|
Euripides
mengungkapkan sebuah pengakuan lewat kata-kata seorang pendeta
Orphis, yang bernada menasehati:
Sesembahan
bangsa Tyre Eropa,
Yang
dilahirkan Zeus, dan di kakimu
tegak
beratus benteng Kreta,
Aku
mencarimu dari temaramnya pura,
Beratapkan
Balok Menawan berhias Ukiran,
Dengan
baja Chalyb dan darah lembu liar,
Serta
kayu-kayu Cemara tersusun sempurna
Dirangkai
begitu kuat. Kali bening pun mengalir di sana
Seiring
hari-hariku yang berlalu. Akulah hamba
Mengabdi
Jove Idae sang dewa
Jika
tengah malam Zagreus
mengembara,
mengembaralah
hamba;
Telah
kutahankan raungnya yang membahana;
Kuhidangkan
pesta-pestanya yang merah dan berdarah;
Kukobarkan
api gunung Bunda nan Agung;
Terbebaslah
diriku dan disebutlah aku
Seorang
Bacchus di antara kaum Pendeta yang Terutus.
Berbalut
jubah suci putih aku terlahir bersih
Dari
kodrat manusia yang nista dan
lumpur
liang kubur,
Terjauhkan
dari bibirku senantiasa
Sentuhan
daging aneka rupa di mana Hidup pernah bertakhta.
Prasasti-prasasti
Orphis ditemukan dalam pusara-pusara batu, untuk memberikan
petunjuk kepada jiwa orang mati bagaimana menemukan jalan di alam
arwah, dan apa yang harus dikatakan untuk menunjukkan bahwa jiwa
itu patut mendapatkan pembebasan. Prasasti-prasasti tersebut
banyak yang telah pecah dan tak lengkap; salah satunya yang hampir
lengkap (prasasti Petelia) bertuliskan demikian:
Di
sebelah kiri Rumah Hades akan kau temukan Mata Air,
Dan
di dekatnya tegaklah pohon Cemara putih.
Jangan
kau dekati Mata Air ini.
Namun
harus kau temukan mata air lain di dekat Danau Ingatan,
Air
sejuk memancar senantiasa, dan ada para Pengawal di mukanya.
Katakanlah:
“Aku putera Bumi dan Langit penuh Bintang;
Namun
aku bangsa Langit (saja). Dan kau tahu siapa dirimu.
Dan
lihatlah, aku sengsara karena haus dan akan binasa. Cepatlah
beri
aku air sejuk yang memancar dari Danau Ingatan.”
Dan
dengan sukarela mereka akan mengizinkanmu minum dari mata air
suci,
Dan
sesudahnya kau akan berjaya di antara para pahlawan lainnya. ...
Prasasti
lain mengungkapkan: — “Berjayalah, Engkau yang telah
menanggung derita ... dari Manusia Engkau menjadi Dewata.” Dan
pada prasasti lain lagi: — “Engkau yang Bahagia dan Diberkati,
engkau menjadi Dewa dan tak ‘kan binasa.”
Lubuk
yang airnya tak boleh diminum oleh jiwa adalah Lethe, yang bisa
menyebabkan lupa; mata air lainnya adalah Mnemosyne yang
membangkitkan ingatan. Di alam arwah, jika jiwa memperoleh
pembebasan maka jiwa tak akan lupa, justru sebaliknya akan
memiliki ingatan luar biasa.
Kaum
Orphis adalah sekte yang asketis; bagi mereka anggur hanyalah
perlambang, seperti halnya dalam sakramen Kristiani di masa
kemudian. Kemabukan yang mereka cari adalah yang berupa
“antusiasme”, ialah persatuan dengan dewa. Dengan cara ini
mereka percaya bisa memperoleh pengetahuan mistik yang mustahil
didapat dengan cara-cara lain yang lazim. Unsur mistik ini
merasuki filsafat Yunani lewat Pythagoras, yang merupakan seorang
pembaharu Orphisme, seperti halnya Orpheus adalah pembaharu agama
Bacchus. Dari Pythagoras unsur-unsur Orphis itu merasuki filsafat
Plato, dan dari Plato merasuk ke sebagian besar filsafat
selanjutnya yang kurang-lebih bercorak religius.
Di
manapun Orphisme memberikan pengaruh, jelas bahwa unsur-unsur
tertentu agama Bacchus pun tetap hidup. Salah satunya adalah
feminisme, di mana unsur ini cukup menonjol dalam filsafat
Pythagoras, dan yang dalam filsafat Plato lebih mencuat lagi
seperti tampak pada pernyataannya tentang kesetaraan politik yang
menyeluruh bagi kaum perempuan. “Perempuan sebagai satu jenis
kelamin,” ujar Pythagoras, “secara alamiah lebih dekat dengan
kesalehan.” Unsur Bacchis lainnya adalah penghargaan terhadap
emosi yang menggelora. Tragedi Yunani lahir dari ritus Dionysus.
Euripides, khususnya, menjunjung dua dewa Orphisme terpenting,
Bacchus dan Eros. Selain itu, ia tak menghargai orang yang
perilakunya serba lurus dan suka menganggap diri sendiri paling
benar, yang dalam drama-drama tragedi Euripides seringkali menjadi
gila atau terbenam dalam duka yang mengenaskan karena kutuk dewata
yang murka atas kelancangannya.
|