Karl May

Buku Harian Karl May

 
 

Petikan Ketiga

[269]

[…]
Sesudah makan gubernur segera menyulut pipanya lagi dan berjalan hilir-mudik di geladak. Waktu aku menemaninya selama beberapa menit, ia bertanya kepadaku:

"Apakah si Tsi ini benar-benar hanya seorang dokter?"

"Hanya itulah yang aku tahu," jawabku menghindar.

"Orang-orang mengerikan, bangsa Mongolia ini! Curang, lihai, tidak setia, sama sekali tidak ada kebaikan apa juga, dan bukan main terkebelakang. Aku hampir tidak bisa percaya bahwa dia orang Cina! Aku telah memperhatikan mukanya. Matanya hampir tidak sipit; tulang pipinya hampir tidak menonjol; apalagi pengetahuan umumnya begitu luas dan kemampuannya menyatakan pendapat begitu jelas - apalagi karena orang lain tidak tahu! Aku jadi sangat ragu tentang kebangsaannya. Aku betul-betul harus bertanya apakah dia memang orang Cina. Pasti ada sedikit campuran darah Kaukasia! Dari bicaranya saja sudah kedengaran bahwa ia berketurunan campuran!

[270]

Dan - - eh, ini di antara kita berdua saja, ya: anda sudah melihat hantu itu?"

"Hantu yang mana?" jawabku, meskipun aku tahu apa maksudnya.

"Lukisan - - - yang ada di kamar tidur bawah itu."

"Sudah."

"Bagaimana?"

"Cantik mempesona. Anda pasti sudah sering melihatnya!"

"Belum! Aku tidak pernah masuk ke kamar itu karena aku tahu bahwa ada lukisan itu. Aku tidak mau melihatnya, tidak mau - - tidak akan mau - - tidak pernah akan mau! Maksudnya, secara resmi! Ah! Sebenarnya sudah pernah mau - - -! Mungkin sekali waktu juga akan - - -! Namun, Raffley tidak boleh tahu - - - bahkan menduga saja dia tidak boleh! Ahh! Aku tahu bahwa anda bisa simpan rahasia. Jangan katakan apa-apa! Satu kata pun jangan! Akan tetapi jangan beritahukan siapapun juga bahwa saya senang pada orang Cina ini! Sebab kalau begitu Raffley langsung akan mengira bahwa dia akan menang taruhan! Akan tetapi, tidak mungkin menang kalau taruhan melawan aku! Bahkan dalam mimpi pun tidak mungkin! Aku orang Inggris, Sir*! Aku hanya bertaruh kalau aku yakin betul bahwa aku akan menang. Harap kamu mengerti bahwa aku pasti menang!"

Dengan kata-kata ini dia berbalik dan menuju ke tempat duduknya. Seperti juga Raffley, kata sapaan yang digunakan gubernur itu berubah-ubah karena keduanya kadang-kadang mempergunakan bahasa Inggris dan kadang-kadang bahasa Jerman. Dalam bahasa Jerman digunakan 'Sie'**, tetapi dalam bahasa Inggris 'you' - artinya 'kamu'. Bahkan tidak jarang bahwa dalam perbincangan yang seru ada yang memulai suatu kalimat dalam bahasa yang satu dan meneruskannya dalam bahasa yang lainnya. Kami sudah begitu terbiasa sehingga kami bahkan tidak tersenyum lagi kalau mendengar bahasa campuran itu.

Mungkin sekali Raffley telah berharap bahwa

[271]

akan terjadi suatu peristiwa yang akan mengubah prasangka pamannya terhadap orang Cina; akan tetapi, setelah pamannya baru saja bicara dari hati ke hati denganku, rupanya kejadian semacam itu sama sekali tidak diperlukan lagi. Kami baru beberapa jam saja berada di kapal yang sama, namun sekarang saja nada bicara gubernur tentang orang Cina itu sudah lain, begitu baik; sebelumnya pasti gubernur itu sendiri tidak mengira mungkin.


