- SITUS WEB PRIBADI SIGIT DJATMIKO -

Lahirnya Peradaban Yunani

Bertrand Russell

Bagi bangsa Yunani, salah satu hasil terpenting dari perdagangan dan perompakan — pada mulanya dua hal ini sulit dipisahkan — adalah dikenalnya seni tulis-menulis. Meskipun tulisan telah dikenal selama ribuan tahun di Mesir dan Babilonia, dan orang-orang Kreta di Minos pun telah memiliki abjad (yang belum dapat ditafsirkan), tidak ada bukti meyakinkan bahwa bangsa Yunani telah mengenal seni tulis-menulis sampai kira-kira abad ke-10 SM. Mereka mempelajari seni ini dari bangsa Phoenicia yang, sebagaimana penduduk Siria lainnya, menerima pengaruh dari Mesir dan Babilonia, dan yang menguasai perdagangan bahari sampai lahirnya kota-kota yang didirikan bangsa Yunani di Ionia, Italia, dan Sisilia. Pada abad ke-14 SM, ketika menulis kepada Ikhnaton (raja bida’ah dari Mesir), bangsa Siria masih memakai abjad paku Babilonia; sedangkan Hiram dari Tyre (969-936) memakai abjad Phoenicia yang agaknya dikembangkan dari abjad Mesir. Pada mulanya orang Mesir memakai tulisan yang sepenuhnya berupa gambar-gambar; lambat-laun gambar-gambar itu, setelah banyak mengalami konvensionalisasi, lantas hanya mewakili suku kata (yakni suku kata pertama dari nama benda-benda yang digambar), dan pada akhirnya hanya mewakili satu huruf, berdasarkan prinsip bahwa “huruf P adalah Pemanah yang membidik seekor kodok.”[6] Langkah terakhir ini, yang oleh orang Mesir sendiri belum diolah secara lengkap namun kemudian diteruskan oleh bangsa Phoenicia, memungkinkan abjad-abjad itu memberikan banyak kemudahan. Bangsa Yunani, dengan meminjam dari bangsa Phoenicia, merombak abjad-abjad itu agar sesuai dengan bahasa mereka, dan melakukan penyempurnaan penting berupa penambahan huruf-huruf hidup terhadap alfabet yang hanya terdiri dari huruf mati itu. Ditemukannya metode penulisan yang praktis ini tak ayal lagi telah sangat mendorong perkembangan peradaban Yunani. 

 

Hasil pertama peradaban Hellenis[7] yang menonjol adalah karya-karya Homerus. Segala hal mengenai Homerus sebetulnya bersifat dugaan, namun opini yang terkuat tampak menunjukkan bahwa Homerus sesungguhnya adalah sejumlah penyair dan bukan hanya satu orang. Untuk merampungkan Iliad dan Odyssey di antara para penyair itu mungkin perlu waktu dua ratus tahun. Beberapa pihak mengatakan dari tahun 750 sampai 550 SM.[8] Sementara kalangan lain menyebutkan bahwa karya “Homerus” sudah hampir rampung pada akhir abad ke-8 SM.[9] Syair-syair Homerus, dalam bentuknya yang sekarang, dibawa ke Athena oleh Peisistratus yang bertakhta (dengan beberapa jeda) dari tahun 560 sampai 527 SM. Sejak saat itu dan seterusnya, generasi muda Athena mempelajari Homerus dengan menghapal, dan ini merupakan bagian terpenting dalam pendidikan mereka. Di sejumlah kawasan di Yunani, terutama di Sparta, karya Homerus belum dianggap bergengsi sebagaimana di Athena sampai suatu saat kemudian. 

