Kisah
ini dikutip dari buku Masnawi2 yang
menampilkan kisah-kisah sufi karangan Master Jalaluddin Rumi,
diterjemahkan & dikomentari oleh Guruji Anand Krishna, sehingga
memberikan pengertian berbeda & memudahkan untuk kita selami bersama. |
Teks
yang dicetak tebal adalah terjemahan kisah sufi dari masnawi, sedangkan
teks yang dicetak miring adalah komentar dari Guruji Anand krishna |
SEORANG
RAJA & SEEKOR BURUNG ELANG (bag 1)
Konon
seorang Raja kehilangan burung elang kesayangannya. Burung elang itu sengaja
meninggalkan istana karena kejenuhan & mendatangi rumah seorang wanita tua.
Melihat
seekor burung berbadan montok, wanita itu senang sekali. Dia menangkap serta
mengikat kaki & sayapnya. Melihat kuku elang yang panjang, wanita itu
mengatakan, Yang memelihara kamu selama ini sungguh malas. Kukumu dibiarkan
memanjang, tidak pernah dipotong. Begitu pula sayapmu, tidak pernah dirampingkan.
Tetapi jangan khawatir engkau berada ditempat yang tepat. Ibumu akan memotong
kukumu & merampingkan sayapmu. Itulah yang ia lakukan, memotong kuku &
merampingkan sayap elang tersebut.
Demikianlah
jika engkau bersahabat dengan orang bodoh. Cinta serta kepeduliannya pun bisa
mencelakakanmu.
Sementara
itu, pada suatu hari Sang Raja melewati rumah wanita tadi. Melihat burungnya
sudah tidak bercakar, dan nyaris tidak bersayap, Sang Raja tidak bisa menahan
jeritannya, Apa yang terjadi padamu ? Hidup bebas diistana bagaikan hidup dalam
taman Firdaus. Lalu kenapa kamu harus meninggalkan istana & datang ketempat
dimana mereka tidak menghargaimu. Mereka tidak tahu engkau seekor elang. Dan
bagi seekor elang, cakar & sayapnya sangat berharga.
Sielang
berusaha mendekati sang raja dan kendati tidak bisa berbicara, dia menyampaikan
permohonan maafnya, "Aku telah melakukan kesalahan"
Sang
raja memahami maksud burung tersebut, dan dia memaafkannya.
Karena
dekat dengan Tuhan, sering kali manusia menjadi sombong. Karena dekat dengan
Sang Raja, dia lupa daratan. Dia meremehkan kedekatan itu. Lalu karena
kesombongannya sendiri dia menjadi jauh dari tuhan, dari Sang Raja.
Seperti
burung elang dalam kisah ini kitapun tidak pernah dikeluarkan dari taman Firdaus.
Kita keluar sendiri, keluar dari istana, kita jatuh ketangan wanita tua yang
tidak tahu elang itu apa. Lalu kuku kita dipotong. Sayap kita diguntung Dan kita
tidak bisa berbuat apa-apa lagi karena sebelumnya kaki kitapun sudah diikat
olehnya.
Yang
kita anggap kebebasan ternyata bukan kebebasan. Apa yang kita anggap kemerdekaan
ternyata perbudakan. Dengan kuku dan sayap terpotong kita tidak bisa melakukan
apapun. Walaupun berbadan dan berjiwa elang, kita sudah tidak bisa terbang lagi.
Harus
ada seorang Raja yang mendatangi kita, mengenali kita dan membebaskan dari
perangkap wanita tua.
Wanita
tua adalah dunia. Keterikatan anda terhadap dunia & kepedulian dunia
terhadap anda menghasilkan apa ? Rasa takut, Was-was. Kemampuan untuk terbangpun
menghilang. Tetapi anda masih saja betah berada dalam "rumah-dunia"
ini. Berdoalah agar ada seorang Mursyid, seorang Raja yang mendatangi anda dan
membebaskan dari perangkap dunia.
|