Raffley sedang duduk-duduk bersama Tsi. Mereka terlibat dalam suatu percakapan, dan aku tidak ingin mengganggu mereka-bukan hanya karena sopan santun-tetapi juga karena aku berharap bahwa orang Inggris itu tidak hanya menghargai orang Cina itu, sebab hal ini sudah terjadi, melainkan bahwa Raffley juga mulai menyenanginya. Mary sudah naik ke geladak dekat salonnya. Ia dapat saja duduk di tempat yang begitu tinggi, di haluan kapal, karena ia sama sekali tidak ada kecenderungan mabuk laut. Aku hendak bertanya apakah aku boleh menemaninya, namun ia sendiri yang sudah memanggil ketika melihatku.

* Tuan (dalam konteks ini: kata sapa)
** anda (ungkapan hormat)

[272]

"Aku mau menciterakan sesuatu kepada anda," katanya; "Sesuatu yang tidak ingin kukatakan kepada yang lain-lain karena mereka mungkin akan mempunyai pendapat yang salah tentang ayahku."

"Mungkin tentang sebabnya dia ditangkap?" tanyaku guna mempermudahkan Mary melaksanakan niatnya.

"Betul. Ayah sudah menjadi begitu baik, begitu menyenangkan, begitu lembut, hampir sama sekali bersifat seperti yang sangat disukai ibuku. Tiba-tiba ayah jatuh sakit, dia mulai marah-marah, kehilangan kegembiraan hidup, dan dia menjadi sangat mudah tersinggung. Semakin lemah keadaan fisiknya, semakin besar usahanya untuk bersikap keras. Aku tidak mau mempersalahkan ayah, sebab waktu itu dia sedang sakit. Kembali dia mulai berbicara tentang kuil-kuil berhala dan tentang dasar-dasar agama. Keempat orang Cina Melayu - tukang pikul yang kami bawa ke gunung - tidak beragama. Mereka mendengarkannya dan menyetujui kata-katanya karena ayah adalah pemberi upah mereka. Aku sudah memperingatkan ayah; tetapi ayah tidak mau mendengarkanku karena ayah berpendapat bahwa dalam waktu dekat dia dapat menarik mereka menjadi orang Kristen. Orang-orang Melayu pegunungan bersikap memusuhi kami. Tidak ada yang mau memberi kami penginapan. Kami tidak menemukan tempat berteduh sampai kami mencapai sebuah kampong1) yang letaknya jauh tinggi dekat puncak gunung; penduduknya hampir tidak ada yang pernah berurusan dengan orang kulit putih dan sebab itu masih bersikap damai dan sangat terbuka. Mereka menerima kami dengan amat ramah dan berusaha memberikan kami apa saja yang mampu mereka berikan - bukan demi uang, melainkan karena adat kebiasaan mereka di sana memang demikian. Aku begitu gembira dengan penerimaan mereka! Namun, kegembiran ini hanya berlangsung satu hari saja."

"Orang-orang Melayu di daerah pesisir pulau Sumatera dan bahkan sampai jauh ke pedalaman adalah orang-orang Muslim," kataku. "Orang-orang di kampung itu menganut agama yang mana?"

"Agama Konghucu. Di kampung itu ada sebuah klenteng; hanya sebuah bangunan kayu, akan tetapi dihias dengan ukiran-ukiran yang rumit, dan di ruang dalamnya banyak hiasan yang dilapisi emas - sesuatu yang sebenarnya tidak dikira di tempat orang-orang semiskin itu."

"Mereka sesungguhnya tidak miskin, melainkan orang-orang yang tidak membutuhkan lebih daripada apa yang sudah mereka miliki. Alam yang kaya raya menyediakan semua yang mereka butuhkan - tidak ada yang perlu dibeli. Lagipula, soal lapisan emas itu, emas bahkan ditemukan di pulau Sumatera sendiri. Gunung-gunung di pedalaman yang telah anda kunjungi, terdiri dari batuan zaman pra-batubara dan bergurat kuarsa yang berkandungan emas."

