- SITUS WEB PRIBADI SIGIT DJATMIKO -

Cybersmut dan Cybersex

Digitalisasi Syahwat, Robotisasi Tubuh

Sigit Djatmiko

Versi lebih ringkas artikel ini bisa dibaca di majalah

Outmagz edisi # 2: "Better than the Real Thing."

Artikel ini ditulis tahun 2000, beberapa contoh yang dikemukakan di sini adalah fenomena yang aktual pada saat itu.

Ana titir jroning rasa

tengara retu kang wis nyasmitani

mring ragaku mring ragamu:

bakal teka wisana

ing resmining saresmi karobah eluh

lan bakal sirna samsara

luluh ing asih lan pati.[1]

 

Dalam lirik di atas, yang digubah dengan indah oleh Goenawan Mohamad, narasi mengenai seks telah melepaskan diri dari sekadar representasi aktivitas jasmani. Seks telah mengalami sublimasi dan lantas menjadi simbolisasi yang menggetarkan tentang maut: pesona senggama yang berjalin-berkelindan dengan bayang-bayang kematian. Aktivitas seksual, dalam konteks itu, dengan demikian hanya dimaksudkan sebagai penanda, metafora, atau pasemon atas pokok persoalan lain lagi, yang barangkali bisa terkesan tak saling bersangkut-paut dengan seks itu sendiri,[2] ialah sesuatu yang immaterial, mistis, spiritual dan filosofis; perlambang yang menggaungkan kembali misteri penciptaan dan tujuan akhir eksistensi manusia. Pembacaan atas teks simbolis demikian itu, kendatipun berbicara tentang seks, sudah barang tentu mustahil memprovokasi dorongan syahwat pembacanya, melainkan justru akan merangsang kuriositas, perenungan, pengetahuan, kepuasan estetis, dan sikap-sikap asketis, yang oleh sejumlah filsuf seperti Plato, Epikurus, atau Agustinus — untuk menyebut beberapa nama — bahkan dianggap bertolak-belakang dengan hasrat-hasrat jasmani.[3] Pada tataran ini, pemaknaan atas seks lantas menjadi persoalan yang sama sekali tidak sederhana.

 

Dalam khasanah kepustakaan klasik, memang ada beberapa kitab yang menampilkan hubungan seks, kemanunggalan antara lingga dan yoni, sebagai simbolisasi mistik seperti lirik tembang di atas, semisal kitab Gatoloco, Centhini, Prem Sagar dan Gita Govinda. Bisa dicatat pula sejumlah kitab yang memang bertujuan mengetengahkan seks pada dirinya sendiri, namun tidak dalam konteks memprovokasi fantasi erotis, melainkan dalam kerangka penyusunan suatu doktrin atau filsafat mengenai seks, seperti kitab Kamasutra, Asmaragama, dan Ars Amatoria. Sementara itu, dalam khasanah sastra, beberapa novel pernah dituding melanggar kesusilaan pada zamannya, seperti Madame Bovary karya Gustave Flaubert, Ulysses dari James Joyce, atau Lady Chatterley’s Lover karangan DH Lawrence. Roman Belenggu karya Armijn Pane yang terbit pada tahun 1940-an pun pernah dianggap kurang senonoh pada masa itu, hanya karena mengisahkan bahwa pasien perempuan dokter Sukartono tersingkap kainnya sehingga terlihatlah pahanya.[4] Tetapi bagaimanapun juga, sejumlah kitab dan karya sastra itu sudah amat jauh dari kesan cabul di mata pembaca zaman sekarang yang mengonsumsi teks, gambar, film, serta kenyataan-kenyataan lain yang jauh lebih ekstrem dan edan.

 

Dibandingkan dengan pelbagai karya di atas, seksualitas akan tampil dalam wajahnya yang amat jauh berbeda jika kita membaca, umpamanya, novel-novel underground karangan Enny Arrow[5] yang memang begitu vulgar dan mengekspos segala kebanalan seks secara terang-terangan. Penulisan novel stensilan ini tentunya memang dimaksudkan untuk menggugah syahwat pembacanya, dan sudah barang tentu tidak bertujuan menyimbolisasikan apa-apa selain menyuguhkan fantasi aktivitas seksual yang badaniah itu sendiri, kendatipun fakta bahwa teks-teks demikian itu ada dan beredar secara sembunyi-sembunyi di tengah masyarakat mungkin bisa menyiratkan kenyataan tertentu di luar teks, semacam berlangsungnya represi moral yang terlampau berlebihan atas kehidupan seksual masyarakat, adanya kemunafikan sosial yang terpendam, serta pelecehan diam-diam atas nilai-nilai yang berlaku.

