|
|
Ana
titir jroning rasa
tengara
retu kang wis nyasmitani
mring
ragaku mring ragamu:
bakal
teka wisana
ing
resmining saresmi karobah eluh
lan
bakal sirna samsara
luluh
ing asih lan pati.[1]
Dalam
lirik di atas, yang digubah dengan indah oleh Goenawan Mohamad,
narasi mengenai seks telah melepaskan diri dari sekadar
representasi aktivitas jasmani. Seks telah mengalami sublimasi dan
lantas menjadi simbolisasi yang menggetarkan tentang maut: pesona
senggama yang berjalin-berkelindan dengan bayang-bayang kematian.
Aktivitas seksual, dalam konteks itu, dengan demikian hanya
dimaksudkan sebagai penanda, metafora, atau pasemon atas
pokok persoalan lain lagi, yang barangkali bisa terkesan tak
saling bersangkut-paut dengan seks itu sendiri,[2]
ialah sesuatu yang immaterial, mistis, spiritual dan filosofis;
perlambang yang menggaungkan kembali misteri penciptaan dan tujuan
akhir eksistensi manusia. Pembacaan atas teks simbolis demikian
itu, kendatipun berbicara tentang seks, sudah barang tentu
mustahil memprovokasi dorongan syahwat pembacanya, melainkan
justru akan merangsang kuriositas, perenungan, pengetahuan,
kepuasan estetis, dan sikap-sikap asketis, yang oleh sejumlah
filsuf seperti Plato, Epikurus, atau Agustinus — untuk menyebut
beberapa nama — bahkan dianggap bertolak-belakang dengan
hasrat-hasrat jasmani.[3] Pada
tataran ini, pemaknaan atas seks lantas menjadi persoalan yang
sama sekali tidak sederhana.
Dalam
khasanah kepustakaan klasik, memang ada beberapa kitab yang
menampilkan hubungan seks, kemanunggalan antara lingga dan yoni,
sebagai simbolisasi mistik seperti lirik tembang di atas, semisal
kitab Gatoloco, Centhini, Prem Sagar dan Gita
Govinda. Bisa dicatat pula sejumlah kitab yang memang
bertujuan mengetengahkan seks pada dirinya sendiri, namun tidak
dalam konteks memprovokasi fantasi erotis, melainkan dalam
kerangka penyusunan suatu doktrin atau filsafat mengenai seks,
seperti kitab Kamasutra, Asmaragama, dan Ars
Amatoria. Sementara itu, dalam khasanah sastra, beberapa novel
pernah dituding melanggar kesusilaan pada zamannya, seperti Madame
Bovary karya Gustave Flaubert, Ulysses dari James
Joyce, atau Lady Chatterley’s Lover karangan DH Lawrence.
Roman Belenggu karya Armijn Pane yang terbit pada tahun
1940-an pun pernah dianggap kurang senonoh pada masa itu, hanya
karena mengisahkan bahwa pasien perempuan dokter Sukartono
tersingkap kainnya sehingga terlihatlah pahanya.[4]
Tetapi bagaimanapun juga, sejumlah kitab dan karya sastra itu
sudah amat jauh dari kesan cabul di mata pembaca zaman sekarang
yang mengonsumsi teks, gambar, film, serta kenyataan-kenyataan
lain yang jauh lebih ekstrem dan edan.
Dibandingkan
dengan pelbagai karya di atas, seksualitas akan tampil dalam
wajahnya yang amat jauh berbeda jika kita membaca, umpamanya,
novel-novel underground karangan Enny Arrow[5]
yang memang begitu vulgar dan mengekspos segala kebanalan seks
secara terang-terangan. Penulisan novel stensilan ini tentunya
memang dimaksudkan untuk menggugah syahwat pembacanya, dan sudah
barang tentu tidak bertujuan menyimbolisasikan apa-apa selain
menyuguhkan fantasi aktivitas seksual yang badaniah itu sendiri,
kendatipun fakta bahwa teks-teks demikian itu ada dan beredar
secara sembunyi-sembunyi di tengah masyarakat mungkin bisa
menyiratkan kenyataan tertentu di luar teks, semacam
berlangsungnya represi moral yang terlampau berlebihan atas
kehidupan seksual masyarakat, adanya kemunafikan sosial yang
terpendam, serta pelecehan diam-diam atas nilai-nilai yang
berlaku.