"Saya pernah dengar bahwa di tempat-tempat pemukiman orang Cina yang tidak ada penginapan, orang-orang asing


1) Malajisches Dorf (harfiah: 'desa [dalam bahasa] Melayu'; kampung)

[273]

ditampung dalam klenteng. Tepat itulah yang terjadi di kampung itu di pulau Sumatera. Kami diantar ke klenteng yang terdiri dari dua ruangan, yang satu ruang persembahan dan yang lain adalah ruang tamu. Dalam ruang inilah kami akan menginap. Sebenarnya lebih baik mereka telah menampung kami dalam gubuk yang paling kecil!"

"Oh, sudah bisa diterka! Tempat berhala!"

"Ya. Sayang dugaan anda benar. Orang-orang baikhati itu mengangkut macam-macam untuk membuat kami betah; makanan dan minuman yang mereka bawa jauh lebih banyak daripada yang kami perlukan, dan kelihatan betul bahwa mereka menjamu kami dengan suka hati. Kami memang tidak mengerti mereka, karena kami tidak dapat berbahasa Melayu. Tukang-tukang pikul kami berusaha menerjemahkan sebaik mungkin apa yang mereka katakan. Akan tetapi mulai saat kami berada dalam klenteng itu, ayahku dikuasai keranjingan yang menakutkan aku. Ayah terus-menerus mengatakan bahwa klenteng ini harus dihancurkan, harus dirobohkan, dan akhirnya bahkan harus dibakar habis; ayah berpendapat bahwa gelora kobaran api yang membakar tempat pemujaan berhala ini tentunya akan naik tinggi sampai ke surga - menandai kurban yang berkenan pada Tuhan. Aku berusaha sedapat mungkin menenangkannya; aku memohon dan mengimbau agar tidak melaksanakan rencana yang mengerikan itu, yaitu membalas kasih dengan benci, keramahan kepada tamu dengan pembakaran tempat ibadah; akan tetapi, hasilnya hanyalah bahwa ayah tidak mau berbicara lagi dengan aku. Namun, dalam hatinya suara-suara jahat yang tidak kristiani itu tetap berkecamuk. Ayah tidak mampu melawan."

"Ayah anda sakit, sakit berat!" kataku.

"Memang tidak lain kecuali hanya itu - sakit berat! Hanya orang yang sakit bisa percaya bahwa apa yang suci menurut anggapannya sendiri, dapat berjaya dengan menghancurkan apa yang suci menurut orang lain! Begitulah pendapatku - aku yang selalu telah berusaha melawan fanatisme ayah

[274]

