BILA DIRI SEMPIT HATI

Home

Bila diri sempit hati

KH. Abdullah Gymnastiar

1 2 3 4

Bismillaahir Rohmaanir Rohiim
Assalaamu'alaikum warohmatullaahi wabarokaatuh
"Berikut artikel BILA DIRI SEMPIT HATI"
Oleh : KH. Abdullah Gymnastiar

--------
Bila Diri Sempit Hati (4)
KH. Abdullah Gymnastiar

Nabi SAW, dihina, tapi toh tetap cemerlang bagai intan mutiara.
Sedangkan yang menghinanya, Abu Jahal

sengsara. Salman Rushdie ngumpet tidak bisa kemana-mana, Permadi,
Arswendo Atmowiloto masuk
penjara. Siapa yang menabur angin akan menuai badai. Dikisahkan ketika
Nabi Isa as dihina, ia tetap senyum,
tenang, dan mantap, tidak sedikitpun ia menjawab atau membalas dengan
kata-kata kotor mengiris tajam

seperti yang diucapkan si penghinanya. Ketika ditanya oleh
sahabat-sahabatnya,
"Ya Rabi (Guru), kenapa engkau tidak menjawab dengan kata-kata yang sama
ketika engkau dihina, malah Baginda menjawab dengan kebaikan ?"
Nabi Isa as, menjawab :
"Karena setiap orang akan menafkahkan apa yang dimilikinya. Kalau kita
memiliki keburukan, maka yang kita
nafkahkan adalah keburukan, kalau yang kita miliki kemuliaan, maka yang
kita nafkahkan juga kata-kata yang mulia."
Sungguh, seseorang itu akan menafkahkan apa-apa yang dimilikinya.
Ketika Ahnaf bin Qais dimaki-maki seseorang menjelang masuk ke kampungnya,
"Hai kamu bodoh, gila, kurang ajar!", Ahnaf bin Qais malah menjawab,
"Sudah ? Masih ada yang lain yang akan disampaikan ? Sebentar lagi
saya masuk ke kampung Saya, kalau nanti di dengar oleh orang-orang
sekampung, mungkin nanti mereka akan
dan mengeroyokmu. Ayo, kalau masih ada yang disampaikan, sampaikanlah sekarang !".
Dikisahkan pula di zaman sahabat, ada seseorang yang marah-marah kepada
seorang sahabat nabi,
"Silahkan kalau kamu ngomong lima patah kata, saya akan jawab dengan 10
patah kata. Kamu ngomong satu kalimat, saya akan ngomong sepuluh kalimat".
Lalu dijawab dengan mantap oleh sahabat ini,
"Kalau engkau ngomong sepuluh kata, saya tidak akan ngomong satu patah kata pun".
Oleh karena itu, jangan ambil pusing, jangan dipikirin. Dale Carnegie,
dalam sebuah bukunya mengisahkan
tentang seekor beruang kutup yang ganas sekali, selalu main pukul, ada
pohon kecil dicerabut, tumbang dan
dihancurkan. Di tengah amukannya, tiba-tiba ada ada seekor binatang
kecil yang lewat di depannya. Anehnya,
tidak ia hantam, sehingga mungkin terlintas dalam benak si beruang ini,
"Ah, apa perlunya menghantam yang kecil-kecil, yang tidak sebanding,
yang tidak merugikan kepentingan kita".
Percayalah, makin mudah kita tersinggung, apalagi hanya dengan hal-hal
yang sepele, akan makin sengsara hidup ini.
Padahal, mau apa hidup pakai sengsara, karena justru kita
harus menjadikan orang-orang yang
menyakiti kita sebagai ladang amal, karena kalau tidak ada yang
menghina, menganiaya, atau menyakiti, kapan kita bisa memaafkan ?
Nah sahabat. Justru karena ada lawan, ada yang menghina, ada yang
menyakiti kita bisa memaafkan.
Kalau dia masih muda, anggap saja mungkin dia belum tahu bagaimana
bersikap kepada yang tua, daripada sebel kepadanya.
Kalau dia masih kanak-kanak, pahami bahwa tata nilai kita
dengan dia berbeda, mana mungkin kita tersinggung oleh anak kecil.
Kalau ada orang tua yang memarahi kita, jangan tersinggung, mungkin dia khilaf,
karena terlalu tuanya.
Yang pasti makin kita pemaaf, makin kita berhati lapang, makin bisa memahami
orang lain, maka akan makin aman dan tenteramlah hidup kita ini,
subhanallah.

TAMAT,

semoga bermanfaat
Wassalamu'alaikum wr wb.

.

Disadur dari posting Maillis Padhang Mbulan