|
|
Bagi
bangsa Yunani, salah satu hasil terpenting dari perdagangan dan
perompakan — pada mulanya dua hal ini sulit dipisahkan —
adalah dikenalnya seni tulis-menulis. Meskipun tulisan telah
dikenal selama ribuan tahun di Mesir dan Babilonia, dan
orang-orang Kreta di Minos pun telah memiliki abjad (yang belum
dapat ditafsirkan), tidak ada bukti meyakinkan bahwa bangsa Yunani
telah mengenal seni tulis-menulis sampai kira-kira abad ke-10 SM.
Mereka mempelajari seni ini dari bangsa Phoenicia yang,
sebagaimana penduduk Siria lainnya, menerima pengaruh dari Mesir
dan Babilonia, dan yang menguasai perdagangan bahari sampai
lahirnya kota-kota yang didirikan bangsa Yunani di Ionia, Italia,
dan Sisilia. Pada abad ke-14 SM, ketika menulis kepada Ikhnaton
(raja bida’ah dari Mesir), bangsa Siria masih memakai abjad paku
Babilonia; sedangkan Hiram dari Tyre (969-936) memakai abjad
Phoenicia yang agaknya dikembangkan dari abjad Mesir. Pada mulanya
orang Mesir memakai tulisan yang sepenuhnya berupa gambar-gambar;
lambat-laun gambar-gambar itu, setelah banyak mengalami
konvensionalisasi, lantas hanya mewakili suku kata (yakni suku
kata pertama dari nama benda-benda yang digambar), dan pada
akhirnya hanya mewakili satu huruf, berdasarkan prinsip bahwa
“huruf P adalah Pemanah yang membidik seekor kodok.”
Langkah terakhir ini, yang oleh orang Mesir sendiri belum diolah
secara lengkap namun kemudian diteruskan oleh bangsa Phoenicia,
memungkinkan abjad-abjad itu memberikan banyak kemudahan. Bangsa
Yunani, dengan meminjam dari bangsa Phoenicia, merombak
abjad-abjad itu agar sesuai dengan bahasa mereka, dan melakukan
penyempurnaan penting berupa penambahan huruf-huruf hidup terhadap
alfabet yang hanya terdiri dari huruf mati itu. Ditemukannya
metode penulisan yang praktis ini tak ayal lagi telah sangat
mendorong perkembangan peradaban Yunani.
Hasil
pertama peradaban Hellenis
yang menonjol adalah karya-karya Homerus. Segala hal mengenai
Homerus sebetulnya bersifat dugaan, namun opini yang terkuat
tampak menunjukkan bahwa Homerus sesungguhnya adalah sejumlah
penyair dan bukan hanya satu orang. Untuk merampungkan Iliad dan
Odyssey di antara para penyair itu mungkin perlu waktu dua ratus
tahun. Beberapa pihak mengatakan dari tahun 750 sampai 550 SM.
Sementara kalangan lain menyebutkan bahwa karya “Homerus”
sudah hampir rampung pada akhir abad ke-8 SM.
Syair-syair Homerus, dalam bentuknya yang sekarang, dibawa ke
Athena oleh Peisistratus yang bertakhta (dengan beberapa jeda)
dari tahun 560 sampai 527 SM. Sejak saat itu dan seterusnya,
generasi muda Athena mempelajari Homerus dengan menghapal, dan ini
merupakan bagian terpenting dalam pendidikan mereka. Di sejumlah
kawasan di Yunani, terutama di Sparta, karya Homerus belum
dianggap bergengsi sebagaimana di Athena sampai suatu saat
kemudian.