dengan segala cara yang tidak melampaui batas sopan santun sebagai anak perempuan. Dan sekarang kebenaran pendapatku telah terbukti kepada ayah dan aku. Aku tidak berani meninggalkan ayah; akan tetapi keesokan harinya adalah hari raya Konghucu yang mengusik rasa ingin tahuku. Dari jauh banyak peziarah telah datang membawa persembahan berupa kue-kue, buah-buahan, dan begitu banyak bunga - dalam jumlah yang tiada terperikan. Pendeta mereka memberikan kami bagian yang melimpah. Pemberian sang pendeta itu sungguh menyentuh hati, sebab para tukang pikul kami telah memberitahukan bahwa ayah adalah seorang penyebar agama Kristen yang memusuhi agama-agama lain. Juga ayah tampak terharu; dia tidak banyak berkata-kata, dan hal itu membuat aku sangat bahagia. Sore hari dia bahkan tertidur pulas, suatu hal yang sudah sejak beberapa hari tidak pernah terjadi. Sebab itu aku berpikir bahwa aku bisa jalan-jalan melihat sekeliling kampung sementara penduduk kampung dan para peziarah sedang mencari hiburan dalam beraneka ragam permainan yang menggembirakan. Dimana-mana aku disambut dengan sangat ramah, yang satu memberi buah, yang lain memberi bunga, semuanya begitu banyak sehingga aku tidak mampu lagi memegang semuanya dan menghadiahkannya lagi kepada orang-orang lain. Tiba-tiba terjadi kegaduhan; aku mendengar teriakan kata-kata "panas"1) dan "klinting"2) serta melihat bahwa semua orang lari ke tempat di mana klenteng itu berada. Aku hampir pingsan karena terkejut, tetapi aku menguatkan diri, melempar semua bunga ke tanah, dan berlari sekuat tenaga, kembali ke tempat yang baru beberapa waktu telah kutinggalkan. Ketika aku tiba di tempat itu seluruh klenteng itu sedang dilahap api yang berkobar tinggi. Panas yang disebarkan begitu dahsyat sehingga orang tidak dapat mendekatinya. Tidak jauh dari tempat berdirinya klenteng itu ada api yang lebih kecil; hembusan angin menerbangkan sisa-sisa pakaian hangus dan kertas mengkilat ke atas.


1) Feuer (api, kebakaran ) 2) Tempel (klenteng)

[275]

Ayah telah menumpuk pakaian upacara dan kitab-kitab suci menjadi satu dan juga ini telah disulutnya dengan api. Ayah sendiri telah dikerumuni banyak orang yang berteriak-teriak. Bagaimana saya dapat berhasil menembus kerumunan orang itu saya tidak tahu, akan tetapi dalam keadaan terancam bahkan perempuan lemah pun menjadi kuat. Aku sampai pada ayah tepat pada saat dia disergap dan dibanting ke tanah. Melihat kejadian itu saya lemas dan jatuh pingsan di sebelahnya."

Mary terhenyak. Badannya sekarang ini pun masih gemetar mengingat semua kejadian itu. Aku diam, tidak mengatakan sepatah katapun; aku hanya memeras otak --- berpikir --- berpikir keras!

"Ketika aku sudah sadarkan diri lagi," demikian kata Mary selanjutnya setelah beberapa waktu, "aku terbaring di atas sebuah tikar. Pendeta mereka sedang duduk di sampingku dan tidak jauh dari pendeta itu duduk seorang tukang pikul kami - siap untuk menjadi juru bahasa. Di kejauhan ada banyak orang yang sedang berdiri atau duduk. Dari jauh angin menghembuskan bau hangus dari kebakaran yang telah dipadamkan. Aku tidak melihat ayah. Penuh ketakutan aku menanyakan keberadaan ayah. Pendeta itu menjawab dengan nada yang begitu lembut sehingga aku tidak pernah akan melupakannya; tukang pikul kami menerjemahkan: 'Tenanglah! Ayahmu ada dalam keadaan baik dan sampai saat ini dia tidak diapa-apakan. --- Kesalahan apa yang dilakukan Tuhan kami terhadap kalian, mala petaka apa yang terjadi pada kalian di negeri kami, dan kesalahan apa telah dilakukan bangsa kami terhadap kalian? Tuhan kami adalah Tuhan kalian juga! Negeri kami telah terbuka bagi kalian dan telah menyambut kalian penuh keramahan! Dan kami sendiri, kami telah memberikan semua yang kami mampu berikan, meskipun kami mengetahui bahwa kalian memusuhi langit kami! Dan bagaimana kalian membalas budi? Dengan kesombongan - - penghinaan - - penghancuran! Kami memberi bunga kepada kalian - - dan apa yang kalian berikan kepada kami? Ah, kalian sungguh bodoh!