Dan
zaman memang terus berubah. Representasi seksualitas serta
pornografi dalam lanskap sosial pun mengalami transformasi yang
signifikan. Pada awal era 1980-an banyak remaja yang barangkali
sudah dibikin cukup terperangah oleh novel-novel subversif
karangan Enny Arrow atau serial Nick Carter.[6]
Namun, sejalan dengan perkembangan teknologi audio-visual,
dominasi teks mesum itu dalam kancah pornografi lantas tersisihkan
oleh membanjirnya kaset-kaset video porno, yang kemudian diikuti
oleh video compact disc (VCD) porno yang popularitasnya
masih bertahan hingga sekarang dan begitu mudah diperoleh di
tempat-tempat penyewaan VCD, baik di kota besar maupun dusun-dusun
pinggiran,[7] dengan sejumlah
kategori dari yang biasa-biasa saja hingga yang terasa
menjijikkan, dari yang hardcore hingga softcore,
dari perilaku seksual yang dianggap "normal" hingga yang
"menyimpang". Bahkan VCD porno versi Indonesia dengan
para pemain pribumi rupanya juga telah diproduksi secara massal
dan beredar luas. Yang cukup popular di antaranya berlabel
"Anak Ingusan" dan "Kok Loyo?". Tertangkapnya
para aktor dan aktris porno lokal itu oleh pihak kepolisian
menjadi berita hangat di media massa akhir-akhir ini, dan justru
kian menghasut rasa penasaran orang untuk menonton rekaman adegan syur
yang mereka lakukan.
Kendati
demikian, kehadiran media audio-visual mesum ternyata tak
menghapus sama sekali keberadaan pornografi dalam bentuk teks,
meskipun media penyebaran teks yang tak senonoh itu telah
mengalami perubahan yang sungguh revolusioner. Pornografi tekstual
yang semula beredar melalui media cetakan secara terbatas dan
bergerilya kini membanjiri kita tanpa hambatan melalui jaringan
internet, dalam bentuk kisah-kisah cabul yang diedarkan melalui mailing-list
maupun yang tersedia di situs-situs porno sehingga siap dibaca
atau di-download oleh siapapun, dan yang tentu saja
berjalan seiring dengan peredaran rekaman video, foto-foto dan
kartun porno yang tak terbilang jumlahnya di dunia cyber
yang begitu mudah diakses oleh para netters dari seluruh
pelosok bumi. Teknologi internet telah menyediakan kemudahan luar
biasa untuk menyebarluaskan apapun, termasuk pornografi, yang
dikarenakan medium penyebarannya lantas popular dengan sebutan cyberporn,
digital porn, atau cybersmut.[8]
"Electronic,
computer-mediated, and post-biological systems are now a
fundamental part of our daily sex life and are playing a
significant role in the transformation and globalization of
cyberculture."[9] "And
with every new digital innovation, porn is being reshaped,
transformed into something that ... in many ways represents a far
more significant break with the past."[10]
Terminal
pornografi di dunia maya tentu saja adalah situs-situs porno. Para
netters Indonesia tentunya sudah tak asing lagi dengan
situs-situs lokal favorit yang menyuguhkan segala jurus pornografi
semacam "Pondokputri", "17tahun.com",
"Ceweqmatre", "Kramat Tunggak" dan sebagainya,
atau pun pelbagai mailing-list porno semacam "Genjotan
Asia", "Bursasex", atau "Cerita-cerita
Seru" yang uniknya memakai slogan yang dengan cerdasnya
memelesetkan motto majalah Tempo: "Enak di-Klik tur
Saru."
