|
|
Yang
saya temukan ... adalah sebuah subkultur terbesar yang pernah
terekam dalam sejarah, sebuah negeri elektronik maya. Terdiri atas
komunitas swadaya, dunia bayangan ini tak memiliki ruang, tak
tercatat dalam sensus, namun dihuni oleh orang dari seluruh
penjuru dunia. Setiap hari jutaan orang pulang dari sekolah atau
tempat kerja, menyalakan komputer mereka, dan berduyun-duyun
menghilang ke dalam realitas lain. (Mark Slouka) [19]
Perhaps
we’ll recognize each other, and perhaps not. But whatever body
you choose, and whatever subject position you have managed to
occupy, we will meet again in that space. So I’ll see you in
cyberspace. Work there, play there, love there, but if you have
sex there, be sure to use a modem. (Allucquere
Rosanne Stone) [20]
If
when we are in cybersex we are leaving the classical earthly
bodily sexual feeling for one another, it is not in order to
dematerialize our desire but to inhabit a new corporeality that is
almost totally artificial, bionic, and prosthetic.
(Joseph Nechvatal) [21]
Internet
bukanlah sekadar peranti biasa. Sebagai temuan teknologi mutakhir,
jaringan komunikasi global itu telah menciptakan sebuah negeri
surealis, tanah antah-berantah, republik imajiner dengan
nilai-nilai dan hukum-hukumnya sendiri, sebuah ruang maya yang
terlepas dari kenyataan fisik, yang tak tercerap oleh pancaindera
namun bisa dialami. Internet telah meleburkan sekat antara fakta
dan fantasi, membobol dinding pembatas antara realitas dan
imajinasi.
Dalam
kata-kata John Perry Barlow — sang rasul dunia maya — dalam
hujatannya terhadap pemerintah AS yang berniat memberlakukan The
Telecom "Reform" Act of 1996, cyberspace
adalah "sebuah dunia yang ada di mana-mana sekaligus tak ada
di mana-mana, dan bukan tempat di mana jasad-jasad berada."[22]
Dan dalam hujatan yang lantas ia sebut "Deklarasi Kemerdekaan
Dunia Maya" itu, Barlow menegaskan:
"Pemerintah-pemerintah
Dunia Industri, kalian raksasa-raksasa daging dan baja yang payah,
aku datang dari Dunia Maya, rumah baru bagi Ruh. Atas nama masa
depan, kuminta kalian dari masa silam meninggalkan kami sendirian.
Kehadiran kalian tak kami kehendaki. Kalian tak punya kedaulatan
di tempat kami berkumpul. Kami tak memiliki pemerintahan hasil
pemilu, tak pula kami menginginkannya ... Kunyatakan bahwa ruang
sosial global yang tengah kami bangun sepenuhnya bebas dari tirani
yang kalian coba timpakan pada kami. Kalian tak punya hak moral
untuk memerintah kami dan tak pula kalian memiliki metode
pemaksaan tertentu yang perlu kami cemaskan. ... Konsep hukum
kalian tentang hak milik, pengungkapan pendapat, identitas,
gerakan, dan konteks tidak berlaku bagi kami. Konsep-konsep itu
didasarkan pada materi. Dan tak ada materi di dunia kami.
Identitas kami tiada berjasad, sehingga, berbeda dengan kalian,
kami tak bisa diperintah berdasarkan paksaan fisik. ... Kami
hendak membangun peradaban Ruh di Dunia Maya. Semoga dunia ini
lebih manusiawi dan adil daripada dunia sebelumnya yang telah
dibangun oleh pemerintah kalian."[23]
Sebagaimana
yang terjadi dalam dunia sehari-hari, dan sebagaimana makhluk
hidup dalam dunia nyata di mana seks merupakan salah satu topik
dan aktivitas sentral kehidupan, manusia-manusia yang bermigrasi
dan menghuni republik maya — para avatar atau cyborg
— pun berupaya menerjemahkan syahwat mereka ke dalam
ruang-lingkup baru, negeri imajiner itu: seks tanpa melalui kontak
tubuh, hubungan kelamin di mana gejolak birahi, ereksi, dan
penetrasi disalurkan melalui kata-kata di layar kaca, percintaan
tanpa kepastian identitas antara "aku" dan
"dia", mode kanalisasi libido kontemporer, senggama
dunia ilusi, technosex, cybersex!
