Bila diri sempit hati
KH. Abdullah Gymnastiar
|
1 2 3
4
|
|
Bismillaahir Rohmaanir Rohiim
Assalaamu'alaikum warohmatullaahi wabarokaatuh
"Berikut artikel BILA DIRI SEMPIT HATI"
Oleh : KH. Abdullah Gymnastiar
--------
Bila Diri Sempit Hati (3)
KH. Abdullah Gymnastiar
Ingatlah bahwa hidup kita di dunia ini hanya satu kali, sebentar dan
belum tentu panjang umur, amat rugi jikalau kita tidak bisa menjaga
suasana hati ini. Camkanlah bahwa kekayaan yang paling mahal dalam
mengarungi kehidupan ini adalah suasana hati kita ini. Walaupun rumah
kita sempit, tapi kalau hati kita 'blaang' lapang akan terasa luas.
walaupun tubuh kita sakit, tapi kalau hati kita ceria, sehat, akan
terasa enak. Walaupun badan kita lemes, tapi kalau hati kita tegar,
akan terasa mantap. Walaupun mobil kita merek murahan, motor kita
modelnya sederhana, tapi kalau hati kita indah, akan tetap terhormat.
Walaupun kulit kita kehitam-hitaman, tapi kalau batinnya jelita, akan
tetap mulia.
Sebaliknya, apa artinya rumah yang lapang kalau hatinya sempit?! Apa
artinya Fried Chicken, Burger, Hoka-hoka Bento, dan segala makanan
enak lainnya, kalau hati sedang membara ?! Apa artinya raungan ber-AC
kalau hati mendidih ?! Apa artinya mobil BMW, kalau hatinya bangsat ?!
Lalu, bagaimana cara kita mengatasi perasaan-perasaan seperti ini ?
Yang pertama harus kita kondisikan dalam hati ini adalah kita harus
sangat siap untuk terkecewakan, karena hidup ini tidak akan selamanya
sesuai dengan keinginan kita. Artinya, kita harus siap oleh situasi dan
kondisi apapun, tidak boleh kita hanya siap dengan situasi yang enak
saja. Kita harus sangat siap dengan situasi dan kondisi sesulit,
sepahit dan setidak enak apapun. Seperti pepatah mengatakan, 'sedia
payung sebelum hujan'. Artinya, hujan atau tidak hujan kita siap.
Hal kedua yang harus kita lakukan kalau toh ada orang yang
mengecewakan kita, adalah dengan jangan terlalu ambil pusing, sebab
kita akan jadi rugi oleh pikiran kita sendiri. Sudah lupakan saja.
Yang membagikan rizki adalah ALLAH, yang mengangkat derajat adalah
ALLAH, yang menghinakan juga ALLAH. Apa perlunya kita pusing dengan
omongan orang, sampai 'doer' itu bibir menghina kita, sungguh tidak
akan kurang permberian ALLAH kepada kita. Mati-matian ia menghina,
yakinlah kita tidak akan hina dengan penghinaan orang. Kita itu hina
karena kelakuan hina kita sendiri.
|