[276]

Apakah kalian tidak menyadari bahwa segala apa yang kalian lakukan terhadap orang lain, di masa yang akan datang akan dibalas dan akan kalian alami sendiri?! - - - Jangan takut kepada saya! Saya seorang pendeta, dan seorang pendeta tidak mengadili, melainkan memaafkan! Saya telah mengambil tindakan supaya sementara ini ayahmu tidak akan diapa-apakan. Dan saya telah menyuruh supaya kamu dibawa ke sini, supaya kamu tenang, dan supaya saat kamu sadar, saya segera dapat memberitahukan bahwa kamu bukan tawanan kami. Menurut agama yang kami anut, dosa orangtua tidak ditanggung anak-anak sampai keturunan ketiga atau keempat. Dapatkah dibayangkan bahwa ada Tuhan yang membalas dendam pada orang-orang yang tidak bersalah?'"

"Sesudah itu ia diam dan tidak mengatakan apa-apa lagi, tetapi bibirnya bergerak-gerak mengucapkan doa. Tukang pikul kami bercerita kepada saya bahwa para pemuka masyarakat telah mengadakan rapat guna mengadili ayah. Waktu menunggu keputusan mereka merupakan siksaan luar biasa, sebab saya sadar bahwa - - -"

"Sudahlah, nona Mary," demikian kupotong ceritanya, "jangan menyiksa diri lagi. Katakan apa yang hendak anda katakan kepadaku, sesingkat mungkin; itu cukup!"

Mary berusaha menguatkan dirinya; kemudian ia meneruskan ceritanya tanpa bertele-tele: "Ayah dijatuhi hukuman mati. Aku memohon supaya aku diperbolehkan menghadap para tetua adat. Pendeta itu memberanikan diri mengantar aku ke hadapan mereka, akan tetapi ayah tidak diizinkan melihat aku. Penuh ketenangan dan pengertian mereka mendengarkanku. Mereka orang-orang baik hati. Betapa keliru prasangka orang-orang kita terhadap bangsa-bangsa yang dianggap 'biadab'! Akan tetapi menurut ketentuan hukum yang berlaku di sana, ayahku harus mati. Untung air mataku lebih kuat daripada hukum yang berlaku! Hukumnya diringankan menjadi denda sebanyak lima puluh ribu gulden

[277]

sebagai pengganti biaya untuk kuil, pakaian upacara, buku-buku suci, dan ongkos membawa aku ke pantai dan menyeberang ke Penang. Akan tetapi, karena membayar denda yang tidak seberapa ini dipandang sebagai hukuman yang cukup ringan untuk seseorang yang dianggap kaya raya, hukuman denda itu diperberat oleh ketentuan bahwa aku harus meninggalkan negeri itu tanpa boleh bertemu ayah lagi. Seorang tukang pikul mengawalku sebagai juru bahasa. Dengan menunggang kuda aku diantar ke sungai terdekat; dengan perahu kami lalu menyusuri sungai ini sampai ke pantai, tempat kami maik ke perahu yang lebih besar guna menyeberangi selat Malaka. Selebihnya sudah anda ketahui.

Penderitaanku ketika itu dan sampai saat ini, tidak perlu diceritakan. Bagaimanapun juga, tanpa Raffley dan anda, ayah akan meninggal juga. Akan tetapi, sekarang ini aku begitu gembira dan yakin bahwa dia bisa diselamatkan, jika ... jikalau saja penyakitnya tidak sudah merenggut jiwanya. "

"Dia pasti masih hidup kalau kita tiba," demikian kucoba menghiburnya. "Aku dapat firasat, dan saya tahu firasat ini benar. Nanti Tsi akan memberikan obat yang menurut dia pasti manjur. Saya yakin betul bahwa tuan Waller akan selamat, tidak saja dari hukuman yang dijatuhkan hakim Melayu itu, dan juga tidak saja akan sembuh dari penyakit berat ini, melainkan juga sembuh dari kelainan jiwa yang telah menyebabkan tindakannya dulu itu dan mengakibatkan keadaannya yang sekarang. Buanglah semua kekhawatiran anda, cobalah tidur! Anda lebih membutuhkan istirahat daripada hal-hal lain!"

