- SITUS WEB PRIBADI SIGIT DJATMIKO -

Lahirnya Peradaban Yunani

Bertrand Russell

Dewa-dewi Homerik adalah sesembahan kaum bangsawan penakluk, dan bukan dewa kesuburan yang berguna bagi mereka yang benar-benar bercocok-tanam. Sebagaimana diungkapkan Gilbert Murray:[10]

 

“Dewa-dewi sesembahan kebanyakan bangsa menyatakan bahwa merekalah yang mencipta dunia. Dewa-dewi Olympia tak membuat penegasan demikian. Yang pernah mereka lakukan paling-paling adalah menaklukkan dunia. ... Dan setelah mereka taklukkan kerajaannya, lantas apa yang mereka perbuat? Apakah mereka menjalankan pemerintahan? Apakah mereka mengembangkan pertanian? Apakah mereka menyelenggarakan perdagangan dan industri? Tak satu pun di antaranya. Buat apa mereka harus melakukan kerja jujur seperti itu? Lebih enak mereka hidup dari hasil upeti, sementara rakyat yang tak sudi membayar tinggal mereka gempur dengan petir. Mereka adalah para kepala suku penakluk, para perompak kerajaan. Mereka berperang, berpesta-pora, bermain, dan menggubah musik; mereka minum sampai mabuk, dan tertawa terbahak-bahak di tengah para abdi yang patuh melayani mereka. Mereka tak kenal takut, kecuali kepada rajanya sendiri. Mereka tak pernah berdusta, kecuali dalam soal perang dan percintaan.”

 

Para pahlawan Homerus yang berwujud manusia pun kurang terpuji perilakunya. Yang terkenal adalah Keluarga Pelops, yang nyatanya gagal menciptakan pola kehidupan keluarga yang bahagia.

 

“Tantalos, pendiri dinasti dari Asia itu, mengawali kisahnya dengan mendurhakai para dewa; konon, berusaha mengelabui para dewa sehingga mereka memakan daging manusia, yakni daging Pelops, putra Tantalos sendiri. Sesudah Pelops secara ajaib bisa hidup kembali, ganti dialah yang berbuat durhaka. Ia berhasil memenangkan balap kereta yang terkenal melawan Oinomaos, raja Pisa, karena bersekongkol dengan Myrtilos, kusir kereta raja Pisa itu, yang oleh Pelops dijanjikan bakal diberi hadiah namun akhirnya si kusir malahan diceburkan ke laut. Kutukan pun menimpa putra-putra Pelops, yakni Atreus dan Tyestes, dalam bentuk yang oleh orang Yunani dinamakan ate, semacam hasrat kuat yang terus melekat untuk berbuat angkara. Tyestes mengelabui istri saudaranya sehingga berhasil mencuri “keberuntungan” keluarga, berupa domba berbulu emas yang terkenal. Atreus suatu ketika membebaskan saudaranya itu dari pembuangan, pura-pura mengajaknya berdamai, dan menjamunya dengan daging anak-anak Tyestes sendiri. Kutukan ini diwarisi oleh Agamemnon, putra Atreus, yang mendurhakai Artemis karena membunuh rusa keramat, sehingga harus mengorbankan putrinya sendiri, Iphigenia, untuk memenuhi tuntutan sang dewi dan memperoleh jalan yang aman bagi rombongannya menuju Troya. Agamemnon kemudian dibunuh oleh istrinya sendiri yang serong, Klytaimnestra, beserta kekasih gelapnya, Aigisthos, yang tak lain adalah putra Tyestes yang masih hidup. Orestes, putra Agamemnon, kemudian menuntut bela kematian ayahnya dengan membunuh ibunya sendiri dan Aigisthos.”[11]

 

Syair-syair Homerus sebagai satu karya yang utuh adalah produk Ionia, yakni sebagai bagian dari Asia Kecil Hellenis serta pulau-pulau sekitarnya. Di suatu saat yang selambat-lambatnya termasuk dalam abad ke-6 SM, syair-syair Homerus telah rampung sebagaimana wujudnya saat ini. Pada abad ini pula ilmu pengetahuan, filsafat, dan matematika Yunani lahir. Di waktu yang sama peristiwa-peristiwa yang menimbulkan pengaruh mendasar pun tengah berlangsung di kawasan-kawasan lain di dunia. Konfusius, Buddha, dan Zoroaster, jika mereka memang pernah ada, agaknya hidup pada abad ini pula.[12] Di pertengahan abad ini Imperium Persia didirikan oleh Cyrus; menjelang akhir abad kota-kota Yunani di Ionia, yang telah diberi otonomi terbatas oleh Persia, melakukan pemberontakan yang berakhir sia-sia, yang dipadamkan oleh Darius, sementara orang-orang Ionia yang terbaik harus menjalani pembuangan. Beberapa filsuf dari periode ini adalah kaum pengungsi yang mengelana dari kota ke kota di wilayah-wilayah Hellenis yang masih merdeka, menyebarluaskan peradaban yang sampai saat itu baru dikenal secara terbatas, terutama di Ionia. Para filsuf diperlakukan dengan baik selama pengembaraannya itu. Xenophanes, yang sudah dewasa di masa-masa akhir abad ke-6 SM dan merupakan salah seorang pengungsi, mengungkapkan: “Inilah beberapa hal yang biasanya kami perbincangkan di dekat pendiangan di musim dingin, sementara kami berbaring di atas balai-balai yang empuk, sesudah menyantap suguhan yang patut, mencicipi anggur manis dan mengunyah kacang: ‘Dari negeri manakah Anda, dan berapa usia Anda, Tuan yang baik? Dan berapa usia Anda ketika Mede muncul?’” Wilayah-wilayah Yunani lainnya berhasil mempertahankan kemerdekaannya lewat perang di Salamis dan Plataea, yang sesudahnya Ionia pun merdeka untuk sementara waktu.[13]

 

Yunani terdiri dari sejumlah besar negeri-negeri kecil yang mandiri, yang masing-masing memiliki satu kota dengan sejumlah wilayah pertanian di sekitarnya. Taraf peradabannya sangat berbeda-beda di antara pelbagai daerah yang berbeda di Yunani, dan hanya beberapa kota yang memberikan sumbangan bagi keseluruhan prestasi Hellenis. Sparta, yang akan saya bahas lebih luas nanti, menonjol dalam hal militer, namun tidak dalam hal budaya. Korintha adalah wilayah yang kaya dan makmur, pusat perniagaan besar, namun tak banyak melahirkan tokoh-tokoh besar.


[10] Five Stages of Greek Religion, hal. 67.

 

[11] Primitive Culture in Greece, H.J. Rose, 1925, hal. 193

.

[12] Walau begitu, mengenai masa hidup Zoroaster ini bersifat dugaan. Beberapa kalangan menempatkannya lebih dini, yakni sampai tahun 1000 SM. Lihat Cambridge Ancient History, Vol. IV, hal. 207.

 

[13] Akibat kekalahan Athena oleh Sparta, bangsa Persia mendapat kekuasaan kembali atas seluruh pesisir Asia Kecil, di mana hak-hak mereka itu diakui dalam Perdamaian Antalcidas (387-86 SM). Kira-kira lima puluh tahun kemudian, mereka dipersatukan dalam Imperium Aleksander.

Halaman

05

dari 10

halaman