 

Dan zaman memang terus berubah. Representasi seksualitas serta pornografi dalam lanskap sosial pun mengalami transformasi yang signifikan. Pada awal era 1980-an banyak remaja yang barangkali sudah dibikin cukup terperangah oleh novel-novel subversif karangan Enny Arrow atau serial Nick Carter.[6] Namun, sejalan dengan perkembangan teknologi audio-visual, dominasi teks mesum itu dalam kancah pornografi lantas tersisihkan oleh membanjirnya kaset-kaset video porno, yang kemudian diikuti oleh video compact disc (VCD) porno yang popularitasnya masih bertahan hingga sekarang dan begitu mudah diperoleh di tempat-tempat penyewaan VCD, baik di kota besar maupun dusun-dusun pinggiran,[7] dengan sejumlah kategori dari yang biasa-biasa saja hingga yang terasa menjijikkan, dari yang hardcore hingga softcore, dari perilaku seksual yang dianggap "normal" hingga yang "menyimpang". Bahkan VCD porno versi Indonesia dengan para pemain pribumi rupanya juga telah diproduksi secara massal dan beredar luas. Yang cukup popular di antaranya berlabel "Anak Ingusan" dan "Kok Loyo?". Tertangkapnya para aktor dan aktris porno lokal itu oleh pihak kepolisian menjadi berita hangat di media massa akhir-akhir ini, dan justru kian menghasut rasa penasaran orang untuk menonton rekaman adegan syur yang mereka lakukan.

 

Kendati demikian, kehadiran media audio-visual mesum ternyata tak menghapus sama sekali keberadaan pornografi dalam bentuk teks, meskipun media penyebaran teks yang tak senonoh itu telah mengalami perubahan yang sungguh revolusioner. Pornografi tekstual yang semula beredar melalui media cetakan secara terbatas dan bergerilya kini membanjiri kita tanpa hambatan melalui jaringan internet, dalam bentuk kisah-kisah cabul yang diedarkan melalui mailing-list maupun yang tersedia di situs-situs porno sehingga siap dibaca atau di-download oleh siapapun, dan yang tentu saja berjalan seiring dengan peredaran rekaman video, foto-foto dan kartun porno yang tak terbilang jumlahnya di dunia cyber yang begitu mudah diakses oleh para netters dari seluruh pelosok bumi. Teknologi internet telah menyediakan kemudahan luar biasa untuk menyebarluaskan apapun, termasuk pornografi, yang dikarenakan medium penyebarannya lantas popular dengan sebutan cyberporn, digital porn, atau cybersmut.[8]

 

"Electronic, computer-mediated, and post-biological systems are now a fundamental part of our daily sex life and are playing a significant role in the transformation and globalization of cyberculture."[9] "And with every new digital innovation, porn is being reshaped, transformed into something that ... in many ways represents a far more significant break with the past."[10]

 

Terminal pornografi di dunia maya tentu saja adalah situs-situs porno. Para netters Indonesia tentunya sudah tak asing lagi dengan situs-situs lokal favorit yang menyuguhkan segala jurus pornografi semacam "Pondokputri", "17tahun.com", "Ceweqmatre", "Kramat Tunggak" dan sebagainya, atau pun pelbagai mailing-list porno semacam "Genjotan Asia", "Bursasex", atau "Cerita-cerita Seru" yang uniknya memakai slogan yang dengan cerdasnya memelesetkan motto majalah Tempo: "Enak di-Klik tur Saru."

