|
Motivasi dari rohaniawan Sandyawan dan Ita Nadia dari Kalyanamitra menyebarkan issue tentang perkosaan massal dalam kerusuhan mei yang lalu, tidak lebih dari menagguk uang sumbangan dari simpatisan-simpatisan di luar negeri.
agar peristiwanya lebih dramatisir, maka dipakailah idiom-idiom islam seperti Alahu Akbar ketika perkosaan itu sedang dilakukan. Dengan demikian simpatisan luar negeri akan melihat bahwa ada penindasan orang non muslim di republik ini. Tujuan akhirnya adalah menangguk uang sumbangan dari luar negeri.
Bila kita mengenal model penghianat bangsa yang menjual para pahlawan nasional kita ketika melawan di jahanam Belanda, dengan cara membocorkan rahasia persembunyian pahlawan tersebut (ingat Sultan Hasanuddin, PAttimura dan lain-lain), maka penghianat bangsa jaman reformasi ini adalah yang menjual issue-issue murahan tentang perkosaan massal (karena eropah itu merasa sangat bersalah dengan perkosaan massal di Bosnia) ke negara-negara lain, agar sumbangan-sumbangan dapat diperoleh dengan lancar.
Makanya ketika diminta pertanggungjawaban bukti-bukti perkosaan tersebut, masing-masing diam seribu bahasa dengan alasan yang korban memilih menutup mulut atau telah dievakuasi di la\uar negeri.
Ingat mereka menyebutkan PERKOSAAN MASSAL, bukan perkosaan one by one. Untuk itu petugas perlu memeriksa aliran sumbangan yang mereka terima setelah kampanye issue murahan dijalankan. Apakah mereka menerima begitu banyak sumbangan kemudian sekarang membiarkan kasus ini terkatung-katung.
Periksa laporan keuangan mereka... sebab belakangan ini saya perhatikan kegiatan rohaniawan Sandyawan ini telah melempem di kantor mereka di daerah Dewi Sartika. Mungkin dana telah cukup diterima untuk persiapan kerusuhan baru lagi atau pendanaan untuk kampanye menghadapi pemilu berikut.
Ada komentar
Koruptor Bangsa (namayang burukdantidakpantasditiru)
posting on soc.culture.indonesia |