Sesudah itu kami saling menghaturkan "Selamat Tidur". Setiba di bawah, Raffley melambaikan tangannya guna memanggilku dan mengajak aku ke kamarnya. Dia telah memperhatikan kami dan menduga bahwa nona Waller telah mencurahkan isi hatinya kepadaku. Aku menceriterakan yang kuanggap perlu. Ketika aku selesai

[278]

berbicara, dia tidak mengatakan apa-apa, melainkan membuka sebuah laci; setelah mencari-cari beberapa saat dia mengeluarkan sebuah surat kabar yang sudah agak tua. Sambil mengambil tempat duduk di hadapanku, katanya:

"Yang kupegang ini adalah sebuah terbitan lama surat kabar "Handelsblad Padang"*; dalam koran ini ada tulisan singkat dan padat, akan tetapi juga luar biasa jelas: "Sampai sekarang orang Belanda telah mengeluarkan biaya sebanyak 45600000 gulden untuk perang melawan Sultan Aceh. Selama perang ini lebih dari 40000 orang pribumi telah ditembak mati; artinya, tiap korban jiwa itu telah menelan biaya sejumlah 1140 gulden. Ditambah lagi biaya yang dikeluarkan untuk serdadu Belanda yang gugur dalam perang, menjadi cacat, atau meninggal karena penyakit-penyakit berat di tanah berawa-rawa itu. Jika seandainya kami telah membeli tanah seharga 1140 gulden per hektar sebanyak biaya yang telah dikeluarkan itu, maka kami telah memperoleh paling sedikit 40000 hektar tanah yang paling baik dengan jalan damai sejahtera dan tidak bersalah atas kematian sebanyak pasti lebih daripada 60000 manusia."

Raffley mengembalikan surat kabar itu ke tempat semulanya dan kemudian melanjutkan: "Tulisan itu dimuat 27 tahun yang lalu dalam sebuah surat kabar Belanda yang terbit di Sumatra. Kita tidak akan berusaha menghitung, seberapa banyak jumlah-jumlah uang tersebut telah tertambah selama ini. Nah, apakah kamu sekarang tahu, apa yang kita-orang Eropa-maksudkan dengan "memperadabkan"? Sama sekali bukan maksudku, mau menggugat suatu negeri tertentu, suatu bangsa tertentu. Akan tetapi aku menggugat semua bangsa manusia yang menyebut dirinya "beradab" dan yang-meskipun memeluk berbagai macam agama dan memiliki sejarah peradaban berusia delapan ribu tahun-sampai hari ini tidak mau mengakui bahwa "memperadabkan" itu dalam kenyataannya tidak lain dan tidak bukan adalah "melancarkan teror"! Apa yang

[279]

