BILA DIRI SEMPIT HATI

Home

Bila diri sempit hati

KH. Abdullah Gymnastiar

1 2 3 4

Bismillaahir Rohmaanir Rohiim
Assalaamu'alaikum warohmatullaahi wabarokaatuh
"Berikut artikel BILA DIRI SEMPIT HATI"
Oleh : KH. Abdullah Gymnastiar

--------
BILA DIRI SEMPIT HATI (2)
KH. Abdullah Gymnastiar

Seringkali kita dengar orang-orang yang dililit derita akibat rasa
bencinya. Padahal ternyata yang dicontohkan para rosul, para nabi,
para ulama yang ikhlas, orang-orang yang berjiwa besar, bukanlah
mencontohkan mendendam, membenci atau busuk hati. Yang dicontohkan
mereka justru pribadi-pribadi yang berdiri kokoh bagai tembok, tegar,
sama sekali tidak terpancing oleh caci maki, cemooh, benci, dendam,
dan perilaku-perilaku rendah lainnya. Sungguh, pribadinya bagai pohon
yang akarnya menghunjam ke dalam tanah, begitu kokoh dan kuat, hingga
diterpa badai dan diterjang topan sekalipun, tetap mantap tak bergeming.
Tapi orang-orang yang lemah, hanya dengan perkara-perkara remeh
sekalipun, sudah panik, amarah membara, dan dendam kesumat. Walaupun
non muslim, kita bisa mengambil pelajaran dari Abraham Lincoln (mantan
Presiden Amerika). Dia bila memilih pejabat tidak pernah memusingkan
kalau pejabat yang dipilihnya itu suka atau tidak pada dirinya, yang
dia pikirkan adalah apakah pejabat itu bisa melaksanakan tugas dengan

baik atau tidak. Beberapa orang kawan dan lawan politiknya tentu saja
memanfaatkan moment ini untuk menghina, mencela, dan bahkan
menjatuhkannya, tapi ia terus tidak bergeming bahkan berkata dengan arifnya,
"Kita ini adalah anak-anak dari keadaan, walau kita berbuat

kebaikan bagaimanapun juga, tetap saja akan ada orang yang mencela
dan menghina. Karena pencelaan, penghinaan bukan selamanya karena
kita ini tercela atau terhina. Pastilah dalam kehidupan ini ada saja
manusia seksi menghina dan mencela".
Jadi, ia tidak pusing dengan hinaan dan celaan orang lain. Nabi
Muhammad, SAW, manusia yang sempurna, tetap saja pernah dihina,
dicela, dan dilecehkan. Bagaimana mungkin model kita ini, tidak ada
yang menghina ? Padalah kita ini hina betulan.

.

Disadur dari posting Maillis Padhang Mbulan