Menurut
Robin Hamman[24] dalam risetnya
mengenai cybersex yang berlangsung di ruang-ruang ngobrol (chat-rooms)
America Online, terdapat dua jenis cybersex: (1) computer
mediated interactive masturbation in real time, (2) computer
mediated telling of interactive sexual stories (in real time) with
the intent of arousal. Ringkasnya, chatting yang
bertujuan membangkitkan rangsangan seksual sehingga mencapai
kepuasan dengan cara masturbasi. Pada jenis pertama, para pelaku
saling mengetikkan instruksi dan deskripsi dengan satu tangan dan
bermasturbasi dengan tangan lainnya. Pada jenis kedua, para pelaku
saling berbagi kisah erotis sehingga membangkitkan syahwat mereka
sendiri maupun para users lainnya. Banyak kegiatan demikian
itu yang kemudian berlanjut ke "hubungan seks" melalui
telepon (phone-sex) atau bahkan, bila saling cocok, ke
hubungan seks 3-dimensi alias persetubuhan di dunia nyata.
Tetapi,
berdasarkan sejumlah pertimbangan, seks 3-D tidak selalu menjadi
pilihan yang tepat. Seks 2-D lebih disukai justru karena kegiatan
itu lebih aman dan mengasyikkan, dalam arti para pelakunya bisa
menyembunyikan identitas-diri di balik anonimitas komputer
sehingga privacy lebih terjaga dan terbebas dari rasa malu,
bisa bereksperimen dengan berbagai macam jati-diri dan
pencitraan-diri, bebas berganti-ganti pasangan, bisa merakit
idealisasi dan fantasinya sendiri mengenai raut tubuh pasangannya,
terhindar dari ancaman penyakit kelamin, dan sebagainya.
"Cybersex
is better than porn because it’s free, it’s there 24 hours a
day, 7 days a week, and it’s interactive, with a real person on
the other hand. Plus it’s a lot safer than a one-night stand in
today’s world of AIDS."[25]
Daya
tarik cybersex yang aman inilah yang kemudian ditangkap
sebagai peluang oleh industri-industri pornografi terkemuka untuk
memproduksi berbagai aksesoris — yang disebut oleh Howard
Rheingold sebagai teledildonics — yang konon mampu
meningkatkan kenikmatan dalam cybersex seakan-akan semuanya
terjadi dalam kenyataan.[26]
Berikut
ini ringkasan pengalaman dari tiga responden dalam penelitian
Robin Hamman:[27]
***
Bagi Rebecca real sex memang jauh lebih indah dan memuaskan
ketimbang cybersex, namun toh cybersex tetap lebih
menyenangkan ketimbang bermasturbasi sendirian, karena cybersex
bersifat interaktif, timbal-balik, sehingga dengan cybersex
ia bisa mencapai orgasme lebih cepat. Dikarenakan
keyakinan-keyakinan moralnya, dan karena ia khawatir terjangkit
virus HIV, real sex bukanlah pilihan yang tepat baginya. Cybersex-lah
alternatif yang aman dan nyaman. Cybersex memungkinkan dia
bereksperimen dengan aktivitas-aktivitas seksual yang baru, yang
tak bisa dia lakukan dalam kehidupan nyata; memungkinkan dia untuk
mengeksplorasi dan merasa nyaman dengan tubuh dan seksualitasnya
sendiri, yang tak pernah ia rasakan sebelum ia melakukan cybersex.
Bagi Rebecca, medium komputer telah membukakan ruang bagi
penemuan-diri dan transformasi-diri.
***
Alison adalah seorang janda setengah baya yang telah bercerai
sepuluh tahun silam. Selama menjanda, Alison seakan telah
kehilangan diri-seksualnya. Ia tak pernah berkencan dan tak pernah
melakukan hubungan intim dengan siapapun. Ia bahkan tak percaya
bahwa ia akan pernah jatuh cinta lagi pada seorang pria. Namun
kemudian ia bertemu dengan Rex di dunia maya dan segera jatuh hati
kepadanya, dengan perasaan yang sama kuatnya sekiranya itu terjadi
di dunia nyata. Ia rasakan hubungannya dengan Rex sebagai sesuatu
yang "spiritual"; ia merasa sangat dekat, aman dan
terlindung. Mereka berdua pun melakukan cybersex, dan apa
yang dirasakan Alison sesudahnya adalah rasa letih penuh kepuasan
— kepuasan yang serupa dengan yang ia peroleh dalam hubungan
intim di dunia nyata. Medium komputer telah membukakan ruang
eksperimen bagi Alison dan membantu dia menemukan kembali
diri-seksualnya. Akan tetapi, selama ia jatuh cinta kepada Rex,
batas antara diri-online dan diri-offline menjadi
kabur baginya. Ia mengharapkan hubungan itu berlanjut ke dunia
nyata. Namun Rex menolak untuk memindah romantika mereka dari
layar komputer ke layar kehidupan nyata, menolak bertemu Alison
dalam perjumpaan tatap-muka. Yang kemudian terjadi adalah
patah-hati di dunia maya sekaligus kekecewaan yang begitu menindih
di dunia nyata. Alison pun menjadi sadar bahwa hubungan online
seringkali tak mampu menembus batas antara yang maya dan yang
nyata.