Bagaimanapun
juga, cybersmut pada hakikatnya adalah pornografi sebagai
komoditas, yang di-upload ke jaringan internet sehingga
menjangkau konsumen seluas-luasnya, dan memberikan kemungkinan
lebih besar untuk menangguk laba bagi mereka yang telah
menginvestasikan kapital ke dalam "bisnis fantasi
erotis" itu. Menurut Paul Ham, penerbit majalah e-business
www.businessgene.com
dalam sebuah tulisan di Sydney Morning Herald, akses
terhadap situs-situs porno sedemikian besar sehingga menghasilkan
nilai omset setara dengan 1,3 miliar dolar Australia setahunnya.[11]
Dengan demikian, motif yang ada di balik fenomena cyberporn
sebetulnya cukup klasik, ialah logika kapitalisme yang tak lain
adalah akumulasi modal, kendatipun pemanfaatan internet sebagai
medium diseminasi komoditas mesum itu bisa menimbulkan kejutan
yang sama sekali tidak klasik dan mungkin belum pernah terjadi
sebelumnya, terutama dikarenakan sifat internet yang sangat
aksesibel dan tak mempan sensor.[12]
Sebagaimana
dilaporkan majalah Fortune[13],
perilaku kecanduan terhadap seks kini telah dengan parahnya
menjangkiti para eksekutif perusahaan sehingga menimbulkan ancaman
serius terhadap kelancaran dunia bisnis dan kinerja
perusahaan-perusahaan terkemuka. Salah satu biang keladinya yang
terpenting tentu saja adalah internet, yang menyediakan
kemungkinan dan dorongan untuk memanjakan dan meliberalisasikan
hasrat seksual manusia — sebuah kenyataan paradoksikal karena di
lain sisi internet adalah teknologi garda-depan yang diharapkan
sebagai jalan tol yang mampu mendongkrak lancarnya kegiatan bisnis
mutakhir dan mempercepat akumulasi kapital:
Then,
of course, there is the Internet, which brings porn right into
your study or office. It's free. It's convenient. You probably
won't get caught (which is important, since fear is a powerful
impulse control for a lot of people). You definitely won't get
AIDS. Want to see? Just close your office door and, for starters,
type in Persian Kitty...[14]
Berikut
ini cuplikan kisah dan pengakuan dari seorang pecandu seks yang
telah menghabiskan waktunya untuk menjelajah situs-situs porno,
menyalurkan energinya ke dalam fantasi dan masturbasi, sehingga
nyaris memorak-porandakan karirnya:
A
42-year-old television producer in the Dallas area says he nearly
sabotaged his career three years ago when he began using the
Internet. Until then he’d mostly buy girlie magazines, throw
them away, and see how long he could go (usually two weeks) before
buying more. But when he began to surf porn sites on the Web, it
consumed him. Before long he found that instead of working on his
documentaries, he was locking the door of his home office (so his
wife wouldn’t catch him) and spending seven hours of his
ten-hour workday downloading porn and compulsively masturbating.
"My work was getting very, very stacked up. I lost
prestigious jobs because of it," he says. "It was to the
point of paralyzing my business." He is now in recovery with
Sex Addicts Anonymous.[15]
Seksualitas
dan pornografi agaknya adalah tema yang bakal semakin
mengharu-biru kehidupan kontemporer kita yang ditengarai oleh
hadirnya jalan tol informasi. Barangkali benar apa yang pernah
diungkapkan Henry Bergson bahwa "Daya tarik seks adalah topik
utama peradaban kita"; dan Malcolm Muggeridge: "Orgasme
telah menggantikan Salib sebagai pusat kerinduan dan citra
pemenuhan."[16] Tak beda
dengan gejala-gejala kultural lainnya, pornografi kontemporer
adalah salah satu pengejawantahan dari pertarungan terus-menerus
antara apa yang diistilahkan Sigmund Freud sebagai Eros dan
Thanatos, Naluri Kehidupan dan Naluri Kematian, Prinsip Kesenangan
dan Prinsip Kenyataan — dorongan-dorongan fundamental dalam
psike manusia yang lantas dengan cerdasnya ditangkap,
dikendalikan, dan dimanfaatkan oleh para penggembira ekonomi
pasar, dengan didukung oleh teknologi digital dan diberi landasan
nilai-nilai oleh para cyber-philosophers dan cyber-religionists.
Masyarakat (kapitalisme) global, menurut Jean Baudrillard dalam Simulations,
adalah sebuah masyarakat yang di dalamnya segala sesuatu
berkembang menuju titik yang melampaui (beyond), menuju
titik hyper,[17] sehingga
seksualitas pun berkembang menuju hypersexuality, menuju
penghancuran diri dan strategi fatal. Kapitalisme kontemporer,
ekonomi rasional yang tengah melakukan eksodus menuju ekonomi
mimpi, ketidakwarasan, dan histeria massa: Such worlds of
fascination, bright lights, electric sound, and dazzling
night-life were almost tailor-made to bring forth the newly
diagnosed disorder of mass hysteria.[18]
*** |
|
Halaman
01 |
|
dari
03
halaman |
|