Syair-syair
Homerus, seperti roman-roman istana di Abad Pertengahan nantinya,
mewakili sudut pandang kaum bangsawan yang beradab, dan
mengabaikan pelbagai takhayul kelas rendah yang masih meluas di
tengah masyarakat. Jauh di belakang hari, banyak di antara
kepercayaan itu hidup kembali. Dengan panduan ilmu antropologi,
banyak penulis modern yang kemudian sampai pada kesimpulan bahwa
Homerus adalah seorang juru sensor yang sama sekali jauh dari ciri
primitif, sejenis ahli tafsir abad ke-18 yang merasionalisasikan
mitos-mitos kuno, yang menjunjung cita-cita kelas-atas untuk
mencapai peradaban tinggi. Dewa-dewi Olympia, yang mewakili
keyakinan agama dalam karya Homerus, bukanlah satu-satunya objek
sesembahan di kalangan bangsa Yunani, baik di masa hidup Homerus
maupun sesudahnya. Masih ada unsur-unsur agama rakyat lainnya yang
lebih gelap dan primitif, yang tersisihkan oleh pemikiran Yunani
yang lebih beradab, namun tetap siaga untuk bangkit kembali di
masa-masa lemah atau kemelut. Dalam masa-masa dekadensi, pelbagai
kepercayaan yang disingkirkan Homerus terbukti tetap bertahan,
setengah terkubur, di sepanjang periode klasik. Fakta ini bisa
menjelaskan banyak hal yang justru tampak tidak konsisten dan
mengherankan.
Di
manapun juga, agama primitif lebih bersifat kesukuan daripada
perorangan. Ritus-ritus tertentu dilakukan dengan menggunakan
kekuatan gaib yang simpatik untuk membantu kepentingan-kepentingan
suku, terutama dalam kaitannya dengan kesuburan, tumbuh-tumbuhan,
binatang, dan manusia. Musim dingin adalah saat di mana matahari
perlu didorong agar tidak terus melemah kekuatannya; musim semi
dan panen pun memerlukan upacara-upacara tersendiri.
Upacara-upacara itu seringkali dilakukan sedemikian rupa sehingga
membangkitkan gairah kolektif yang luar biasa, di mana rasa
keterpisahan di antara orang-perorangan lenyap dan mereka
merasakan diri sebagai kesatuan tunggal dengan semua anggota suku.
Di seluruh dunia, pada tahap perkembangan keagamaan tertentu,
binatang-binatang suci dan manusia dikorbankan dalam upacara dan
dimakan. Di pelbagai wilayah yang berbeda, tahap ini terjadi pada
masa-masa yang jauh berbeda pula. Adat mengorbankan manusia
umumnya bertahan lebih lama daripada adat memakan korban manusia;
di Yunani adat ini belum punah pada masa awal sejarahnya.
Sedangkan ritus kesuburan yang tanpa disertai unsur kebiadaban
seperti itu sudah lazim di seluruh Yunani; agama misteri
Eleusinian, khususnya, pada dasarnya melambangkan aspek-aspek
pertanian.
Harus
diakui bahwa agama dalam karya Homerus sebetulnya tidak terlalu
religius. Dewa-dewinya sepenuhnya berciri manusia, dan berbeda
dengan manusia hanya karena mereka baka dan memiliki kekuatan
melebihi manusia. Dari sisi moral tak ada yang bisa dikatakan
mengenai mereka, dan sulit dimengerti bagaimana dewa-dewi itu bisa
membangkitkan rasa takzim. Di sejumlah bagian, yang dianggap
sebagai bagian-bagian akhir karya, dewa-dewi itu dikisahkan dengan
gaya Voltairean yang kurangajar. Perasaan religius asli yang
terdapat dalam karya Homerus sebetulnya kurang berkaitan dengan
dewa-dewi Olympus itu, namun lebih berkenaan dengan sejumlah hal
yang samar-samar seperti Nasib atau Keniscayaan atau Takdir, yang
terhadapnya Zeus pun tak bisa mengelak. Perihal Nasib sangat
mempengaruhi seluruh pemikiran Yunani, dan mungkin merupakan salah
satu sumber ilham yang darinya ilmu pengetahuan menerima keyakinan
mengenai hukum alam.
|
|
Halaman
04 |
|
dari
10
halaman |
|