aku, orang yang bernama John Raffley, maksudkan dengan "memperadabkan", akan dapat kamu saksikan kalau kita sudah ada di negeri Cina; lebih dari itu tidak boleh kukatakan sekarang! Apa yang terjadi di dunia luas di luar sana juga memang terjadi dalam skala besar, telah terjadi dengan Waller sahabatmu itu di dunia kecil yang disebut Aceh dalam skala kecil: orang yang tidak beradab telah menerimanya secara sangat beradab, dan dia--orang yang berperadaban tinggi--telah membalas budi itu secara sangat tidak beradab! Dan sebagaimana orang itu sekarang akan mati seandainya kita tidak menyelamatkannya, begitu pula suatu ketika akan tiba waktunya untuk peradaban kita saat untul berteriak minta tolong supaya diselamatkan dari suatu bencana yang telah disebabkan oleh salahnya sendiri! Dan lebih dari itu: sebagaimana di atas "Yin", kapalku yang cantik ini, suatu komunitas yang berasal dari berbagai pelosok dunia, terdiri dari orang-orang Inggris, seorang Jerman, seorang Arab, seorang Cina, tepat begitu pula suatu ketika orang-orang yang berkehendak baik harus bersatu guna memperbaiki akibat-akibat yang tidak terelakkan dari teror "memperadabkan" ini. Sebab semua kejahatan harus ditebus, disilih, dan semua kerugian harus dipulihkan dengan cara melunaskan jumlah ganti rugi sampai ke bilangan terakhir - sebab begitulah keadilan Ilahi. Hukum yang tampaknya begitu keras-namun demikian juga begitu menghibur-hukum ini berlaku baik untuk keseluruhan suatu bangsa, maupun untuk perseorangan; jikalau pembalasan tidak terjadi saat ini, sebaiknya takutlah untuk masa depan! Bagi orang yang melakukan kejahatan berlaku Firman yang dahsyat, bunyinya: Janganlah mencobai kesabaran Tuhan, sebab kepadaNya kau tidak dapat berhutang sekepingpun! Dan sekarang, Charley, teman, kita akan tidur; kita tidak tahu, berapa lama kita harus berjaga besok. Mualimku yang sudah lama ikut aku akan berjaga untuk kita malam ini; dia orang kepercayaanku dan dapat diandalkan."


* "Berita Ekonomi Padang"

[280]

Malam bergulir. Aku tidur sangat nyenyak dan lama. Ketika aku pagi-pagi naik ke geladak, aku mendengar bahwa kami sudah meliwati Tanjung Perlak *; jadi, kami sudah berada di perairan Sumatra. Beberapa waktu kemudian di sebelah kiri kapal tampaklah gunung emas di kejauhan yang kebiru-biruan. Segli** disinggahi untuk kedua kalinya dan tidak lama kemudian Raffley memberitahukan bahwa kami sudah mendekati tujuan.

Uleh-leh tidak besar, hampir semua bangunannya terbuat dari kayu. Rumah-rumah penduduk dibangun sedemikian rupa sehingga udara segar dapat berlalu lalang bebas namun memberi perlindungan yang cukup terhadap terpaan hujan tropis yang sangat deras. Sebuah dermaga lebar- terbuat dari papan-papan tebal dan kuat-menjorok jauh ke laut. Kapal-kapal besar tidak bisa merapat. Saat kapal-kapal penumpang tiba, di atas dermaga itu terjadi berbagai kesibukan dan hiruk pikuk luar biasa; pada kesempatan seperti itu bermacam-macam tipe manusia Sumatra dapat diamati. Tidak ada yang mengetahui bahwa kapal kami akan singgah; oleh sebab itu setiba kami tidak seperti biasanya hanya ada sedikit orang di dermaga.

Sebelum turun dari kapal sudah diputuskan bahwa kami sama sekali tidak akan berlama-lama di pelabuhan; kami akan naik kereta api menuju Kota Radscha***. Sama seperti sebelum kami Waller, sedapat mungkin kami akan mencari tempat bermalam di Kratong. Semua urusan yang harus diselesaikan dengan administrasi pelabuhan dipercayakan kepada Tom. Dengan sekoci kami berlayar ke dermaga. Setelah merapat pada dermaga kami disambut seorang petugas pelabuhan; pertanyaannya yang pertama ialah apakah kami membawa senjata. Semua senjata harus diserahkan; nanti pada saat akan kembali ke kapal, akan dikembalikan. Ketika itu kami hanya membawa pistol; senapan akan menyusul, akan dibawakan sebentar lagi. Ketika kami bertanya, apa sebabnya ada larangan membawa senjata, petugas itu memperhatikan kami dengan seksama, lalu bertanya apakah kami barangkali orang Inggris. Raffley menjawab ya untuk kami semua.


* mungkin Tanjung Peureulak. Lihat Wasis, Widjiono (ed.). 1989. Ensiklopedi Nusantara. Jakarta: Mawar Gempita. Hlm. 106.
** Kota Raja

<< Petikan Kedua