 

Syair-syair Homerus, seperti roman-roman istana di Abad Pertengahan nantinya, mewakili sudut pandang kaum bangsawan yang beradab, dan mengabaikan pelbagai takhayul kelas rendah yang masih meluas di tengah masyarakat. Jauh di belakang hari, banyak di antara kepercayaan itu hidup kembali. Dengan panduan ilmu antropologi, banyak penulis modern yang kemudian sampai pada kesimpulan bahwa Homerus adalah seorang juru sensor yang sama sekali jauh dari ciri primitif, sejenis ahli tafsir abad ke-18 yang merasionalisasikan mitos-mitos kuno, yang menjunjung cita-cita kelas-atas untuk mencapai peradaban tinggi. Dewa-dewi Olympia, yang mewakili keyakinan agama dalam karya Homerus, bukanlah satu-satunya objek sesembahan di kalangan bangsa Yunani, baik di masa hidup Homerus maupun sesudahnya. Masih ada unsur-unsur agama rakyat lainnya yang lebih gelap dan primitif, yang tersisihkan oleh pemikiran Yunani yang lebih beradab, namun tetap siaga untuk bangkit kembali di masa-masa lemah atau kemelut. Dalam masa-masa dekadensi, pelbagai kepercayaan yang disingkirkan Homerus terbukti tetap bertahan, setengah terkubur, di sepanjang periode klasik. Fakta ini bisa menjelaskan banyak hal yang justru tampak tidak konsisten dan mengherankan. 

 

Di manapun juga, agama primitif lebih bersifat kesukuan daripada perorangan. Ritus-ritus tertentu dilakukan dengan menggunakan kekuatan gaib yang simpatik untuk membantu kepentingan-kepentingan suku, terutama dalam kaitannya dengan kesuburan, tumbuh-tumbuhan, binatang, dan manusia. Musim dingin adalah saat di mana matahari perlu didorong agar tidak terus melemah kekuatannya; musim semi dan panen pun memerlukan upacara-upacara tersendiri. Upacara-upacara itu seringkali dilakukan sedemikian rupa sehingga membangkitkan gairah kolektif yang luar biasa, di mana rasa keterpisahan di antara orang-perorangan lenyap dan mereka merasakan diri sebagai kesatuan tunggal dengan semua anggota suku. Di seluruh dunia, pada tahap perkembangan keagamaan tertentu, binatang-binatang suci dan manusia dikorbankan dalam upacara dan dimakan. Di pelbagai wilayah yang berbeda, tahap ini terjadi pada masa-masa yang jauh berbeda pula. Adat mengorbankan manusia umumnya bertahan lebih lama daripada adat memakan korban manusia; di Yunani adat ini belum punah pada masa awal sejarahnya. Sedangkan ritus kesuburan yang tanpa disertai unsur kebiadaban seperti itu sudah lazim di seluruh Yunani; agama misteri Eleusinian, khususnya, pada dasarnya melambangkan aspek-aspek pertanian. 

 

Harus diakui bahwa agama dalam karya Homerus sebetulnya tidak terlalu religius. Dewa-dewinya sepenuhnya berciri manusia, dan berbeda dengan manusia hanya karena mereka baka dan memiliki kekuatan melebihi manusia. Dari sisi moral tak ada yang bisa dikatakan mengenai mereka, dan sulit dimengerti bagaimana dewa-dewi itu bisa membangkitkan rasa takzim. Di sejumlah bagian, yang dianggap sebagai bagian-bagian akhir karya, dewa-dewi itu dikisahkan dengan gaya Voltairean yang kurangajar. Perasaan religius asli yang terdapat dalam karya Homerus sebetulnya kurang berkaitan dengan dewa-dewi Olympus itu, namun lebih berkenaan dengan sejumlah hal yang samar-samar seperti Nasib atau Keniscayaan atau Takdir, yang terhadapnya Zeus pun tak bisa mengelak. Perihal Nasib sangat mempengaruhi seluruh pemikiran Yunani, dan mungkin merupakan salah satu sumber ilham yang darinya ilmu pengetahuan menerima keyakinan mengenai hukum alam.


[6] Misalnya, “Gimel,” huruf ketiga abjad Yunani, berarti “unta”, dan tanda atau huruf itu adalah gambar unta yang telah mengalami konvensionalisasi.

 

[7] Catatan Penerjemah: Hellenis adalah sebutan untuk segala sesuatu yang berkaitan dengan Yunani, sedangkan bangsa Yunani juga disebut Hellene dan negeri Yunani disebut Hellas.

 

[8] Beloch, Griechische Geschichte, Bab XII.

 

[9] Rostovtseff, History of the Ancient World, Vol. I, hal. 399.

 

Halaman

04

dari 10

halaman