|
|
Dewa-dewi
Homerik adalah sesembahan kaum bangsawan penakluk, dan bukan dewa
kesuburan yang berguna bagi mereka yang benar-benar
bercocok-tanam. Sebagaimana diungkapkan Gilbert Murray:
“Dewa-dewi
sesembahan kebanyakan bangsa menyatakan bahwa merekalah yang
mencipta dunia. Dewa-dewi Olympia tak membuat penegasan demikian.
Yang pernah mereka lakukan paling-paling adalah menaklukkan dunia.
... Dan setelah mereka taklukkan kerajaannya, lantas apa yang
mereka perbuat? Apakah mereka menjalankan pemerintahan? Apakah
mereka mengembangkan pertanian? Apakah mereka menyelenggarakan
perdagangan dan industri? Tak satu pun di antaranya. Buat apa
mereka harus melakukan kerja jujur seperti itu? Lebih enak mereka
hidup dari hasil upeti, sementara rakyat yang tak sudi membayar
tinggal mereka gempur dengan petir. Mereka adalah para kepala suku
penakluk, para perompak kerajaan. Mereka berperang, berpesta-pora,
bermain, dan menggubah musik; mereka minum sampai mabuk, dan
tertawa terbahak-bahak di tengah para abdi yang patuh melayani
mereka. Mereka tak kenal takut, kecuali kepada rajanya sendiri.
Mereka tak pernah berdusta, kecuali dalam soal perang dan
percintaan.”
Para
pahlawan Homerus yang berwujud manusia pun kurang terpuji
perilakunya. Yang terkenal adalah Keluarga Pelops, yang nyatanya
gagal menciptakan pola kehidupan keluarga yang bahagia.
“Tantalos,
pendiri dinasti dari Asia itu, mengawali kisahnya dengan
mendurhakai para dewa; konon, berusaha mengelabui para dewa
sehingga mereka memakan daging manusia, yakni daging Pelops, putra
Tantalos sendiri. Sesudah Pelops secara ajaib bisa hidup kembali,
ganti dialah yang berbuat durhaka. Ia berhasil memenangkan balap
kereta yang terkenal melawan Oinomaos, raja Pisa, karena
bersekongkol dengan Myrtilos, kusir kereta raja Pisa itu, yang
oleh Pelops dijanjikan bakal diberi hadiah namun akhirnya si kusir
malahan diceburkan ke laut. Kutukan pun menimpa putra-putra
Pelops, yakni Atreus dan Tyestes, dalam bentuk yang oleh orang
Yunani dinamakan ate, semacam hasrat kuat yang terus
melekat untuk berbuat angkara. Tyestes mengelabui istri saudaranya
sehingga berhasil mencuri “keberuntungan” keluarga, berupa
domba berbulu emas yang terkenal. Atreus suatu ketika membebaskan
saudaranya itu dari pembuangan, pura-pura mengajaknya berdamai,
dan menjamunya dengan daging anak-anak Tyestes sendiri. Kutukan
ini diwarisi oleh Agamemnon, putra Atreus, yang mendurhakai
Artemis karena membunuh rusa keramat, sehingga harus mengorbankan
putrinya sendiri, Iphigenia, untuk memenuhi tuntutan sang dewi dan
memperoleh jalan yang aman bagi rombongannya menuju Troya.
Agamemnon kemudian dibunuh oleh istrinya sendiri yang serong,
Klytaimnestra, beserta kekasih gelapnya, Aigisthos, yang tak lain
adalah putra Tyestes yang masih hidup. Orestes, putra Agamemnon,
kemudian menuntut bela kematian ayahnya dengan membunuh ibunya
sendiri dan Aigisthos.”
Syair-syair
Homerus sebagai satu karya yang utuh adalah produk Ionia, yakni
sebagai bagian dari Asia Kecil Hellenis serta pulau-pulau
sekitarnya. Di suatu saat yang selambat-lambatnya termasuk dalam
abad ke-6 SM, syair-syair Homerus telah rampung sebagaimana
wujudnya saat ini. Pada abad ini pula ilmu pengetahuan, filsafat,
dan matematika Yunani lahir. Di waktu yang sama
peristiwa-peristiwa yang menimbulkan pengaruh mendasar pun tengah
berlangsung di kawasan-kawasan lain di dunia. Konfusius, Buddha,
dan Zoroaster, jika mereka memang pernah ada, agaknya hidup pada
abad ini pula.
Di pertengahan abad ini Imperium Persia didirikan oleh Cyrus;
menjelang akhir abad kota-kota Yunani di Ionia, yang telah diberi
otonomi terbatas oleh Persia, melakukan pemberontakan yang
berakhir sia-sia, yang dipadamkan oleh Darius, sementara
orang-orang Ionia yang terbaik harus menjalani pembuangan.
Beberapa filsuf dari periode ini adalah kaum pengungsi yang
mengelana dari kota ke kota di wilayah-wilayah Hellenis yang masih
merdeka, menyebarluaskan peradaban yang sampai saat itu baru
dikenal secara terbatas, terutama di Ionia. Para filsuf
diperlakukan dengan baik selama pengembaraannya itu. Xenophanes,
yang sudah dewasa di masa-masa akhir abad ke-6 SM dan merupakan
salah seorang pengungsi, mengungkapkan: “Inilah beberapa hal
yang biasanya kami perbincangkan di dekat pendiangan di musim
dingin, sementara kami berbaring di atas balai-balai yang empuk,
sesudah menyantap suguhan yang patut, mencicipi anggur manis dan
mengunyah kacang: ‘Dari negeri manakah Anda, dan berapa usia
Anda, Tuan yang baik? Dan berapa usia Anda ketika Mede
muncul?’” Wilayah-wilayah Yunani lainnya berhasil
mempertahankan kemerdekaannya lewat perang di Salamis dan Plataea,
yang sesudahnya Ionia pun merdeka untuk sementara waktu.
Yunani
terdiri dari sejumlah besar negeri-negeri kecil yang mandiri, yang
masing-masing memiliki satu kota dengan sejumlah wilayah pertanian
di sekitarnya. Taraf peradabannya sangat berbeda-beda di antara
pelbagai daerah yang berbeda di Yunani, dan hanya beberapa kota
yang memberikan sumbangan bagi keseluruhan prestasi Hellenis.
Sparta, yang akan saya bahas lebih luas nanti, menonjol dalam hal
militer, namun tidak dalam hal budaya. Korintha adalah wilayah
yang kaya dan makmur, pusat perniagaan besar, namun tak banyak
melahirkan tokoh-tokoh besar.
|
|
Halaman
05 |
|
dari
10
halaman |
|