- SITUS WEB PRIBADI SIGIT DJATMIKO -

Lahirnya Peradaban Yunani

Bertrand Russell

Peradaban bukan hanya mengendalikan dorongan hasrat lewat wawasan ke depan, yang cukup dilakukan oleh diri sendiri, namun juga mengaturnya lewat hukum, adat-istiadat, dan agama. Pengendalian ini diwarisi dari barbarisme, namun diolah sehingga kurang instinktif dan lebih sistematis. Perbuatan-perbuatan tertentu dicap sebagai tindakan kriminal dan dihukum; beberapa lainnya, meski tak diganjar berdasarkan hukum, namun bisa dicap sebagai tak bermoral, dan yang bersalah akan menerima kecaman sosial. Pelembagaan kepemilikan pribadi membawa akibat terkalahkannya kaum perempuan, dan biasanya juga terciptanya kelas budak. Di satu sisi, tujuan-tujuan masyarakat ditanggungjawabkan kepada individu, dan di sisi lain, setelah terbiasa memandang hidupnya sebagai satu kebulatan, individu pun mengorbankan kepentingannya di masa kini demi masa depan.

 

Tentu saja proses ini bisa ditarik terlalu jauh, misalnya seperti terjadi pada orang yang terlampau kikir demi mendapatkan banyak untung. Namun tanpa harus bersikap ekstrem demikian itu, prudensi memang mudah menyebabkan hilangnya sejumlah hal yang terbaik dalam hidup. Para pemuja Bacchus bereaksi terhadap prudensi itu. Di dalam kemabukan, dalam arti fisik maupun spiritual, ia menghidupkan kembali intensitas perasaan yang telah dihancurkan oleh prudensi; ia rasakan betapa dunia penuh keceriaan dan keindahan, sementara daya khayalnya tiba-tiba terbebaskan dari penjara kewajiban sehari-hari. Ritual Bacchus ini mengakibatkan apa yang disebut “antusiasme”, yang secara etimologis berarti pengalaman di mana dewa merasuki si pemuja, yang percaya bahwa ia telah menyatu dengan sang dewa. Banyak prestasi-prestasi manusia yang tertinggi dicapai dengan melibatkan sejumlah unsur kemabukan ini,[17] disingkirkannya prudensi oleh gairah rasa. Tanpa unsur-unsur Bacchis, hidup jadi hambar; namun dengan unsur-unsur itu hidup jadi berbahaya. Prudensi melawan gairah rasa adalah konflik yang terus berlangsung di sepanjang sejarah. Ini bukanlah konflik di mana kita harus berpihak mutlak ke salah satu kubu.

 

Dalam kancah pemikiran, peradaban serius secara garis besar sama dengan ilmu pengetahuan. Namun ilmu pengetahuan itu saja tidaklah memuaskan; manusia juga membutuhkan gairah, seni, dan agama. Ilmu boleh saja memasang batas-batas bagi pengetahuan, namun sebaiknya jangan membatasi imajinasi. Di antara para filsuf Yunani, sebagaimana di antara para filsuf dari zaman berikutnya, ada yang pemikirannya terutama bercorak ilmiah dan ada yang religius; kelompok yang kedua ini secara langsung atau tak langsung banyak berhutang pada agama Bacchus. Ini khususnya berlaku pada Plato, dan melalui dia bergulir ke perkembangan-perkembangan selanjutnya yang akhirnya terwujud dalam teologi Kristen.

 

Pemujaan terhadap Bacchus dalam wujudnya yang asli bersifat liar, dan dalam banyak hal juga menjijikkan. Bukan dalam wujud yang demikian ini agama Bacchus mempengaruhi para filsuf, namun dalam bentuknya yang spiritual sebagaimana diajarkan oleh Orpheus, yang bercorak asketis, dan mengganti kemabukan fisik dengan kemabukan mental.

 

Orpheus adalah sosok yang samar namun menarik. Sejumlah pihak mengatakan dia adalah manusia nyata, sedangkan kalangan lain mengatakan dia dewa atau pahlawan imajiner. Menurut kisah tradisional ia berasal dari Thrace, seperti Bacchus, namun kemungkinan lebih besar ia (atau gerakan yang berkaitan dengan namanya) berasal dari Kreta. Jelas bahwa doktrin-doktrin Orphis banyak berisi pandangan yang tampaknya bersumber dari Mesir, dan terutama lewat Kretalah Mesir mempengaruhi Yunani. Orpheus konon adalah seorang pembaharu yang kemudian menjadi korban, dibantai hingga lumat oleh kaum Maenad yang mabuk menggila, yang digerakkan oleh kalangan ortodoks agama Bacchus. Kegemarannya akan musik tidak tampak menonjol dalam kisah-kisah legenda yang lebih kuno dan baru diketahui belakangan. Ia terutama adalah seorang pendeta dan filsuf.

 

Bagaimanapun bentuk ajaran Orpheus itu sesungguhnya (jika tokoh itu memang pernah ada), yang jelas ajaran-ajaran kaum Orphis dikenal luas. Mereka mempercayai perpindahan jiwa; mereka mengajarkan bahwa jiwa nantinya bisa memperoleh kebahagiaan abadi, penderitaan abadi, atau siksaan sementara tergantung cara hidupnya di dunia. Tujuan mereka adalah menjadi “suci”, yang sebagian dicapai lewat upacara-upacara purifikasi, sebagian lagi dengan menghindari hal-hal tertentu yang membuat cemar. Kalangan yang paling ortodoks di antara mereka berpantang makan daging, kecuali dalam upacara-upacara keagamaan di mana mereka makan daging demi kepentingan sakramen. Mereka meyakini bahwa manusia mengandung sebagian unsur duniawi dan sebagian unsur surgawi; dengan hidup yang suci unsur surgawi ditingkatkan dan unsur duniawi dihilangkan. Akhirnya manusia bisa bertemu dengan Bacchus, dan disebut “seorang Bacchus”. Terdapat teologi yang rinci, yang menyebutkan bahwa Bacchus dilahirkan dua kali, yang pertama oleh ibunya, Semele, dan sekali lagi lahir dari paha ayahnya, Zeus.

 

Ada pelbagai macam mitos tentang Bacchus. Salah satunya, Bacchus adalah putra Zeus dan Persephone; ketika masih kanak-kanak ia dibantai oleh para Titan, yang memakan seluruh dagingnya kecuali jantungnya. Sebagian mitos mengatakan bahwa jantung itu diberikan Zeus kepada Semele, dan mitos lain menyebutkan bahwa Zeus menelan jantung itu; kedua jenis mitos menyebutkan bahwa jantung itulah yang menyebabkan kelahiran Bacchus kedua kalinya. Pembantaian binatang liar dan penyantapan dagingnya mentah-mentah oleh para pemuja Bacchus dimaksudkan untuk mengulang peristiwa pembantaian dan penyantapan Bacchus oleh para Titan, sedangkan binatang itu, dalam arti tertentu, adalah penjelmaan Dewa. Para Titan adalah makhluk duniawi, namun setelah menyantap dewa mereka memiliki binar cahaya dewani, maka ritus Bacchis berusaha meningkatkan unsur dewani pada manusia.


[17] Yang saya maksudkan adalah kemabukan mental, bukan mabuk karena alkohol.

 

Halaman

07

dari 10

halaman