 

Bagaimanapun juga, cybersmut pada hakikatnya adalah pornografi sebagai komoditas, yang di-upload ke jaringan internet sehingga menjangkau konsumen seluas-luasnya, dan memberikan kemungkinan lebih besar untuk menangguk laba bagi mereka yang telah menginvestasikan kapital ke dalam "bisnis fantasi erotis" itu. Menurut Paul Ham, penerbit majalah e-business www.businessgene.com dalam sebuah tulisan di Sydney Morning Herald, akses terhadap situs-situs porno sedemikian besar sehingga menghasilkan nilai omset setara dengan 1,3 miliar dolar Australia setahunnya.[11] Dengan demikian, motif yang ada di balik fenomena cyberporn sebetulnya cukup klasik, ialah logika kapitalisme yang tak lain adalah akumulasi modal, kendatipun pemanfaatan internet sebagai medium diseminasi komoditas mesum itu bisa menimbulkan kejutan yang sama sekali tidak klasik dan mungkin belum pernah terjadi sebelumnya, terutama dikarenakan sifat internet yang sangat aksesibel dan tak mempan sensor.[12]

 

Sebagaimana dilaporkan majalah Fortune[13], perilaku kecanduan terhadap seks kini telah dengan parahnya menjangkiti para eksekutif perusahaan sehingga menimbulkan ancaman serius terhadap kelancaran dunia bisnis dan kinerja perusahaan-perusahaan terkemuka. Salah satu biang keladinya yang terpenting tentu saja adalah internet, yang menyediakan kemungkinan dan dorongan untuk memanjakan dan meliberalisasikan hasrat seksual manusia — sebuah kenyataan paradoksikal karena di lain sisi internet adalah teknologi garda-depan yang diharapkan sebagai jalan tol yang mampu mendongkrak lancarnya kegiatan bisnis mutakhir dan mempercepat akumulasi kapital:

 

Then, of course, there is the Internet, which brings porn right into your study or office. It's free. It's convenient. You probably won't get caught (which is important, since fear is a powerful impulse control for a lot of people). You definitely won't get AIDS. Want to see? Just close your office door and, for starters, type in Persian Kitty...[14]

 

Berikut ini cuplikan kisah dan pengakuan dari seorang pecandu seks yang telah menghabiskan waktunya untuk menjelajah situs-situs porno, menyalurkan energinya ke dalam fantasi dan masturbasi, sehingga nyaris memorak-porandakan karirnya:

 

A 42-year-old television producer in the Dallas area says he nearly sabotaged his career three years ago when he began using the Internet. Until then he’d mostly buy girlie magazines, throw them away, and see how long he could go (usually two weeks) before buying more. But when he began to surf porn sites on the Web, it consumed him. Before long he found that instead of working on his documentaries, he was locking the door of his home office (so his wife wouldn’t catch him) and spending seven hours of his ten-hour workday downloading porn and compulsively masturbating. "My work was getting very, very stacked up. I lost prestigious jobs because of it," he says. "It was to the point of paralyzing my business." He is now in recovery with Sex Addicts Anonymous.[15]

 

Seksualitas dan pornografi agaknya adalah tema yang bakal semakin mengharu-biru kehidupan kontemporer kita yang ditengarai oleh hadirnya jalan tol informasi. Barangkali benar apa yang pernah diungkapkan Henry Bergson bahwa "Daya tarik seks adalah topik utama peradaban kita"; dan Malcolm Muggeridge: "Orgasme telah menggantikan Salib sebagai pusat kerinduan dan citra pemenuhan."[16] Tak beda dengan gejala-gejala kultural lainnya, pornografi kontemporer adalah salah satu pengejawantahan dari pertarungan terus-menerus antara apa yang diistilahkan Sigmund Freud sebagai Eros dan Thanatos, Naluri Kehidupan dan Naluri Kematian, Prinsip Kesenangan dan Prinsip Kenyataan — dorongan-dorongan fundamental dalam psike manusia yang lantas dengan cerdasnya ditangkap, dikendalikan, dan dimanfaatkan oleh para penggembira ekonomi pasar, dengan didukung oleh teknologi digital dan diberi landasan nilai-nilai oleh para cyber-philosophers dan cyber-religionists. Masyarakat (kapitalisme) global, menurut Jean Baudrillard dalam Simulations, adalah sebuah masyarakat yang di dalamnya segala sesuatu berkembang menuju titik yang melampaui (beyond), menuju titik hyper,[17] sehingga seksualitas pun berkembang menuju hypersexuality, menuju penghancuran diri dan strategi fatal. Kapitalisme kontemporer, ekonomi rasional yang tengah melakukan eksodus menuju ekonomi mimpi, ketidakwarasan, dan histeria massa: Such worlds of fascination, bright lights, electric sound, and dazzling night-life were almost tailor-made to bring forth the newly diagnosed disorder of mass hysteria.[18]

***

Halaman

01

dari 03

halaman