- SITUS WEB PRIBADI SIGIT DJATMIKO -

Lahirnya Peradaban Yunani

Bertrand Russell

Ada pula komunitas-komunitas pedesaan yang sepenuhnya petani, seperti masyarakat Arcadia yang terkenal, yang oleh orang-orang kota diangankan sebagai kehidupan yang tenteram-damai, namun sesungguhnya penuh horor barbarik zaman kuno. 

 

Para warganya menyembah Pan, dan memiliki beragam kultus kesuburan, di mana seringkali semacam tiang persegi yang sederhana dipakai sebagai pengganti arca sang dewa. Domba menjadi lambang kesuburan, sebab para petani terlampau miskin untuk bisa memiliki lembu. Jika terjadi paceklik, arca Pan itu dipukuli. (Adat serupa masih berlaku di dusun-dusun terpencil di Cina). Ada satu suku yang dianggap berasal dari serigala, yang mungkin ada kaitannya dengan adat mempersembahkan korban manusia dan kanibalisme. Barangsiapa mencicipi daging manusia yang dikorbankan konon menjadi serigala yang dianggap nenek-moyangnya itu. Ada pula gua yang dikeramatkan untuk Zeus Lykaios (serigala-Zeus); dalam gua ini tak seorang pun yang punya bayang-bayang, dan barangsiapa masuk ke dalamnya akan mati dalam setahun. Semua kepercayaan itu masih amat diyakini di zaman klasik.[14]

 

Pan, yang nama aslinya “Paon” yang berarti pemberi makan atau gembala, memperoleh gelarnya yang lebih dikenal luas itu, yang artinya Maha Dewa, ketika pemujaan terhadapnya diambil-alih oleh bangsa Athena di abad ke-5 SM, yakni seusai perang Persia.[15]

 

Di Yunani kuno, bagaimanapun juga, banyak hal yang bisa kita anggap sebagai agama menurut pengertiannya saat ini. Ini bukan dalam kaitannya dengan dewa-dewi Olympia, namun berkaitan dengan Dionysus, atau Bacchus, yang bagi kita umumnya memberi kesan jelek karena dia adalah dewa anggur dan kemabukan. Asal-mula munculnya mistisisme yang mendalam, yang berasal dari pemujaan terhadapnya, dan kemudian sangat mempengaruhi banyak filsuf dan bahkan punya peranan dalam membentuk teologi Kristiani, sangat penting untuk diketahui dan harus dipahami oleh siapapun yang hendak mempelajari perkembangan pemikiran Yunani.

 

Dionysus, atau Bacchus, semula adalah dewa bangsa Thrace. Bangsa ini jauh kurang beradab dibandingkan bangsa Yunani yang memandang mereka sebagai kaum barbar. Seperti semua kaum petani primitif lainnya, mereka mempunyai kultus kesuburan dan satu dewa yang meningkatkan kesuburan. Nama dewa itu Bacchus. Kurang jelas apakah Bacchus berwujud manusia ataukah lembu. Ketika orang Thrace menemukan cara membuat bir, mereka beranggapan bahwa ada dewa kemabukan, dan mereka pun memberikan hormat untuk Bacchus. Kemudian, ketika mereka mengenal anggur dan mulai mencoba minum anggur, mereka lebih hormat lagi kepada Bacchus. Fungsi dewa ini sebagai peningkat kesuburan pada umumnya jadi agak tersisih oleh fungsinya yang berkaitan dengan buah anggur dan rasa mabuk nan suci yang disebabkan cairan anggur.

 

Tidak diketahui kapankah pemujaan atas Bacchus ini bergeser dari Thrace ke Yunani, namun tampaknya ini terjadi sesaat sebelum masa-masa awal sejarah tertulis. Kultus terhadap Bacchus ini ditanggapi dengan sikap permusuhan oleh kalangan ortodoks, namun demikian kultus itu tetap bertahan. Kultus ini banyak mengandung unsur barbarik seperti membantai binatang liar hingga koyak-moyak dan menyantapnya mentah-mentah sampai tandas. Kultus ini pun anehnya mengandung unsur feminisme. Para istri dan gadis-gadis terhormat, dalam rombongan besar, biasa melewatkan waktu semalam suntuk di tanah lapang di bukit-bukit, dan melakukan tari-tarian yang mendorong ekstase, dalam keadaan mabuk yang sebagian disebabkan alkohol, tetapi terutama karena kekuatan mistik. Para suami merasa jengkel terhadap kegiatan tersebut, namun tidak berani menentang agama. Segi-segi yang indah maupun yang liar pada kultus itu ditampilkan dalam drama Euripides, Bacchae.

 

Tidak mengherankan jika Bacchus bisa diterima luas di Yunani. Seperti semua masyarakat yang mengalami pemberadaban secara mendadak, bangsa Yunani atau setidaknya sebagian dari mereka mengembangkan rasa cinta terhadap unsur-unsur primitif serta kerinduan akan kehidupan yang lebih naluriah dan penuh gairah daripada kehidupannya sekarang yang dibatasi oleh sanksi-sanksi moral. Bagi laki-laki maupun perempuan yang karena tekanan moral menjadi lebih beradab hanya sebatas perilakunya namun tidak dalam perasaannya, maka rasionalitas terasa menjemukan dan keutamaan terasa sebagai beban yang memperbudak. Ini memicu reaksi dalam pikiran, perasaan, dan perilaku. Adalah reaksi dalam pikiran yang akan kita cermati secara khusus, namun sebelumnya harus dibahas juga reaksi dalam perasaan dan perilaku.

 

Yang membedakan manusia beradab dengan yang primitif terutama adalah prudensi [16] atau, dalam istilah yang agak lebih luas, berwawasan ke depan. Ia bersedia menahan penderitaan saat ini demi kesenangan nanti, bahkan sekalipun kesenangan nanti itu masih agak jauh. Kebiasaan ini mulai penting seiring dengan lahirnya pertanian; tak ada binatang dan manusia primitif yang akan bekerja di musim semi supaya punya persediaan makan di musim dingin nanti, kecuali pada beberapa bentuk tindakan yang murni naluriah, seperti lebah yang menghasilkan madu atau tupai yang memendam kacang-kacangan di dalam tanah. Dalam tindakan demikian itu tak ada wawasan ke depan; yang ada hanyalah dorongan untuk bertindak yang, di mata manusia, jelas akan berguna kemudian. Wawasan yang sepenuhnya ke depan hanya terjadi jika manusia melakukan sesuatu di mana ia bukan didorong oleh perasaannya, tetapi karena nalarnya mengatakan bahwa ia akan mendapat manfaat dari tindakan itu di waktu mendatang. Berburu tidak memerlukan wawasan ke depan, karena berburu memang menyenangkan; sedangkan mengolah tanah adalah kerja, dan tidak dapat dilakukan berdasarkan dorongan sesaat.


[14] Rose, Primitive Greece, hal. 65 ff.

 

[15] J.E. Harrison, Prolegomena to the Study of Greece Religion, hal. 651.

 

[16] Catatan penerjemah: Diindonesiakan dari istilah “prudence”, kurang-lebih adalah sikap yang seksama dan senantiasa penuh pertimbangan.

Halaman

06

dari 10

halaman