***
Rob melakukan cybersex dengan niat main-main. Di
ruang maya, ia kerap mengaku sebagai wanita dan berhubungan intim
dengan para pria, dan hanya sesaat sebelum pasangan prianya itu
mencapai orgasme, tiba-tiba Rob mengaku bahwa dirinya pria juga,
sehingga pasangannya akan merasa sangat terguncang, malu, dan
tertipu. Tindakan Rob ini bisa menimbulkan efek yang berjangka
panjang kepada para korbannya. Mereka bisa kehilangan kepercayaan
kepada orang lain yang tak betul-betul mereka kenal dan merasa tak
nyaman dengan aktivitas seksualnya sendiri. Rob juga kerap
melakukan cybersex dengan para wanita, menyimpan transkrip
"percakapan" mereka dalam bentuk file, dan
mengirimkannya ke banyak orang yang nama keluarganya (surname)
sama dengan si wanita atau yang kota asalnya sama dengan si
wanita. Rob kadang dihadiahi foto telanjang dari para wanita
pasangan mainnya, dan ia segera mengirimkannya kepada keluarga si
wanita atau banyak orang lain. Para korban tindakan Rob bisa
kehilangan privacy seksual mereka. Apa yang dilakukan Rob
serupa dengan perkosaan atau pelecehan seksual. Rob merasa senang
dengan tindakannya, seperti ketika ia mempermainkan tokoh-tokoh
dalam video game, padahal orang-orang yang ia permainkan
itu adalah manusia nyata. Dalam hal ini Robin Hamman menyimpulkan,
jika perkosaan adalah kejahatan terhadap "diri", maka
perkosaan di dunia maya pun merupakan perkosaan yang sesungguhnya,
yang tidak kurang serius dibandingkan kejahatan yang terjadi di
dunia nyata.
Jatuh
cinta, patah hati, cyber-romace, cybersex, cyberorgy,
pelecehan seksual, perkosaan dan pengkhianatan adalah
pengalaman-pengalaman yang agaknya akan semakin memeriahkan
komunitas republik imajiner itu, menghangatkan ruang-ruang chatting
yang setiap harinya riuh-rendah oleh jutaan orang dari berbagai
penjuru bumi. Dan tak beda dengan pelbagai aspek lain dalam
komunikasi yang dijembatani komputer, relasi di ruang-ruang chatting
itu sepenuhnya bertumpu pada kepercayaan bersama terhadap fantasi.
Sebagaimana
dipaparkan Allucquere Rosanne Stone, para netters
beranggapan bahwa komputer bukanlah sekadar alat, melainkan
semacam "medan pengalaman sosial." Komputer memungkinkan
para penggunanya berkomunikasi dengan orang-orang lain serupa
dengan telepon, yang oleh Stone disebut sebagai narrow-bandwidth
medium. Berbeda dengan interaksi tatap-muka di dunia nyata
yang bersifat wide-bandwidth, di mana postur tubuh,
gerak-gerik anggota badan, ekspresi wajah, sorot mata,
tinggi-rendah suara, dan sebagainya menjadi bagian integral dari
komunikasi dan bisa tersampaikan secara jelas, dalam narrow-bandwidth
medium informasi-informasi visual itu tak dapat tersampaikan.
Efek dari penyempitan bandwidth itu dengan demikian adalah
dilibatkannya "fasilitas-fasilitas interpretasi" atau
"kemampuan imajinatif" dari para partisipan komunikasi,
dalam takaran lebih besar dibandingkan dengan yang terjadi pada
interaksi tatap-muka.[28] Untuk
mengatasi kesenjangan yang diakibatkan oleh keterbatasan medium
komunikasi dan untuk menggantikan pelbagai ekspresi non-verbal
yang hilang dalam interaksi di dunia maya, maka diciptakanlah
simbol-simbol tertentu — yakni emoticons — yang mampu
mewakili ekspresi tubuh dan ungkapan emosi, seperti tersenyum,
tertawa, cemberut, menjulurkan lidah, mengedipkan mata, dan
sebagainya, sehingga komunikasi menjadi lebih hidup.[29]
Peran
fantasi yang begitu menentukan inilah yang kemudian memudahkan
idealisasi. Merupakan hal yang lazim bagi para cybersexers
untuk menampilkan dirinya secara berbeda, potret diri yang lebih
ideal di tengah komunitas maya, atau membayangkan partnernya dalam
sosok yang sesuai dengan idealisasinya sendiri. Komunikasi yang
tak terganggu oleh penampilan fisik ini jugalah yang mempercepat
keakraban emosional di antara para chatters.
