di Harvard, dan beberapa nama lainnya yang toh walau saya sebutkan tidak akan membuat pembaca tertarik. Celinguk kiri dan kanan...tercium bau kopi diujung sana. Benar juga, tersedia kopi, teh dan hidangan2 kecil berupa kue2 yang diberikan secara cuma2 kepada pemirsa simposium ini. Kaki langsung melangkah ke arah sana...lha wong saking buru2nya...kagak sarapan, takut telat soalnya. Selagi seru2nya milih muffin apa yang mesti diambil..abis..ada muffin blueberry, orange, lemon poppy, dll..dll..dll...tahu2 ada yang nyolek saya dari belakang dan ngomong, (pake Indo lho, full dengan aksen betawi) "Gimana orang Amerika nggak gemuk2...sarapannya kayak gini," sambil tanganya mencomot sebuah donat full dengan sprinkle plus coating coklat. Saya tengok kepala kebelakang, dan ternyata...bung John (McGlynn) ada dibelakang saya, menatap saya dengan cengiran khasnya dengan kumis yang mantab pake B itu. Saya jadi mikir, apa dia sengaja ngomong gitu karena mau ngerjain saya (saya yang "vertically" chalenged ini) atau emang serius kasih komentar soal orang Amrik. Setelah ngobrol2 ngalor ngidul sama manusia Indonesia bule satu ini, kita saling tukeran kartu nama karena lupa kemaren dulu waktu ketemu di Asia Society. Setelah kartu berpindah tangan, alangkah kagetnya diri kami menyadari alamat office beliau di Jakarta ternyata di Pejompongan...lucunya...tetanggaan ama oom dan emak (oma) saya, cuma beda beberapa rumah kesamping. Nah lho....coincidence? Bisa jadi. Bung John jadi ketawa2 aja dengernya. Acara dimulai dengan bahasan2 karya2 pak Pram yang sangat mendetil. Hadirnya prof. Hank Meier sangatlah saya sukuri, karena bisa dikatakan beliau adalah salah seorang yang memimpin gerakan "Aku Cinta Pram" dengan mempelajari karya2 beliau yang ada. Salah satu cerpen yang dibahas oleh beliau....yang nota bene belom pernah saya baca sebelumnya (maklumlah..karya2 pak Pram kan di beslak kabeh ama pemerintahannya Babe tercinta Soeharto.) Judul cerpen itu, "Gado-Gado"....dan bagi saudara2 pembaca yang kebetulan punya kopian dari cerpen ini, janganlah malu2 menghubungi saya kerena saya pun tidak akan malu2 untuk minta dibuatkan sebuah kopi. (terima kasih sebelumnya atas perhatiannya.) Lalu professor Nancy Florida membahas kuartet Buru dengan banyak memberikan contoh2 yang saya sangat suka, karena sangat to the point kepada inti buku itu. Juga beliau menyebarkan sehalaman kopi dari sebuah potongan cerita itu, sehingga banyak yang bisa membaca secara langsung. Akhirnya jam menunjukkan pukul dua belas lewat, hampir jam satu malah karena bahasan yang molor waktunya. Sudah waktunya untuk break sejenak dan semakin serulah karena pak Pram, ibu Maemunah, dan "opa" Joesoef ternyata sudah tiba dengan selamat ke Fordham University.
[Bersambung ke cerita keempat]
Buffalo, NY
|
BACK
/hr size=2>