"You
don’t have all the distractions of how someone looks. It’s
mind to mind and spirit to spirit talking. You focus on who he is,
on the inside. Then if his outside is a little heavier or a little
shorter than you expected, it doesn’t matter because you already
love his soul."[30]
Di
samping itu, menurut Sherry Turkle, relasi online mampu
mencapai keakraban sedemikian cepat karena para partisipan merasa
sendirian di tengah hamparan dunia maya yang tampak ganjil dan
terpencil itu.[31]
Anonimitas
di dunia maya pun mendorong para pengguna internet untuk merasa
aman menyalurkan hasrat seksualnya, mewujudkan impian dan
fantasinya, yang sebaliknya tak dapat mereka lakukan di dunia
nyata. Gender, umpamanya, dalam kehidupan nyata merupakan
salah satu institusi yang "disakralkan", yang diatur
dalam ritual agama dan undang-undang negara, memicu debat
feminisme yang tiada habis-habisnya. Penampilan fisik pun, kendati
terbuka bagi dilakukannya manipulasi kosmetika, pada dasarnya
sulit diubah dan merupakan faktor penting yang turut menentukan
identitas kita dalam kehidupan nyata. Namun di dunia maya,
sebaliknya, setiap orang bisa memilih identitasnya sendiri,
gambaran fisiknya sendiri, bergonta-ganti jenis kelamin (gender-switching
atau gender-surfing) semudah mengganti nama; mengganti
usia, kebangsaan, daerah asal, warna kulit dan sebagainya semudah
mengetikkan kata-kata. Teknologi internet dengan demikian mampu
merongrong pelbagai kepastian yang dikuduskan di dunia nyata, dan
menyediakan ruang kemungkinan bagi setiap orang untuk
mengkompensasikan nasibnya yang absurd, yang tak mungkin diubah
sejak ia terlempar ke dunia ini tanpa berdasarkan kesepakatannya
sendiri.
Di
dunia maya, setiap kepastian bisa bermetamorfosis menjadi
berjuta-juta pilihan dan kemungkinan. Dalam kata-kata Sherry
Turkle, "manusia menjadi tuan dalam presentasi-diri dan
penciptaan diri" sehingga "anggapan tentang ‘diri
sejati’ yang hakiki perlu dipersoalkan."[32]
Teknologi internet telah mengubah pandangan kita tentang makna
komunitas dan pola relasi, pengertian kita tentang diri sendiri
dan orang lain. Dan berhadapan dengan terbukanya beraneka
kemungkinan itu, seperti diungkapkan oleh Joseph Nechvatal,[33]
cybersex bisa berarti bangkitnya daya psikis kita yang
terpendam, kemampuan kita untuk terbebas dari penjara tubuh, dan
mewujudkan simbiosis ruh dengan ruh, aurat dengan aurat, bersama
semua orang lain dari segala penjuru dunia. "Interaktivitas
seksual adalah kualitas yang kian dicari oleh banyak orang dalam
semua aspek komunikasi, yang lazim diistilahkan sebagai
‘intercourse’. Interaktivitas fantasi seksual mendorong setiap
orang untuk berpartisipasi di dalam bekerjanya sistem imajiner,
baik sistem itu beroperasi dalam tataran konseptual, perilaku,
maupun lingkungan, dan baik ia bersifat utilitarian, artistik,
atau seksual. Publik menjadi kian sadar akan nilai ruang
elektronik sebagai ruang transformasi seks pribadi, komunikasi,
permainan, kegiatan belajar, dan informasi. Anggapan-anggapan
kultural lama mengenai realitas tak bisa lagi menyesuaikan dirinya
dengan kebutuhan akan fantasi yang dituntut oleh seks baru yang
bersifat pasca-biologis, elektronik, dan online ini."
Pesona
dunia maya tengah menanti Anda. Kita bertemu kembali di sana,
meski, barangkali, kita tak akan lagi saling mengenali. []
|
|
Halaman
02 |
|
dari
03
halaman |
|